Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Duka Revan


__ADS_3

Suasana kacau untuk Revan. Pak Sidiq menghentikan operasi setelah tahu Putri lagi lagi jadi korban. Revan tidak mau menyerah. Dia tetap memburu Tomo sendirian. Mengawasi setiap cctv yang ada di sekitar TKP dari rumah Boby.


"Pulang dulu Pak, katanya anakmu sudah lahir," bujuk Boby. Revan diam tidak menjawab. Sibuk dengan laptop Ine. Bahkan pria itu tidak makan.


Boby mendapat panggilan tugas. Langsung dari Pak Sidiq.


"Pak Sidiq memanggil kami," kata Boby pada Revan. Pria itu lagi lagi bungkam.


"Aku ke kantor dulu," kata Boby pada Revan. Menepuk pundak atasannya itu pelan sebelum berlalu.


"Apa dia tampan?" tanya Revan dengan suara bergetar. Boby tahu maksud Revan adalah anaknya.


"Aku tidak tahu. Kurasa dia pasti tampan seperti Papanya. Mau kuantar menjenguknya?" tanya Boby. Revan menggeleng cepat. Matanya masih lekat mengawasi laptop.


"Aku takut…. Biar kutangkap dulu manusia ini," jawab Revan. Sudut matanya sudah berair.


Boby tiba di polres saat semua temannya sudah berkumpul. Minus Revan tentu saja.


"Apa kabarnya?" bisik Ine pada Boby. Ine bertanya kabar Revan yang kemungkinan kena skors langsung dari Pak Sidiq. Karena pembangkangan perintah secara langsung.


"Hancur… seperti orang tertembak. Dia terus bergerak agar rasa sakitnya tidak terasa. Padahal peluru semakin dalam menghujam," kata Boby menggambarkan kondisi Revan saat ini.


Pak Sidiq datang dan menyuruh semua orang bergerak menangkap Revan. Dia dijadikan buron karena menentang perintah atasan.


"Siapapun yang melindunginya akan terkena sanksi yang sama!!" kata Pak Sidiq tepat di depan muka Boby.


"Siap Pak!!" jawab Boby lantang. Mulutnya berkata siap, tapi seluruh tubuh dan otaknya akan terus membantu dan melindungi Revan. Juga teman teman yang lain. Setia kawan mereka bukan hanya ikatan dinas, tapi melekat dihati masing masing.


Tim itu kemudian menuju rumah Boby. Membantu Revan secara ilegal. Terus bekerja bahkan saat sudah tengah malam. Clara diam saja meski rumahnya mendadak menjadi base camp. Tahu kondisi Revan yang begitu hancur. Dia tidak tega. Yang dia dengar harapan hidup anak Revan kecil. Tim itu tahu posisi Tomo. Mereka bergerak untuk menangkapnya. Saat itu juga ada tim propam (polisinya polisi) yang bergerak menangkap mereka. Info itu bocor karena teman dekat Jon anggota propam. Keberadaan mereka diketahui atasannya. Buru buru mereka meninggalkan rumah.

__ADS_1


"Maaf sudah membuatmu terlibat," kata Revan pada Clara. 


"Tidak masalah. Saya senang membantu," jawab Clara sambil tersenyum tipis. Tim Revan berangkat. 


Tak berapa lama tim propam datang. Tim dengan baju polisi lengkap dengan topi berbaret biru itu menggeledah rumah Clara. Menanyai tentang keberadaan Revan dan teman temannya. Clara dengan santai menjawab tidak tahu.


"Lalu bekas apa ini!!" bentak ketua divisi pada Clara. Menunjuk bekas minuman energi dan makanan siap saji dalam jumlah banyak. 


"Makanan saya Pak. Saya makan banyak biar tumbuh besar," jawab Clara sembarangan. Ketua divisi menyudutkan Clara ketembok.


"Kamu tahu pangkat saya? Kamu tahu berhadapan dengan siapa? Saya bisa memecat suamimu dalam sekali perintah! Juga memenjarakannya!! Lebih baik jujur saja!!" bentak ketua divisi. Clara tersenyum. Dia sudah diberi tahu Boby tentang ini. Pasti ada intimidasi dari pihak propam untuk membuat dirinya mengaku.


