Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Full air mata


__ADS_3

Boby terhuyung ke depan. Dengan cepat berbalik dan memukul orang di belakangnya. Giliran Tito tersungkur kesakitan. Mendapat pukulan balik dari ahli karate beda dari pukulan sembarang orang. Tito berusaha terus memukul Boby, namun selalu ditangkis dengan mudah. Tentu bukan tandingan Boby yang ahli bela diri. Boby sebenarnya dengan mudah menyerang balik, tapi dia tidak tahu siapa lelaki ini. Tidak ingin membuat kekacauan lebih.


"Dasar pebinor!! Kamu bawa kemana adikku semalaman!! Apa kamu gak laku sampai harus ngambil adikku dari suaminya!!!" kata Tito marah pada Boby. Clara keluar dari mobil dan berdiri di depan Boby. Bermaksud melindungi Boby dari amukan Tito. Tepat saat Tito mengayunkan pukulan kearah Boby tanpa bisa mengeremnya. Clara sudah pasrah dengan pukulan yang akan dia terima. Dengan sigap Boby menangkis pukulan itu dan mendorong tubuh Tito menjauh sekuat tenaga. Sampai Tito kembali tersungkur di tanah.


"Mas, dia yang udah bantuin aku!!" kata Clara. Menghentikan serangan Tito pada Boby.


"Bantu apa!! Dasar bocah bodoh!! Bikin malu saja!!" kata Tito penuh emosi. Clara berpikir sejenak. Pasti Tama bilang yang tidak tidak pada Tito.


"Apa yang mas Tama bilang sama kamu?" tanya Clara.


"Memangnya harus aku perjelas? Kamu jadi perempuan kok ya sun ndal!! Kalau ada masalah diselesaikan. Bukan kabur dari laki laki lain!! Tama lho kebingungan cari kamu semalaman!!" teriak Tito pada Clara. Gadis itu terbengong sesaat. Kok jadi dia yang salah? Tito bangkit dan mencengkram tangan Clara dengan erat.


"Sekarang pulang kerumah!! Dan kamu!! Jangan coba coba temui adiku lagi. Atau kamu mau berurusan dengan aku!" kata Tito kesal pada Boby. Menunjuk muka Boby dengan garang. Yang ditunjuk cuma mesem mesem. Tahu benar lelaki macam apa yang jadi suami Pociknya.


Clara enggan mengikuti tarikan Tito. Menoleh sekilas pada Boby dibelakangnya sekilas.


"Mas, Kak Boby bantuin aku!! Dia yang udah bongkar perselingkuhan Tama!" Kata Clara. Air mata kembali merembes. Tito terbengong sesaat.


"Mas, apa Tama kasih tau kamu kenapa aku sampai pergi? Kasih tau kamu apa masalah kita?" tanya Clara sudah sambil sesenggukan. Boby mempererat peganannya di tangan Clara. Tito menggeleng bodoh. 


"Dia hanya bilang kalian punya masalah, dan kamu kabur dengan pria lain," kata Tito. Membuat Clara dan Boby tersenyum gemas.

__ADS_1


Akhirnya bertiga mereka duduk di emper kost. Boby menunjukkan rekaman hpnya pada Tito. Kakak Clara itu sampai meremas hp Boby. Hampir dilempar begitu saja. Untung Boby sempat menangkapnya. 


"Haduh Mas, lempar saja adik iparmu. Jangan hpku!" kata Boby sambil mengelus hpnya. Tito hanya melirik sebal.


"Lalu kenapa Tama seolah jadi korban? Dasar tukang akting. Kemarin dia bikin aku dan orang rumah panik luar biasa. Kami sudah mengumpat kamu karena kesal," kata Tito sambil menoleh ke arah Clara. Gadis itu mencebikkan bibirnya. 


"Dia memang pintar akting sejak awal kenal," kata Clara. Menerawang masa masa pacarannya yang singkat. Saat Tama terlihat benar benar mencintainya. Gurat sedih kembali menghiasi wajahnya. Sungguh Boby menahan diri begitu keras untuk tidak memeluk gadisnya. 


"Lalu apa rencanamu?" tanya Tito. Clara tersadar dari lamunannya.


"Aku? Rencanaku adalah menyerah. Aku sudah berusaha. Sudah merasa sakit dan menahannya. Kemudian malah diselingkuhi. Aku bukan istri di sinetron ikan terbang yang bisa disakiti kemudian disakiti lagi. Udah cukup. Mungkin akan berat, tapi aku gak mau jadi istri Tama lagi," kata Clara. Lagi lagi air mata merembes jatuh. Clara cepat mengusapnya. Baginya cukup. Tidak perlu menangis lagi, walaupun ternyata masih nangis lagi dan lagi. Tito mengusap bahu Clara dengan sayang.


