
Empat hari Boby dirawat. Sudah bosan ngajakin pulang. Selama empat hari itu juga Gina tidak pernah absen menjenguknya tiap hari. Semakin akrab dengan Santi. Bertukar nomor hp bahkan berencana nyalon bersama. Boby membayangkan kedekatan seperti itu antara mamanya dan Pocik.
Boby juga tidak diijinkan mamanya turun. Diawasi 24 jam. Alasannya ya masih sakit itu. Alasan lainnya Santi tidak ingin Boby bertemu Clara.
Santi mengadakan pesta selamatan untuk pulangnya Boby kerumah. Dia disambut bak pahlawan yang sudah memberantas kejahatan dengan gagah, padahal cuma polisi meleng karena galau. Teman teman Boby dan para tetangga yang diundang. Tidak luput Gina juga diundang mamanya.
"Kenapa gak undang Clara?" tanya Boby protes.
"Mama mana tahu nomor Clara. Dia aja dihubungi kamu gak bisa," kata Santi. Boby berencana kembali ke rumah sakit besok. Mau bertemu penjual es teh favorit.
Acara berlangsung sederhana. Makan makan bersama. Gina yang menempel terus pada Boby membuat Boby risih. Pria itu mengajak Gina menepi sebentar. Masuk kedalam ruang keluarga.
"Gi, aku gak mau berhubungan sama kamu. Jangan harap apapun dari aku. Kalau kamu mengincar polisi ada Beri dan jon. Nando juga boleh kalau kamu sanggup berhadapan sama Ine. Tapi aku tegaskan dengan jelas, kamu bukan seleraku dan aku sama sekali tidak bernafsu denganmu," kata Boby tegas. Berlalu dan kumpul dengan teman temannya lagi.
Gina bengong seorang diri sesaat. Penolakan yang sangat kasar dan menohok. Akan tetapi beberapa saat kemudian dia tidak ambil pusing. Kembali berbaur dengan teman dan keluarga Boby. Duduk didekat Revan yang asyik minum soda.
"Istrinya gak diajak Pak?" tanya Gina sambil tersenyum. Kasat reskrim narkoba itu ikut tersenyum.
"Habis ditolak Boby?" tebak Revan. Gina hanya mengangkat kedua bahunya.
"Kalau kamu nolak gak?" tanya Gina dengan berani.
"Nggak, ikut aku," kata Revan sambil tersenyum manis. Bangkit dari duduknya. Gina menyadari lesung pipi diantara jenggot yang tumbuh lebat. Revan membawa Gina masuk mobilnya.
"Kita mau kemana?" tanya Gina semangat. Tangannya sudah merogoh tas yang dia sandang. Menyiapkan alat perekam. Kasat reskrim yang selingkuh sepertinya berita bagus untuk redaksinya.
"Suatu tempat," jawab Revan santai.
__ADS_1
Mereka berkendara menuju pegunungan. Sepanjang jalan Gina mencoba membuka obrolan. Mengorek info apa saja yang bisa dia dapat. Akan tetapi sampai dia gemas sendiri, jawaban Revan tidak memuaskan. Susah sekali buka mulut. Sungut gina dalam hati. Padahal Gina sudah senang akan dapat berita hot.
Revan berhenti pada sebuah hotel mewah yang letaknya agak terpencil. Memesan satu kamar dengan pembayaran di belakang.
"Mau apa?" tanya Gina sudah membelai dada bidang Revan begitu dia masuk kamar. Mengecup bibir Revan dan mendapat tanggapan yang memuaskan.
"Tunggu disini, aku lupa barangku di mobil. Begitu aku kembali, kamu harus sudah siap," kata Revan sambil memberi kedipan mata. Berbalik meninggalkan kamar.
Gina menyiapkan kamera yang mengarah pada kasur. Membuka seluruh baju yang dia kenakan. Haaa tidur dengan Iptu Revan??? Apa rasanya??? Sepertinya dia akan sangat dipuaskan. Belum apa apa tubuhnya merinding hebat.
Setengah jam…. Satu jam…. Revan tidak datang. Kemana? Gina memakai bajunya lagi dan keluar kamar. Mencari Revan di seluruh penjuru hotel. Tidak ada…
"Mas, kemana pria yang bersamaku tadi?" tanya Gina pada resepsionis hotel.
"Sudah pergi Mbak, pakai mobil," jawab resepsionis yang membuat Gina ngamuk. Dia ditinggal???
