Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Kegilaan Boby


__ADS_3

Boby dengan raut sedih membawa Clara meninggalkan pantai itu. Ketakutan terbesarnya adalah ditinggal Pocik. Dulu, cinta yang ada di dadanya hanya sebatas rindu. Sekarang ada rasa ingin melindungi dan bersama selamanya. Boby akan lakukan segala cara agar Pocik tidak menyerah... Apapun caranya.


Mereka sudah masuk dalam kamar hotel di tepi pantai yang lebih terpencil dari pantai yang tadi.


"Kak, kita mau apa!" Kata Clara tidak begitu suka. Dia sudah protes dari masuk hotel tadi. Tidak didengar. Boby tetap menyewa satu kamar untuk mereka.


"Tiduran. Disini kasurnya empuk," jawab Boby sudah terlentang diatas kasur. Lekat memperhatikan wajah sendu Pocik yang berdiri tidak nyaman di dekat kasur. Boby menepuk kasur disampingnya.


"Kemarilah," ajak Boby. Clara menggeleng cepat.


"Aku gak mau yaa… aku gak mau kayak gini. Nanti kalau kena grebek gimana? Udah janda digerebek di hotel sama polisi. Aku dikira wanita murahan Kak!!" kata Clara marah marah. Boby tersenyum miris… dia sekarang tahu apa yang dipikirkan Pocik hingga pura pura tersenyum dari tadi. Kemungkinan itu yang dibicarakan mamanya. Ah.. iya… mamanya sempat protes tentang status janda yang disandang Pocik. Boby bangun dari tidurnya. Berdiri didepan Pocik dengan mata menyala marah.


"Memangnya kenapa kalau kamu janda dan aku polisi? Aku bahkan punya salinan surat visum kamu dari rumah sakit. Diluar sana banyak gadis rasa janda. Dengar Poc!! Gunakan kedua telingamu untuk mendengar ini baik baik!! Aku, gak peduli dengan semua kata kata orang!! Aku gak peduli dan gak mau tau. Yang aku tahu, aku mencintaimu!! Dan tidak berencana melepaskanmu dengan mudah!! Kalau kau berencana pergi dariku, maka batalkan dari sekarang!!!" Kata Boby tepat memandang mata Pocik. Kalimatnya keras diucapkan. Jelas ada kemarahan yang tidak mau disembunyikan. 


Clara memejamkan matanya. Tidak sanggup bertatapan dengan Boby. Luruh lagi air mata yang sudah berusaha ditahan sejak tadi. Boby merengkuhnya dalam pelukan. Menciumi rambut Pocik dengan sayang.


"Jangan pernah berencana pergi… atau berpikir untuk pergi, hadapi semua dengan ku… hadapi!! Aku mohon. Semuanya tidak akan lama...," bisik Boby memelas. Mencari cari bibir Pocik. Memberikan kecupan dalam yang sulit Clara tolak.


Ciuman yang panas… berubah jadi cumm bbuan panas yang memabukkan untuk Clara. Gadis itu hanyut dalam permainan tangan Boby dan ciumannya. Sudah terlentang di kasur dengan Boby diatasnya. Clara tersadar saat rasa geli terasa di bagian bawah tubuhnya. Tangan Boby meyisip dibalik celana tipis yang Clara pakai. Boby sudah melucuti kebaya yang dia pakai tanpa sadar. Be ha yang dipakai sudah lepas pengaitnya. Tangan Boby bebas meremas dua gunung yang berpuncak kemerahan.


"Kak!!" kata Clara sambil menahan tangan Boby yang mulai merajai area segitiga keramat. 


"Kenapa? Nikmati sayang," bisik Boby perlahan. Suaranya sudah berat dengan nafas yang berderu lebih cepat. Kembali mencium bibir Clara dengan ganas. Tangannya kembali aktif di bawah. Clara tersadar kembali. Menghindari ciuman Boby yang memabukkan.

__ADS_1


"Kak, aku gak mau," kata Clara. Nafasnya ngos ngosan. Menahan hasrat yang membakar dirinya untuk melakukan lebih. Boby berhasil membakar hasrat lain dalam diri Clara dengan sempurna.


"Aku mau. Aku mau kamu Clara Nessa. Serahkan padaku," kata Boby bersiap menyerang lagi.


