
Pagi datang. Tono berjalan menuju ruang perawatan Boby. Mampir ke kafetaria untuk membeli sarapan. Bertemu dengan Clara yang membuka gerai minumannya.
"Clara…!!! Wah, kejutan sekali!!!" kata Tono gembira.
"Om," sapa Clara canggung.
"Eh, Boby terluka kemarin. Bergumul dengan penjahat sampai tangannya terluka. Sekarang dirawat disini… kamu mau jenguk?" tawar Tono. Menceritakan Boby dengan bangga. Clara tersenyum dan menggeleng.
"Kemarin saya udah jenguk Om. Pas lagi asik sosor sosoran sama cewek. Semoga cepet sembuh," jawab Clara sedikit kesal. Tono melongo mendengarnya.
"Sosor sosoran??? Ah, dasar bebek!!!" kata Tono langsung menuju kamar Boby. Lupa dengan sarapan istrinya.
Clara kembali sibuk membuka gerai es tehnya.
"Selamat pagi cantik," sapa Rama. Pria yang kian dekat dengan Clara karena rekomendasi tempat jualan ini juga. Ibunya yang dokter senior memberikan rekomendasi cafetaria rumah sakit.
"Pagi Mas," sapa Clara singkat. Sambil sibuk menata dagangannya.
"Udah dapet pegawai?" tanya Rama duduk di kursi cadangan yang Clara siapkan untuk pelanggan.
"Belum, bisa keteter juga jadwal jahit pelanggan kalau begini," kata Clara cemas. Yang baru tahu susahnya cari karyawan.
"Kalau mau aku punya teman anak ISI perdalangan yang butuh kerjaan," kata Rama. Clara berbinar mendengarnya. Terserah mau siapa saja asal mau menunggu gerai minum ini.
"Suruh dia kesini," kata Clara semangat.
Clara melakukan tanya jawab singkat pada calon karyawannya. Apa lagi untung dari penjualan es ini sudah menjanjikan karena tempat yang strategis. Clara berani menggaji orang walaupun tidak banyak.
"Makasih Mbak, saya senang dapat kerja, makasih Ram, kamu bantu aku terus. Aku doakan hubungan kalian langgeng sampai nikah," kata Ramli.
"Aamiin," jawab Rama cepat. Clara melirik horor.
"Hehehe, kami cuma berteman," jawab Clara meluruskan.
"Ow, jadi Rama masih ditolak?" tanya Dokter Mery di belakang mereka.
"Mami," sapa Rama malu malu.
"Pa…pagi Dok," sapa Clara tergagap. Dokter Mery mengelus lengan Clara.
"Pagi Ra, panggil aku tante, tidak perlu seformal itu. tapi aku lebih suka dipanggil mami," kata Mery. Rama tersenyum senang mendengarnya.
***
__ADS_1
Tono berjalan cepat menuju ruangan Boby.
"Clara bilang kamu sosor sosoran sama cewek kemarin," kata Tono begitu masuk ruang perawatan.
"Clara?? Papa bertemu dimana?" tanya Boby antusias. Boby kira kemarin teman temannya membawa Pocik khusus. Akan tetapi kalau papanya bertemu Pocik juga berarti gadis itu ada di rumah sakit ini. Tono kemudian menjelaskan.
"Lalu kamu nyosor siapa kemarin?" tanya Tono kepo. Boby balik menjelaskan.
"Mama rasa Gina pantas diperjuangkan," komentar Santi.
"Mama!! Katanya merestui Boby sama Clara… kenapa malah begitu!!" protes Boby. Santi terdiam. Malas membicarakannya.
"Papa pinjam hp," pinta Boby. Kalau tidak sedang sakit begini, Boby memilih menemui Clara langsung. Akan tetapi sepertinya itu ide yang buruk. Nenteng nenteng infus sampai cafetaria kantin. Bisa dikira dia mau kabur dari rumah sakit nanti.
Tono menyerahkan hpnya. Boby langsung mendial nomor Clara yang sudah dihafal. Dering kedua langsung diangkat.
"Pocik, tolong jangan tutup telponnya…." kata Boby memelas.
"Poc… pociikkk," lanjut Boby tidak terjawab. Detik berikutnya nomor Pocik sudah tidak bisa dihubungi dengan nomor Papanya. Begitu memang. Clara langsung memblokir nomor baru yang digunakan Boby untuk menghubunginya. Dan itu sudah ratusan kali terjadi selama enam bulan lebih ini. Boby mendesah putus asa. Hubungan mereka kian menjauh kalau begini.
***
Clara menutup gerai minumnya bersama Ramli. Seharian ini Clara mengajari Ramli. Tidak sulit… pekerjaan ini bukanlah pekerjaan yang membutuhkan keahlian khusus.
"Oke Mbak," jawab Ramli mantap.
