Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Manis


__ADS_3

Boby dan Clara kembali sibuk dengan aktivitasnya. Clara fokus mengejar ketinggalan mata kuliah yang cukup banyak. Bisnis esnya mengalami kemunduran. Dia kehilangan dua outlet karena salah pilih tempat. Yang dirasa dulu ramai, ternyata tidak seramai itu. Tidak masalah…. Bisnis memang berdinamika. Masih ada tiga outlet yang sudah balik modal. Clara juga kembali cari orderan jahitan. 


Untung Boby bukan suami yang rewel. Dia tidak masalah kalau Clara tidak sempat masak. Tidak masalah membantu Clara sekedar menyapu rumah atau menjemur baju. Walaupun kadang sering luput tidak sesuai dengan ekspektasi Clara.


"Kakak, kamu ngapain?" tanya Clara yang sibuk motong kain.


"Jemur baju," teriak Boby dari dapur. Clara manggut manggut. Sampai potongan Clara selesai dan siap obras, Boby belum kelihatan.


"Kakak kamu ngapain?" tanya Clara lagi.


"Jemur baju," jawaban yang masih sama. Jemur baju setengah jam lebih??? Clara jadi merasa berdosa. Mungkin cuciannya terlalu banyak kali ini. 


Clara kedapur untuk membantu Boby. Yang ditemuinya Boby asik senyum senyum memandangi wadah gunungnya yang berwarna merah.


"Astaga!!! Pantas saja gak selesai selesai. Kamu ngapain senyum senyum mesum begitu??" tanya Clara terheran.


"Ini bagus Poc, kamu cantik kalau pakai ini. Kontras sama kulit putihmu," kata Boby sambil ngelus ngelus benda itu. Clara garuk garuk kepalanya yang tidak gatal. Pantas saja lama. Yang dijemur Boby dalemannya semua. Jadi suaminya itu ngobok ngobok mesin cuci dan hanya menjemur **********. Cucian yang lain masih anteng di mesin cuci.


Clara menyingkap kaosnya. Mengeluarkan gunung dan menyusui bayi besarnya. Langsung di caplok dengan ganas. Permainan mereka berlanjut.


"Ehhh rejeki nomplok," kata Boby diantara permainan mereka.


***


Hari ini jadwal mereka berkunjung ke rumah Boby. Clara dan Boby sepakat berkunjung sebulan sekali dirumah orang tua masing masing. Sesibuk apapun berusaha disempatkan. Clara mampir membeli beberapa kotak kue dan mainan untuk Ayuna. Kalau dibilang malas, Clara sebenarnya malas minta ampun ketemu Mama Santi. Sejak insiden sebelum nikah, baik Clara ataupun Santi memilih menjaga jarak. Clara terbebas dari tugas dresscode dan mengantar arisan yang memuakkan.


Mereka sampai disambut Atun yang sumringah. 


"Mas Boby makin ganteng aja," puji Atun dengan tulus. 

__ADS_1


"Susunya cocok Tun, besar dan memuaskan," jawab Boby memalukan. Clara langsung menabok punggung suaminya itu. 


Bersyukur Boby mengerti keadaan Clara dan mamanya. Jadilah dia selalu mendampingi Clara dimanapun selama dirumah. Takut tabok tabokan lagi sama Santi.


"Jeleknyaaaa….. Jeleknyaaa Pakde dimana???" teriak Boby masuk rumah. Bocah berusia hampir dua tahun itu melirik saja di bawah pengawasan baby sitter.


"Eh, Mas Boby… Mbak Clara," sapa Dito sambil menyalami mereka berdua.


"Mana yang lain To? Kok sepi?" tanya Boby.


"Mama arisan sama Jesi, papa belum pulang," kata Dito. Boby dan Clara main dengan Ayuna. Atun datang membawa minuman dingin untuk mereka.


Tono pulang dengan mobil brondol yang biasa digunakan angkut pasir. Boby agak terheran karenanya.


"Mobil Papa mana?" tanya Boby.


"Ada tuh dipakai Jesi sama mama," kata Tono santai.


"Katanya mau upgrade kayak Mbaknya," kata Tono sambil memandang Clara. 


"Kalian belum makan malam kan? Kita makan diluar yuk," ajak Tono. 


Akhirnya mereka pergi makan malam setelah Tono mandi. Untung tadi pakai mobil Boby. Jadi muat semua termasuk Atun dan Baby sitter Ayuna. Mereka makan malam minus Santi dan Jesi. Canda tawa mengalir begitu saja. Clara lebih lepas karena tidak ada Santi. 


