Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Penjelasan Boby


__ADS_3

Sepanjang jalan Clara berfikir. Agak malu juga kalau kuliah ditemani sambil terborgol begini. Walaupun kalau dia nekat Boby juga akan malu. Sampai fakultasnya dia justru berbalik ke kantin. Memesan dua es teh dan duduk tenang. Mengirim pesan pada Merlin agar menemuinya. Clara menyembunyikan borgol di tangan mereka dengan menyelipkannya di baju lengan panjangnya dan jaket yang dipakai Boby.


Boby melihat sekeliling. Ada juga cewek cewek seger disini. Fakultas Clara memang 70% berisi cewek. Boby sampai bingung mau lihat yang mana. Tanpa sadar cewek di sampingnya sudah melotot tajam.


"Astaga!!!" Boby kaget saat Clara mencuci mukanya dengan embun dari es mereka.


"Mukamu itu mesum Kak! Mingkem kalau lihat cewek. Salah salah kamu digebukin orang gara gara muka mesummu itu!" kata Clara kesal.


"Tapi tetap kamu yang bertahta di hatiku. Mataku boleh melihat yang lain, tapi hati ini hanya terukir nama Clara Nessa," rayu Boby. Clara cuma melengos. Gak ada wajah bersemu merah seperti biasanya kalau Boby merayu. Aahh, apapun itu sepertinya ngambeknya agak parah. Batin Boby.


Merlin datang setelah kelasnya selesai. Terheran temannya duduk lekat sambil gandengan tangan.


"Oh Tuhan!! Kalian terborgol berdua!!" ucap merlin kaget.


"Diem Merrr!! Udah, tolong kumpulkan tugasku! Aku juga tetep ikut kelompok B buat praktek. Tolong bilang teman teman aku tidak bisa datang di meeting pertama. Sampaikan maafku," kata Clara sambil menyerahkan map pada Merlin. Gadis indo itu manggut manggut.


"Pak tukang cilok, kalian serasi sekali," puji Merlin pada Boby saat mereka pamit. Boby hanya tersenyum sambil mengedipkan mata.


Selanjutnya mereka ribet untuk masuk mobil. Boby yang berada di sisi kanan terpaksa jadi sopir. Clara berdecak kesal tiap kali tangannya tertarik karena aktivitas Boby menyetir.


"Pelan pelan ih, tanganku udah lecet!!" kata Clara kesal


"Namanya juga nyetir, pasti banyak gerak. Makannya cepat bilang apa salahku. Tahu tahu dimarahi, tahu tahu diem. Kamu pikir aku dukun yang bisa mengerti isi kepalamu?"  kata Boby sambil melirik Pocik. Gadis itu cuma berpaling. Boby menyentak tangan mereka. Berhasil mendaratkan ciuman di pipi Pocik saat lampu merah menyala. Clara menampar muka Boby.


Pria itu justru menepi. Memaksakan ciumannya yang bertubi tubi. Clara menyerah. Kalau sudah begini Boby memang tidak mau ditolak. Ciuman mereka berakhir saat Clara mulai ngos ngosan mengatur nafas.


"Belum mau bicara?" tanya Boby. Memandang lekat wajah Pocik.


"Aku tidak mau menikah denganmu," ucap Clara lirih. Kali ini giliran Boby yang menarik nafas panjang. Menjalankan mobil entah kemana.

__ADS_1


Mereka akhirnya duduk di taman kota. Tempat pertama kalinya Boby mencium Clara saat persidangan dengan Tama.


"Tidak mau menikah denganku? Saat nikah kantor hanya tinggal semingguan? Kamu gila Poc!! Aku akan menyeretmu bahkan dengan paksaan sekalipun!!" ancam Boby.


"Kenapa aku harus menikah denganmu!! Kenapa semua pria itu berengg sseekk!! Terutama kamu!" kata Clara sambil menunjuk dada Boby. Mengawali cerita sore saat melihat Boby tarik tarikan sama Gina.


"Aku sudah memberimu kesempatan sekali… dan kamu sudah menghancurkannya Kak. Aku juga jengah dijadikan babu sama….." kalimat Clara menggantung. Dia tidak mau Boby terlibat konflik dengan mamanya karena dia.


"Sama?" tanya Boby sambil lekat memperhatikan wajah Clara. Gadisnya itu justru berpaling.


"Oh, jadi ada dua masalah. Masalah Gina aku punya penjelasan. Masalah kedua kamu belum mau bicara sayang?" tanya Boby lembut. Clara masih betah memalingkan wajahnya. Boby kemudian cerita duduk persoalan kenapa menarik tangan Gina di depan restoran mewah.


"Apa Jon sudah gila? Apa matanya sedikit terganggu jadi tidak bisa membedakan mana cewek baik baik dan cewek tidak baik?" tanya Clara heran sendiri. Agak malu ternyata dirinya yang overthinking. Boby tersenyum melihat muka Pocik yang mulai cerah. 


