
Clara akhirnya di izinkan pulang. Mabok masih sama. Tiap pagi hanya bisa tiduran dan muntah. Membuat dia harus berhenti kerja. Boby juga sangat hiper protektif. Clara dilarang mengerjakan apapun.
"Sapu, ngepel, nyuci, cuci piring, biar aku yang kerjakan. Makanan beli saja sesuai sama mau kamu. Jaga dia Poc, yang lain tidak penting," kata Boby. Clara tersenyum.
"Tapi aku hamil Kak, bukan sakit," bantah Clara. Yang bingung mau ngapain. Gak kerja dan gak boleh ngapa ngapain.
"Hamil itu yang penting. Aku akan meminta tugas tugas pendek. Lagian aku bukan agen lapangan yang harus menyamar tiap hari. Pokoknya aku usahakan untuk bisa menemani kamu… oke… jangan pikirkan yang tidak penting," kata Boby panjang kali lebar.
***
Saat ini mereka sedang nyantai. Bulan baru tiba. Hape Boby berbunyi notif pesan. Dari Dito. Menagih uang rawat Clara di rumah sakit kemarin.
"Lima juta??!!" gumam Boby kaget.
"Apa Kak?" tanya Clara kepo. Mengambil hape Boby dari tangannya.
"Hah!! Serius??? Kenapa sebanyak ini??" tanya Clara ikut kaget.
"Kamu yang tenang yaa. Biar aku yang mikir," kata Boby mengelus sayang kepala Clara.
"Coba tanya pihak rumah sakit Kak. Aku cuma di kelas dua, juga lanjut pakai asuransi swasta dan di approval. Ini mustahil," kata Clara. Boby diam seperti biasa. Mengalihkan perhatian Clara pada hal hal lain. Lagi lagi Clara merasa suaminya tidak tegas pada keluarganya.
***
Boby menyempatkan diri ke rumah sakit sebelum pulang esoknya. Menanyakan bab tagihan biaya rumah Sakit Pocik.
__ADS_1
"Atasnama Nyonya Clara Nessa tidak ada biaya Pak, bukankah awal masuk pakai BPJS, kemudian dilanjut asuransi xxx," jelas bagian administrasi rumah sakit. Boby merasa tubuhnya tersengat aliran listrik. Tidak menyangka Dito adiknya seperti itu. Sekejam itu!!
"Te…terimakasih, Mbak," kata Boby tergagap. Berlalu dari hadapan pihak administrasi rumah sakit dengan gontai.
Tubuhnya bergetar menahan pilu. Kilasan kejadian Dito kecil yang selalu bermain dengannya melintas bagai film non stop dibenaknya. Adik yang disayang. Adik yang selalu dimenangkan Boby, kini menjadi manusia terkejam yang menyakitinya. Dito tahu pasti dia dan Pocik dalam tahap bangkrut. Seluruh aset sudah hilang. Termasuk rumah milik Clara yang masih diusahakan bertahan. Tahu benar angsuran hutang sertifikat rumah itu sangat besar. Hingga dirinya dan Pocik hidup sangat sederhana di Jogja ini. Akan tetapi ternyata Dito masih mencoba menginjaknya jauh lebih dalam. Boby kecewa… sungguh kecewa.
Jauh dalam lubuk hati Boby sebenarnya membenarkan ucapan Pocik. Hutang dari mendiang papa itu terlalu janggal. Apalagi dengan Dito yang berhasil membeli mobil dan rumah sendiri. Akan tetapi Boby mencoba abai. Masih mewajarkan tindakan Dito yang selalu meri (iri) dengannya sejak kecil. Tidak masalah asal adiknya bahagia, namun kali ini benar benar keterlaluan!!! KETERLALUAN!!
Notif dari hape nya kembali menyala. Pesan dari Santi yang meminta transfer uang sakunya.
'Mau buat bayar arisan.' Ketik Santi. Boby mengusap mukanya kasar. Dia memang baru saja terima gaji. Di transfer dengan nominal yang tidak bisa dibilang murah. Sudah untuk membayar cicilan dua hutang dan kewajiban lain. Juga transfer ke rekening Pocik. Sekarang dia lah pencari nafkah satu satunya dalam keluarga kecilnya. Pocik tidak diizinkan bekerja karena hamil. Pusing….. Boby sungguh pusing…. Mau diapakan sisa uang yang ada?? Untuk bayar hutangnya pada Dito? Atau uang saku untuk Santi??
