Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Permainan lama


__ADS_3

Rama tetap merasa dapat angin. Kebiasaannya tetap sama. Menunggui Clara di parkiran. Berjalan berdua menuju fakultas masing masing.


"Pagi Ra," sapa Rama tanpa canggung. Clara hanya melihat sejenak. Tanpa mengatakan apapun. Bahkan membalas sapaan Rama.


"Nanti malam aku main kerumah yak?" kata Rama lagi. Clara berhenti melangkah. Menatap Rama dengan intens.


"Mas, aku tidak mau berhubungan dengan kamu lagi," tolak Clara. Rama justru tersenyum.


"Kamu gak perlu semalu itu Ra. Cinta bisa datang kapan saja. Seperti aku tidak pernah mempermasalahkan statusmu dulu. Aku tidak mempermasalahkannya sekarang. Papa juga bisa bantu, kalau kamu mau cerai," kata Rama pede.


"Mas! Aku gak mau ngomong kasar sama kamu! Tolong jangan suruh aku omong kasar!! Aku mencintai suamiku! Dan tidak berminat bercerai darinya!" teriak Clara. Lupa kalau mereka berada dalam lingkungan kampus dan menarik banyak perhatian.


Beberapa orang cengar cengir mendengar perdebatan mereka. Clara membenarkan tali tas selempang yang digunakan. Berlalu pergi dari Rama. Rama menggenggam erat tangannya. Yakin kalau Clara akan jadi miliknya suatu saat nanti.


6 bulan berlalu tanpa Boby….


Clara sibuk ujian semester lagi. Menyibukkan diri agar tidak terlalu bersedih. Memulai meminta izin secara tertulis untuk menemui Boby di asrama. Belum ada jawaban… sampai Clara gemes sendiri.


"Kakak!!!" pekik Clara bahagia. Akhir pekan seperti ini selalu ditunggu.


"Hai cantik, apa kabar?" tanya Boby. Mereka sudah mau video call karena sudah bisa menenangkan diri masing masing.


"Lagi apa?" tanya Boby. Tahu Pocik ada dirumah dari latar dan perabot di belakangnya. Tepatnya di dalam kamar.


"Belajar mau ujian," jawab Clara.

__ADS_1


"Aku ganggu dong," Boby menunjukkan muka sedihnya.


"Gak, aku bisa belajar nanti," jawab Clara. Mereka ngobrol ngalor ngidul sampai terpingkal pingkal berdua. Sifat koplak juga masih sama sama melekat. Clara mengadu susahnya ijin menemuinya.


"Gak usah kesini, sebentar lagi aku pulang," kata Boby. Yang membuat Clara senang bukan main. 


"Kapan? Kapan balik kesini?" tanya Clara bahagia.


"Tunggu saja. Gak kejutan kalau aku bilang bilang," kata Boby sok misterius. Membuat Clara semakin mencak mencak karena penasaran. 


Boby sendiri sedang menghadapi ujian semester pertamanya. Giat belajar dan giat berlatih. Tidak menyangka juga bisa kuliah dalam kampus terakreditasi sangat baik. Dan diakui dunia. Boby semangat berjuang, meski rindu juga menggantung kuat di dadanya.


***


Waktu menunjukkan pukul delapan pagi. Walaupun pagi, namun Clara tetap nyaman dalam selimut yang membalut tubuhnya. Dia lembur sampai pagi demi mengerjakan pesanan pelanggan. Hidup sendiri diatas kaki sendiri. Biaya kuliah, uang saku Boby, uang bulanan Santi menjadi tanggungannya kini. Harus giat bekerja demi bisa memenuhi semuanya. Untung dari pihak ibunya hanya enteng. Membayar tagihan bpjs. Ibunya selalu menolak uang dari Clara. Dengan alasan masih digaji Ayah, Rina dan Tito.


"Kakak!!!" pekik Clara gembira. Langsung bergelayut pada leher Boby. Berpelukan lama…. Berharap waktu berhenti sejenak…. 


Boby yang pertama melepas pelukan mereka. Menciumi seluruh muka Clara. Melepas segala yang menempel dari tubuh Clara. Menghirup aroma tubuh Clara yang selalu dirindukan. Tangan Boby aktif memilin. Membuat Clara bergeliat di bawahnya. Sedotan tertuju pada puncak pink yang ranum. Satu tangan Boby tetap memilin puncak satunya. Tangan yang lain sudah merogoh di area segitiga terlarang. Clara sibuk bergeliat dan bersuara meresahkan. Mendapat serangan pada tiga tempat sekaligus membuat dirinya entah….. apalagi setelah enam bulan kering tanpa sentuhan.


