
Sampai malam Tama terus menghindar menemui Clara. Saat gadis itu bahkan sudah keluar kamar dan membantu persiapan rewang di dapur.
"Sini Ra, aku mau nyiksa kamu sama kerjaan malah tidur," kata Nina. Clara cuma tersenyum.
"Aku bantuin doa aja Mbak, aku anak solehah kok doaku pasti didengar," jawab Clara sok yes.
"Heleh gayamu,"
"Sini Ra bantuin Ibu," kata Mbah Narti memanggil Clara mendekat. Ibu mertuanya itu sedang mengupas bumbu bumbu yang besok mau digunakan. Clara mendekat kearah Mbah Marni. Berdua mereka duduk di bale bale sudut dapur.
"Ibu minta maaf untuk kelakuan Tama hari ini," kata Mbah Narti dengan pelan. Setelah beberapa saat Clara duduk membantu.
"Ibu tahu kamu sakit hati. Ibu mengerti perasaan kamu. Maafkanlah Tama, walaupun kamu boleh mengomelinya. Perjuangkan hatinya Ra. Kamu istri sah yang berhak menerima kasih sayangnya. Ibu merestui kamu seutuhnya menjadi istrinya," kata Mbah Narti sambil pelan mengelus lengan Clara. Membuat gadis itu meneteskan air mata dengan deras.
"Maaf ya Ra, ibu bikin kamu nangis kaya gini," kata Mbah Narti.
"Clara gak nangis karena itu Bu, ini bawangnya pedes," kata Clara sambil menunjuk sebaskom bawang yang dia kupas. Mbah Narti gak tahan untuk tertawa ngakak.
"Tega banget Bu, suruh aku ngupas bawang," kata Clara sambil bersungut sungut dibuat buat. Membuat Mbah Narti semakin tertawa ngakak.
"Na, Nina, ibu udah bisa bikin dia jadi mantu teraniaya," kata Mbah Narti sambil ketawa ketawa. Mereka pun tertawa bersama. Membuat pekerjaan mereka lebih enteng. Juga air mata Clara yang kembali tersamarkan. Walaupun di dada mereka sama sama tahu gadis itu hanya bersikap tegar.
Malam merangkak naik. Tama bersiap tidur di sofa ruang tamu. Menyelipkan bantal kursi di kepalanya. Dia masih takut bertemu Clara.
__ADS_1
"Kamu pengecut Tam, dari dulu emang pengecut!" kata Nina sebal. Tama menghembuskan nafas kasar. Dari tadi siang Nina lah yang paling lama mengomelinya.
"Aku ngantuk Mbak. Udah, aku juga capek," kata Tama membelakangi Nina.
"Setidaknya datangi istrimu. Minta maaf dengan benar. Bukan malah menghindar seperti ini!!!" suara Nina mengeras sangking jengkelnya. Membuat suaminya memanggil Nina agar tidak terjadi keributan di rumah malam malam. Tama bungkam. Masih mematung dengan posisi tidurnya menghadap sandaran sofa.
Beberapa kali Tama bangun. Dan menatap gelisah pintu kamarnya sendiri yang tertutup. Clara sudah dari tadi masuk kamar itu. Hahh…. Iya. Betul kata Nina…. Dia pengecut. Tama bangkit menuju kamarnya. Setidaknya dia akan dapat omelan pelan atau lemparan bantal. Akan tetapi dia bisa memperbaiki hubungan dengan Clara.
Tama masuk kamar dengan hati hati. Melihat Clara sudah lelap di atas kasur. Tama mencoba duduk di tepi kasur. Membelai lembut kepala Clara. Tidak ada respon. Clara tetap lelap dalam tidurnya.
"Ma, Papa minta maaf ya," bisik Tama pelan. Tetap tidak ada respon meskipun Tama yakin mata Clara bergerak walau masih terpejam. Tama tidur sambil memeluk Clara. Menciumi rambut Clara banyak. Menghirup aroma shampo yang disukai Tama.
"Maafkan Mas, Sayang. Maaf…. Aku akan sesuai dengan janjiku berusaha mencintaimu. Maaf, aku hanya tidak tega melihat Citra bersedih," bisik Tama sambil sedikit menciumi tengkuk Clara. Gadis itu masih betah diam. Walau tubuhnya merinding hebat. Rasanya sangat malas untuk membuka mata dan menanggapi Tama. Hatinya terlanjur kebas. Bodo Lah…. Mereka sama sama tertidur dengan berpelukan.
Pagi datang. Rumah Tama sudah heboh pagi pagi. Rewangan untuk hari peringatan kematian Bapak. Kambing sudah siap disembelih. Dapur sudah mengepulkan asap. Pertanda aktifitas masak sudah dimulai.