"Saya tidak mengerti Pak. Suami saya sibuk memancing dari kemarin," jawab Clara santai. Iya…. Sibuk memancing kerusuhan. Batinnya. Clara menyembunyikan getaran tangannya dibalik tubuhnya. Bersandar dengan nyaman di tembok seolah tidak bersalah dan tidak mengerti apapun. Tim propam meninggalkan rumah karena tidak memiliki bukti cukup. Segala intimidasi dan ancaman sudah dikeluarkan untuk menakuti Clara. Tidak bergeming. Istri Boby itu ngotot bilang tidak tahu. Clara melorot di tembok setelah tim itu pergi. Gemetaran seorang diri dirumah. Waktu sudah menunjukkan dini hari.


***


Clara mengerjap kaget karena dering telponnya. Boby menelpon. Pukul 07:00 pagi. Dia tertidur beberapa jam. Boby mengabarkan kalau Tomo berhasil diringkus.


"Kakak serius???" tanya Clara memastikan.


"Iya, kami menuju rumah Revan untuk melayat," kata Boby. Kemudian Boby bertanya apa yang dilakukan propam kemarin. Clara pun mulai bercerita.


"Bagus, gadis pintar," puji Boby pada istrinya. Boby menyadari istrinya bermental kuat. Tidak semua wanita sanggup menghadapi propam seorang diri. Apalagi dia sipil.


Clara ikut melayat kerumah Revan. Sekalian menjemput Boby pulang. Boby langsung memeluknya saat mereka berdua di mobil.


"Terimakasih sudah tangguh sejauh ini," kata Boby.


"Tentu saja. Aku Clara si wanita baja," jawab Clara sombong. 

__ADS_1


"Ah, enggak baja…. Gak enak baja. Enak kulit aja," kata Boby sambil merogoh rok hitam yang dipakai Clara. Istrinya langsung menjerit. Boby mencubit organ terlarangnya.


"Dasar mesum!!" kata Clara. Boby nyengir saja.


Mereka tidur sampai sore. Mengisi tenaga yang terkuras beberapa hari kebelakang. Kemungkinan Boby akan mengikuti sidang kode etik juga ada. Semua biar dipikir nanti. Ini saatnya beristirahat sejenak.


Boby bangun duluan. Melihat Pocik yang masih lelap. Tidur miring menghadapnya. Gemas…. Boby membelai perlahan wajah Pocik. Wanita itu menggeliat. Melek sedikit kemudian merem lagi. Boby tersenyum. Sekarang bukan gemas, tapi naa ff ssu. Boby menciumi muka Pocik.


"Kakak aku ngantuk…," gumam Clara sambil membalik tubuhnya. Terus menghadap Boby bisa dipastikan bibirnya bengkak.


Boby cemberut. Kalau hari hari biasa dia pasti sudah memaksa, namun kali ini dibiarkan saja Pocik tidur lagi. Ketegangan di rumah ini pasti sangat mengganggu istrinya. Boby bangkit dan mandi. Melihat rumah sedikit berantakan dia berminat membersihkannya. Juga memutar mesin cuci yang full isinya. Boby bukan pria yang tidak mau menyentuh pekerjaan rumah. Akan tetapi kesibukan yang membuat dia tidak bisa sering membantu.


Clara bangun dan keluar kamar sambil senyum senyum. Rumah sudah rapi dan terdengar guyuran air artinya Boby sedang mandi. Clara membuka stok kulkas. Kosong…… tidak ada bahan makanan yang bisa dimasak untuk makan malam. Ya sudah beli saja. Batin Clara. Hp Boby berbunyi. Telepon dari Dito.


"Kak ada telepon!!" teriak Clara sambil membawa hp Boby menuju kamar mandi. Meskipun mereka suami istri, tapi hp tetap barang pribadi masing masing. Boby tidak peduli dengan isi hp Clara. Pria itu hanya bermodal percaya pada istrinya. Justru Clara yang sering kepo isi hp Boby.


"Dari siapa?" tanya Boby sambil nyembul. Rambutnya penuh shampo.


"Dito," jawab Clara sambil memperlihatkan layar hp ke muka Boby.


"Angkatlah!" Perintah Boby sambil melanjutkan mandinya. Guyuran air langsung terdengar.


"Halo, kenapa To?" tanya Clara.


"Mbak, Mas Boby mana?" tanya Dito disebrang sana. 


"Lagi mandi, tunggu sebentar… paling bentar lagi selesai," jawab Clara.


"Oh, ya sudah sampaikan saja kalau papa masuk rumah sakit lagi. Tadi pingsan di rumah," kata Dito.

__ADS_1


"Rumah sakit mana? Gimana kondisinya?" tanya Clara mulai panik. Sesaat kemudian Boby muncul tanpa malu. Berjoget menggoyangkan pinggangnya. Membuat 'gajahnya' ikut bergoyang. Clara bingung mau ketawa atau lanjut panik.


__ADS_2