
Hari mitoni tiba. Tradisi dari jawa untuk syukuran kehamilan dan permohonan doa untuk kelancaran persalinan. Mitoni diadakan di rumah Santi. Dengan biaya yang lagi lagi dibebankan pada Boby tanpa bantuan dan sokongan Dito. Padahal tiap kali Dito ada acara, Boby selalu menyumbang sebisanya.
Rumah Boby juga tidak sebagus dulu. Rumah yang terlihat tanpa perawatan sekarang. Atun sudah tidak bekerja disana. Jadilah rumah itu dirawat Santi seorang diri. Juga ditinggali Santi seorang diri. Dito dan Jesi pindah kerumah baru mereka yang megah. Bukan rumah yang bersih menurut Clara. Dengan perut membesar Clara dan Boby membersihkan seisi rumah sebelum acara esok hari.
Acara mitoni berlangsung lancar. Segala prosesi dijalankan Clara dan Boby. Mereka terlihat bahagia. Menantikan calon anak yang sebentar lagi lahir.
Clara sedang bersiap packing kembali ke Jogja. Boby sedang menyapu halaman rumah. Bagian rumah yang belum dibersihkan Boby dan Clara setelah yang lain beres. Santi masuk kamar Clara.
"Bisa bicara sebentar?" tanya Santi datar.
"Silahkan Ma, mau bicara apa?" tanya Clara masih sambil sibuk peking.
"Mama dengar kamu mau lahiran di Solo ya? Boby bilang nanti aku bergiliran jagain bayi sama ibumu?" tanya Santi lagi. Clara mengangguk.
"Nanti tolong bimbingannya Ma. Clara gak pernah pegang bayi sebelumnya hihihi," kata Clara sambil nyekikik.
"Tapi….. Mama tidak mau. Mama… sudah tidak biasa juga pegang bayi. Mama mau nungguin, tapi tidak untuk mengurus bayi kalian. Itu sangat merepotkan. Apalagi bayi yang baru lahir," kata Santi lantang. Terdengar tanpa hati di telinga Clara. Calon ibu itu melongo sesaat. Benarkah anaknya ditolak bahkan sebelum lahir ke dunia? Dan pelakunya neneknya sendiri???
"Ti…tidak masalah. Ibuku pasti mau mengurusnya," kata Clara sedikit terbata.
"Bagus. Yang repot memang harus pihak perempuan. Pihak laki laki sepertiku tidak harus direpotkan. Itu sudah hukum disini. Usahakan lahiran normal di bidan. Tidak memakan banyak biaya. Kasihan Boby bekerja keras. Sayang kalau uangnya hanya untuk kamu lahiran," kata Santi. Clara hanya mengangguk. Menekan suara dan air matanya. Hatinya sudah perih tidak terkira.
"Ada baju bekas milik Ayuna dulu. Pakai itu saja. Jangan boros membelanjakan uang Boby untuk kebutuhan bayi. Aku…. Juga butuh uang Boby untuk renovasi rumah ini," kata Santi lagi. Lagi lagi Clara hanya mengangguk. Tangannya meremas daster yang dia kenakan. Menahan luapan emosi dan kesedihan yang semakin memburuk karena mood ibu hamil.
"Kamu ikhlas kan kalau sebagian uang Boby untuk Mamanya? Ingat Ra, anak laki laki itu selamanya milik ibu mereka. Istri dan anaknya hanya numpang hidup untuk si lelaki," kata Santi sebelum beranjak dari kamar Clara.
Clara duduk di ranjang. Terisak seorang diri. Menumpahkan segala pilu yang berasal dari mulut Santi. Mengelus perutnya dengan sayang.
"Ada Ibu dek, ada Ibu. Nenek boleh menolakmu dan tidak menyayangimu karena menganggap kita parasit. Ibu tetap menyayangimu. Ibu selamanya sayang sama dedek," kata Clara menguatkan diri.
__ADS_1
Perjalanan pulang sore itu membuat Clara lebih diam. Boby menyadari itu.
"Kamu capek Poc?" tanya Clara saat mereka turun dari kereta. Clara hanya menggeleng. Hatinya bingung menyampaikan pesan mertuanya pada anaknya sendiri. Belum sanggup juga berbagi kesedihan yang terasa amat menyakitkan ini.
***
Clara menelpon ibunya. Bertanya apakah sanggup nanti menjaga bayi dan dirinya sendirian.
"Soalnya mertuaku gak bisa Bu, katanya udah gak biasa pegang bayi. Katanya bayi merah memang merepotkan," kata Clara melalui telpon.
"Owalah…… kok yo bangetenmen karo putu dewe muni koyo ngono (owalah, kok ya keterlaluan sekali sama cucu bilang kayak gitu)!!! Udah, tenang Nduk. Ibu sanggup merawatnya nanti. Kamu tenang aja!" kata Ibu semangat. Clara pun sedikit menarik nafas lega.
