
Boby akhirnya lulus dengan nilai yang memuaskan. Tugas pertamanya adalah menyamar untuk kelompok separatis di ujung pulau Indonesia. Seperti dugaannya. Dia ditugaskan untuk divisi anti teror. Boby masuk sebagai pembeli gan nja hasil kebun mereka. Yang mampu membuat mereka membiayai senjata dan hidup.
Dua bulan Boby menyamar. Mengaku bernama Bara dari Jawa. Semakin dekat dan semakin bisa mengawasi. Siapa sangka militer di sana, yang seharusnya membantu Boby justru berkhianat.
Dini hari Boby diminta ikut kelompok itu. Tanpa curiga Boby ikut permainan mereka. Dia benar benar menyamar dalam. Agen rahasia seorang diri.
"Apa Clara baik baik saja Bob?" tanya seorang dari mereka saat tiba di sebuah pulau terpencil. Boby terperangah sesaat. Tahu benar kalau permainannya terbongkar. Saat itu letusan senjata api terdengar. Tulang paha Boby tembus berlubang. Jelas meremukkan tulang kakinya karena senjata itu ditembakkan dekat dengan kakinya.
Boby tersungkur. Kepalanya langsung dihujani pukulan dari popor senjata laras panjang yang mereka miliki. Boby melawan sebisa dia. Boby melarikan diri jauh kedalam hutan. Tahu persis siapa pengkhianat ini. Mengirimkan sandi lewat alat yang dia miliki. Agar para militer di garis belakang tahu ada pengkhianat. Mengirim koordinat dan info penting yang belum tersampaikan. Juga pesan agar melindungi istrinya. Boby tertangkap. Dirinya pasrah dan siap mati. Satu pria yang terluka berbanding puluhan orang sehat. Boby dihajar habis. Pasrah menunggu kematian jika itu yang terbaik.
"Kami akan menemukan Clara…. Mem perr kkosaanya bergiliran, sebelum mem muutilasi tubuhnya," kata pimpinan mereka pada Boby. Sebelum tubuh Boby yang sekarat dibuang ke laut.
Boby melayang. Pikirannya terus pada Pocik. Tidak ingin istri yang dia rindukan mendapat masalah. Terakhir bertemu beberapa bulan yang lalu. Pocik datang dalam wisudanya. Sebelum penugasan pertamanya ini. Kilasan beberapa tahun lalu memenuhi pikirannya. Tentang Pocik yang tidak mau melawan restu dan meninggalkannya….
***
Clara mendapat telpon rahasia pertama kalinya. Mengabarkan jika suaminya terluka parah. Clara terbang ke ujung bagian Indonesia. Mendapati Boby yang koma di rumah sakit. Clara dan Boby mendapat identitas baru sebagai perlindungan. Juga pengawalan tidak terlihat dari agen. Boby dikabarkan terlibat tawuran biasa. Tidak diakui sebagai militer dan atau agen rahasia. Hanya warga sipil.
"Kakinya mengalami patah tulang. Kepalanya mengalami benturan keras. Itu yang paling berat dan mengkhawatirkan diantara luka yang lain Bu," jelas dokter. Clara lemas seorang diri.
"Lalu kapan dia akan sadar Dok?" tanya Clara penuh harap.
"Tidak ada yang bisa memastikan kapan seorang bisa sadar dari kondisi koma," jawab dokter sedih.
Clara mengabarkan hal ini pada keluarganya. Akan tetapi kabar yang disampaikan juga harus disaring. Tidak boleh mengatakan yang sesungguhnya.
__ADS_1
"Boby terluka akibat tawuran dengan warga lokal. Dia dirawat di rumah sakit Medan. Kondisinya.... koma," ucap Clara pada keluarganya dan keluarga Boby.
Seminggu berlalu…
Clara tinggal dirumah sakit. Segala urusannya di pulau Jawa diserahkan pada Tito dan Hani. Boby…. Masih sama….
"Pagi Kak, apa Kakak tidak mau bangun? Gak pegel tow tidur terus?" sapa Clara saat mendapat jam besuk. Ini sudah seminggu…. tapi… Bobynya masih sama. Tidur pulas gak bangun bangun.
Kata dokter dia harus terus mengajak bicara. Mengingatkan tentang banyak hal yang mungkin akan membuat kesadarannya kembali. Akan tetapi segala kisah sudah Clara ceritakan. Mulai dari ciuman buku tulis sampai rasa cemburunya pada Rini. Boby tetap diam. Tidak juga mau bangun dari tidur panjang. Clara menangis seorang diri. Putus asa seorang diri di samping Boby yang pulas.
