Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Awal ujian


__ADS_3

Clara lemas di jok sempit belakang mobilnya. Tidak menyangka hal seperti itu bisa dilakukan di atas mobil seperti ini. Boby sudah memakai bajunya lagi. Bersiap menjalankan mobil menuju tujuan mereka sebelumnya.


"Kak, aku belum pakai baju," protes Clara dari jog belakang.


"Gak ada yang lihat. Tidurlah. Kita bisa terlambat kalau banyak mampirnya," kata Boby sambil melemparkan bantal selimut pada Clara.


"Tahu waktunya mepet malah mampir di parkiran mall! Gak sekalian nginep sini? Bikin tenda biar gak pegel badannya begituan di atas mobil," omel Clara. Wanita itu sibuk pakai baju dengan selimut yang menutupinya.


"Sensasinya beda Sayang. Seru bukan?" jawab Boby sambil nyengir.


Mereka sampai lokasi homestay saat sudah malam. Disambut pemilik homestay yang katanya hampir menyewakan kamar pada orang lain.


"Tadi kami harus ganti oli dulu Pak, maklum mau buat ke gunung," alasan Boby. Clara nyekikik di sampingnya. Yang ganti oli orangnya. Batin Clara dan Boby.


"Wo iya Mas, mesinnya harus bagus. Disini banyak jalan menanjak," jawab pemilik homestay sambil sibuk menyiapkan kopi dan air panas di kamar. Fasilitas dari homestay ini.


"Iya Pak, mesinnya masih orisinil. Cocok buat tanjakan," jawab Boby sambil tersenyum. Mencolek boo kkoong Pocik sekilas. Clara benar gak habis pikir. Tahu benar pembicaraan mereka beda maksud tapi masih nyambung saja.


Mereka menghabiskan malam itu dengan berkeliling dan makan malam. Sebuah resto yang menawarkan keindahan pegunungan.


"Terimakasih sudah mengajakku kesini Poc," kata Boby. Clara langsung tahu mode tidak percaya diri Boby kembali on. Rendah diri karena gaji yang diberikannya tidak mungkin mencukupi biaya sehari hari mereka. Apa lagi untuk staycations seperti ini.


"Kak, aku gak suka kamu terus seperti ini. Kita suami istri. Semua yang aku punya juga kamu punyai. Udah dong! Mana Boby Adya Haryanto yang penuh percaya diri dulu?" kata Clara sungguh sungguh.


"Boby Adya Haryanto yang dulu terkubur. Tergerus oleh kenyataan hidup kalau uang memang dibutuhkan," jawab Boby.


"Kita punya uang. Kita banyak uang. Yowes kalau gitu pulang dari sini tugasmu nambah. Ngurusin depot es kita. Biar gak makan gaji buta kamu," kata Clara sok sadis. Boby merengut.

__ADS_1


"Jadi tugas sampinganku jualan es?" tanya Boby.


"Iyalah, biar Tante ajarin kamu selama seminggu. Setelah itu kamu harus mahir sendiri tanpa Tante. Ngerti?" kata Clara sok akting jadi tante girang dan brondongnya.


"Ngerti Tante," jawab Boby sok patuh jadi brondong suci. 


"Ya udah!! Sekarang pulang! Waktunya kamu nyusu sama Tante," kata Clara sambil berdiri.


"Siap Tante!!" jawab Boby gembira. Sepasang pasangan koplak itu meninggalkan restoran. Menikmati sisa malam dengan susu hangat yang belum keluar isinya.


***


Seminggu berlalu…


Boby benar mengurus bisnis es milik mereka. Mengambil alih kesibukan Clara yang satu itu, membuat Boby lebih percaya diri. Lebih merasa berguna untuk istrinya. Pocik memang wanita pilihan yang benar benar mengerti dengan karakternya. Cintanya pada Pocik kian hari kian bertambah. Sedikit mengubah Boby yang bebas menjadi Boby yang pencemburu. Ketakutannya ditinggal Pocik semakin menjadi.


"Dikamar lah… ini sudah jam berapa Kak," kata Clara setengah tidur. Senyum menghiasi bibirnya. Dia merasa suaminya ini kian posesif saja akhir akhir ini. Lucu…. Clara merasa bucinnya Boby yang ini lucu saja. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, tapi masih ditanya dimana???