"Well, kamu harus kuat Poc. Aku bersedih atas semua yang terjadi. Aku pamit yaa. Selesaikan semua dengan kepala dingin. Jika butuh apapun bilang sama Kakak," kata Boby kemudian berdiri.


***


Clara tidak kembali kerumah Tama. Dia memilih pulang ke rumahnya sendiri di temani Tito. Perdebatan kembali sejenak terjadi. Orang rumah seperti sudah tercuci otaknya dengan akting Tama mencari Clara kemarin. Akan tetapi cepat mengerti setelah diberi penjelasan dan melihat video dari Boby. 


Hari sudah sore saat Tama datang menemui Clara. Bukan disambut baik baik, tapi hampir saja dihajar Tito.


"Jangan harap bisa menyakiti Clara terus menerus. Dia adiku," kata Tito penuh emosi. Tama akhirnya menyerah pulang tanpa menatap Clara sedikitpun.

__ADS_1


Didalam kamar ibu Clara menangis dengan pilu. Berpelukan dengan anak ragilnya. Tak menyangka nasib anak gadisnya setragis ini. Dinikahi kemudian disakiti dengan begitu sakit.


"Kamu yang sabar ya Nduk, kamu yang kuat. Jika memang tidak sanggup lagi bertahan, maka lepaskanlah. Ibu akan mendukung apapun keputusan kamu," kata Ibu sambil berurai air mata. Clara kembali sesenggukan dipelukan ibunya. Aktingnya menjadi istri bahagia sekarang berakhir. Dia bisa menunjukkan kesedihan yang selama ini disimpan rapat dengan bebas. Tidak masalah menangis sekali lagi. Tidak masalah menangis dengan bebas di depan wanita yang sudah melahirkannya.


Tito masuk kamar. Matanya nanar oleh air mata yang tumpah dari ibu dan adiknya.


"Aku mau berhenti saja dari kerjaan! Lebih baik cari kerja di tempat lain daripada sama bos cabul kayak dia," kata Tito penuh emosi.


"Iya, sebelumnya kita bisa hidup tanpa Tama. Selanjutnya kita juga bisa hidup tanpa dia. Kita memang miskin, tapi masih bisa berdiri diatas kaki kita sendiri. Kalau perlu kembalikan semua yang sudah Tama berikan," kata ibu yakin.


Sejurus Clara sadar dulu dia lah yang merelakan diri menikah dengan Tama. Padahal dia tahu fakta yang sesungguhnya sebelum menikah. Tama yang sudah merubah kehidupan keluarganya menjadi lebih baik dengan dukungan finansial yang tidak sedikit. Jika benar semua harus dikembalikan dan Tito harus berhenti bekerja, itu sungguh sangat menyulitkan.


Harus apa dia?? Haruskah bertahan lagi dan terluka lagi dengan Tama? Akan tetapi semuanya terasa mustahil sekarang. Cinta dan hatinya sudah habis tersakiti. Keluarganya juga tidak akan mau menerima pengorbanannya lagi.


"Aku.... Mau mandi," kata Clara sambil melepas pelukan sang ibu. Berjalan perlahan munuju kamar mandi rumahnya yang sekarang lebih bagus. Uang yang di berikan Clara kepada ibunya di tabung sedikit sedikit untuk merenovasi kamar mandi rumahnya yang dulu begitu memprihatinkan. Haaahhhh Tama lagi Tama lagi. Bantuan dari Tama lagi..... Clara urung masuk kamar mandi. Lurus menuju halaman belakang rumahnya yang secuwil. Duduk di bangku reyot. Mensecroll sosmed di hpnya. Puluhan pesan dari Tama masih memenuhi wanya. Tidak berniat untuk dibuka. Clara justru menuliskan status terbaru.


Jika kamu Rhoma, aku mau jadi Aninya. Jika kamu Nobita, aku mau jadi Sizuka. Tapi ternyata aku cuma Elsa dalam drama ikatan cinta.


Sedetik kemudian ada chat masuk dari Boby. Balasan Boby untuk status terbaru Clara membuat Clara entah harus tertawa atau menangis lagi.


***

__ADS_1


Hai hai Besti. Mohon maaf lahir dan batin. Gimana mudiknya? Seru? Othor mudik seru sekali kemarin. Ikut takbir keliling dengan mobil brondol, trus kehujanan di jalan hahahaha. Ini pertama kalinya Othor ikut takbir keliling. Rasanya ada manis manisnya. Tereak2 dijalan jadi tontonan orang hahahaha pokoknya Othor suka.


__ADS_2