***
Siapa sangka ternyata ibunya kembali dirawat saat kehamilan Clara mencapai usia 8 bulan. Clara jadi tidak tega. Fisik ibunya tidak memungkinkan untuk merawat bayi yang katanya butuh ekstra tenaga.
"Kenapa Sayang? Ada masalah?" tanya Boby ikut panik. Melihat Clara yang terlihat bersedih. Boby memang gampang panik kalau itu berhubungan dengan Clara.
"Em….. gimana yak," kata Clara bingung menyampaikan. Dia bahkan belum menyampaikan kalau mamanya menolak menunggui. Boby mendekat. Mukanya sudah berkerut.
"Ada yang kamu sembunyikan?" tebak Boby.
Akhirnya dengan terisak Clara menceritakan kebingungannya. Tetap menyensor kalau Santi tidak mau dia terlalu boros untuk bayinya. Itu terlalu menyakitkan untuk dibicarakan.
"Mamamu gak mau nungguin. Ibu sakit sakitan. Gak tega juga. Tahu sendiri kesehatannya kaya gitu. Kita berdua gak bisa gendong bayi. Nanti kalau dia lahir mau diapain??" tanya Clara sambil sesenggukan. Boby juga bingung kalau begini.
Diam sejenak memikirkan solusi. Dia terlatih untuk memecahkan masalah secepatnya. Juga meminimalisir resiko dari masalah itu. Tugasnya setiap hari memang seperti itu. Harus apa?? Kalau mau sewa baby sitter juga gak mampu mengingat kondisi finansial yang belum stabil.
"Apa ada kursus mengurus bayi atau sejenisnya Poc?" tanya Boby. Rumah sakit langganan Clara periksa ada senam ibu hamil, tapi gak tau juga ada atau tidak kelas merawat bayi.
__ADS_1
Akhirnya mereka sama sama mencari tahu kelas mengasuh bayi. Sama sama belajar mengasuh bayi berdua. Mulai dari cara memandikan, pakai baju, pakai bedong dan lain lain. Calon orang tua itu semangat mengurus bayi mereka sendiri kelak. Clara senang bukan main. Dukungan penuh dari Bobh adalah obat mujarab dari segala derita keluarga toxic yang ada.
Hingga saat mereka belanja kebutuhan baby, mereka bertemu dengan Sus Wiwik. Orang yang merawat Daus dulu.
"Sus Wiwik ngapain disini??" tanya Clara setelah mereka berpelukan.
"Ikut anakku Mbak. Anakku rumahnya di Jogja," jawab Sus Wiwik girang. Tidak menyangka bertemu mantan majikan asyiknya.
"Ini sudah berapa bulan?" tanya Sus Wiwik bahagia.
"Delapan, nunggu dikit lagi," kata Clara bahagia.
"Mau lahiran disini Mbak?" tanya Sus Wiwik. Clara mengangguk. Dia emang sepakat sama Boby mau lahiran di Jogja saja. Tidak jadi di Solo. Malah ditangani dokter yang biasa merawat kandungan Clara.
"Berarti nanti keluarganya yang kesini?" tanya Sus Wiwik lagi. Clara menggeleng sedih.
"Kami berencana merawatnya sendiri Sus," kata Clara.
"Sendiri?? Saat bayi baru lahir?" tanya Sus Wiwik heran. Agak terkejut dengan kenekatan Clara. Yang setahu Wiwik menggendong bocah saja tidak becus. Clara sedikit menceritakan tentang ibunya yang sakit. Dan mertua yang tidak sanggup merawat.
"Kalau mau izinkan aku ikut merawatnya. Gak dibayar gak papa. Aku juga gak punya kesibukan Mbak. Cucuku sudah besar semua Aku seneng akhirnya Mbak Clara punya anak sendiri," kata Sus Wiwik menawarkan bantuan. Mata Clara menghangat oleh air mata. Ternyata masih ada orang baik yang mau membantunya. Mereka pun bertukar nomor telepon yang bisa dihubungi.
Boby turut mengucapkan terimakasih pada Sus Wiwik. Sebenarnya jauh di lubuk hatinya khawatir kalau harus mengurus benar benar berdua saja. Walaupun sudah belajar cara merawat bayi dengan baik.
"Nanti tetap kita beri Sus Wiwik beberapa tanda terimakasih ya Buk," kata Boby. Yang membiasakan diri memanggil Clara dengan sebutan Ibuk. Clara mengangguk.
"Tentu, syukurlah kita bertemu beliau disini," kata Clara senang.
Tidak ada yang tidak mungkin. Ketika Tuhan sudah berkehendak menolong umatnya. Walaupun tidak ada yang menolong sekalipun, maka tangan Tuhan sendiri yang mengantarkan pertolongan. Hidup memang seperti itu. Tidak ada satupun yang luput dari pengamatan agung dari Nya. Yang penting tetap semangat dan berusaha. Jalani saja semua sebaik baik kita bisa. Hasilnya serahkan pada Tuhan.
__ADS_1