Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Kesadaran baru


__ADS_3

Hani yang saat itu datang sebagai rombongan besan melambai senang ke arah Clara. Tidak menyangka Clara diajak Boby ke nikahan adiknya. Pakai seragam lagi. Clara yakin pulang dari sini Hani pasti minta bergosip.


'Ciyeeee yang dikenalin keluarga.' pesan Hani dihape Clara.


'Iya dong.' jawab Clara dengan emosi sombong berkaca mata hitam.


'Apa rasanya mau jadi anggota bhayangkari?' tanya Hani.


'Ada manis manisnya.' jawab Clara meniru iklan air mineral di tivi.


'Emang pakai gula?'


'Enggak cuma katanya manis. Yang minum sambil ngelihatin aku.' jawab Clara sambil nyengir.


'Gak jadi manis malah eneg.' jawab Hani dengan emosi ketawa berderet deret. Clara mau membalas lagi, tapi hapenya di sentil Boby yang manyun di sampingnya.


"Hapemu nakal Poc, bunyi terus aku dikacangin," kata Boby. Clara tersenyum kemudian menyimpan hapenya ditas.


Acara usai. Tinggal teman teman Dito dan beberapa keluarga yang masih berkumpul. Clara terus diperkenalkan Boby pada keluarganya tanpa canggung. 


"Semoga lekas menyusul, diberi jodoh sampai dunia akhirat," kata nenek Boby. Clara dan Boby mengamini. Banyak doa yang dipanjatkan keluarga Boby untuk pasangan itu. Hari pernikahan Dito, tapi Boby juga banyak menuai doa dari saudara saudaranya. Mereka yang tahu Boby, benar benar berharap Boby sembuh dari penyakit buaya darat turunan papanya. Hidup membina rumah tangga dengan damai.


"Bob, bantuin Papamu nyambut temannya!" perintah Santi pada Boby.


"Oke," kata Boby sambil menarik tangan Clara.


"Sendiri aja, biar Clara sama Mama disini," kata Santi sambil menahan tangan Clara. Boby pun manut. Mungkin Mamanya mau mengenal Clara lebih dalam.


Clara ditarik agak menepi oleh Santi. Berdua mereka duduk di pojok ruangan.


"Kenal Boby udah lama Mbak?" tanya Santi enggan menyebut nama Clara. Dari tatapannya, Clara tahu Mamanya Boby ini tidak terlalu menyukainya.


"Sudah… saya kenal Kak Boby dari masih sekolah Ma," kata Clara. Santi manggut manggut.


"Tante, panggil saya tante. Saya gak minat jadiin kamu anak saya. Maaf saya jujur ya, kamu kan janda…. Apa kata orang nanti? Anak sulung saya, yang sudah dilangkahi adiknya menikah…. Eh, dapatnya janda. Bisa jadi aib seumur hidup untuk Bripda Boby," kata Santi panjang lebar. Sengaja menegaskan pangkat Boby di kepolisian. Agar Clara sadar…. Yang dia incar itu seorang polisi single.

__ADS_1


Clara terdiam. Kesadaran baru muncul dari otaknya. Iya…. Dia janda…. Janda dengan stigma negatif orang. Dan Boby itu singel. Pria single yang gagah dan berpangkat. Benar….. semua kata Mamanya Boby benar… tiba tiba matanya mengembun. Kepalanya tertunduk memandangi ujung sepatunya yang berkilap.


Santi menepuk tangan Clara di pangkuan gadis itu.


"Maaf ya Mbak, maaf sekali… tolong pikirkan nasib Boby dengan gunjingan itu seumur hidupnya. Dia tidak akan peduli, tapi kami keluarganya akan sangat peduli. Kasihani Boby. Biar dia dapat 'gadis' yang mampu menjaga nama baik keluarga," kata Santi kemudian berdiri.


"Tolong tinggalkan Boby saya. Beri kesempatan Boby mendapat jodoh yang lebih baik dari kamu," kata Santi kemudian meninggalkan Clara.


Santi tahu dia tidak akan bisa menghentikan Boby. Santi tahu betapa keras kepalanya Boby untuk memiliki sesuatu yang dia mau. Santi sangat paham anaknya. Oleh karena itu dia menyerang Clara secara telak. Biar wanita itu yang menjauhi Boby. Biar wanita itu yang pergi dari hidup Boby. Anaknya pasti patah hati, tapi yakin akan sembuh…. Seperti patah hati Boby yang lalu lalu.


Boby datang menghampiri Clara yang masih termenung di tempat Santi mengajaknya duduk. 


"Pulang yuk Poc!! Eh, enggak pulang, tapi pindah tempat," kata Boby sumringah. Berencana menghabiskan waktunya seharian ini sama Pocik. Senyum di wajah Boby pudar saat Pocik menegakkan kepala. 