Akhirnya Boby mentransfer sisa uangnya pada Dito. Kemudian menelpon adiknya itu. Mencoba seberapa kejam adiknya itu.
"To, aku bayar seadanya dulu yaa… aku… gak punya uang. Padahal baru tadi pagi gajian hehehe," kata Boby di telpon.
"Bulan depan ya…. Mas udah beneran gak punya sisa. Sama… minta tolong berikan mama uang saku untuk bulan ini saja. Aku udah beneran gak punya uang," kata Boby memelas. Hening sejenak. Dito tidak pernah memberikan uang pada Santi. Harusnya mau memberi sebulan ini saja. Batin Boby.
"Berarti hutangnya ditambah ya Mas, sisa tagihan rumah sakit, sama hutang Mas buat uang saku mama," jawab Dito di seberang sana. Air mata Boby luruh seketika….. benar benar adik yang tidak mau rugi.
"Ya," jawab Boby singkat kemudian mematikan sambungan teleponnya. Memakai helmnya dan menutup kaca gelap bagian mata. Menangis sendu sambil mengendarai motornya.
Boby pulang kerumah dalam keadaan sendu. Matanya masih sangat terlihat sembab.
"Kakak kenapa?" tanya Clara yang sedang mengambil jemuran. Boby sudah berkali melarangnya untuk beraktivitas, namun Clara bukan wanita yang bisa bengong saja.
__ADS_1
Boby merebut jemuran dari tangan Clara.
"Sudah aku bilang untuk tidak mengerjakan pekerjaan rumah!!! Kenapa kamu ngeyel sekali!!!" bentak Boby pada Clara. Istrinya sampai berjingkat kaget. Boby seketika menyadari kesalahannya. Bukan Pocik yang seharusnya yang menjadi tumpahan amarahnya. Akan tetapi hatinya sedang sangat kalut. Boby pergi dari hadapan Pocik. Berlalu masuk kamar sambil membawa jemuran.
Air mata Clara tumpah dengan deras. Sesalah itukah dia sampai dibentak? Boby yang biasanya bersikap manis berubah menjadi garang dan kasar?? Clara menangis di ruang tamu kecil paviliun mereka. Tertidur di ruang tamu beralaskan karpet plastik murah. Boby datang saat Clara sudah tertidur. Mengangkat tubuh mungil Clara yang semakin lama semakin berisi. Meletakkannya kembali di kasur kamar mereka dengan hati hati. Boby membelai rambut tipis Pocik. Merapikannya dari wajah.
"Maaf… Kakak terlalu pusing Poc….. maafkan Bapak ya Nak," kata Boby sambil mengelus perut Clara. Boby ikut tidur disamping Pocik. Memeluk dengan sayang tubuh istrinya. Clara mengelak. Membuang tangan Boby dengan cepat. Dia bukan tipe kebo yang gak terbangun saat tubuhnya melayang di pindah. Cuma malas bangun dan malas berinteraksi sama Boby.
Boby tersenyum. Tahu kalau Pocik tidak tidur. Kembali erat memeluk Pocik dari belakang.
"Maaf…. Maaf," bisik Boby. Lagi lagi Clara diam. Tidak menjawab dan betah memejamkan mata. Boby menggigit pipi Pocik. Wanita itu langsung berbalik memukul lengan Boby.
"Sakit tau!!!" teriak Pocik akhirnya mau buka suara.
"Maaf kalau begitu… maaf yaa," kata Boby sambil merengkuh Pocik dalam pelukan. Wanita itu manut bersandar di dada suaminya. Hening….. beberapa waktu berlalu dengan mereka yang saling berpelukan nyaman. Mengecas tenaga masing masing dengan cinta.
"Yang tadi udah dimaafin belum?" tanya Boby lembut. Sambil mencium kening Pocik.
"Belum! Aku gak salah, tapi dibentak," adu Pocik mengenaskan.
"Maaf yaaa maaf. Aku tadi benar benar kalut. Pikiranku pusing bener. Gak diulangin lagi. Janji…" kata Boby sambil mengacungkan dua jari.
"Aku mau cabuk rambak (makanan khas Solo) sebagai permintaan maaf," kata Clara.
"Cabuk rambak??" tanya Boby sambil garuk garuk kepala. Sudah malam dan ini di Jogja bukan di Solo. Batin Boby.
__ADS_1
"Sekarang," kata Clara dengan mata berkaca kaca. Ibu hamil ngidam memberi titah.
"Iya, aku carikan," kata Boby lemas. Beranjak bangkit dari tidurnya.