Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Pelampiasan


__ADS_3

"Mau kemana?" tanya Clara saat mobil Tama sudah melaju. Sekilas melirik kearah luar mobil. Melihat tatapan sendu dari Boby. Haa sekarang dunia terbalik. Dulu Clara yang sering melemparkan tatapan sendu saat Boby menjemput kakak kelasnya. Sekarang Bobby lah yang sendu melihatnya. Rasakan!!! Rasakan!!! Batin Clara puas sambil senyum senyum sendiri. Tama menoleh padanya.


"Teruslah tersenyum Ma, kamu cantik kalau tersenyum," jawab Tama. Melenceng jauh dari apa yang ditanyakan Clara.


"Kita mau ikut kompetisi gombal? Kok kamu udah latihan Mas? Atau kamu mau latihan jadi Haji Bolot? Ditanya apa jawabnya apa," kata Clara. Tama tertawa mendengarnya.


"Kamu yang harusnya jadi pelawak Ma. Ada aja perkataanmu yang membuat aku tertawa," jawab Tama saat tawannya reda.


"Kita mau kemana kok?" tanya Clara tidak sabaran. Tama tersenyum jahil.


"Nanti juga tahu, kalau mau ekspres tahu sekarang harus pakai sogokan," kata Tama.


"Idih gayamu minta sogokan," Clara mencibir.


"Iya dong, jaman sekarang kalau mau dikerjakan cepat harus pakai pelicin," jawab Tama.


"Tak kasih kispray kalau gitu. Gak cuma pelicin, tapi pewangi dan pelembut sekalian," kata Clara meniru iklan kispray di tv. Tama melirik Clara sekilas. Kemudian mereka tertawa bersama.


"Apa sogokannya?" tanya Clara masih kepo tujuan mereka. Tama menunjuk pipinya dengan jari. Mengetuk ngetukkan jarinya di pipi pelan. Clara sebenarnya tahu isyarat itu agar dia mencium pipi Tama.


"Kenapa pipimu Mas? Gatel? Mau jerawatan kali," kata Clara sambil nyekikik. Membuat Tama memonyongkan bibirnya.


"Kamu gak peka," kata Tama gusar.

__ADS_1


"Bicaramu kaya cewek lagi kena PMS. Pakai acara peka dibawa bawa," jawab Clara sambil tertawa ngakak. Tama ikut tertawa lagi. Haaa sejenak pikiranya melayang lagi pada Citra. Wanitanya itu selalu sakit saat datang bulan. Apa sekarang masih sakit?


Mobil berhenti di sebuah pusat SPA besar di kota ini. 


"Ayo spa sebentar. Kamu pasti capek habis rewang," ajak Tama sambil turun dari mobilnya. Clara senang bukan main. Tau aja badannya remuk. Mereka berjalan menju tempat spa sambil bergandeng tangan.


"Ayo kita nikmati malam ini tanpa gawai Ma, matikan hp masing masing!" ajak Tama. Mereka pun setuju menonaktifkan hp masing masing.


Mereka dipijat di tempat terpisah. Spa yang dipilih Tama ternyata adalah tempat spa sungguhan. Bukan tempat spa plus plus yang kebanyakan berkedok sebagai salon. Salon yang gak pernah ada kapsternya. Kalau orang datang mau potong rambut atau perawatan lain selalu bilang kapsternya udah pulang. Datanglah pelanggan cowok yang langsung masuk kebagian dalam salon sambil melepas ikat pinggang. Othor pernah nyasar ketempat salon seperti itu. Loh..... Kok malah curhat. Hahahaha.


Kembali kenopel......


Clara merasa badanya segarrr sekali. Segala pegal dan penat hempaskan segera. Clara keluar ruangan terapis sudah ditunggu Tama yang selesai duluan.


"Ini makanannya halal Mas?" tanya Clara. Setahu Clara makanan jepang ya daging mentah.


"Ada yang tidak tentu saja. Ini restoran jepang otentik. Walaupun daging dari laut halal, tapi campuran mirin yang digunakan dalam saus mereka tidak halal. Karena itu adalah sejenis miras berrasa manis. Tapi tenang, ada kok beberapa menu tanpa mirin. juga dagingnya dimasak sampai matang. Tinggal kita yang pandai pilih menu," kata Tama. Clara ngekor saja. Memilih menu idem dengan Tama. Mana tahu dia mana menu halal dan tidak halal di restoran ini.


