Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Perpisahan lagi


__ADS_3

Orang yang datang ternyata teman teman lama Boby. Jon, Beri, Ine, dan Nando. Langsung merangsek masuk rumah. Buka kamar padahal Boby lagi polos. Ine ditahan Nando diluar kamar saat tahu Boby masih polos.


"Asyuuuu….. asyuuu….. kenapa kalian muncul!!!" umpat Boby kesal. Sambil membungkus tubuhnya dengan selimut. Nando melemparkan celaa nnaa daa lam dan kolor Boby.


"Ha… aku tahu kamu pasti pulang. Salam buat Pak Likmu yang garang. Selamat kawan," ucap Jon sambil memeluk Boby. Bergantian mereka memeluk sahabatnya yang sedang berjuang itu. Tanpa ada yang mengatakan, namun saling tahu Boby diterima di STIN. Boby tersenyum sambil mengucapkan terimakasih. Clara pamit untuk pergi sebentar.


Kumpulan sahabat itu berkumpul santai diruang tengah. 


"Kenapa Mas Boby yang dapat rekomen? Padahal aku lebih muda dan tanpa istri?" tanya Nando tidak terima. 


"Karena Boby tidak terlalu tinggi badannya, otak nya juga mumpuni dari otakmu. Juga belum memiliki anak, walaupun beristri," jawab Jon santai. Sekolah kedinasan Boby memang unik. Dia punya tinggi minimum dan maksimum. Agar tidak mencolok ketika berbaur kelak. Juga tidak diwajibkan memakai seragam saat keluar gedung asrama.


Clara datang membawa makan siang dan dua pil kb darurat untuk dirinya. Dia juga sempat ber kb lagi tadi.


"Wah, Mbak Clara… tau aja kalau kita sedang lapar," kata Nando girang. Mereka makan dengan ramainya. Sempat vìdio call dengan Revan saat jam makan siang. 


"Haaa lihat lah rupa taruna sentul!" kata Revan. Girang juga melihat Boby.


"Kemarilah kom. Eh, sekarang kamu bukan komandan, tapi kokom bagian administrasi. Cieee ganteng banget kerja pakai seragam," ejek Boby pada Revan.


"Asyu yak!! Tunggu aku! Aku hajar kamu!" ancam Revan. Boby dan teman temanya tertawa ngakak. Revan sekarang terikat jam kantor. Tidak segarang dulu.


Mantan tim itu bercerita kalau pimpinan mereka sekarang adalah seorang Ipda yang tidak lebih berani dari Ine. Jadilah tim itu lambat sekali bekerja.


"Aku kangen berburu tersangka kaya kemarin," kata Beri.


"Cuma Revan dan beberapa polisi lain yang bekerja dengan hati. Berburu tanpa henti," sahut Jon.


"Revan itu setengah gila. Dia bahkan memburu adiknya sendiri," kenang Boby. Mereka menghela nafas bersama. Kangen dengan kebersamaan seperti dulu. Tim itu kemudian bantuin jahitan Clara, walaupun banyak ngerecokinnya. Revan datang sore hari. Memakai baju lengkap kepolisian. Menjadi bulan bulanan dan guyonan teman temannya. Reuni kawan itu berlangsung seru.


***


Boby tidak mendapat cuti lama. Selama cuti itu digunakan dirinya untuk family time. Mengaku kalau dirinya sekarang kuliah lagi pada Santi dan keluarganya. Meskipun kalau ditanya kuliah dimana hanya dijawab asal.

__ADS_1


"Jadi kamu tidak bekerja Bob?" tanya Santi saat mereka berdua berkunjung kerumah. Boby menggeleng.


"Jadwal kuliah Boby padat Ma, Boby tidak sempat bekerja," jawab Boby.


"Oh, begitu… tapi… jatah bulanan Mama amankan Ra?" tanya Santi tanpa malu pada Clara. Sifatnya memang berubah manis setelah dapat jatah bulanan yang lumayan. Clara mengangguk.


"Aman Ma, doakan usaha Clara lancar tanpa hambatan," jawab Clara.


"Aamiin…. Mama do'ain deh buat Clara," kata Santi senang.


Clara sengaja datang di pameran kriya milik fakultas Rama. Bermaksud pamer kalau hubungannya dengan Boby baik baik saja.


