
Boby membalas Clara dengan panjang lebar
Tapi Elsa punya Rendi yang bahkan beneran nikah di dunia nyata. Kalau dia Nobita, aku mau jadi Giant yang bisa mbully Nobita dari aku kecil sampai aku sebesar ini. Kalau dia Rhoma aku mau jadi air teh, karena Rhoma paling enak dicelup air teh.
Clara mau ketawa ngakak tapi gengsi. seharian dia menangis sampai matanya bengkak. Masak iya tiba tiba dia ketawa ngakak di rumah. Bisa bisa dikira gila sama Tito. Clara cuma berani mesem mesem gak jelas. Entah kenapa langkahnya menjadi ringan untuk mandi.
Malamnya ada saja joke lucu yang dikirimkan Boby. Termasuk alamat youtube seorang creator yang nyanyi dengan suara falsnya. Arif Muhamad namanya. Kali ini Clara sampai ngakak guling guling bersama ibu dan kakak perempuannya. Ayahnya yang jarang ketawa saja sampai mesem mesem.
"Astaga... Astaga.... Nyanyinya sampai batuk dan muntah muntah," komentar kakaknya.
"Dan dia serius kaya penyanyi normal. Gak ketawa dengar suaranya sendiri. Padahal kita yang dengerin sampai sakit perut," kata Clara ngos ngosan karena kebanyakan ketawa. Haa selalu ada suka dibalik duka. Selalu ada duka setelah suka. Hidup memang bak perputaran roda. Jalani putaranmu, tanpa mengganggu putaran nasib orang lain.
'terimakasih kiriman jokenya. Gak cuma aku yang ketawa. Semua orang ikut ketawa.' pesan Clara pada Boby.
'sama sama. Aku emang mirip badut yang bikin semua orang ketawa. Kamu tinggal datangi aku kapanpun kamu butuh hiburan. Aku ada buat kamu, bahkan dari dulu,' jawab Boby. Clara enggan membalasnya. Dua kali cintanya jatuh pada orang yang salah. Walaupun Boby sangat baik, tapi dia juga yang mematahkan hati Clara dulu. Tidak tertarik. Clara tidak tertarik dengan laki laki manapun. Kalau untuk membalas Tama, Clara baru mau. Hahaha dia merasa jahat.
***
Pagi datang. Clara bersiap kerja dari rumahnya. Bengkak di matanya sudah mengempis, walaupun masih jelas terlihat. Semangat kerja!!! Clara memilih naik ojek karena motornya tertinggal dirumah Tama.
__ADS_1
"Matamu kenapa Ra?" tanya Maya heran.
"Oh, ini… kena kencing kecoa Mbak," Clara ngibul. Maya tertawa terbahak bahak. Sebenarnya dia tahu itu bengkak karena menangis.
"Mungkin mukamu mirip toilet kecoa Ra," kata Maya.
"Enak aja! Secantik ini disamain sama toilet. Kecoa lagi," kata Clara manyun.
"Yowes aku minta maaf. Sebagai permintaan maafku tak beliin es coklat jumbo deh," kata Maya sambil menepuk pundak Clara. Maya tahu temannya itu sedang bermasalah, tapi bukan kapasitas Maya untuk bertanya jika Clara tidak cerita duluan. Maya lebih memilih menghibur temannya dengan membelikan minuman anti galau untuk cewek.
Cup es coklat dari Maya masih di tenteng Clara. Maya sudah pulang duluan. Clara ogah pulang cepat membuat dia menyelsaikan ngesom bawahan dulu sampai selesai. Padahal jam pulang sudah lewat dari tadi. Cup es itu sudah habis tak bersisa. Saat Clara hampir membuangnya, ada deru mobil yang sangat Clara kenal. Punya Nina. Clara menghembuskan nafas malas.
Berdua mereka berkendara dalam mobil. Nina tidak langsung membahas Tama. Dia justru asyik bercanda dengan Clara seperti biasanya. Membuat suasana akrab dan hangat. Meskipun ada badai besar dihati masing masing.
"Aku gak mau masuk ataupun turun mobil kalau ada Tama didalam," kata Clara saat mereka tiba di depan rumah Mbah Narti.