"Ra, ambilin Papa daging lagi," perintah Tono pada Clara. Yang masih asyik makan. Sedang Boby dan Dito asyik berebut Ayuna. Agar Atun dan Suster bisa makan. Clara mengambilkan daging di dekatnya. Memindahkan kepiring Tono.


"Apa Boby menyusahkanmu?" tanya Tono sambil lekat menatap Clara.


"Tentu saja tidak Pa, kami sama sama saling menyusahkan," kata Clara sambil nyekikik. Tono tersenyum.

__ADS_1


"Terimakasih sudah bersabar…. Dan menerima Boby dengan segala kekurangannya," kata Tono serius.


"Terimakasih juga karena sudah menerima Clara dengan tulus Pap," jawab Clara.


"Makasih juga buat makanannya Pak, ini enak," sambung Atun. 


"Kok kita jadi kaya pegawai toko habis ada pembeli," kata Clara sambil nyekikik. Mereka tertawa. Menyadari kalau setiap orang mengucapkan kata yang sama.


Clara diajak Tono untuk nginep. Boby juga semangat. Kangen sama kasurnya juga. Akhirnya Clara mengikuti kemauan Boby. Mereka masuk rumah dan menuju kamar masing masing. Boby langsung menciumi bibir Clara begitu pintu tertutup. Seperti biasa… tangan Boby selalu sigap melucuti apa yang masih menempel ditubuh Clara.


"Aku selalu bermimpi untuk berr ccintaaa denganmu disini," bisik Boby. Sebelum membuat Clara kerepotan untuk menutup mulut. Mengurangi suara yang keluar dari kamar mereka. Akan tetapi Clara tidak sanggup untuk tidak menjerit saat Boby menghentak dalam sambil bermain dengan gunung favoritnya.


"Aaahhhh Bobbiihhh," jerit Clara yang sudah ditahan tahan. 


***


Pagi datang. Seperti biasa Clara bangun lebih dulu. Akan tetapi ini bukan rumahnya seperti biasa. Clara juga enggan bertemu Santi. Akhirnya memutuskan melihat lihat sekeliling kamar Boby yang asing baginya. Clara melihat meja Boby. Mengobok obok apa yang ada di dalamnya. Menemukan foto jadul mereka dulu dengan tulisan Boby love Pocik. Yang dia tahu sebagai tulisan tangannya dulu. Clara nyekikik dibuatnya. Tidak menyangka Boby masih memilikinya. Padahal punya dia sudah dirobek saat putus cinta dulu.


"Pagi Poc," sapa Boby sambil menggeliat.


"Pagi Kak," jawab Clara sambil merangkak ke kasur memberikan ciuman. Boby menerimanya dengan senang hati. Suasana hati Pocik lagi baik kalau begini.


"Kenapa kamu masih simpan?" tanya Clara sambil mengacungkan foto jadul itu. Boby tersenyum.


"Bukan cuma itu…. Sini aku kasih tahu sesuatu," kata Boby sambil bangkit. Menuju lemari pakaiannya. Membuka kunci laci yang ada didalamnya. Isinya macam macam. Mulai dari gelang, surat cinta dari Pocik, buku tulis yang sudah berumur dan lain lain. Ini laci pemujaan untuk Clara. Semua benda yang ada didalamnya adalah kenangan saat mereka masih bersama dulu. Bahkan ikat rambut dan jepit bunga Clara ada disana.


"Ada bibirmu yang menempel disini," kata Boby sambil mengacungkan buku tulis. Clara tersenyum geli mengingatnya. Itu adalah buku yang menjadi saksi ciuman pertama mereka.


"Pantas saja hilang!! Itu buku catatan bahasa inggrisku ya… gara gara ini hilang aku harus mencatat ulang semua," kata Clara. Itu bukunya dulu yang ternyata dicuri Boby.

__ADS_1


"Aku klepto kalau sama kamu hihihihi maaf ya cantik. Aku juga gak tau kenapa begitu dulu. Senang sekali kalau dapat barang barang darimu. Entahlah, kamu tetap menjadi yang pertama dan satu satunya mantan yang aku simpan kenangannya," kata Boby.


"Kalau begitu kenapa ditukar tambahkan sama kakak kelas!!" protes Clara. Yang masih dendam saja. Boby menjawabnya dengan ciuman panas. Dan satu ronde lagi sebelum mereka mandi.


__ADS_2