Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Perasaan terdalam Boby


__ADS_3

Mereka balik ke kamar Daus. Bocah itu sudah bangun dan main di tempat main khusus pasien.


"Aku gantikan Sus, kamu istirahat saja dikamar!" perintah Clara. Gadis itu memilih rempong dengan Daus daripada harus sama Tama. Rasanya hatinya sudah beku karena sikap dingin Tama sebulan yang lalu. Membuat gadis itu memilih menghindar.


Sore menjelang. Daus sudah mandi dengan segala kerempongannya. Beberapa kali bocah itu menarik infus yang ada di tangannya. membuat suster harus bolak balik kekamar itu. Akhirnya Tama memberikan hpnya agar Daus bisa anteng dikit. Biar bisa ditinggal Clara mandi juga. Pintu kamar diketuk saat Clara selesai mandi sore. Clara membukanya. Sedikit terkejut dengan siapa yang datang.


"Hai, gimana kondisi anakmu?" sapa Boby sambil membawa sekeranjang buah buahan. Disampingnya ada Revan yang cuma nyengir.


"Baik, baik udah baikan, cuma sedikit rewel aja. Tuh didalam. Masuk yuk!" ajak Clara. Mereka bersalaman dengan Tama dan Sus Wiwik. Sambil memperkenalkan diri masing masing. Kemudian berbincang tentang kesehatan Daus yang membaik. Tama langdung tidak suka dengan Boby. Dia merasa punya saingan kalau begini. Saingan? Saingan apa sih?


***


Revan dan Boby keluar ruang rawat Daus setengah jam setelahnya. Revan menepuk pundak Boby.


"Aku rasa gadismu itu cuma ibu sambung. Dia terlalu muda dan gak mahir gendong bayi. Bayinya juga minum susu formula," kata Revan. Boby tersenyum.


"Nanti susu mamanya buat saya saja Pak," jawab Boby cengengesan. Mereka berpandangan sejenak. Kemudian sama sama senyum mesum. Selanjutnya hening…. Mereka memasuki lift dalam keheningan.


"Kau berencana untuk jadi pebinor?" tanya Revan lagi saat mereka berdua saja dalam lift. Boby menggeleng, kemudian menghela nafas panjang.


"Saya hanya ingin memastikan dia hidup bahagia Pak," kata Boby sedih. Revan tersenyum kecut dan menepuk pundak bawahannya itu beberapa kali memberi semangat. Bawahan yang sudah klik dengannya bahkan saat dia ditugaskan di Surabaya dulu. Saat berbeda bagian pun mereka sudah dekat. Sampai pria itu meminta khusus agar bersama dengan Boby lagi dikota ini. Saat Boby selesai pendidikan lanjutan. Bawahan koplak yang sudah dianggap seperti adik sendiri. 'Memastikan dia bahagia' haaa kata kata galau bermakna dalam. Setahu Revan Boby tidak pernah terlihat benar benar menyukai wanita seperti sekarang.


Kemudian dua polisi itu melanjutkan tugas mereka hari itu untuk interogasi saksi yang terluka. Yang juga dirawat di rumah sakit itu. Tadi siang saksi itu belum sadarkan diri. Entah belum sadarkan diri beneran atau cuma ekting tidak mau ber urusan dengan polisi. Mereka akan memastikannya.


***

__ADS_1


Tiga hari Daus dirawat, akhirnya bocah kecil itu diizinkan pulang. Tama dan Clara melanjutkan aktivitas masing masing. Lebih jauh dan lebih seperti tidak saling kenal. Satu rumah, namun seperti orang asing. Hanya bertemu saat sarapan atau makan malam. Itu pun Daus yang mendominasi. Tanpa Daus hubungan mereka garing. Walaupun entah mengapa Clara tahu Tama justru lebih mendekatkan diri padanya. Clara pelan pelan paham kalau Tama adalah tipe laki laki yang maunya ngejar, bukan dikejar. Oleh karena itu saat gadis itu mendingin, Tama malah kelabakan sendiri. Terserah..... Clara sudah malas.