Sayangnya Daus gak mau lepas dari Clara. Membuat gadis itu kerepotan sendiri. Bocah itu terus menggelayut minta main. Mungkin dia kangen sama teman main kocaknya yang belakangan sibuk sakit hati dengan Papanya.
"Ya sudah, ajak Daus main saja Ra. Main di luar saja," kata Mbah Narti melihat cucunya terus merusuh di dapur.
Clara dan Sus Wiwik pun menuju halaman depan. Bersama anak Nina mereka asyik main. Sampai mata Clara melihat Citra memperhatikan Daus dibalik jendela rumahnya. Hati Clara terenyuh walaupun masih sebal. Biar bagaimanapun Daus itu anak Citra bukan? Dengan berat hati Clara melambai pada Citra. Citra keluar dari rumahnya sambil menunjuk hidungnya sendiri. Clara mengangguk cepat. Citra segera berlari menuju halaman rumah Tama. Kemudian memeluk Daus dalam gendongannya. Menciumi pria kecil itu sambil bercucuran air mata.
"Anak ibu udah besar, anak ibu….. anak ibu…." guman Citra sambil masih menciumi Daus pria kecil itu juga terdiam. Seakan tahu wanita yang memeluk itu adalah ibu yang melahirkannya. Untung suasana sepi. Rewangan berpusat pada halaman belakang rumah Tama.
__ADS_1
"Bo… bolehkah aku mengajak Daus kerumah sebentar Mmbak? Aku mau memperkenalkan Daus pada Masnya," kata Citra penuh harap. Sus Wiwik menggeleng mengingatkan Clara. Mengizinkan Citra mendekat saja sudah beresiko. Apalagi membawa Daus kerumah Citra. Sus Wiwik tahu betapa perdebatan dua keluarga itu begitu sengit dulu. Saat Daus lahir. Keluarga Tama melemparkan setumpuk uang kemudian mengambil Daus dengan perjanjian Citra dan keluarganya tidak boleh mendekat. Keluarga Citra begitu ketakutan. Mereka menurut karena ancaman keluarga Tama yang penuh kuasa di desa ini.
Clara mengangguk dengan mata basah.
"Bu, nanti dimarahi keluarga Mas Tama," kata Sus Wiwik mengingatkan. Clara tahu hubungan dua keluarga yang pastinya tidak baik baik saja.
"Mereka lagi rewang, gak ada yang tahu. Sebentar saja dan kita ikut," kata Clara memutuskan.
Kejadian selanjutnya benar benar mengandung bawang. Citra dengan cepat membawa Daus kerumahnya. Memperkenalkan dengan Ferdi anak pertamanya. Kedua kakak Citra menangis haru dalam pertemuan ini. Tidak menyangka istri Tama mengizinkan Daus bertemu keluarga ibunya.
"Terimakasih Mbak, terimakasih banyak," kata Citra. Clara mengangguk sambil menerima Daus. Bocah itu langsung menangis keras. Menggapai gapai tubuh Citra lagi.
"Bawa Daus pergi, sebelum tangisnya membuat semua orang tahu," kata Clara pada Sus Wiwik. Yang langsung berlari menuju halaman rumah Tama membawa Daus.
"Kamu boleh menemui Daus dirumah kami Mbak. Rasanya Daus juga harus mengenal ibu kandungnya," kata Clara sambil menyebut alamat rumah jepang milik Tama. Citra mencatat alamat rumah itu dengan teliti.
"Ingat, lakukan dengan diam diam dari keluarga sini," kata Clara mengingatkan. Citra mengangguk.
"Terimakasih Mbak, terimakasih banyak," kata Citra. Clara berbalik hendak meninggalkan halaman rumah Citra.
"Maaf untuk yang kemarin," kata Citra lagi. Clara membeku di tempatnya. Kali ini dia yakin pembicaraannya tentang Tama. Clara enggan menanggapi. Akan melangkah lagi tanpa berbalik.
"Aku…. Aku akan melupakan Tama Mbak. Aku bahagia untuk pernikahan kalian," kata Citra. Yang diucapkan dengan sungguh sungguh walau hatinya teriris pilu. Dia bertekad menolak Tama setelah ini. Istri Tama terbukti wanita yang baik. Juga ibu yang baik untuk Daus. Citra akan mengubur cintanya….
__ADS_1
Sementara itu Clara diam tidak menanggapi. Terus berjalan menuju halaman rumah Tama. Rumah besar di desa itu. Berbanding terbalik dengan rumah Citra yang amat sangat sederhana. Menghembuskan nafas dengan kasar. Mengatur ritme jantungnya yang berdetak tidak beraturan. Clara tahu ucapan Citra barusan diucapkan dengan kepiluan. Citra juga masih sangat mencintai Tama. Dia merasa….. penghalang untuk cinta orang lain. Haaa…. Entahlah…..