Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Pahitnya hidup


__ADS_3

6 bulan berlalu.....


Boby sudah turun surat tugas baru. Padahal kakinya sebenarnya masih proses penyembuhan. Surat tugas untuk divisi anti teror di salah satu provinsi di Jawa. Membuat pria itu ngotot minta pulang. Akhirnya Clara dan Boby terbang untuk pulang. Kepulangan mereka disambut gembira oleh keluarga Clara dan Boby. Santi mengadakan pesta syukuran di sebuah restoran mewah bersama keluarga Clara.


Boby senang tidak terkira. Ternyata lukanya kemarin memberi hikmah. Santi lebih bisa menerima Clara dan keluarganya.


"Makasih Ma, makasih untuk pesta syukuran yang meriah ini," kata Boby sambil memeluk Santi. Mamanya tersenym menerima pelukan Boby.


"Ini Dito yang merancang," kata Santi singkat.


***


Betapa terkejutnya Clara saat tahu ketiga depot esnya ludes terjual.


"Semua habis untuk biaya kalian berdua saat di Sumatra. Aku selalu mengirim uang untuk kebutuhan kalian toh. Juga jatah uang jajan mama tiap bulan dan biaya syukuran kemarin. Semuanya habis bahkan minus. Almarhum papa punya utang dua ratus juta. Aku bagi secara adil seratus untuk aku dan seratus untuk kalian. Kalian memiliki hutang sebesar 100 juta pada bank. Sertifikat rumah kalian yang jadi jaminan," kata Dito. Clara dan Boby melongo.


"Tapi… tiga outlet itu menghasilkan uang yang lumayan selama ini. Bahkan lebih besar dari nominal yang kamu kirimkan pada kami To," kata Clara masih tidak percaya. Mereka bahkan berhemat di Sumatera. Karena uang yang dikirim Dito pas pasan. Gaji Boby juga habis untuk nombok kebutuhan disana. Juga tiket pesawat dan biaya pengobatan lain yang tidak tercover asuransi kesehatan pemerintah.


"Jaman berubah Mbak. Otlet itu tidak hoki saat aku pegang. Maaf aku gak bisa bantu. Aku juga punya banyak hutang," kata Dito kemudian pergi begitu saja. Clara lemas diatas sofa rumahnya. Otlet es itu adalah sumber penghasilan utamanya. Rintisan usaha yang benar dimulai dari nol. Nyatanya sekarang ludes begitu saja. Dia juga sudah tidak bekerja. Bahkan sertifikat rumah ini yang ada dirumah ibunya juga diambil Dito sebagai jaminan untuk separuh hutang papa. Mereka…. Bangkrut.


Boby memeluk Pocik dengan sayang. Clara bersandar nyaman pada dada Boby. Pusing dan lemas.


"Maaf… maafkan aku. Aku lebih menjadi beban daripada menjadi suami yang bertanggung jawab. Mulai sekarang aku yang berjuang. Aku yang akan membuat kita bangkit dan memiliki segalanya seperti dulu," janji Boby.


***


Boby memulai pekerjaannya. Clara ikut pindah ke Yogyakarta. Tempat dimana Boby ditugaskan. Mereka mengontrak sebuah paviliun kecil. Clara menjual mobil, perabotan, dan mesin mesin jahitnya demi mengurangi hutang di bank. Dan membayar cicilan yang telat dua bulan beserta bunganya. Itupun masih kurang beberapa puluh juta.

__ADS_1


Mereka memulai hidup baru dengan perhiasan Clara yang dijual satu persatu. Gaji Boby masih bulan depan. Hidup baru dalam lingkungan baru tanpa bantuan bukan hal yang mudah. Apalagi mereka memulai hidup baru ini dari minus. Bukan dari nol. Jogja juga bukan kota yang murah seperti kota Solo. Biaya hidup disini lebih tinggi. Mereka merasakan hidup dalam keterbatasan.


"Poc, ke Malioboro yuk," ajak Boby suatu sore.


"Ngapain?" tanya Clara yang hanya pegang uang seratus ribu. Gajian masih sepuluh hari lagi. Boby mungkin pegang uang lebih sedikit.


"Jalan jalan aja. Bensin motorku full kok. Kita juga udah makan," kata Boby yang sebenarnya butuh hiburan karena pekerjaan barunya yang memeras otak. 


Bekerja mengawasi teror dari sebuah ruko berkedok toko teknik. Mereka bekerja dibawah tanah. Benar benar terlihat seperti toko biasa diluaran. Padahal itu adalah safe house untuk para agen di lapangan. Boby seorang perwira. Tugasnya hanya menerima laporan, merancang rencana, dan melaporkannya balik pada pimpinan. Akan tetapi itu lebih sulit dan lebih memeras otak.


