Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Cinta


__ADS_3

Mereka bertiga janjian ketemu sepulang Clara kerja. Boby sudah ganteng, rapi, dan wangi. Malam ini akan ada tugas lagi. Jadi dia sekalian langsung ke kantor setelah bertemu Clara. Dia datang paling duluan dari dua wanita itu. Main hp biar gak ngantuk.


Seseorang datang menghampiri mejanya.


"Hai, kamu yang namanya Boby?" tanya Nina.


"Woooww… iya aku Boby," jawab Boby sambil senyum genit. Wanita yang berdiri di depannya ini terlihat sangat menarik dan modis. Kulitnya putih bening. Dengan wajah khas wanita asia.


"Kamu siapa? Kok tau namaku?" Lanjut Boby sambil cengar cengir. Langsung main menarik kursi untuk wanita ini. Mempersilahkan duduk dengan sopan. 


"Aku Nina kakaknya Tama," kata Nina sambil mengulurkan tangan.


"Ah, jangan bercanda. Tama itu sudah tua bangka. Kamu adiknya kali," kata Boby gak percaya. Nina tersenyum malu. Baginya itu pujian yang sangat tulus. Keberhasilan untuk perawatannya selama ini.


"Kalau gak percaya tanya Clara nanti. Kamu siapanya Clara?" tanya Nina balik.


"Aku… temannya," kata Boby sedikit terbata. Iya selama ini mereka cuma teman. Huft…


"Walaupun berharap bisa lebih?" tanya Nina penuh selidik. Melihat kekecewaan di wajah Boby. Yang ditanya cuma mesem kalem. Tidak berminat menjawab.


Clara berlari menuju meja mereka.


"Pelan pelan Poc, kita gak akan lari kemana pun. Gak usah kaya ngejar orang gitu. Kesandung benjut keningmu," kata Boby khawatir. Nina tersenyum mendengarnya.


"Maaf, aku terlambat. Tadi yang fitting agak lama," kata Clara terengah engah. Merasa gak enak telat. Padahal disini dia yang punya masalah. 


Nina mengangguk mendengar penjelasan Boby. Yang menyuruhnya mengambil buku nikah dari kamar Tama.


"Aku mengerti. Aku akan melakukannya. Tapi menurutku Tama pasti sudah menyiapkan pengacara untuk mempertahankan pernikahan ini. Dia itu planner sekali. Kemungkinan buku nikah itu saja pasti disembunyikan dengan sangat teliti," kata Nina.


"Haa… apa yang harus aku lakukan? Ikut nyewa pengacara?" tanya Clara tambah bingung.


"Tenanglah, aku punya pengacara jempolan. Aku yang urus," kata Nina mengeluarkan hpnya. Menelpon sejenak dan mukanya berubah masam.


"Sial! Kita keduluan Tama. Dia sudah booking duluan pengacara langgananku," kata Nina.

__ADS_1


"Kita cari pengacara lain," kata Boby memberi solusi. 


Mereka sepakat membuat grub yang dinamakan Clara Menuju Bahagia diWA. Agar mudah untuk ber komunikasi. Kemudian mereka berpisah malam itu.


"Kenapa membela Pocik? Bukankah Tama adikmu?" tanya Boby sengaja mensejajarkan langkah dengan Nina. Memegang lengan Nina agar berjalan pelan. Clara sudah duluan menuju parkiran.


"Karena aku tidak ingin ada wanita tersakiti. Aku juga menyayangi Clara dengan tulus," jawab Nina santai. Boby mengangguk beberapa kali.


"Aku orangnya pendendam Mbak. Jujur saja aku gak percaya sama kamu. Jelas kamu kakaknya Tama. Jika kamu memihak Pocik, maka jangan berpikir untuk mengkhianatinya. Atau kamu akan berurusan denganku," ancam Boby dengan serius. Nina justru tersenyum dibuatnya.


"Kamu bisa percaya sama aku Bob. Dan aku bisa percaya sama kamu untuk menjaga Clara selanjutnya," kata Nina santai. Boby cuma tersenyum. Lagi lagi tidak mau menanggapi.


***


Dua hari berselang…..


'Beb, aku udah coba masuk kamar Tama. Buku nikahnya kemungkinan di sembunyikan di dalam brankas yang aku gak tahu sandinya' pesan Nina dalam grup


'Cari kunci daruratnya'. Jawab Boby.


'Aku gak tahu tempatnya.' Jawab Nina. Boby menghela nafas kasar. Kemudian izin pada Revan untuk menemui temannya sebentar.


***


"Ingat, kalau sampai gagal, jangan sebut namaku. Kau sebut namaku, aku akan langsung menangkapmu. Kartumu masih kusimpan dengan rapi," ancam Boby. Seseorang disampingnya  menatap jengah pada Boby. Turun dari mobil dan memakai topeng panda yang sudah disiapkan.