"Kami juga berencana memeriksakan mata dan psikologi Jon. Revan sampai mengira dia menelan ekstasi sesaat sebelum melamar Gina. Sayangnya dia sadar sepenuhnya. Cinta memang sanggup jatuh pada siapa saja. Sayangnya cinta Jon memang salah tempat terlalu jauh. Sampai hinaan seperti itu yang diterima. Aku juga baru pertama itu ingin memukul cewek," kata Boby gemas. Teringat muka Gina yang santai. 


Hening….. Clara menyusun kalimat untuk minta maaf.


"Maaf, aku yang sudah overthinking sama kamu Kak," kata Clara cepat. Menceritakan pertemuannya dengan Joice dan Citra.


"Aku takut kamu seperti mantan suami Mbak Joice dan Mas Tama. Sekali tukang selingkuh tetap tukang selingkuh. Sekali tukang jajan, tetap tukang jajan," kata Clara. Berharap Boby tidak membahas masalah kedua lagi. Boby tersenyum.


"Aku sudah berjanji bukan? Aku akan berusaha menepatinya. Memang berat untuk seorang lelaki yang sudah terbiasa dengan apem, tiba tiba harus puasa untuk tidak begitu. Tapi itulah bukti cintaku padamu," kata Boby sambil mengelus kepala Pocik dengan tangannya yang bebas.


"Sekarang bagaimana cara lepas benda ini?" tanya Clara frustasi.


"Aku belum lupa kalau kamu punya masalah kedua," kata Boby. Sambil lekat memandang Pocik. Yang dipandang terlihat gugup. Clara tidak siap jujur sekarang. Apa lagi hari H semakin mendekat.


"Belum mau cerita?" tanya Boby. Clara menggeleng pelan.

__ADS_1


"Apa kita lanjut menikah?" tanya Boby lagi. Matanya masih lekat memandang Pocik. 


"Iya, tentu saja," jawab Clara. Baginya dicintai Boby saja cukup. Masalah mamanya dia masih sanggup menahan. Yang penting Boby mencintainya.


"Baiklah, apapun itu aku harap kamu menceritakannya kelak. Ayo saling jujur Sayang. Berbagilah apapun denganku. Tapi kalau kamu belum siap sekarang aku tidak memaksa. Yang penting kita tetap menikah," kata Boby sambil tersenyum. Mengajak Pocik beranjak dari tempat itu. Untuk melepaskan borgol di tangan mereka.


Clara dan Boby tiba di kantor polisi. Clara sudah duduk tidak tenang di mobil.


"Kak, aku mau pipis," kata Clara resah.


"Ya udah pipis dulu yuk," ajak Boby satai.


"Jangan gila dong!!" kata Clara protes. Mana mungkin dia ngajak Boby ke toilet.


"Yaudah ngompol aja disitu. Atau mau aku pegangin itunya biar gak bocor?" tanya Boby sambil nyekikik. Clara sudah mengapit kakinya sendiri.


"Kaakkk… mana toiletnya," kata Clara menyerah. Daripada ngompol disini. Boby tersenyum. Mengantar Clara menuju toilet dekat parkiran. Yang setahu Boby jarang digunakan. Bisa kena disiplin juga dia kalau main borgol orang sembarangan seperti ini. Apalagi berduaan di dalam toilet.


Clara memelorotkan celana jeansnya di bawah tatapan Boby. Jantung Boby berdesir melihat segitiga berwarna pink. 


"Kak palingkan mukamu!!" kata Clara. Akan tetapi Boby malah melotot. Mukanya sudah berubah mesum.


"Cepat pipis jangan banyak protes," kata Boby. Dengan sangat terpaksa Clara memelorotkan segitiga pinknya dibawah tatapan Boby yang tidak berkedip. Boby mengatur nafas demi menenangkan dirinya sendiri. Bonus dadakan yang tidak disangka sangka. Melihat sekilas calon sarang burung terakhirnya. Hihihihi. 


Boby mengajak Clara keruangannya. Minta tolong sama Ine. Teman temannya tertawa ngakak. Tidak menyangka dengan kegilaan Boby. Jon ikut tertawa. Ini tertawa Jon pertama kali setelah dipermalukan Gina. Borgol dilepas dengan mudah. Clara tersenyum lega.


"Makan siang yuk," ajak Boby pada Pocik. Ini memang sudah masuk waktu makan siang. Revan dengan pede mengeluarkan bekal makan siangnya. Clara sampai melongo. Seorang perwira polisi bermuka garang makan bekal yang disiapkan istrinya?? Ah, romantis sekali….


"Kenapa begitu mukamu Ra? Ini masakan istriku. Enak," kata Revan melihat muka bengong Clara.

__ADS_1


"Eh, selamat makan Pak, dihabiskan biar istrinya senang," kata Clara sebelum berlalu bersama teman teman yang lain menuju kantin.


"Dia tidak pernah bawa bekal dari kecil. Makannya sesenang itu bawa bekal makanan. Sisi sentimentil Revan selain hobinya bicara sama kuburan ibu dan adiknya," kata Ine. Clara jadi merasa iba. Bahkan pria segarang itu punya sisi sentimentil.


__ADS_2