"Kak! Kau lakukan lagi aku teriak!" ancam Clara.


Boby tersenyum kecewa. Clara mengambil selimut dan menutupi tubuh toplessnya dengan selimut.


"Bukankah kau mencintaiku?" tanya Boby.


"Bukankah kau juga mencintaiku? Kenapa melakukan ini padaku? Agar aku tidak berharga sama sekali? Agar aku beneran jadi janda rusak?" tanya Clara balik. Air mata sudah memenuhi mukanya lagi.


"Aku mau melakukannya agar kamu tidak lari dariku. Bahkan dengan omongan mama atau orang lain. Agar kau terikat denganku tanpa bisa pergi," kata Boby tak kalah pilu.


"Kamu gila!" kata Clara marah. Membenahi bajunya yang sudah diacak Boby parah. Boby membiarkannya. Dia sadar cara itu juga membuat Pocik marah.


"Aku tidak akan menyerahkan apapun pada pria berengg ssek kaya kamu!!" lanjut Clara marah. Harga dirinya terasa terinjak injak kalau begini. Mamanya baru saja bilang menjauhi anaknya, malah anaknya berusaha merusaknya!!! Haaa setelah rusak dia akan ditinggal??? 


Clara keluar kamar hotel dengan marah. Boby mengikutinya dengan santai.


"Aku mau pulang sendiri. Jangan ikuti aku!!" kata Clara di halaman hotel.


"Naik apa?" tanya Boby santai. Clara bengong sejenak. Adakah ojek di pantai yang terpencil ini? Boby tertawa melihat ekspresi Clara.

__ADS_1


"Bodoh!! Bicara dipikir dulu jangan asal bunyi," kata Boby mengejek. Menarik tangan Clara menuju mobilnya. Clara manut walaupun kesal luar biasa.


Perjalanan selanjutnya berisi keheningan. Clara mematikan alunan lagu campursari yang membuatnya makin galau. Ternyata benar kata Boby. Lagu lagu berbahasa jawa milik Alm. Didi Kempot dalam sekali maknanya. Rasanya semakin dalam dan menusuk saat hati sedang tidak menentu seperti ini.


"Kalau dimatikan akan terasa mirip kuburan disini, sunyi," kata Boby.


"Biar!! Kamu demit (hantu) penunggu kuburannya," kata Clara. Boby tertawa.


"Aku rela jadi hantu asal terus menghantui kamu," kata Boby sambil nyengir. Clara diam. Buang muka menatap jendela samping. Tidak berminat menjawab Boby.


"Maaf, maaf kalau melukai harga dirimu. Aku murni melakukannya karena tidak mau ditinggal kamu. Andai aku bisa, aku sudah menyuruh penghulu untuk menikahkan kita sekarang juga," kata Boby. Clara diam membisu. Hatinya campur aduk antara berbunga dan pilu.


"Poc….. Pocik….. permen manisku…." kata Boby, karena Clara hanya bungkam. Tangan Boby jahil menoel dagu Clara. Yang ditowel berdecak sebal. Bahkan mengelap bekas tangan Boby di dagunya. 


Boby tertawa melihatnya. Menghentikan mobil ke tepi jalan sembarangan. Mencium seluruh muka Clara dengan paksaan. Semakin Clara meronta semakin Boby memaksa. Akhirnya Clara menyerah. Menerima seluruh ciuman Boby dimukanya. Boby tersenyum setelah puas. Tidak suka penolakan apapun dari Pocik. Dia lagi posesif posesifnya dengan gadis itu. Clara meronta. Boby melepaskan lilitan tangannya di tubuh Clara dengan suka rela.


"Dasar gila!" umpat Clara.


"Iya, aku tergila gila sama kamu," jawab Boby santai. Menjalankan mobilnya lagi.


Mereka sampai di depan rumah Clara. Ibu Clara keluar rumah menyambut.


"Sore Bu, maaf pulangin Clara agak lama. Tadi jalannya memutar tau tau sampai pantai," kata Boby sambil nyengir. Ibunya Clara yang sebenarnya mau ngomel malah jadi ketawa.

__ADS_1


"Lain kali tak jewer kamu Bob," kata Ibu. Boby nyengir lagi dan mohon diri. Melirik sebentar ke arah rumah tetangga Clara. Beberapa ibu ibu tajam menatap Boby. Kepo...


__ADS_2