Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Sehari bersama Boby


__ADS_3

Pintu tidak bisa dibuka. Padahal Clara sudah mencoba menariknya sekuat tenaga.


"Pak Revan menguncinya dari luar," kata Boby santai.


"Lalu bagaimana cara kita keluar!" kata Clara panik.


"Pakai kunci cadangan lah, atau lewat pintu belakang," kata Boby santai. Sejujurnya dia mau terkunci selamanya.


"Bagaimana kunci cadangan bisa dipakai! Lihat kuncinya tertinggal di baliknya!!" kata Clara. Mengintip dibalik jendela samping pintu. Rumah Clara berjendela kaca tanpa daun jendela yang bisa dibuka tutup. Untuk sirkulasi udara pakai lubang angin angin diatas jendela dan pintu. Tidak ada pintu belakang. Clara panik luar biasa.


"Kita harus telpon seseorang!" kata Clara meraih hpnya di meja. Keduluan Boby yang langsung mengantonginya.


"Kak!!" kata Clara marah.


"Dengarkan aku dulu. Biar aku bicara baru kukeluarkan kita dari sini," kata Boby. 


"Ya udah cepat bicara!" kata Clara ngegas. Lama lama bersama Boby takut membangkitkan rasa yang sudah lama berusaha ditahan.


"Aku lapar, belum sarapan. Apa aku boleh minta makan?" tanya Boby memelas. Sudah melirik di dapur Clara ada nasi goreng. Clara tidak menjawab. Akan tetapi pergi membuatkan Boby teh hangat. Boby langsung menganggap rumah sendiri. Mengambil nasi goreng dan makan di depan tv dengan santai. 


Clara datang dengan dua cangkir teh hangat dan sepiring nasi goreng untuk dirinya sendiri. Makan di samping Boby dengan tenang.


"Enak Poc, ini nasi goreng terenak yang pernah aku makan," gombalan Boby tetap meluncur walaupun mulutnya penuh nasi goreng. Yang benar adalah ini sarapan terenak Boby setelah 6 bulan lebih. Soalnya sering hangover sampai tidak pernah sarapan. Clara diam tidak menanggapi.


"Poc, aku ngomong lho ini," protes Boby.


"Yang bilang kamu kumur kumur siapa?" tanya Clara ketus. 


"Kok gak dijawab, gak ditanggepin pujianku?" Boby makin merajuk.


"Gak, gak penting," jawab Clara pedas. Mereka selesai bersamaan. Boby menyerahkan piring kosongnya sama Pocik dengan santainya.


"Makasih calon istriku," kata Boby sambil nyengir. Clara tidak menanggapi. Lurus ke dapur untuk mencuci piring. 


Boby yang gemas tidak ditanggapi menyusul Pocik. Langsung melingkarkan tangannya dipinggang Pocik.

__ADS_1


"Kak!!" teriak Clara kaget. Berusaha membelot. Akan tetapi Boby menghimpit tubuhnya dan erat memeluknya. Boby menempelkan bibirnya di kuping Pocik.


"Mamaku nanya… kapan aku bisa melamarmu," bisikn Boby diiringi nafas beratnya. Clara membeku di tempat. Mama…. Boby…. Memberikan restu? Batin Clara mencerna informasi dari Boby. Clara terpejam karena permainan bibir Boby di tengkuknya. Beberapa kali menghisap dan menjilat. Terlena sesaat...


Permainan Boby terhenti karena hape Clara di saku celananya berdering. Boby berdecak sebal. Clara langsung cuci tangan.


"Mana?" pinta Clara. Boby semakin merengut setelah tahu siapa yang menelpon.


"He… Mas Rama," kata Boby sinis. Hatinya panas membara. Clara menerima telepon dengan ceria.


"Nanti malam?" tanya Clara melirik Boby disampingnya.


"Eh,... gimana yaa," kata Clara bingung. Rama memaksa bertemu nanti malam. Dan Boby jelas nguping disampingnya. Pembicaraan berakhir dengan paksaan Rama untuk tetap bertemu nanti malam.


"Aku mau disini sampai nanti malam!" komentar Boby setelah Clara menutup telponnya. Mukanya terlihat kesal sekali. Clara diam tidak menjawab. Melanjutkan cuci piring yang tertunda.


"Poc, aku sudah sampaikan berita baik lho!!! Dan tanggapanmu sedatar ini? Malah menerima kencan dari 'Mas Rama' mu itu?" kata Boby penuh emosi. Clara masih bungkam. Dia teringat perkataan Hani tentang Boby. Agak jijik dengan pria disampingnya itu, walaupun debaran kerinduan tetap nyata didadanya.


Boby tidak sabar. Dia menarik Clara dengan kasar. Menciumnya dengan paksa. Seperti biasa Clara menolak, tapi bukan Boby namanya kalau menyerah dengan mudah. Suka atau tidak Clara juga merindukan Boby. 


***


Mereka berhasil keluar rumah dengan cara memanjat lubang angin kamar mandi yang cukup besar celahnya. Clara yang melakukannya. Boby rencananya akan mengangkat tubuh Clara.


