
Clara mengusap kepala Boby dengan sayang. Dia mengerti cinta Boby. Clara paham benar kebucinan pria ini kalau sudah mencintai. Dia adalah manusia ter tulus yang pernah Clara temui. Tidak pernah memikirkan kebahagiaannya asal orang orang yang dia cintai bahagia. Sama persis dengan mendiang Tono.
"Semua orang berubah Kak. Dito mungkin salah satu orang yang berubah karena silau dengan harta. It's ok. Yang penting kamu menyadarinya. Tidak tertipu lagi dengannya," kata Clara berusaha tegar. Dia harus menjadi tiang kokoh untuk sandaran Boby yang sedang rapuh. Clara juga berjanji untuk melindungi Boby dari kebusukan Dito.
"Dia licik dan busuk. Aku juga bisa. Sekarang kelicikan dan kebusukannya berhadapan denganku. Dia tandinganku. Kakak tenang saja," janji Clara pada Boby.
"Aku seperti ditinggal keluargaku Poc. Mamaku seperti itu, adikku seperti itu…… tapi…. Mereka tetap keluarga," isak Boby kembali. Clara menegakkan kepala Boby. Lurus mereka saling menatap mata.
"Sekarang aku keluargamu Kak. Aku dan Jasmine. Dua orang yang bisa kau lindungi dan kau jaga. Juga mau mendengar segala keluh kesahmu. Kita akan saling memiliki. Saling memeluk dan menjaga," kata Clara. Boby mengangguk. Kesadaran baru seolah datang di pikirannya. Sekarang dua wanita ini yang penting dalam hidupnya. Yang lain pikir nanti.
"Bapak, bantuin Ibuk belajar jalan dong," kata Clara mengalihkan kesedihan Boby. Akhirnya Boby memapah Clara turun dari ranjang. Clara merasakan kejutan baru dari luka sesar. Perutnya terasa tertarik saat dia berusaha menapakkan kaki. Sakitnya bukan cuma luar biasa, tapi luar dalam atas bawah.
"Lahiran sesar tidak sakit!!! Mulut baumu itu yang asal jeplak!! Perut dibelek, dijahit berlapis dibilang gak sakit!! Gak jadi ibu menurutmu ya gak masalah!! Aku juga gak mengharap kamu jadi nenek!!" omel Clara menjawab Santi tadi siang. Sambil terus berusaha jalan. Boby tertawa. Tahu benar istrinya sudah tahap doll (lepas) dengan keluarganya. Tidak sakit hati lagi kalau Clara mengomeli keluarganya. Jasmine tersenyum dalam tidurnya. Hidupnya akan seru bersama dua orang tua koplak. Boby melongo dengan senyuman bayinya. Itulah pertama kali Boby melihat senyuman terindah dalam hidupnya.
***
__ADS_1
Jasmine pulang kerumah. Disambut senang oleh penghuni kontrakan lain. Juga ibu Rete dan keluarganya. Mbah Wiwik memutuskan untuk ikut tinggal dikontrakan Clara sementara. Mengurusi dan mengajari Clara sampai dia mahir mengurus Jasmine seorang diri.
Bayi kecil itu dirawat dengan cara modern dan medis. Tidak tersentuh mitos mitos bayi yang beredar. Mbah Wiwik memang baby sitter bersertifikat. Dia mengurus Jasmine dengan cara yang diajarkan lembaga tempat sekolahnya dulu. Tidak ada bedong ketat untuk meluruskan kaki Jasmine, tidak ada gurita yang dipakai. Tidak ada koin yang ditempel agar perut Jasmine tidak bodong. Dan masih banyak lagi mitos yang sebenarnya merugikan bayi. Sus Wiwik juga membawa Jasmine pijat di bidan. Bukan di dukun bayi. Membalik tubuh Jasmine sehari tiga kali.
"Ini gak papa Mbah?" tanya Clara saat melihat bayi belum ada seminggu tengkurep.
"Ini justru baik untuk motoriknya Mbak. Bayangkan kalau kamu tiduran terus sepanjang hari. Ini juga mengajari dia untuk tengkurep sendiri nanti. Asal tidak terlalu lama," jelas Mbah Wiwik. Clara manggut manggut. Ikut belajar menengkurapkan Jasmine. Walaupun bullyan tentu saja datang. Dikira ibu kejam karena menelungkupkan bayi. Clara gak peduli. Sedikit heran kenapa sesama wanita dan sesama ibu harus saling membully. Bukankah seorang ibu selalu memberikan yang terbaik untuk anaknya?? Kenapa tidak percaya saja pada ibunya?? Kenapa harus cerewet bilang ini itu padahal tidak ikut merawat atau terkena imbas bila terjadi sesuatu.
