Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Kebohongan Boby


__ADS_3

Clara bangun dengan kepala yang pusing luar biasa. Juga tubuh yang pegal luar biasa. Dia berusaha bangkit, tapi tidak bisa. Tangannya terborgol. Kakinya juga terikat sesuatu. Samar dia mengingat Boby….. dan semua kegilaan yang dia lakukan… tidak…. Tidak!!!! Clara berkelit. Selimut yang dipakai sampai batas dada melorot. Menampilkan gunung tanpa penghalang. Gila!!!! Apa semalam dia dan Boby…. 


"Aaaaa tidak!!! tidak!!!!… bodoh!!!….," maki Clara pada dirinya sendiri.


Boby terbangun karena teriakan Clara. Semalaman dia tidur di sofa kamar itu. Badannya pegal luar biasa.


"Sudah bangun Poc? Pusing?" tanya Boby sambil mendekati ranjang Pocik.


"Kak Boby!!! Kak!!! Apa yang kita lakukan semalam???!!! Apa yang terjadi?" kata Pocik panik. Menggeliat berusaha lepas. Membuat selimutnya semakin melorot. Boby sudah akan berteriak memarahi gadisnya, namun ide gila tiba tiba muncul dikepalanya.


"Kamu lupa sayang?" tanya Boby sambil naik ketempat tidur. Berpegangan pada gunung kesayangan. 


"Aahh!!" Clara entah mengaduh atau enak.


"Kak apa kita sudahhh….. apa benar sudah terjadi?" tanya Clara. Boby tersenyum. Berbaring miring menghadap Clara yang masih terikat.


"Sudah… semuanya sudah terjadi. Gak masalah… enam hari lagi kita menikah," kata Boby berdusta. Dia mati matian meredam hasratnya sendiri kemarin. Bermain solo demi membiarkan Pocik tetap utuh. Ah, cintanya pada Pocik emang aneh. Semua gadis dirusaknya, tapi Pocik diusahakan tetap utuh padahal dalam posisi tidak menguntungkan. Bahakan rasa marahnya pada Pocik menguap begitu saja. Boby sudah menyusun kata kata memarahi sebelum jatuh tertidur dikursi. Hasilnya.... Kobaran amarahnya seperti tersiram beribu galon air saat melihat wajah berantakan Pocik.


Boby mengerti raut sedih Pocik saat membahas pernikahan. Dia mencium bibirnya dengan tangan yang tidak bisa diam. Pocik menerimanya tanpa banyak protes. Selain sudah terjadi juga karena masih terikat. Boby menyudahi ciumannya lebih singkat. Takut terpancing lagi. Membuka ikat pinggang yang membelit kaki Pocik dan borgol di tangannya.


Clara reflek membungkus dirinya dengan selimut. Kepalanya pusing luar biasa. Kesedihan juga kembali menguasainya. Benar... Mabuk itu tidak menyelsaikan masalah. Hanya lupa sesaat kemudian ingat lagi.


"Kak, aku mau membatalkan pernikahan kita," kata Clara dengan air mata yang menggenang.


"Kita bicara nanti! Mandi pakai air hangat dan sedikit berendam!" perintah Boby tegas.


Clara menuju kamar mandi dengan mudah. Ah, Hani bohong. Buktinya dia bisa berjalan normal. Tidak sakit sama sekali. Padahal sudah…. Haaa, Clara bahkan tidak ingat. Sedih juga kalau begini. Berharap malam pertama yang indah berakhir seperti ini. Salah Clara juga. Dia ingat dengan jelas saat menggoda Boby.


Clara mandi cukup lama. Boby meregangkan tubuhnya di kasur. Otot ototnya nyaman sekali. Setelah semalaman meringkuk di kursi. Kemudian jatuh tertidur tanpa disadari. Clara keluar kamar mandi. Menggunakan kembali baju yang kemarin. Dia gak bawa baju ganti. Boby terbangun karena merasa Clara menggunakan hair dryer.


Mereka sekarang duduk di resto resort. Hari sudah siang. Resto itu penuh orang makan siang.


"Ketemu mama yuk, dia mau minta maaf," ajak Boby lembut. Clara langsung berhenti menyuap.

__ADS_1


"Kenapa mama harus minta maaf? Salah aku menampar dia," kata Clara dengan sorot amarah dimatanya.


"Aku sudah tahu semuanya Poc. Aku minta maaf karena tidak peka. Pernikahan kita akan tetap berjalan. Aku yang menjamin itu. Aku juga tidak akan melepaskanmu dengan mudah. Aku sudah buka segel," kata Boby. Membalik fakta yang dulu pernah Pocik ucapkan.


"Bukankah kamu sering membuka segel? Kenapa satu segel wanita berstatus janda kamu harus tanggung jawab?" tanya Clara. Boby sedikit kebingungan menjawab. Hening beberapa saat.


"Karena aku mencintaimu. Aku gak peduli dengan statusmu," kata Boby.