"Kamu nangis!!!??" Kata Boby terkaget. Langsung bersimpuh di depan Pocik tanpa canggung. 


"Mama bilang apa sama kamu??!" Nada bicara Boby sudah penuh emosi. Clara memaksakan senyum. Menotol bulir air mata yang mengambang di pelupuk mata.


"Aku…. nangis karena tahu betapa sayang Mamamu sama kamu Kak….. aku…. Cuma terharu," kata Clara. Boby menatap tajam pada mata Clara.


"Apa?" tanya Boby makin curiga. Tangannya sudah menggenggam tangan Clara dengan erat.


"Pocik…. Kau cantik sekali…. Apa Boby akan melamarmu disini?" tanya Revan sambil nyengir. Pose mereka memang absurd. Boby berlutut di depan Clara yang sedang duduk di kursi tamu. Dibelakang Revan ada segerombolan tim Revan yang telat datang ke nikahan Dito.


"Pocik itu nama kesayanganku yaa," kata Boby tidak terima. Revan tersenyum. Mereka berdua kemudian bersalaman dengan tim narkoba polres xxx. Menemani tim koplak itu memberi selamat pada manten. Clara menarik nafas lega…. Setidaknya terbebas dari introgasi Boby yang menakutkan.


"Bob, makanannya tinggal ini?" tanya Jery.


"Iya, salah sendiri datang telat," kata Boby santai.


"Haiyah Bob, lauknya tinggal lengkuas semua ini," kata Ine. Mereka mengantri di bufet makanan sambil bawa piring.


"Masih ada ikan kok," jawab Boby.


"Mana?" tanya mereka kompak termasuk Revan. Muka muka kelaparan ternyata.

__ADS_1


"Ya di kolam ikan, belum ditangkap," jawab Boby santai. Clara ikut ngakak dibuatnya. Tidak menyangka tim kepolisian itu begitu koplak. Yang Clara pikir polisi itu pasti serius dan keren.


***


Clara mencoba ceria saat diantar pulang Boby. Sambil menyusun kalimat kalau kalau ditanya Boby lagi. Clara tidak yakin Boby akan melupakannya dengan mudah.


"Kita enaknya mampir kemana? Aku mumpung libur ini," kata Boby bersemangat.


"Aku capek Kak, aku mau pulang saja," kata Clara beralasan. Dia mau nangis sepuasnya.


"Ah, capek apanya duduk, salaman, sambil senyum senyum kok capek. Cari alasan yang lebih logis untuk menghindariku Poc," kata Boby nyengir. Melirik Pocik disampingnya.


"Kamu kok ngeyelan sih!" Kata Clara kesal. Boby tertawa. Meraih tangan Pocik dan menciumnya.


"Ayo melipir sebentar. Mumpung aku bisa dapat ijin. Aku mau menghabiskan banyak waktu denganmu Sayang," kata Boby tanpa bisa dibantah Clara.


***


Pantai berpasir putih menyambut mereka. Boby melepas dasi dan jasnya. Menggulung kemeja yang dia pakai sampai sebatas siku. 


"Kamu pakai dalaman celana panjang kan? Lepas saja jarikmu biar langkahmu lebih bebas!" kata Boby pada Clara. Hasilnya penampilan mereka lebih santai. 


Boby cerewet menceritakan apa saja. Mereka duduk berhimpit di payung sewaan tepi pantai. Clara menanggapi seceria mungkin. Tidak ingin terlihat bersedih. Memandangi gulungan ombak lautan dengan nanar…. Benar…. Dia tidak layak untuk Boby yang sempurna ini. Ha... Apalagi setelah dekat dengan keluarganya tadi. Clara merasa kecil. Boby bukan berasal dari keluarga sederhana sepertinya. Apalagi status jandanya.


"Kenapa? Apa yang Mama katakan?" tanya Boby pada Pocik. Clara langsung tergagap. Tidak menyangka kesedihannya terbaca lagi.


"Eh, beliau….. sedikit sedih karena kamu dilangkahi Dito. Mamamu ingin sekali yang terbaik buat kamu…. Terlihat menyayangi kamu sekali…. Aku sampai terharu," kata Clara. Boby tersenyum. 


"Mama emang gitu. Cerewet, tapi selalu sayang. Kamu juga gitu…. Walaupun gak pernah bilang, tapi aku tahu kamu sayang sama aku," kata Boby sambil mencuri satu kecupan dipipi Clara.


"Kak!! Kamu gila!!" Pekik Clara langsung menjauh dari Boby. Mengamati sekitar. Ramai…. Tentu saja pasti ada yang melihat aksi Boby. 


"Belum, aku akan menggila kalau kamu tinggal," jawab Boby sambil menarik Clara berdiri.


"Mau kemana?" tanya Clara. Boby cuma tersenyum. Terus menarik Pocik mengikutinya.

__ADS_1


__ADS_2