"Cepet ah, dandan yang cantik," kata Boby karena Pocik hanya diam bergeming.


Benar saja… ternyata ini hiburan yang murah meriah. Mereka nongkrong di Malioboro. Modal uang parkir saja cukup. Pura pura jadi turis. Menikmati musik dari para pengamen. Malam yang semarak. Hiburan yang cukup untuk mereka yang pas pasan. Pulang tengah malam kemudian tidur berpelukan.


"Kak, aku boleh kerja gak?" tanya Clara. Walaupun bingung mau kerja dimana.


"Tapi… kalau aku kerja, mungkin bisa membantu cicilan di bank," kata Clara. Boby diam sejenak.


"Boleh, tapi kalau kamu hamil harus berhenti. Aku gak mau kamu capek," kata Boby. Clara mengangguk. Boby menenggelamkan mukanya di dada Pocik. Mereka kemudian tidur diiringi dinginnya malam.


Pagi datang. Clara bingung masak apa. Seratus ribu untuk sepuluh hari kedepan. Bahan apa yang bisa dibeli dengan uang 10 ribu plus beras yang habis? Gas juga sudah menunjukkan jarum merah. Clara garuk garuk kepalanya yang tidak gatal. Boby bangun tidur. Melihat Pocik yang melamun sambil memegangi panci magic com.


"Kenapa Poc?" tanya Boby.


"Udah bangun Kak," sapa Clara sambil nyengir.


"Kenapa? Kamu kurang sehat?" tanya Boby sambil memegangi kening Pocik. Terlihat sekali muka pusingnya.

__ADS_1


"Uangku tinggal seratus ribu Kak, gajian masih sepuluh hari lagi. Beras habis, lauk gak ada, gas tipis. Hehehe kita lagi syuting Kak, judulnya realita hidup," kata Clara nyengir. Boby ikut tersenyum getir. 


"Aku juga bingung gimana cara makan siang dengan uang tinggal 50 ribu untuk sepuluh hari kedepan," kata Boby ikut garuk garuk kepala. Mereka nyengir bersama. Kemudian tertawa bersama juga. Tertawa dalam kegetir.


Akhirnya hari itu Clara muter muter cari bank kecil. Untuk menggadaikan bpkb motor nya. Satu satunya benda yang bisa menghasilkan uang. Tidak ada lagi benda berharga yang mereka punyai kecuali dua buah motor. Benerapa bank di datangi. Hasilnya nihil. Apesnya karena belum tahu jalan dan lokasi, Clara malah nyasar. Kuotanya habis walaupun untuk melirik google maps untuk kembali. Clara menghapus pilu air mata yang mulai menetes. Bermodal nekat ia dapat pulang ke kontrakan. Walaupun sudah tersesat puluhan kali.


Boby sudah pulang. Terlihat cemas karena Pocik tidak ada dikontrakan. Boby langsung berlari ketika mendengar deru motor Pocik.


"Kemana aja!! Kenapa hpmu tidak bisa dihubungi? Ini sudah malam Poc!!" kata Boby cemas. Pocik tersenyum lemah. Dia pingsan di depan suaminya. 


"Poc…. Poc…. Astaga," kata Boby yang sempat menangkap tubuh Clara sebelum jatuh ke tanah. Seharian Clara belum makan. Dia hanya sarapan nasi kuning porsi kecil bersama Boby tadi pagi.


Boby yang cemas justru membawa Pocik ke dokter dekat kontrakan. Praktek dokter mandiri yang tentu saja tidak menerima kartu jaminan kesehatan. Keluar uanglah lagi mereka untuk membayar dokter.


"Berapa biayanya?" tanya Clara.


"Lima puluh ribu," jawab Boby. Uang yang sebenarnya kecil, namun sangat berharga untuk mereka saat ini. Clara semakin pusing saja. Setelah itu mereka makan di angkringan pinggir jalan. Sedikit tenaga untuk Clara yang kelaparan.


"Uangmu tinggal berapa Kak?" tanya Clara. 


"Dua puluh ribu," jawab Boby.


"Uangku tinggal tiga puluh ribu," kata Clara.


"Dapat pinjaman?" tanya Boby. Clara menggeleng lemah. Di kota ini bpkb dan ktp mereka tidak laku. Harus pulang untuk dapat pinjaman.


Akhirnya bermodal nekat mereka motoran pulang ke kota Solo. Mengantongi uang lima puluh ribu untuk bensin dan air dalam botol minuman. Berharap BPKB motor Clara bisa laku dikota mereka.

__ADS_1


__ADS_2