"Tapi mamamu amat sangat peduli!! Beliau merasa aku adalah noda yang akan merusak martabat keluargamu!! Aku sudah pernah nekat menikah dengan orang yang salah. Hasilnya aku mengalami rumah tangga neraka dan hampa. Aku tidak akan melangkah sebelum yakin akan bahagia. Jadi batalkan saja semuanya," kata Clara tegas. Beranjak dari kursi yang diduduki. 


Boby terbengong sejenak. Ini seperti pukulan telak untuk mentalnya. Ditinggal Pocik lagi?? Hah!! Dia lebih baik mati!!


Clara mengerem mobilnya dengan kekuatan penuh. Boby tiba tiba muncul menghadang laju mobilnya yang keluar dari area resort. Sedetik saja dia telat, pasti Boby sudah tertabrak.


"Kak!! Apa kau gila!!" teriak Clara setelah membuka kaca mobilnya.


"Tabrak aku Poc!! Lebih baik aku mati daripada harus kamu tinggal lagi," teriak Boby langsung menarik perhatian pengunjung lain.


Clara memundurkan mobilnya. Boby maju mempertahankan posisi tepat di depan mobil Clara.


"Kak!! Apa kau gila!!" teriak Clara lagi.


"Aku gila karena mencintaimu. Aku gila karena kamu… aku gila!!! Dan lebih baik aku mati daripada harus hidup tanpamu!!" teriak Boby tanpa malu. Clara sudah celingukan. Orang orang memperhatikan mereka sambil senyum senyum. Sudah ada yang mengeluarkan hp. Merekam!!


Clara turun dan menarik tubuh Boby. Yang ditarik diam saja ditempat.


"Kak kita jadi bahan tontonan," bisik Clara.


"Berjanjilah untuk menikah denganku apapun keadaannya," kata Boby tidak peduli. Paling dia viral. Tidak pakai seragam atau atribut polisi. Aman... Batin Boby.


"Kita bicarakan nanti! Ayo masuk mobil," bujuk Clara sambil menarik lengan Boby.


"Tidak mau!!! Janji dulu mau menikah denganku apapun yang terjadi!!" kata Boby sudah hampir menangis.

__ADS_1


"Iya!!! Iya!!" Clara menyerah.


"Menikah denganku dan memaafkan mama," syarat dari Boby bertambah. Clara jengah.


"Bilang iya!!" lanjut Boby.


"Iya!!! Iyaaa!!!" teriak Clara. Tepuk tangan terdengar. Mereka mengira Boby melamar Clara dengan cara yang ekstrim. Boby akhirnya mau masuk mobil Clara dan menjadi pengemudi.


Hening…..


Clara masih kesal luar biasa. Boby tidak berminat membuat masalah lebih. Dia tahu Pocik dalam mode senggol bacok karena pemaksaannya barusan. Mobil mengarah pada rumah Boby.


"Aku mau pulang!!" kata Clara membuka percakapan. Menyadari kalau ini jalan menuju rumah Boby.  Boby menggeleng.


"Mama sama papa mau bicara sama kamu," kata Boby. 


"Aku gak mau bicara!!" jawab Clara ngegas. Boby diam gak peduli. Baginya permasalahan ini harus selesai sekarang juga. Dia sudah dihubungi papa kemarin. Mengatakan bahwa mama siap meminta maaf.


Boby menghentikan mobil di depan rumahnya. Menarik tubuh Pocik mendekat. Memberikan ciuman lama. Berharap dapat sedikit meredam emosi Pocik. Clara menerima ciuman Boby dengan membuka mulutnya. Boby terus menggoda lidah Pocik untuk bermain. Akhirnya Clara menyerah. Mengimbangi belitan lidah Boby sebelum nafasnya habis. Boby tersenyum puas.


"Aku tidak pernah sebucin ini. Tidak pernah senekat ini. Percayalah…. Kamu wanita terakhir yang ada dalam sisa hidupku," kata Boby. 


Mereka turun disambut Tono. Hari sudah sore. Boby sudah mengabarkan kedatangan mereka saat dijalan. Pertemuan singkat terjadi. Intinya Tono meminta maaf mewakili Santi. Dan Santi mendekat. Memeluk Clara dengan enggan. Clara tahu lagi lagi ini tidak tulus. 


"Saya akan melanjutkan pernikahan ini. Walaupun belum sepenuhnya percaya dengan ketulusan," kata Clara sebelum pamit meninggalkan rumah. Boby mengikuti Clara di belakangnya. Merampas kunci mobil dan menjadi sopir lagi.


"Kak!! Aku mau pulang!!" kata Clara kesal.


"Aku juga mau pulang," jawab Boby santai. Dia juga menyadari ketidak tulusan mamanya sendiri. Kecewa dengan orang yang sudah melahirkannya itu.


"Kamu lupa rumahmu dimana?" tanya Clara.


"Mulai sekarang aku tinggal dimanapun kamu tinggal," kata Boby. Menjalankan mobil Pocik menuju rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2