
Tengah malam kamar Clara di gedor Suster Wiwik sambil menggendong Daus. Bocah itu badannya panas dan terus memanggil Clara. Begitu melihat Clara langsung nemplok di gendongannya.
"Panas banget Sus!" kata Clara kaget.
"Iya, 38 derajat Mbak, kasihan,"jawab Sus Wiwik. Clara menggendong Daus hilir mudik dikamarnya. Gadis itu belum bisa menggendong dengan gendongan. Jadi cukup pegal juga hanya bermodal tangan. Tama datang karena Daus masih rewel.
"Sini aku gantikan," kata Tama mengambil Daus. Akan tetapi bocah itu meronta. Dia masih memilih nemplok sama teman main paling asyiknya. Satu jam kemudian Daus mau tenang dan tidur. Tapi begitu diletakkan ke kasur langsung terdengar lagi tangisannya. Akhirnya Clara memangku Daus yang tertidur. Tama menata bantal agar Clara dapat bersandar dengan nyaman.
"Begini enak Ra?" tanya Tama.
"Enak, udah kamu kembali ke kamarmu sana!" usir Clara pada Tama. Muka pria itu langsung muram.
"Aku mau nemenin kamu disini," katanya.
"Aku udah ditemenin Sus Wiwik," kata Clara jutek.
"Aku Papanya!" Tama ngeyel dengan meninggikan suaranya. Daus mengeliat kaget dan menangis lagi. Clara berdecak sebal sambil melotot ke arah Tama.
Lagi lagi Clara harus hilir mudik menenangkan Daus. Beruntungnya bocah kecil itu gak lama nangisnya dan tertidur lagi. Clara pelan pelan duduk di kasur. Tama kembali menata bantal sandaran. Sus Wiwik senyum senyum memperhatikan mereka.
"Sus tidur saja, biar aku dan Clara tungguin Daus," kata Tama. Clara mendelik tapi malas protes.
Satu jam mereka dalam keheningan panjang. Clara sudah teklak tekluk menahan kantuk.
"Aku letakin pelan ya," bisik Tama. Clara mengangguk. Tama memegang tubuh Daus mengambilnya pelan dari Clara. Mereka sama sama menahan nafas saat Daus menggeliat kecil. Tama berhenti menariknya. Ada yang hangat dan mendesirkan perasaannya malam malam begini. Punggung tangannya tertempel sempurna di dada Clara. Cukup empuk dan tebal ternyata. Selama ini Tama jarang memperhatikannya, karena gadis itu selalu memakai kaos over size atau daster longgar saat di rumah.
"Cepet diangkat, aku pegel," bisik Clara. Tama seperti diguyur air saat tertidur. Tergagap sebentar kemudian menidurkan Daus di kasur. Mereka ambruk tidur bertiga setelah itu. Ini melelahkan, tapi Tama bersyukur ada Clara yang menemaninya.
Hanya beberapa jam mereka tertidur. Tama bangun lebih dulu. Tahu mereka kesiangan, tapi malah kembali tidur menghimpit Clara yang ada di tengah Tama dan Daus. Melingkarkan tangannya dam menghirup dalam aroma shampo gadis itu. Meski tidur membelakanginya, namun Tama suka posisi itu. Ternyata semesta tidak mendukung. Daus terbangun dan kembali rewel.
__ADS_1
"Astaga ini makin panas badannya!" pekik Clara saat Tama membuatkan susu. Tak lama Daus muntah setelah minum susu. Sus Wiwik coba memberikan air putih. Masih muntah juga. Suhu tubuh Daus makin meningkat. Apapun yang coba diminumkan atau disuapkan, dimuntahkan lagi oleh Daus. Membuat semua orang khawatir.
"Ayo bawa kerumah sakit saja Mas," kata Clara sambil berlinang air mata. Ini kali pertama Clara menghadapi bocah itu sakit. Membuat dia lebih heboh dari Daus sendiri.
Akhirnya berempat mereka menuju rumah sakit. Daus sudah tidak menangis, tapi pucat. Clara jadi semakin panik. Sampai rumah sakit dokter menyuruhnya opname. Tanpa pikir panjang Clara menyanggupinya. Gadis itu meringkuk di pojok ruangan saat Daus dipasangi infus. Daus memang bukan anaknya, namun seperti adik kecil dan penghibur baginya. Dia tidak tega tangan mungil itu ditancap jarum. Daus menangis sekeras kerasnya. Sus Wiwik ikut membantu perawat memasangkan jarum infus.