Mereka makan dengan tenang sampai makanan tandas. Makan mie dengan rumput laut dan gorengan udang. Tama menceritakan tentang pengalamannya menjadi TKI. Tentang negeri sakura yang terkenal disiplin dan minim anak anak. Masih banyak lagi yang di ceritakan. Tama jelas terlihat membuka diri pada Clara.


"Aku senang sampai pengen nyengir terus, tapi takut gigiku kering," kata Clara. Tama mendekat tepat di samping Clara.


"Oh ya? Gak papa nyengir aja terus. Kalau gigimu kering aku bisa basahin lagi," kata Tama sambil melahapp bbibir Clara. Gadis itu terkejut mendapat perlakuan mendadak. Akan tetapi ikut hanyut dalam permainan bibir Tama.

__ADS_1


"Lain kali kasih tanda. Kalau langsung serang kasihan jantungku Mas, kalau jebol gak ada gantinya," kata Clara saat mereka selesai. Tama tertawa justru memulai lagi aktivitas yang mereka lakukan barusan. Bukan hanya ciuman semata saja. Sudah menjurus ke arah cumm buan yang sedikit panas. Bibir Tama jalan jalan di leher Clara dengan ganas. Tangannya memegang punggung Clara dibalik baju yang dikenakan. Tama sengaja menn ddesah di kuping Clara. Membuat gadis itu terbang sesaat. Gelora dalam tubuhnya timbul untuk lebih.


"Aku… mencintaimu Cit," bisik Tama mesra di telinga Clara. Cit?? Cit??? Citra??? Sontak kesadaran Clara pulih. Apa rasanya di cum mbu dan orangnya salah sebut. Sakit….


Clara mendorong tubuh Tama menjauh. Tama terkaget dengan penolakan Clara. 


"Lain kali, buka matamu!! Pastikan kamu mencumm bbu orang yang ada di pikiranmu!! Jangan jadikan aku pelampiasan!!" kata Clara keras. Clara sempat menampar Tama sekilas sebelum meninggalkan ruangan itu dengan cepat. Tama tersadar dirinya memikirkan Citra barusan.


Clara berjalan cepat, bahkan berlari keluar restoran. Pandangannya mengabur oleh air mata yang sebentar lagi tumpah memenuhi mukanya. Dia menghidupkan hpnya. Bermaksud memesan ojek dan pulang. Sialnya karena emosional hape yang sebenarnya baik baik saja itu nampak rusak. Susah sekali menghidupkannya atau menunggu untuk digunakan normal.


Tama muncul dan menyeret tubuh Clara menuju mobilnya.


"Lepas!!! Aku mau pulang sendiri!!!" kata Clara keras. Sampai menjadi pusat perhatian di halaman resto jepang itu. Tama tidak peduli. Melempar kasar tubuh Clara dalam mobil dan melajukan mobilnya cepat.


Hening….


Clara sudah menangis sendu tanpa bisa ditahan. Dan rasa bersalah Tama memenuhi setiap relung hatinya. Perjalanan yang seharusnya tidak terlalu lama itu terasa begitu mencekik dan menyiksa. Tama menghembuskan nafas berkali kali demi menenangkan diri. Clara menumpahkan sesak di dadanya dengan menangis tanpa henti.


Clara turun cepat saat mobil tiba di depan rumah. Membuka gerbang tanpa membunyikan bell. Berjalan cepat menuju pintu rumah sambil terus menyeka air matanya. Menghembuskan nafas panjang demi terlihat sedikit tenan. Tama sibuk membuka gerbang besar untuk memasukan mobilnya. Hari sudah gelap. Langit di atas sana terlihat muram tanpa bintang. Titik titik gerimis sedah mulai menurunkan diri dari langit yang pekat.


Pintu rumah tiba tiba terbuka dari dalam saat Clara akan membukanya. Demi apapun dimuka bumi ini, Clara melihat orang yang tidak ingin dia lihat saat ini. Keduanya sama sama terbengong  di depan pintu yang terbuka. Tama lah yang pertama kali membuka suara. Sama terkejutnya dengan Clara.


"Citra."

__ADS_1


__ADS_2