"Aku masih muda, paling seumuran sama adikmu. Panggil saja Clara," kata Clara sungkan.
"Lah, masak aku njangkar sama bos. Ya gak enak," kata Ramli. Clara tersenyum mendengarnya.
"Gak papa, aku juga bukan bos besar kok," kata Clara jujur, namun Ramli tetap memanggilnya mbak.
"Bos kecil ya gapapa yang penting bisa ngaji aku," kata Ramli.
***
Sore hari Rama datang ke rumah Clara.
"Hai cantik, aku mau jemput kamu nih," kata Rama begitu memasuki rumah Clara.
"Emang kita janjian kemana?" tanya Clara heran.
"Mami ngajakin kamu makan malam. Yah… sebenarnya acara dadakan sih, papi sempat, mami ada waktu. Jadilah makan malam dadakan," kata Rama santai.
__ADS_1
Clara mengerti itu usaha Rama agar dirinya lebih dekat dengan keluarganya. Ada rasa rendah diri yang menyelisip seketika. Clara tidak pede, apa lagi dengan status jandanya.
"Apa keluargamu tidak akan menolak? Maksudnya… aku janda," kata Clara.
"Mami sudah tahu kamu janda, katanya 'never mind janda hanya selaput dara yang robek'," kata Rama sambil meniru gaya maminya yang sedikit centil. Clara tertawa melihatnya.
"Tapi sebelumnya aku mau ngajak jalan jalan kamu sebelum makan malam. Jadi bersiaplah sekarang," kata Rama.
"Tapi aku punya banyak jahitan Mas, gak bisa… kamu bantuin aku jahit aja gimana? Biar nanti saat makan malam gak kepikiran," Clara nego.
"Jahitan kamu ini cuma jadi sampah nanti, kalau kamu mau jadi pacarku, aku tanggung semua kebutuhan kamu tanpa perlu bekerja," kata Rama gemas. Tidak suka dibantah. Deg…. Clara merasa tidak dihargai kalau begini.
Rama mengajak Clara nonton. Film horor yang sebenarnya amat dibenci Clara. Yang ternyata memang disengaja Rama. Clara terus menempel di lengannya sepanjang film berputar. Jejeritan terdengar dari studio film. Clara sudah menyembunyikan mukanya di lengan Rama.
Tiba tiba Rama merangkum wajah Clara dengan tangannya. Mendaratkan satu ciuman di bibir Clara. Ciuman yang menuntut. Clara kelimpungan mengimbangi ciuman Rama yang penuh nafsu. Pikirannya melayang pada Boby. Pria yang selalu pelan melakukan cumm bbuannya. Penuh perasaan dan tidak terburu buru. Hingga Clara terlena dengan sendirinya.
"Eeehhhemmm," suara batuk yang dibuat buat dari kursi di samping Clara. Gadis itu kemudian mendorong tubuh Rama menjauh.
Sampai mana tadi??? Clara tidak lagi konsen dengan film hantu yang diputar. Merindukan lelaki menjijikkan yang tetap dia cintai.
Makan malam keluarga Rama berlangsung. Yang mengejutkan adalah siapa papi Rama.
"Clara!!!" kata Pak Juni kaget.
"Pak Juni," kata Clara gak kalah kaget.
"Hei hei hei bagaimana kalian saling kenal?" tanya Rama heran.
"Papi pernah cerita tentang klien muda yang tidak menuntut harta dan hanya mau bercerai?" tanya Pak Juni.
"Dia orangnya," kata Pak Juni sambil menyalami Clara. Pak Juni menyensor kalau dia juga bercerita kalau Clara masih virgin. Rama tersenyum senang. Dia ingat cerita papanya itu.
Suasana lebih cair karena Clara dan Pak Juni sudah saling mengenal.
"Sayang kakak Rama dan suaminya gak bisa datang. Lain kali kita adakan makan malam lagi dengan formasi lengkap," kata Dokter Mery.
"Mana Bripda Boby, Ra? Kalian putus?" tanya Pak Juni tiba tiba. Rasanya mustahil mereka berpisah setelah apa yang dia lihat selama proses persidangan. Apalagi kata Rama, Clara adalah pacar barunya.
Raut muka Clara langsung terlihat bersedih. Dan itu terbaca jelas oleh Rama.
"Kami berpisah," kata Clara singkat.
"Kenapa?" jiwa kepo seorang pengacara bergejolak. Clara tidak segera menjawab. Suasana canggung tercipta.
__ADS_1
"Well… itu bukan urusan kita Papi. Yang penting sekarang Clara mau menerima cinta Rama. Mami nembak kamu buat Rama," kata Dokter Mery sambil memegang tangan Clara. Clara salah tingkah dibuatnya. Tidak enak menolak Rama didepan kedua orang tuanya.