Boby turun kebawah. Menghisap apa yang baru saja dia pelintir. Clara semakin keras menjerit. Tangan Boby menyusup masuk. Mengecek jalan cinta yang lama tidak dikunjungi. Masuk dalam keadaan lurus, balik dalam keadaan bengkok. Terus seperti itu beberapa kali. Sambil bibirnya terus menghisap.


"Booobbyyy…. Aku….. mau….sampai…..," kata Clara terbata. Hanya dengan bibir dan tangan Boby dia sudah melayang. Boby menarik mukanya. Membuka seluruh baju yang dia kenakan. Tersenyum memandang Pocik yang berdecak kesal. Sudah mau sampai….sudah setengah melayang…. Malah dihentikan. Batin Clara kesal.


"Sabar, biar sama sama enak," kata Boby sambil nyengir. 

__ADS_1


Boby memasuki Clara dengan gagah. Keduanya sama sama meringis karena rasa yang berbeda. Clara merasa penuh, Boby merasa terjepit.


"Bob….. ah….," keluh Clara. Boby sudah melakukan gerakan wajibnya. Clara langsung mengeluh lagi. Baru sebentar wanita itu sudah tidak tahan. Boby tersenyum. Targetnya adalah membuat Pocik pingsan keenakan. Membayar kerinduannya selama enam bulan ini. Boby berpacu dengan tangan yang mengobok obok butiran Pocik. Membuat wanita itu semakin keras menjerit.


"Bob….. Bob…. Ini….. ahhh…. Kenapa….. enak," rancu Clara semakin menjadi. Boby mencubit kecil. Clara kembali menjerit. Mengejang lagi dan lagi. Tiap Clara keluar, Boby merubah gaya. Membuat permainan mereka semakin seru.


Permainan berakhir setelah Clara lemas tidak berkutik. Terduduk di atas meja belajar dikamar itu. Boby menghentak dalam dan menyemburkan apa yang sudah ditahannya selama ini. Clara mendapat kesadaran saat perutnya hangat.


"Bob, aku tidak ber KB," kata Clara. Maunya panik, tapi tubuh dan otaknya rilek. Boby menarik senjatanya. Menggendong Clara yang seakan tanpa tulang. Membaringkan kembali di atas kasur. 


"Dipikir nanti. Bobok dulu. Aku sayang kamu," kata Boby menubruk dada Clara. Nyusu sebentar sebelum keduanya terlelap.


Tarik nafass….. keluarkan…. Tarik lagi…. Keluarkan… Tenang besty…. Harap tenang…. Wakakakaka.


Clara terbangun dengan badan yang lebih segar. Sudah siang dan perutnya lapar. Melihat tubuhnya yang polos sedikit terkejut. Samar ingatannya tertuju pada Boby. Benarkah Boby pulang? Atau cuma mimpi? Clara membalik tubuhnya. Ahh… ternyata tidak mimpi. Boby lelap di sampingnya. 


Clara bangun perlahan. Kakinya lumayan pegal. Sudah lama tidak terbuka selama itu. Melihat tubuh suaminya yang terbungkus selimut sampai pinggang. Melihat otot perut dan lengan yang semakin kekar saja. Clara mesem mesem sendiri. Geli sendiri dengan pikiran kotornya.


"Ini punyamu Poc, boleh dipegang dan boleh kamu apa apain. Daripada cuma senyum senyum mesum begitu," kata Boby mengejutkan Clara. Ternyata Boby sudah bangun. Membuka mata lebar lebar. Memandang Clara yang fokus pada perutnya.


Clara menjatuhkan tubuhnya lagi. Nyungsep tengkurap. Menyembunyikan kepalanya di antara bantal. Malu. Boby memeluk tubuh Pocik. Menindihnya. Menciumi punggung Pocik yang terbuka. Terus turun sampai pada bongkahan kenyal. Boby menggigit kecil. Clara langsung mengaduh. Dan membalik badannya.


"Kakak!! Sakit!!" kata Clara.


"Sakit yaa," jawab Boby. Memberikan kecupan keras dileher Clara. On lagi apa yang tadi sudah tertidur.

__ADS_1


"Kak, aku lapar," kata Clara menolak pancingan Boby. Mendorong tubuh Boby kesamping. Tiba tiba bel pintu rumah mereka berbunyi. Clara punya kesempatan melarikan diri. 


"Ada yang datang, siapa tahu pelanggan," kata Clara kabur. Memakai daster asal tanpa dalaman. Boby manyun diatas tempat tidur.


__ADS_2