
Sepasang suami istri itu menghabiskan sisa malam dengan tidur berdua diatas ranjang rumah sakit.
"Dahi kenapa?" tanya Clara sambil berbisik. Boby tidak henti mengusap perut rata Clara.
"Apa dia kedinginan di dalam sini?" tanya Boby tidak nyambung.
"Katanya rahim adalah tempat ternyaman," jawab Clara.
"Maaf meninggalkanmu di saat saat tersulit," kata Boby sambil menciumi pundak Clara.
"Its ok. I'm strong woman," jawab Clara.
"I know, you are the most strong and beautiful woman around the world," rayu Boby dalam bahasa inggris. Clara tertawa. Tahu kalau kemampuan berbahasa asing Boby memang meningkat setelah lulus dari akademi. Boby bercerita kalau dia menguasai tiga bahasa asing sekarang.
"Ayo tidur sebelum mual datang," kata Clara berusaha memejamkan mata. Perutnya sudah tidak enak. Waktu sudah menunjukkan dini hari.
Benar saja. Saat pagi datang Clara kembali mual muntah. Padahal sudah diberi obat anti mual. Boby sibuk hilir mudik membuang muntahan Clara. Calon ibu itu lemas diatas kasur. Merasa beruntung sudah ada Boby. Kalau masih ditunggu dua orang kemarin pasti keadaan kacau balau.
Boby mengusapkan minyak kayu putih pada sekujur tubuh Clara yang lemas.
"Maaf… membuat kamu tersiksa seperti ini," kata Boby dengan muka bersalah. Clara tersenyum. Mengusap dagu Boby yang berjenggot. Dokter datang bersama suster.
"Tidak banyak yang bisa dilakukan. Mual dahsyat dan muntah itu bawaan. Tunggu dua hari lagi ya. Nanti kalau kondisinya membaik boleh pulang," kata dokter.
"Tidak masalah, terimakasih Dok," kata Boby. Dokter pun berlalu pergi dengan senyuman.
"Kak aku disini sendiri saja gak papa," pinta Clara memelas. Lebih baik sendiri daripada ditunggu orang orang kemarin. Boby mengerutkan dahinya. Memandangi muka Pocik dengan seksama.
"Apa Mama membuat masalah?" tebak Boby. Clara cuma nyengir.
"Tidak masalah, aku suruh mereka pulang. Aku yang akan menjagamu disini sampai sembuh," kata Boby mantap.
__ADS_1
"Kamu gak kerja?" tanya Clara. Boby menggeleng.
"Belum ada perintah baru," jawab Boby.
"Lalu dahi kenapa kemarin?" tanya Clara lagi.
"Mau sarapan??? Apa perutmu sudah enakan?" tanya Boby lagi lagi tidak nyambung.
"Mau tahu dahimu kena apa saja susah!! Kamu itu suamiku bukan?? Jujur napa?? Kalau gini aku merasa sebagai pelakor untuk pekerjaanmu…. Juga mamamu." Dua kata terakhir hanya diucapkan Clara dalam hati. Boby tersenyum. Duduk di dekat kasur Clara. Mengelus kepala Pocik dengan sayang. Clara sudah siap mendengarkan kisah spionase. Yang mungkin akan diceritakan Boby. Pasti seru dan menegangkan.
"Aku punya asuransi swasta untuk cover kesehatan kita. Kalau sudah baikan aku tinggal buat ngurus ganti kamar. Jatah kamar kita vip," kata Boby lagi lagi gak nyambung. Clara mendengus kesal sebelum kembali merasa eneg dan muntah lagi.
Boby benar mengurus kepindahan ruang perawatan Clara.
"Kak, kamu bisa menghubungi Hani tidak?" tanya Clara. Yang ingat lagi kalau keluarganya belum ada yang membalas pesan.
"Memang kenapa?" tanya Boby. Clara pun menceritakan semua. Boby manggut manggut mendengarkan.
Datang membawa pesan yang tidak disangka Clara.
"Ibu… kemarin sakit. Itu sebabnya mereka tidak bisa datang kesini. Sekarang sudah sehat. Beliau sehat setelah dengar kabar kalau kamu hamil," kata Boby sambil membelai kepala Clara. Wanita itu langsung mewek.
"Tidak apa apa Sayang. Ibu sudah sembuh. Nanti kita pulang kerumah kalau kamu sudah baikan. Atau… mau video call dulu? Tapi hapus air matamu," kata Boby memenangkan. Clara mengangguk berkali kali. Kemudian menghapus air matanya cepat. Dua orang ibu dan anak itu bertangisan didepan hape masing masing.
