Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Kesayangan Clara


__ADS_3

Sepasang pengantin baru itu datang ke meja makan saat sarapan sudah hampir selesai. Dengan leher Clara yang membiru di beberapa tempat. Hasil karya Boby tentunya.


"Aku yakin bangun paling siang, tapi mereka yang paling rajin lembur," kata Tono. Clara tersenyum kikuk.


"Walah Paa, tukeran kamar yuk biar Papa tahu seberapa berisiknya mereka," kata Dito menambahi.


"Berisik! Kaya kak pernah jadi pengantin baru aja," jawab Boby santai.


Mereka meninggalkan rumah setelah sarapan. Boby ada tugas nanti malam, sedang Clara memulai kuliah dengan jadwal yang mulai memadat. Boby mencium Clara lama di parkiran kampus. Tidak rela berpisah dan seorang diri dirumah.


"Aku tungguin aja yak," kata Boby yang maunya nempel terus.


"Kamu kan ada tugas malam Kak, nanti ngantuk. Dirumah aja tidur, istirahat," kata Clara.


"Ini masih pagi Poc, mana bisa aku tidur. Udah yuk, aku tungguin aja. Nanti habis makan siang aku pulang," kata Boby ngeyel. Akhirnya Clara benar benar ditungguin Boby. Clara menitipkan hp nya pada Boby yang menunggu santai di taman dekat kelas Clara.


Clara keluar kelas tidak menemukan Boby. Kemana? Pikirannya langsung mengira Boby kelayapan. Ngiler ngeliatin cewek cewek sexy di kampus. Meminta Merlin menghubungi hp nya. Lama baru diangkat.


"Kamu dimana Kak! Cepet banget ngilang kalau ada banyak cewek!!!" kata Clara ngegas. Terdengar cekikikan Boby dari seberang.


"Sudah selesai Poc? Aku jemput sekarang. Tunggu di parkiran ya sayang," kata Boby mematikan sambungan.


Clara sedikit kering menunggu Boby. Pria itu datang sambil nyengir.


“Kakak kemana!” kata Clara kesal.


“Masuklah, aku jelaskan dijalan Poc,” kata Boby sambil membuka pintu dari dalam. Betapa terkejutnya Clara saat Boby mengatakan kalau ibunya dilarikan kerumah sakit.


“Aku tadi udah sempet kesana. Tito mengabari lewat hp mu. Kamu nya lagi dalam kelas, jadi aku kesana sendiri dulu tadi,” jelas Boby.


“Lalu apa kabar ibu?" tanya Clara sudah bercucuran air mata.

__ADS_1


“Udah baikan. Tidak terlalu lemas lagi. Gula darahnya tinggi, juga tensinya,” jelas Boby pelan.


“Jadi ibu dibawa ke rumah sakit dalam keadaan lemas?” tanya Clara masih sambil bercucuran air mata. Boby mengangguk pelan. Meremas tangan Clara memberi dukungan.


“Sekarang beliau sudah baikan Sayang. Sudah baikan. jangan cemas ya. sebentar lagi kita sampai,” kata Boby lembut.merengkuh tubuh mungil istrinya agar bersandar padanya. Walaupun harus sedikit ribet menyetir dengan satu tangan.


Mereka tiba di ruang rawat Ibu. Ruang rawat kelas dua sesuai dengan bpjs kesehatan yang dibiayai Clara untuk ibu dan bapaknya. 


“Hapus dulu air matamu. Kamu harus kuat sebagai sandaran dan sumber keceriaan untuk ibu. Jangan terlihat sedih, kasihan beliau,” kata Boby sebelum Clara sampai di bed ibunya. Clara menurut. Menghapus tuntas semua sisa airmata di wajahnya. berusaha nyengir di depan boby dulu. Boby tersenyum. mengacungkan kedua jempolnya.


“Sip, kamu selalu cantik kalau tersenyum seperti ini Poc,” gombal Boby. Sedikit membuat hati Clara ceria.


Keadaan Ibu memang sudah sadar, tapi beliau lemah sekali. Tersenyum saat Clara datang dan mencium tangannya.


“Kamu bolak balik Bob,” kata Ibu pada Boby.


“Saya senang bolak balik Bu, biar bisa ngecengin cewek cantik. Siapa tahu ada yang mau sama cowok ganteng seperti ini,” kata Boby dengan pedenya. Clara menabok lengan suaminya.


“Gak jadi Bu, anak Ibu ini yang paling cantik. yang lain gak kelihatan,” kata Boby lagi. Ibu tertawa dibuatnya. Kehadiran Boby dan Clara membuat Ibu lebih ceria. Dua orang itu membuat lelucon terus terusan.


Clara dan Boby menunggu Ibu sampai sore. Selanjutnya bergiliran dengan ayah dan Rina. Clara berkeras untuk tetap dirumah sakit.


“Lagian Kakak nanti tugas malam. Aku dirumah juga kesepian,” kata Clara ngeyel saat Ayah menyuruhnya pulang.


