
Clara masuk ke kamarnya. Langsung lurus menuju kamar mandi. Mengguyur tubuhnya dengan air dingin bahkan dengan baju yang masih menempel. Duduk meringkuk di kamar mandi. Hatinya remuk tak bersisa. Nyatanya Tama tidak pernah bisa mencintainya. Clara putus asa. Usahanya sia sia.... Dia merasa gagal menjadi istri.
Malam semakin larut. Clara mengakhiri mandinya dan bersiap tidur. Tidak berniat keluar kamar lagi. Menyendiri seperti ini lebih baik saat dia bersedih. Mata Clara sudah setengah terpejam saat hpnya berbunyi. Telpon dari Hani.
“Halo Beb, aku mau kasih tau kamu sesuatu, tapi jangan kaget ya,” kata Hani diujung sana.
“Hidupku sudah penuh kejutan, tenang saja. Jantungku juga buatan Gusti Allah kok. Bukan buatan cina,” jawab Clara asal. Matanya sudah berat. Paling Hani akan bergosip soal penghuni kost atau kakaknya. Biasanya juga begitu.
“Beneran? Siapkan hatimu….” Hani menceritakan apa yang dia lihat. Clara menahan nafasnya. Hatinya sudah tidak bisa di utarakan rasanya.
"Apa sekarang mereka masih disana?" tanya Clara.
"Masih Beb. Gak keluar kamar,” jawab Hani.
“Apa pantas membuat keributan malam malam begini? Agak memalukan juga,” kata Clara ragu.
‘Kalau kamu mau grebek aku telponkan kakak calon kakak iparku gimana? Dia polisi. Bisa jadi saksi nanti. Ada keributan sedikit gapapa dia bisa jaga jaga,”" kata Hani bersemangat.
Hening….
Clara berpikir sejenak. Haa mungkin benar seperti itu. Dengan begini dia punya bukti kedepannya. Bukankah perceraian akan lebih mudah kalau ada yang selingkuh? Hiyaaa….. entah kenapa air matanya tumpah lagi. Bodoh! Bodoh!
"Beb? Are you ok?" suara Hani di seberang sana membuyarkan kegalauan hati Clara.
"Oke, aku kesana. Telpon calon kakak kakakmu atau apalah itu. Suruh datang kesana," kata Clara mengakhiri percakapan. Segera mengambil jaket dan kunci mobil biar keren dikit. Ngelabrak pakai mobil.
Clara sampai duluan. Hani sudah berada di depan kamar kosnya bersama Mita. Juga beberapa penghuni kos lain. Rupanya Hani sudah ember disana.
"Tunggu kakak calon kakak iparku dulu. Gak lama. Dia otw," bisik Hani saat Clara turun dari mobil. Gadis itu hanya mengangguk. Memasang muka sangar padahal hatinya ambyar. Ijin ke kamar mandi sebentar untuk mencuci muka. Agar tidak terlihat muka kusut.
__ADS_1
Satu motor mendekat. Boby turun dengan malas disambut Hani.
"Kamu pikir aku polisi bagian grebeg orang selingkuh apa!" kata Boby kesal.
"Bantuin lah Kak, kasihan temanku," kata Hani memelas. Boby menghembuskan nafas kasar.
"Kalau ada suami selingkuh itu berarti wanitanya bodoh dan laki lakinya baji ngan. Udah gitu aja!" kata Boby sebal.
"Aku emang bodoh Kak," sahut Clara keluar dari kamar Hani. Boby menoleh kaget.
"Jangan bilang orang yang mau digrebek Tama," katanya sambil berjalan kearah Clara.
Entah mengapa berhadapan dengan Boby langsung membuat Clara melemah. Air mata yang sudah berhasil ditahan dari tadi tumpah memenuhi pipinya lagi. Boby tak tahan memeluk tubuh Clara yang terlihat lemah. Clara tidak menolak. Bersandar pada dada Boby dengan nyaman. Membuat para penghuni kos heran. Bisa dipastikan mereka sudah saling mengenal.
Sadar menjadi tontonan, Boby mengajak Clara pergi saja.
"Aku antar pulang Poc, kamu tidak akan kuat melakukan penggerebekan," kata Boby sambil merangkul pundak Clara.