"Naik ke pundakku duduk dulu, kalau sudah kepegang lubang anginnya pegangan yang kuat. Lalu berdiri pelan, melompat dari sana." Kata Boby memberi penjelasan. Boby kemudian berdiri bersandar pada tembok. Menautkan tangannya kedepan sebagai pijakan Clara. Nyengir sedikit.


"Aku harus duduk di pundakmu?" tanya Clara. Boby mengangguk sambil nyengir.


"Kenapa kamu hadapnya sini? Balik badan sana. Kalau aku duduk di pundakmu berarti area rawan ku tepat di mukamu!" kata Clara protes. Padahal Boby sudah membayangkannya.


"Gini aja gak papa," kata Boby belum menyerah. Berencana menggigit apem nanti.


"Balik badan!" kata Clara. Dengan terpaksa Boby mengikutinya.


"Aw, aw, pelan pelan Poc, ini kepalaku," kata Boby saat Clara berhasil mencapai lubang angin dengan menginjak kepalanya. Apes!!! Dia berencana dapat apem malah kepalanya diinjak mirip tangga.

__ADS_1


***


Seharian itu tugas Boby mengganggu Clara. Dia beneran gak mau pulang padahal mereka sudah terbebas dari rumah mungil itu. Ada saja alasannya untuk tetap disitu.


"Cepat pulang atau aku panggilkan Pak RT," usir Clara jengah. Dia gak konsen jahit kalau begini.


"Aku mau bobo sini. Aku ngantuk," kata Boby pura pura menguap. Dengan pedenya masuk ke kamar Clara dan tidur. Untung tetangga disini gak terlalu julid seperti dirumah ibunya Clara. Selain belum kenal dekat, juga menganggap Clara masih gadis. Gadis itu terbebas dari stigma janda yang buruk.


Clara berhasil menyelesaikan jahitannya. Agak ngantuk juga karena semalam lembur. Hari sudah siang. Clara pergi cari makan siang. Dengan malas membungkusnya untuk Boby juga. Tamu tak diundang dan gak mau pergi. 


Clara melongok dalam kamarnya. Melihat Boby memeluk guling tidur dengan nyaman. Ah, dia kesal sendiri. Tidak tega membangunkan Boby, tapi juga ngantuk mau tidur. Akhirnya Clara memilih tidur di karpet  depan tv. Mata ngantuk, perut kenyang…. Clara terlelap dengan cepat.


Clara terbangun karena dengkuran halus yang dia dengar… siapa yang mendengkur?? Ternyata Boby nyusul tidur karpet. Memeluk erat tubuh mungilnya. Hari sudah sore. Clara berdecak sebal. Menurunkan tangan Boby dari pinggangnya. Boby membuka matanya karena gerakan Clara. Langsung mencium bibir Clara dengan gemas. Clara rapat menutup bibirnya. Bermaksud menolak ciuman Boby. 


Boby tahu Clara mengelak. Dengan sekali gerakan membuat Clara berada dibawahnya. Tangan Boby mengerayang pinggang Clara. Seketika bibir Clara terbuka. Boby langsung meneroboskan lidahnya tanpa ampun. 


Ciuman berakhir karena Clara ngos ngosan dibawah Boby. Boby melepaskan ciuman karena Clara tersengal. 


"Pulang sana!" kata Clara sambil mengatur nafas. Mengerti kalau semakin ditolak pria itu semakin nekat. Apalagi katanya sekarang dia mengantongi izin dari mamanya.


"Aku masih mau disini," jawab Boby belum mau turun dari tubuh Clara.


"Ya udah sana!! Aku mau pipis," kata Clara berusaha lepas dari tindihan tubuh Boby.


"Sekali lagi," kata Boby. Menyerang bibir Clara tanpa ampun.


"Eeehhhhhh….." dess sahan panjang Clara mengakhiri ciuman panjang Boby. Beberapa kali meninggalkan tanda di leher Clara yang putih. Gadis itu kembali hanyut dalam permainan Boby yang pro. Matanya sampai berkabut. Padahal itu cuma ciuman. Clara langsung kabur kekamar mandi. Mengguyur tubuhnya dengan air dingin agar bara yang berhasil dinyalakan Boby kembali padam.


"Gak pulang? Kamu nanti dicariin mamamu lho," kata Clara halus. Usai dia mandi. Mencoba mengusir Boby dengan cara persuasif.


"Mama tahu aku disini. Aku udah ijin sama dia," jawab Boby santai sambil selonjoran di depan tivi. Clara tidak menjawab dan masuk kamarnya.


"Kak Boby!!!" teriak Clara saat melihat lehernya. Tanda yang ditinggalkan tidak sedikit. Sekarang berubah keunguan untuk kulit Clara yang putih.


"Kenapa? Masih kurang?" tanya Boby sambil nyengingis. Mengikuti Clara masuk kamar. Gadis itu hanya melirik sebal. Bagaimana dia bertemu Rama kalau begini??? Clara bukan gadis buta yang tidak tahu Rama tertarik dan berusaha mendekatinya. Apa katanya kalau melihat banyak tanda dilehernya?? 

__ADS_1


"Kamu sengaja kan!!" tebak Clara. Boby cuma nyengingis.


__ADS_2