“Iya, tapi tidur berhimpit bertiga disini juga gak ada tempatnya Ra,” kata Ayah sambil menunjuk kolong bed Ibu. Benar juga. Kolong bed itu hanya muat untuk dua orang dewasa berhimpit.


“Pulang dulu Poc, besok kesini lagi,” rayu Boby sambil dalam menatap Clara. Biasanya cara ini selalu berhasil. Benar saja. Clara mau pulang setelah berpamitan pada ibunya.


Di mobil air mata Clara kembali tumpah. Sesenggukan dia menangis.


"Aku takut Kak, aku takut," katanya pada Boby. Suaminya hanya sanggup memberikan kalimat penghiburan. Clara pulang, tidur meringkuk dalam dekapan Boby. Sebelum pria itu pergi bertugas.

__ADS_1


***


Pagi datang. Tidak ada pesan apapun di hp nya. Artinya ibu baik baik saja. Akan tetapi Clara tetap mengirim pesan pada Rina. Belum ada balasan…. Mungkin Rina sibuk mengurus ibu. Clara memulai aktifitas paginya. Hari ini jadwal membatik tulis. Jadilah ia menyiapkan segala keperluan membatik seperti lilin atau biasa disebut malam juga canting. Alat batik yang begitu khas.


Clara memulai aktivitas kuliahnya di dalam studio batik. Aroma bakaran lilin yang khas menguar dari kelasnya. Para mahasiswa duduk di depan gawangan dan memulai batikan mereka. 


"Sidomukti yang berarti jadi mulia," kata Clara yang memilih motif sidomukti. Mencelupkan canting ke wajan kecil yang sudah ada lilin yang mencair. Kemudian meniup ujung canting agar bongkahan kecil kecil lilin tidak menghalangi tetesan lilin yang akan dia torehkan diatas kain.


"Angel (susah) Ra, aku pilih yang gampang saja," sahut Ita yang memilih motif parang. Motif yang tidak terlalu mendetail seperti Sidomukti milik Clara.


"Gak papa aku emang suka yang jelimet. Maklum otakku ini terlalu pinter, jadi yang susah susah lebih menggoda," jawab Clara sombong. Padahal matanya sudah jereng melihat gambaran rumit yang kemarin di gambarnya sendiri. Apalagi ini dalam teknik nyorek. Matanya harus tajam mengikuti tiap motif yang di gambar dari pensil yang tipis. Pertemuan selanjutnya lebih enak karena dalam teknik nerus. Artinya Clara hanya nyanting (gambar) sebaliknya dari kain ini. Sudah jelas terlihat gambarnya. Untung si bule masih dalam tahap gambar. Jadi tidak terlalu merusak konsentrasi Clara. Merlin tertinggal satu step batik dari Clara dan Ita.


Sidomukti sendiri adalah motif batik perkembangan dari Sidomulyo. Dengan latar putih jaman Mataram Kartosura. Diganti dengan latar ukel oleh Pakubuwono IV. Batik Sidomukti dulu hanya boleh dipakai oleh pengantin keraton saja. Akan tetapi seiring perkembangan jaman Sidomukti boleh dipakai oleh siapapun. Sidomukti memiliki makna dan harapan kedua mempelai bermasa depan yang baik dan penuh kebahagiaan. Clara juga selalu berharap dirinya dan Boby selalu memiliki masa depan yang baik dan penuh kebahagiaan.


Pulang dari kampus Clara menuju rumah sakit. Ibunya sudah mendingan dan sedikit segar. Clara merasa lega. Orang yang jaga juga sudah berganti menjadi Tito yang katanya masuk malam. 


"Nanti malam biar aku yang jaga sama Kak Boby," kata Clara menawarkan diri. Tito setuju saja. Hani tidak bisa ikut jaga karena sedang hamil muda.


Boby datang sore hari. Membawakan baju ganti dan makanan buat Clara. Tersenyum sumringah. 


"Kangen," bisik Boby pada Clara. 


"Misimu tadi malam sukses?" tanya Clara mengalihkan topik. Kalau tidak dialihkan Boby bisa minta cium disini. Boby menggeleng.


"Licin. Kami habis dimarahi Pak Sidiq tadi pagi. Biarlah…. Dia licin kami juga tidak mudah menyerah," kata Boby semangat. Mereka kemudian menceritakan hari mereka. Kompak bercanda apapun dengan riang. 


Ibu tersenyum melihat Clara yang sudah bahagia. Pikirannya tertuju pada Rina. Berharap Rina juga akan mendapatkan jodoh dan hidup bahagia.


"Tenang saja Bu, Mbak Rina pasti juga nanti punya pacar dan menikah. Nanti Ibu bisa pusing menggendong banyak cucu. Makanya semangat sembuh Bu. Biar bisa gendong cucu ibu nanti," kata Clara pada Ibu. Senyum terkembang dari bibir Ibu.


"Doakan Ibu ya Nduk, Ibu mau lihat dan mengurus cucu Ibu dari kalian. Ibu mau ngurusin kamu lahiran nanti," kata Ibu.

__ADS_1


__ADS_2