Tama yang selesai mengurus administrasi melihat Clara meringkuk mengenaskan. Dia mengangkat tubuh Clara dan memeluknya. Clara mendekap erat tubuh Tama sambil bergetar menahan isakan.
"Udah, udah selesai. Anak pinter yaa," kata perawat sambil membereskan peralatan. Daus langsung merengek merentangkan tangan pada Clara. Gadis itu tersadar dia masih berpelukan dengan Tama. Mereka saling berpandangan beberapa saat. Langsung mendorong kasar tubuh Tama.
"Ow, jagoan Mama," kata Clara sambil menggendong Daus. Tama merasa sakit. Bekas dorongan tangan Clara sebenarnya tidak sakit, namun masih terasa. Dia merasa sakit karena… tertolak…. Yah, mungkin itu kata kata yang sanggup digunakan saat ini.
Daus dibawa ke ruang perawatan. Mukanya sudah tidak sepucat tadi. Sudah ada semburat merah di mukanya. Membuat Clara bisa menarik nafas lega. Waktu merambat naik. Dengan segala kerempongan bocah sakit, ditambah infus yang serasa membelit. Bahu membahu ketiga orang itu merawat Daus yang tidak betah ditempat ini.
"Sus makanlah dulu. Mumpung Daus tidur," perintah Tama. Wanita setengah baya itu memang terlihat kelelahan. Segera turun mencari makanan. Clara bolak balik ngecek kepala Daus. Dia memastikan panas bocah itu turun perlahan.
Sus Wiwik datang kembali. Tama gantian mengajak Clara makan.
"Aku makan disini aja, nanti Daus bangun dan nyariin gimana?" alasan Clara. Dia malas jalan berdua sama Tama.
"Nanti saya ajak ke tempat main di ujung sana Bu, saya udah lihat tempatnya," kata Sus Wiwik. Clara melorok ke arah Sus Wiwik. Yang di peloroki cuma mesem mesem gak jelas. Wanita setengah baya itu tahu persis apa yang terjadi pada Clara dan Tama. Juga perubahan sikap Clara setelah dia bekerja di salah satu butik.
"Ayo cepat!" Kata Tama menarik tangan Clara keluar ruang perawatan Daus.
Tama kembali melepaskan tangan Clara saat mereka sudah keluar. Clara berjalan di belakang Tama. Bahkan enggan jalan bersisihan dengan Tama.
Mereka makan di kantin rumah sakit. Duduk berhadapan. Tekun dengan piring masing masing dan hp. Tidak ada obrolan yang terjadi.
"Pocik, sedang apa disini?" tanya seseorang dibelakang Tama.
__ADS_1
"Oh, hai Kak," sapa Clara. Tama menoleh melihat orang dibelakangnya.
"Sedang apa disini?" ulang Boby sambil mengulurkan tangan pada Clara dan Tama.
"Anakku sakit Kak, muntah dan panas," jawab Clara.
"Dirawat di ruang apa?" tanya Boby.
"Ruang xxx nomer xx," jawab Clara cepat.
"Dan dia suamimu?" tanya Boby sambil melihat Tama. Belum juga Clara membuka mulut. Seseorang memanggil Boby dari kejauhan.
"Ayo Bob, kita gak punya banyak waktu," kata orang itu. Yang Clara kenali sebagai Revan.
"Baik Pak," jawab Boby sambil melambai.
"Aku permisi dulu ya, atasan galak sudah memanggil, bye Pocik, monggo Mas," kata Boby kemudian berlalu. Tama dan Clara hanya tersenyum mengangguk menanggapi.
"Tadi siapa?" tanya Tama sesaat setelah Boby pergi.
" Teman."
"Teman dengan panggilan spesial?" tanya Tama sambil mengangkat alisnya.
"Iya, teman spesial dulu. Sekarang masih memanggil dengan nama kesayangan. Beda dengan suamiku yang hanya memanggil sayang saat masih belum dapat. Apalah, aku memang hanya istri setatus," jawab Clara sebal.
"Kamu bilang mau menunggu dan berusaha, kenapa sekarang malah jadi seperti ini?" Kata Tama.
"Iya, menunggu kamu yang gak ada usahanya," kata Clara ketus. Membuat Tama terdiam melanjutkan makannya. Dia tahu Clara mulai sadar perasaannya, namun siapa yang bisa membuat cinta? Hanya hati itu sendiri. Dan cinta Tama seluruhnya hanya untuk Citra.
__ADS_1