Boby menunggu sekitar empat puluh lima menit. Kemudian dia tersenyum senang. Orang itu sudah menuju mobil yang dia tumpangi.


"Aku ambil beberapa souvenir. Lumayan. Musuhmu itu kaya juga," katanya sambil menunjukkan beberapa jam branded pada Boby.


"Terserah," kata Boby tidak peduli. Menerima buku nikah Clara dan Tama. Memasukkannya pada kantong jaket bagian dalam. Malah terlihat seperti pencurian normal kalau ada barang berharga yang hilang. 


"CCTV?" tanya Boby.


"Rusak," jawab bocah di sampingnya.

__ADS_1


"Cctv jalan?" tanya Boby lagi.


"Sudah aku bajak," jawab bocah itu lagi. Boby memukul kepala bocah di sampingnya.


"Makasih Cil," katanya tersenyum. Sebelum menjalankan mobil dengan santai. Bocah ingusan di sampingnya cuma nyengir. Mengamati jam tangan yang baru saja dia gasak. Lumayan. 


Bocah bernama Febri itu kalau sekolah sebenarnya masih SMA. Akan tetapi jalan hidup membuatnya besar di jalan. Kemudian diasuh oleh seorang pencuri jempolan yang sekarang sudah pikun. Bocah jenius yang malang. Dia memang tidak sekolah, namun otaknya sangat pintar menguasai segala hal tentang kriminal. Bahkan sengaja dipelihara kepolisian untuk hal hal yang tidak bisa dijangkau polisi.


Boby menurunkan Febri didepan rumah kontrakannya. Kemudian memacu mobilnya menuju kota tetangga. Membungkus buku nikah Clara dan Tama dengan plastik. Berhenti jauh dari ekspedisi. Memakai masker dan ganti baju. Jalan kaki dengan santai. Mengirimkan buku nikah itu kealamat rumah Clara. Beres.....


Sehari berlalu...


Clara terheran sendiri menerima paket itu. Apalagi isinya buku nikah. Langsung memfotonya dan mengirim ke grub.


'Buku nikahnya sampai disini. Entah siapa pengirimnya,' ketik Clara.


'Mustahil, rumah Tama baru saja kerampokan kemarin malam.' jawab Nina tidak percaya.


'Wow, apa sudah lapor polisi? Kenapa bisa ada sama kamu Poc?' tanya Boby santai. Senyum terukir dari bibirnya. Selanjutnya grub chat membahas kerampokan dirumah Tama dengan heboh. Boby hanya menyimak sambil menimpali sesekali.


Nina bilang dia juga sudah dapat pengacara jempolan. Yang akan menjadi lawan imbang untuk pengacara Tama. Clara bahagia melihat matahari sore. Haaa.... Hari baru akan segera dimulai. Hari menuju kebebasannya sebagai janda. Haaaahhh.... Janda..... Menjanda di usia 19 tahun?? Bukan hal yang di mau siapapun. Tapi menjadi garis nasibnya saat ini.


"Mau jalan jalan sebentar sebelum pulang?" tanya Boby yang sudah ada di sampingnya. Clara tersenyum.


"Asal aku di jajanin sate lagi," kata Clara ceria. Boby mengacungkan jempolnya.


"Kau bisa tebak siapa pengirimnya Kak?" tanya Clara masih penasaran tentang buku nikah. Boby mengangkat bahunya.


"Mana aku tahu Poc, aku polisi bukan dukun. Mungkin kamu kali yang nyolong dirumah Tama," jawab Boby enteng. Clara memukul kepala Boby yang sudah pakai helm.


"Memang tampangku mirip pencuri!!" kata Clara ngegas.


"Kamu emang pencuri....."


'pencuri hatiku' batin Boby tanpa terucapkan. Demi dia bahkan Boby mau melakukan kegiatan kriminal. Ah, cinta... Bisa merubah iblis jadi malaikat. Dan malaikat menjadi iblis.

__ADS_1


"Dasar!!! Aku nyuri apa coba!! Kamu punya bukti apa? Gak boleh asal tuduh gitu," kata Clara mencak mencak. Boby cuma nyengir sambil menarik tangan Clara agar mau memeluk pinggangnya.


"Pegangan Poc, aku mau ngebut," kata Boby. Clara terdiam dari ngomelnya. Pipinya sudah memerah. Bonceng motor sambil pelukan gini emang enak. Clara menyandarkan bahunya pada pundak Boby. Motor tidak berjalan ngebut, namun amat pelan sambil menikmati hembusan angin sore dan degupan jantung yang kian berirama.


__ADS_2