Beberapa langkah Clara mengikuti tuntunan Boby menuju mobilnya. Clara kemudian menyingkirkan tangan Boby dari pundaknya.
“Enggak, aku kuat. Aku harus lihat dia bersama wanita itu agar bisa jadi bukti nanti,” kata Clara sambil mengusap air matanya.
“Kamu akan hancur Poc,” Boby mengingatkan. Clara tetap menggeleng tegas. Boby menghembuskan nafas kasar.
"Tapi kamu harus tenang…. Tarik nafas jangan emosional dan jadi murahan. Yang murahan cukup wanita itu. Yang bajiii ngan cukup suamimu," kata Boby. Clara mengangguk.
"Ikuti rencanaku dan gak boleh cengeng," kata Boby, kemudian menyampaikan rencananya.
***
__ADS_1
Akhirnya pelan Boby mengetuk kamar yang dihuni Tama. Semua penghuni kos di suruh Boby bubar ke kamar masing masing. Boby berada di depan pintu dengan kamera hp on tergantung di lehernya. Sekali ketukan tidak terdengar. Sampai tiga kali ketukan baru terdengar suara di kamar itu. Boby menepikan Clara agar tidak terlihat dari dalam.
"Siapa?" tanya Tama dari dalam kamar.
"Ojek online pak, nganter makanan," jawab Boby cepat.
"Gak pesan makanan," jawab Tama dari dalam kamar.
"Bisa keluar dulu Pak? Saya bingung untuk kamar yang mana ini," kata Boby memelas.
“Iya,” ucap Tama sambil membuka pintu. Bahkan masih bertelaa njang dada.
“Halo Mas Tama…. dicariin istrinya tuh,” kata Boby sambil nyengir gak berdosa. Menarik tangan Clara dan menggenggamnya erat. Mengisyaratkan Clara untuk bersuara sesuai rencana.
"Malam Mas, cuma mau ngingetin aja, awas hamil lagi. Soalnya udah jadi satu anak," kata Clara sambil senyum imut kemudian berlalu dari hadapan Tama. Itu adalah kata kata yang dirangkai Boby dan dihafalkan oleh Clara.
"Ma, mama…. Aku bisa jelasin," kata Tama panik. Boby mematikan rekaman hpnya. Menarik tangan Tama yang akan mengejar Clara.
Buggghh…. Satu pukulan keras mendarat di wajah Tama. Membuat pria terpental ke dalam kamar. Citra menjerit dari dalam kamar. Tampaknya wanita itu belum memakai baju hingga gak berani keluar.
"Hehehe Mas maaf tadi ada nyamuk. Gak usah khawatir, aku yang antar pulang Clara. Kalau kamu masih punya malu dan belum banci cukup disini jangan kejar dia," kata Boby santai sambil menutup pintu kembali. Dengan cepat meninggalkan kamar Tama. Menyusul Clara yang dia yakini menangis dengan pilu.
Clara nglesot di aspal dekat mobilnya. Kakinya lemas dan air matanya deras.
"He, lihat kamu. Udah jelek, di selingkuhin, hidup lagi," kata Boby membuat emosi Clara memuncak. Gadis itu menampar Boby dan memukuli dada Boby tanpa ampun.
"Aku juga gak mau bernasib seperti ini!!! Aku juga mau hidup bahagia!! Aku sudah berusaha jadi istri!!! Aku berusaha!!! Tapi hasilnya tetap aku pelakornya!!! Aku pelakor diantara dua orang yang saling mencintai Bob.... Aku pelakornya!!" teriak Clara melampiaskan amarahnya pada Boby. Boby diam menerima semua tumpahan amarah Clara dengan rela hati. Saat tubuh Clara akan merosot, Boby memegangi tubuh Clara dan membawanya dalam pelukan. Clara menangis keras dalam pelukan Boby. Tangis pilu yang sungguh menyayat hati bagi siapa saja yang mendengarnya.
Lama mereka dalam posisi seperti itu. Akhirnya Boby melerai pelukan.
__ADS_1
"Pulang yuk, aku anterin," bisik Boby sambil mengelus rambut Clara. Akhirnya mereka berdua masuk mobil. Dengan diiringi tatapan dari seluruh penghuni kost dari kamar masing masing. Termasuk Tama dan Citra. Yang sama sekali gak punya muka untuk keluar kamar.