"Aku gak tahu kamu suka patung," kata Boby heran. Clara cuma tersenyum menanggapi. Tahu benar kalau Rama bertugas hari ini. Bergandengan mereka masuk ruang pameran. Berbagai seni kriya terpanjang di sana. Clara terus menempel pada Boby. Apalagi saat melihat Rama. Boby langsung paham situasi. Mencium sekilas bibir Clara tanpa aba aba. 


"Kakak!!" pekik Clara kaget.


"Kalau cuma bergandengan, tidak membuat dia yakin. Kalau begini dia yakin hubungan kita baik baik saja. Apa yang dia lakukan selama ini?" tanya Boby.


"Kamu bermasalah apa sama dia? Apa yang dia lakukan saat aku gak ada?" cecar Boby di taman dekat danau. Lekat memandang mata Clara.


"Tidak ada… dia hanya mengira aku sudah pisah dari kamu… jadi…. Yah… begitulah. Aku sudah tegas menolaknya. Dan ini menjadi bukti kalau kita masih bersama," jelas Clara. Boby manggut manggut.


"Pulang yuk, aku ngantuk kalau harus berseni," kata Boby sambil menarik Clara berdiri.


***


Saatnya berpisah tiba. Clara membawakan banyak barang untuk Boby. Mulai dari obat, makanan, cemilan, bantal, dan masih banyak lagi. Boby sampai geleng geleng kepala. 


"Poc, aku mirip pengungsi korban banjir bukan balik ke asrama," kata Boby.


"Anggap saja kamu kebanjiran perhatian dan cintaku," gombal Clara. Boby gemas menarik hidung Clara yang tidak seberapa mancungnya.


"Kakak sakit ih!" kata Clara protes. Boby tertawa. Mereka saling tatap saat tawa Boby reda. Mendadak rasa haru terselip di dada. Ada yang nyeri… ada yang sakit. Lagi lagi mereka harus menghadapi perpisahan.

__ADS_1


"Sampai jumpa 6 bulan lagi Kak," kata Clara sudah sambil mewek. Boby memeluknya.


"Tetaplah bersamaku, Poc. Sabar ya Sayang, kurang beberapa waktu lagi. Tidak lama," kata Boby. Clara mengangguk beberapa kali di dada Boby.


Bersama mereka menuju bandara. Benar saja… bagasi milik Boby over.


"Istri saya takut saya kelaparan Pak. Jadilah seperti ini. Saya mirip pengungsi," kata Boby pada petugas bandara. Clara nyekikik di belakangnya.


"Kak,"


"Hum,"


"Kamu bisa tahan sampai enam bulan gak begituan?" tanya Clara sebelum mereka berpisah.


"Tahan lah… yang aku tunggu adalah bidadari tercantik," jawab Boby.


"Yang bener?" tanya Clara gak percaya. Mereka saja tidak pernah absen setiap harinya.


"Enggak juga sih," jawab Boby sambil nyengir.


"Trus gimana?" tanya Clara kepo. Boby mencondongkan dirinya ke Clara.


"Pakai sabun buat pelicin. Main solo," bisik Boby. Clara melongo.


"Astaga Kak, ternyata kamu dimanapun boros sabun," kata Clara sambil ketawa. Mereka berdua tertawa. Sama sama tidak mau menghabiskan waktu untuk kesedihan, karena berpisah sesaat lagi.


"Kak,"


"Hummm,"


"Kayaknya enak kalau sabunnya dilubangi di tengah," kata Clara membayangkan. Boby tertawa terpingkal pingkal ikut membayangkan. Clara ikut tertawa. Pembicaraan absurd dan aneh aneh terus saja meluncur di ujung perpisahan yang sebenarnya menyesakkan dada. Boby mencium kening Pocik lama. Tidak rela… benar benar tidak rela sebenarnya.


"Jaga diri ya Poc, maaf aku harus meninggalkanmu lagi. Terima Kasih untuk dukunganmu," kata Boby. Clara mengangguk. Melihat ke segala arah agar tidak tumpah air matanya. Tidak ingin bayangan terakhir Boby tentang dirinya adalah tangisan. Boby terbang lagi... Setapak lebih dekat dengan cita cita. Clara terpaku lagi seorang diri. Diam dan sepi. Diantara hiruk pikuk bandara yang ramai. Menghapus air mata yang tumpah… maju dan berjuang sendiri lagi.

__ADS_1


__ADS_2