Akhir akhir ini pekerjaan Clara padat. Membuat dia dan teman temannya di butik lembur lembur terus. Pernikahan Revan dan Putri semakin dekat. Yang mendominasi pekerjaan mereka adalah gaun gaun milik Putri. Juga beberapa pesanan dari pelanggan butik lain tentunya.


“Ra, kamu nanti temenin Putri ngepas baju buat akad dan resepsi ya, tapi katanya datang agak malam,” kata Bu Nir pada Clara.


“Malam jam berapa Bu?” tanya Clara. Seminggu ini Clara jarang ada waktu buat main sama Daus. Jujur saja gadis itu kangen sama teman main kecilnya.


“Gak tahu ya, mungkin habis magrib atau habis isya. Ibu ada perlu sama Bapak, Maya juga ijin pulang cepet hari ini. Kayaknya ada perlu banget. Kamu bisa kan?” tanya Bu Nir Sedikit memaksa. Mau tidak mau Clara menyanggupinya. Dia juga cuma karyawan disini. Mana berani lawan Bu Bos yang baik hati ini. 


Clara pun menunggu Putri sambil main sosmed. Betapa terkejutnya dia melihat notif permintaan pertemanan baru. Akun Boby. Sedikit ragu Clara memencet tombol terima.


Mobil Revan datang. Putri terburu masuk butik.


“Selow aja Mbak, aku akan setia menunggumu,” kata Clara sambil nyengir. Gaun yang dicoba sangat pas untuk tubuh Putri yang sexy. Dia juga bukan pelanggan yang banyak komplain. Cuma mau ditambah hiasan untuk menutupi lengannya yang dianggap terlalu transparan.


"Aku gak pede lengannya begini, mungkin bisa dikasih manik manik atau apa gitu buat nutupin lenganku," kata Putri. Clara mencatat semua permintaan Putri dengan baik.


Clara melihat Revan terkantuk di sofa tunggu. Sedang Putri berganti baju akad di ruang ganti. Dia inisiatif membuatkan kopi untuk Revan.


"Diminum Mas," kata Clara sambil menyerahkan secangkir kopi yang masih mengepul. Revan tersenyum simpul menerimanya.


"Makasih Mbak," kata Revan sebelum menyeruput kopinya.


Hp Clara berdering untuk kesekian kalinya. Dan untuk kesekian kalinya juga gadis itu hanya mematikannya. Telpon dari Tama. Pertama Kalinya setelah mereka menikah.

__ADS_1


"Diangkat aja gak papa," kata Revan. Clara menggeleng malas sambil tersenyum.


"Gak penting kok Mas," jawab Clara.


"Kenal Boby dimana?" tanya Revan.


"Dia kakak kelas waktu SMP Mas, kemudian kami pisah saat SMA. Saya sekolah jurusan tata busana," jawab Clara. Revan manggut manggut.


Dering ponsel Clara kembali terdengar. Clara melihat hpnya. Telepon dari Sus Wiwik. Ah, pasti Daus kangen pekik Clara dalam hati.


"Yang ini aku angkat sebentar ya Mas," kata Clara. Revan mengangguk.


"Hai anak Mama," sapa Clara sambil melambai. Video call rupanya. Revan menggunakan mata dan telinganya untuk menguping.


"Kenapa panggilanku gak diangkat? Kamu mau pulang jam berapa? Kenapa izin pulang telat sama Sus Wiwik? Apa Sus Wiwik suamimu?" Wajah dan suara Tama mendominasi. Clara menghela nafas panjang.


"Sudah lah Mas, gak usah akting jadi keluarga sakinah," jawab Clara sambil mematikan sambungan jengkel. Gadis itu kemudian mematikan ponselnya begitu saja. Putri keluar dari ruang ganti dengan kebaya akad yang indah.


"Wow, cantik sekali Mbak," kata Clara terkesima.


"Benarkah? Aku jadi malu," jawab Putri sambil mematut diri di depan kaca. Kebaya akad itu tidak perlu revisi lagi.


***


Maap ya Bestie gak bisa up tiap hari. Aku gak konsen nulis kalau perut kosong hahahaha. Aku emang tipe orang yang suka ngemil sambil nulis. Kalau perut kosong ide juga kosong hihihi. Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang muslim. Semoga Ramadhan tahun ini membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik. Aamiin.

__ADS_1


__ADS_2