Hari ini Dito dan Santi akan datang. Terbang dari kota mereka. Clara bermaksud pulang sejenak. Mengurusi bisnis es yang kalang kabut. Tito mengaku kesulitan mengurusnya. Clara akan resign juga dari pekerjaan demi mengurus Boby.
"Kak, kalau kamu tidak segera bangun, aku akan meninggalkanmu!!" bisik Clara putus asa.
Siapa tahu Clara justru melihat pergerakan kelopak mata Boby. Awalnya dia mengira itu halusinasi. Akan tetapi terdengar suara dari mulut Boby. Suara tidak jelas karena selang besar terpasang di mulutnya.
Boby mengalami cedera kepala yang disebut diffuse axonal injury. Atau lebih disingkat dengan DAI. Cedera yang mengakibatkan pergeseran otak didalam tempurung kepala. Efek terburuknya adalah kelumpuhan, perubahan perilaku, dan lain lain.
"Berdoalah levelnya masih tinggi. Semakin tinggi levelnya semakin efeknya ringan," kata dokter pada Clara saat akan melakukan rangkaian pemeriksaan lanjutan.
Santi dan Dito datang. Saat Boby sedang menjalani pemeriksaan intensif. Mereka sanggup menggantikan Clara untuk menunggui Boby.
Siapa sangka kondisi Boby berubah. Terutama perilakunya. Dia terus mengeluarkan sumpah serapah saat bertemu Santi. Juga sama sekali tidak mau ditinggal Clara. Teriak teriak marah padahal hanya ditinggal pipis.
"Fisiknya luar biasa baik. Hanya butuh fisioterapi beberapa bulan. Hasil tes menunjukkan level 15 untuk DAI. Artinya kesempatan sembuh nya besar. Dia hanya perlu penyembuhan untuk patah tulangnya yang agak lama. Namun…. Yah, seperti yang anda tahu, perilakunya berubah. Ini bisa sementara atau selamanya. Sepertinya juga mengalami amnesia ringan. Dia hanya mengingat hal hal tertentu dalam hidupnya. Kemungkinan kenangan manis dan kenangan buruk," jelas dokter secara gamblang.
__ADS_1
Boby benar benar tidak mau bertemu Santi. Juga tidak mau ditinggal Clara. Membuat Clara mengurungkan kepulangannya.
"Aku bisa mengurus bisnismu dan segala urusanmu ditempat kerja, Mbak," tawar Dito pada Clara. Clara pun merasa tertolong dan senang bukan main. Memberikan tanda tangan asli pada kertas kosong yang akan digunakan untuk resign dari tempat kerja.
"Pooociiiikkkkk….. pociiiikkkkk!!! Kurang ajar! Kurang ajar!!! Kamu terus meninggalkanku!!! Aku pukul kamu!!! Pukul!!! Baji nngan!!!" teriak Boby saat Clara meninggalkannya. Pria itu terus mengeluarkan kata kata kasar kalau Clara tidak terlihat dari pantauan matanya.
"Aku datang Kak, aku datang," kata Clara tergopoh gopoh masuk ruang perawatan Boby.
"Pocik…. Aku mau minum," kata Boby berubah manja. Clara menghela nafas entah… Boby memang begitu. Ngamuk ngamuk dan kasar kalau dia pergi. Saat dia di sampingnya berubah menjadi good boy manja. Clara mengambilkan minum. Menyodorkan sedotan pada tubuh Boby yang terbaring. Memberikan kecupan kecil dibibir Boby setelahnya.
"Lekas sembuh Sayang," kata Clara.
"Lagiii…," kata Boby manja.
"Apanya?" tanya Clara sok tidak mengerti. Padahal tahu benar Boby minta cium lebih.
"Kissnya…. Kissnya yang lama. Pakai lidah," jawab Boby. Clara tertawa geli. Saat otaknya bergeser pun suaminya itu masih mesum saja.
Clara optimis Boby akan sembuh seperti sedia kala. Cuman butuh waktu dan proses yang panjang. Tak apa…. Clara tidak akan menyerah untuk Boby.
"Cepetan ih," protes Boby karena Clara hanya senyum senyum memandangnya. Clara mendekatkan mukanya. Mellu mmat bibir Boby dengan lembut. Lidah Boby sedikit kaku menanggapinya. Bukan Boby yang biasa lihai berciuman.
"Udah," kata Clara mengakhiri ciumannya. Muka Boby langsung terlihat kecewa.
"Lagiii," kata Boby.
__ADS_1
"Udahan dulu ih. Malu kalau ketahuan orang," kata Clara.
"Memangnya kenapa kalau ketahuan? Kita kan sudah menikah," kata Boby. Clara tersenyum. Salah satu hal yang diingat Boby adalah pernikahan mereka.