"Aman udah aku paketin balik ke rumahnya sendiri tadi. Ibu dan aku yang mau bicara sama kamu. Tapi makan dulu yaa. Galau juga butuh tenaga kan?" kata Nina cengengesan.
Menu yang dihidangkan ternyata mie ayam dengan sempol ayam yang entah didapat dari mana.
__ADS_1
"Haaa kalian dapat info dari Tama tentang makanan favoritku?" tanya Clara miris. Iya miris karena setahu Tama itu lah makanan favorit Clara. Sangking tidak dekatnya mereka. Hingga tidak saling tahu makanan favorit masing masing.
"Iya 'Mas' mu Tama memberi tahu kami kalau cemilan favoritmu sempolan. Dan makanan favoritmu mie ayam. Jadi kami pesankan di warung dekat sini," kata Mbah Narti. Menegaskan kata 'Mas' dengan begitu terlihat. Beliau sadar menantunya ini sudah panggil njangkar (nama saja) pada Tama. Clara cuma tersenyum kecut menanggapi.
Usai makan malam Clara diajak Mbah Narti di dapur.
"Bantuin Ibu bikin sayur buat yang tandur besok!" kata Mbah Narti. Clara nurut saja. Kembali Clara duduk di bale bale dapur dengan Mbah Narti.
"Tama itu anaknya penurut dari kecil. Gak neko neko….," Mbah Narti mengawali percakapan seriusnya dengan Clara. Tentu saja ini misi utamanya.
"Jangan pernah mau kalah sama pelakor Nduk. Kamu istri sahnya. Kamu yang dapat restu keluarga untuk bersama Tama. Usahakan Tama, rebut hatinya. Dia juga ada cinta kok. Buktinya dia mau Mbah berbicara denganmu. Dia mau kamu kembali padanya," kata Mbah Narti. Clara tersenyum kecut.
"Clara sudah berusaha Bu, Clara sudah mencoba segala cara. Hasilnya adalah penolakan Tama dan pandangan jijik Tama pada Clara. Itu… menyakitkan. Sebagai istri sah, namun tidak pernah dianggap ada," jawab Clara.
"Berarti usahamu kurang keras. Godaanmu kurang menggoda. Bukan salah kumbangnya jika memilih bunga yang lain. Mungkin bunga dan madumu tidak wangi dan manis," kata Mbah Narti. Walaupun diucapkan dengan nada pelan, namun sangat menohok hati Clara. Oh, ya…. Clara sadar. Wanita disampingnya ini ibunya Tama. Sesalah apapun anaknya, seorang ibu pasti membela anaknya bukan? Haa baiklah… Clara membuka mulutnya untuk membalas.
"Mbah, bukan salah Clara juga kalau terlibat dalam urusan pelik ini. Clara tetap melanjutkan menikah dengan Tama, padahal Clara tahu Daus itu anaknya Tama diluar nikah. Clara tahu Tama tidak mencintaiku. Clara tetap berusaha mencintai Tama. Clara sudah berusaha menjadi istri yang baik. Clara menerima Daus dengan sepenuh hati!" kata Clara dengan suara meninggi.
"Hasilnya... anak mu itu tetap mencintai Citra. Hasilnya aku bahkan tidak disentuh.... Justru memilih tidur dengan janda anak dua itu, bahkan dalam sekali bertemu. Maaf kasar, tapi mungkin burung anakmu itu hanya bisa berdiri saat sama Citra," lanjut Clara penuh emosi.
__ADS_1
"Kalian juga salah dan berdosa untuk perselingkuhan Tama. Dia sudah berusaha memohon restu baik baik. Kenapa harus menentang cinta anakmu sendiri? Kenapa sekeras itu padahal hati mereka sudah menyatu? Apa karena kasta? Apa karena harta kalian yang tidak terhingga? Lalu kenapa menerimaku? Padahal aku juga miskin. Kalian jadikan aku tumbal?!!! Ini tidak adil bahkan untuk Tama sekalipun. Ini tidak adil untukku, Citra, dan bahkan Daus. Kalian memisahkan cucu kalian sendiri dari ibu kandungnya. Permisi. Maaf kalau kata kataku kasar Mbah," kata Clara berdiri dari duduk. Menyalami Mbah Narti yang terbengong dengan ucapan Clara.