Santi dan Dito datang. Bermaksud pamit pada Boby dan menyerahkan kembali kunci pintu kontrakan mereka.
"Aku ambil dua daster kamu Ra, bagus sekali soalnya," kata Santi tanpa canggung. Berarti mereka mengobok obok barang pribadi di kontrakan. Clara cuma berdengus kesal. Bukan dasternya, tapi privasi yang diganggu.
"Aku sudah membayar tagihan di rumah sakit. Mas tenang saja. Hitung hitungannya belakangan," kata Dito. Boby mengangguk. Pikirnya tidak banyak yang akan dibayar. Mereka masuk pakai bpjs kemudian berganti asuransi swasta.
Santi mau juga dibikinkan asuransi swasta kaya Clara.
__ADS_1
"Bilang lah sama atasanmu. Mamamu juga harus sepadan dengan istrimu. Jangan cuma istri yang nemu enak, Mamamu orang yang merawat dan melahirkanmu," kata Santi seolah Clara tidak pernah berkorban untuk Boby.
"Kan yang cuma satu kartu keluarga Ma. Kita sudah pisah kartu keluarga. Boby tidak akan melupakan jasa Mama kok," kata Boby. Clara sampai meremas selimut yang ada. Kesal sekali sama kelakuan Santi. Akan tetapi mau apa? Dia tidak mau terlibat pertikaian.
Santi dan Dito pergi. Santi sempat bilang kalau kadang orang hamil itu manja. Kadang ngidam juga dibuat buat agar dapat perhatian lebih. Dikatakan santai, bercanda, namun tetap serasa menusuk.
"Siapa yang menyuruh mereka mengobok obok kontrakan kita!" kata Clara kesal. Setelah dua orang kuman itu berlalu pergi.
"Dua hari lagi aku gajian, nanti beli daster baru buat kamu yaa," kata Boby menenangkan.
"Bukan masalah dasternya!! Tapi etikanya!!" kata Clara masih dengan nada tinggi. Boby bungkam.
"Kak!! Kamu diam saja??? Meski dengan sengaja mereka mengobrak abrik barang pribadi kita??" kata Clara masih tidak terima.
"Lalu aku harus apa Poc?? Seburuk buruknya mereka, mereka tetapi mama dan adikku. Keluarga yang tersisa dari keluargaku!!" kata Boby mulai panas.
"Selalu itu!! Selalu itu!! Kamu rela diinjak injak terus?? Aku istri satu satunya tapi berasa punya madu! Mamamu dan adik ipar wanitamu tidak pernah mau kalah sama aku!! Sampai masalah asuransi kesehatan saja iri!! Apa mamamu lupa kalau aku juga berjuang menunggumu?? Aku begini juga karena hamil cucu nya…. Bukan manja!!!" omel Clara dengan nada lebih tinggi. Air mata merembes jatuh dengan derasnya. Boby diam duduk disamping Clara. Membiarkan istrinya menuntaskan emosinya.
Entah kenapa tiba tiba perut Clara terasa kencang. Clara menggigit bibir bawahnya. Berusaha menenangkan diri. Boby membaca situasi Pocik dengan cepat.
"Minum dulu… aku mohon tenanglah. Maaf…. Maafkan aku," kata Boby sambil membawakan air ke depan mulut Clara. Meminumkannya perlahan. Menidurkan Clara dengan hati hati.
Boby memanggil dokter. Orang berbaju putih itu datang. Memeriksa perut Clara dengan seksama.
"Mungkin bisa saya jadwalkan USG untuk pemeriksaan lebih lanjut. Apa masih terasa kencang?" tanya dokter pada Clara. Wanita itu mengangguk lemah. Air mata deras masih mengalir. Kali ini karena takut janinnya kenapa.
"Cobalah untuk releks Bu. Jangan pikirkan hal hal yang membuat stres. Bapak tolong dukungannya. Saya akan berikan vitamin tambahan," kata dokter kemudian berlalu. Boby mendekat. Menyandarkan kepala Clara di dadanya.
"Mau makan sesuatu?? Atau… mungkin… dedek pingin karaoke punya Bapak ya?" tanya Boby sambil nyengir.
"Dasar mesum!!" kata Clara sambil berbalik memunggungi Boby. Senyum kecil terbit karena lawakan mesum Boby.
__ADS_1
"Oh, ibu yang mau karaoke punya Bapak??" lanjut Boby merasa dapat angin.