"Tidur nyenyak, gak boleh mimpiin orang lain selain aku," kata Boby. Langsung terjadi batuk dadakan di ruangan Boby. Semua orang berdehem muak.


"Ape lu… sirik aja! Pada nikah sana!!" kata Boby tidak terima.


"Nikahlah. Masak kayak kamu kawin duluan baru nikah!!" kata Beri.


"Bye Poc.. tidur nyenyak. Doakan aku berhasil malam ini. Love u," kata Boby buru buru. Sebelum mulut teman temannya membuat Pocik ngambek.


"Love u Kakak. Hati hati yaa," jawab Clara sebelum panggilan terputus.

__ADS_1


Tim mulai bergerak dini hari. Menuju rumah yang digunakan Tomo menginap. Bandar narkoba yang menjadi incaran Revan. Pintu diketuk oleh Revan. Dibuka oleh cewek sexy yang hanya pakai two piece. Boby dan Revan langsung melongo beberapa detik.


"Tomo mana Tomo?!!!" Bentak Revan. Tim merangsek masuk rumah. Menemukan lima wanita muda tanpa baju semua.


"Kita gak salah masuk kan?" tanya Boby entah pada siapa. Nando sudah panas dingin menggigil sendiri. Jon bingung melihat yang mana. Beri melongo shock.


"Tomo mana!!" bentak Revan yang masih waras diantara yang lain. Menyadarkan fokus mereka lagi. Tim kemudian menggeledah rumah. Tidak ditemukan Tomo dirumah itu. 


"Pakai ini," kata Boby menarik sprei kamar untuk para wanita.


"Gak mau kami pijat Mas? Kita disewa untuk melayani kalian," kata seorang wanita.


"Maaf, kita cowok cowok alim," jawab Boby menunggui wanita wanita itu. Sementara yang lain sibuk menggeledah. Yang lain takut tidak kuat naf ssu. Jadi membiarkan Boby yang menunggui mereka.


Nihil…. Tomo tidak ada ditempat. Revan membanting kursi yang ada di rumah itu. Mencekik satu wanita yang ada di dekatnya.


"Bilang sama Tomo! Kita tidak bisa disogok dengan uang atau wanita murahan!! Kalau dia mau selamat serahkan diri. Atau mau mati ditanganku!!!" kata Revan mengerikan. Mencampakkan wanita itu ke lantai. Yang terbatuk karena suplai oksigen di otaknya menipis karena cekikan Revan.


"Ne, cari informan kita!" kata Revan menghubungi Ine. Kemudian meninggalkan tempat bersama yang lain. Tomo memang beberapa kali berusaha mendekati tim itu dengan uang dan benda benda mewah lain. Menyebalkan!!! Ini menyebalkan untuk Revan.


Informan yang dimaksud disergap pagi hari. Dengan sedikit pukulan dan siksaan akhirnya dia mengakui kalau Tomo menginap di salah satu hotel di pinggir kota itu. 


"Ayo kita bergerak teman. Sebelum semakin banyak bocah terkena jerat narkoba," kata Revan semangat. Tomo memang bandar untuk kalangan pelajar. Penggunanya kebanyakan bocah. Bahkan ada yang masih SMP.


"Semangat banget Pak, mentang mentang sebentar lagi punya anak," kata Boby agak ngiri. Istri Revan memang sedang hamil anak pertama.


"Iya dong. Aku akan membersihkan bandar bandar itu sebelum kesayanganku lahir," kata Revan sambil senyum. Sebentar lagi…. Menunggu beberapa bulan lagi dia bertemu dengan buah cintanya sama Putri.

__ADS_1


Nonstop tim bergerak menuju hotel. Hari sudah siang. Siapa sangka Tomo hampir bisa kabur melarikan diri. Kejar kejaran terjadi. Tomo berhasil lari ke basement hotel. Lari keluar menyambar seseorang yang ternyata Diky. Bersama dengan Putri. Istri dari Revan yang sedang hamil. Tragedi terjadi. Putri didorong Tomo sampai membentur pinggir mobil dan jatuh terduduk di aspal. Suasana kacau. Revan memutuskan mengejar Tomo yang memang licin dan menyebalkan. Meninggalkan Putri yang kesakitan. Boby, Nando dan Diki membawa Putri ke rumah sakit. Boby mengendarai mobil Diki dengan tangan bergetar. Teriakan Putri menyayat hatinya. Sekilas Boby melihat dres Putri yang penuh daa rrah.


__ADS_2