"Sial sial sial!!!! Dasar tim narkoba koplak!! Gila semua!! Edan!!!" umpat Gina ngamuk ngamuk seorang diri. Yang membuat dia mirip orang gila. Gina berbalik ke kamar membuka hpnya. Tidak ada sinyal….. haaa bagaimana dia pulang?? Teringat juga dengan pembayaran kamar yang belum diselesaikan Revan. Setan!!!!
"Kok tiba tiba ngilang Van? Kemana tadi?" tanya Ine.
"Membuang ulat bulu ke atas gunung," jawab Revan santai. Kemudian kembali sibuk dengan pengusutan kasus narkobanya. Nando agak bengong…
"Mbak, bukannya tadi Pak Revan keluar sama Gina? Kok ulat bulu?" tanya Nando heran.
"Biarin, kalau dia bilang ulat bulu ya ulat bulu," jawab Ine tidak peduli.
***
__ADS_1
Boby menuju rumah sakit keesokan harinya. Yang dia temukan adalah seorang bocah gondrong yang sedang asyik main hp.
"Clara mana?" tanya Boby sudah ngajak ribut. Tiba tiba hatinya panas melihat lelaki itu. Takut Pocik menjalin hubungan dengan orang lain.
"Ow, Mbak Clara. Ya dirumahnya mungkin Mas. Mana aku tahu posisi bosku dimana," jawab pemuda itu santai. Boby menarik nafas lega. Berarti orang itu cuma pegawai yang disuruh jaga.
Boby menuju rumah Clara. Baru sampai jalan depan rumah, pemandangan yang dia lihat membuat hatinya terbakar. Rama menurunkan Pocik dari boncengan motor besarnya. Dengan pede ikut turun dan masuk rumah. Boby urung mau kerumah Pocik. Putar arah dan melaju ke sembarang tempat.
Boby berkendara sampai di waduk. Haruskah dia menyerah? Haruskah Boby kalah lagi demi kebahagiaan Pocik. Jika Pocik meninggalkannya karena kebobrokan yang diakui itu memang wajar. Ah, Boby memukul lututnya sendiri. Menyesali hal hal buruk yang pernah dia lakukan.
Hapenya berbunyi. Telpon dari Revan.
"Cutimu masih sehari, tapi aku mau kamu masuk sekarang. Penting… rumah Pak Sidiq," kata Revan kemudian mematikan sambungan telepon. Boby beranjak dari duduknya. Iya, bekerja saja yang benar. Boby pasrah jika Clara tidak menerimanya lagi.
***
"Gak pulang Mas?" tanya Clara pada Rama yang masih betah dirumahnya. Pagi tadi sudah datang, ngajakin main di timezone. Mereka main berdua kaya bocah. Semakin dekat semakin Clara tahu sisi kekanakan Rama yang masih dominan. Usia mereka terpaut satu tahun tua Rama, namun seakan Rama itu adiknya. Besar di dunia yang berbeda membuat Clara dan Rama beda kedewasaan. Clara yang mengerti kerasnya hidup. Sedangkan Rama yang dari kecil tumbuh dalam kemanjaan gelimang harta.
"Nanti lah, aku masih mau sama kamu. Kok malah diusir usir," kata Rama merajuk.
"Ya udah, aku tinggal jahit yaa… jahitanku udah mau deadline," kata Clara.
Rama menarik Clara. Tidak rela ditinggal beraktivitas yang lain selain menemaninya. Tubuh mungil Clara diangkat ke pangkuannya dengan mudah
"Mas!! Gak gini dong!" Clara protes.
"Bilang saja sama pelangganmu kalau duit mereka akan aku ganti dua kali lipat," kata Rama. Berusaha mencium Clara. Tidak berhasil, gadis itu menghindar dengan cepat.
__ADS_1
"Bukan masalah uang, tapi tanggung jawab. Gak semua bisa dibeli dengan uang," kata Clara sedikit sebal. Rama tinggal pencet, uang datang. Sedang dirinya harus bersusah payah untuk dapat bertahan hidup. Payah. Batin Clara.
"Pulanglah Mas, aku beneran harus kerja," kata Clara dengan tegas. Turun dari pangkuan Rama. Mulai membuka buku catatan jahitnya. Sementara Rama masih ngeyel. Cemberut memandang Clara yang sibuk kerja. Belum mau pulang juga.