Clara juga menjadi ibu modern. Tidak harus minum jamu tiap hari. Makan apa saja yang dimau. Mau pedes, mau amis, mau apa saja. Karena sejatinya apa yang dimakan ibunya tidak berpengaruh pada rasa asinya. Tidak ada juga beda rasa antara asi kiri dan asi kanan. Semua hanya mitos belaka.
Clara merasa bersyukur karena dibimbing oleh Mbah Wiwik sekarang. Tidak ada mitos tidak penting yang harus dituruti. Coba kalau dirawat ibunya sendiri. Pasti banyak mitos mitos yang harus ditaati. Apalagi kalau mertua toxic yang merawat. Haaaah….. entah apa jadinya. Tuhan memang sesayang itu pada umatnya, selalu ada maksud dibalik lara yang kita alami. Ada hikmah yang selalu bisa dipetik dengan manis. Yang penting tetap percaya dan taat. Dia, lebih tahu yang terbaik untuk umatnya.
"Saya ikhlas membantu Mbak, tolong jangan ambil pahala saya dengan memberikan upah," kata Mbah Wiwik. Akhirnya Boby dan Clara membelanjakan uang Mbah Wiwik berwujud sembako. Menyerahkannya di rumah anak Mbah Wiwik di Jogja. Silaturahmi pun terjalin dengan baik. Orang lain yang menjadi saudara dengan cepat.
***
__ADS_1
Dito sekarang bekerja di sebuah bengkel ternama. Toko besi mendiang Tono sudah benar benar tutup. Akan tetapi kasus menimpanya. Dito ketahuan menerima suap dari banyak pihak. Yang menyebabkan kerugian tidak sedikit pada perusahaan. Dito diminta mengganti semua kerugian yang dirinya ciptakan.
Jesi yang bekerja menjadi sales makeup kenamaan tidak lagi diperpanjang kontraknya. "Kejadian itu bersamaan dengan kasus Dito, jadi mereka menganggur sekarang. Dengan hutang yang luar biasa besar," cerita Boby pada Clara.
"Jadi, mereka bangkrut? Mobil dan rumah yang mereka idam idamkan terjual?" tanya Clara tidak percaya. Boby mengangguk.
"Mereka sekarang tinggal bersama mama lagi," kata Boby mengakhiri kisah. Clara mencebikkan bibirnya. Dia menutup segala akses komunikasi tentang Santi, Dito, dan Jesi. Memblokir tiga nama itu dari aplikasi teraktif yang dia miliki. Hanya tahu kabar mereka lewat Boby.
"Ternyata karma memang nyata. Apa yang mereka ambil secara kotor, ditarik Tuhan kembali," kata Clara sambil sedikit nyekikik.
"Maaf, bukan tertawa diatas penderitaan adikmu, tapi… aku senang mendengarnya. Semoga menjadi pembelajaran untuk mereka," kata Clara. Boby tersenyum.
"Terserah kamu lah Buk, yang penting kamu bahagia," kata Boby sambil mencium bibir Clara.
***
__ADS_1
Boby masih menjaga komunikasi dengan Santi. Tiap minggu menelpon mamanya. Akan tetapi usai telpon, ditanya tadi ngobrol apa selalu lupa. Obrolan mereka hanya masuk kuping kiri, keluar lagi kuping kanan. Boby juga memotong yang saku Santi. Walaupun masih memberinya tiap bulan.
Santi tetap menjadi orang tua yang unik. Lain dari yang lain. Kalau orang tua lain bahagia dengan sekaleng biskuit yang dibawakan anaknya, Santi tidak terima. Dia mintanya kalung, kulkas, baju branded, hp android keluaran terbaru dan lain lain. Boby sebenarnya sudah paham karakter Santi. Akan tetapi mau gimana lagi?? Bukankah surga ada ditelapak kaki ibu?? Boby mendengarkan semua permintaan Santi. Hanya mendengar. Selebihnya dia menyaring sendiri mana kebutuhan dan keinginan. Tidak menuruti semua mau Santi seperti dulu.