
Clara menyeka air mata yang memenuhi mukanya dengan punggung tangan. Mengacak tas kecil yang dia bawa. Sial. Tissuenya habis tak bersisa. Clara terpaksa mengusap air mata dengan lengan bajunya. Lalu bagaimana dengan ingus yang juga deras dari hidungnya? Sial!! Kenapa saat seperti ini malah kehabisan tisu. Tahu gitu dia ambil dari cafe sebelum berjalan keluar gini. Clara sudah tiba di jalan besar. Kebingungan mau masuk cafe ambil tisu atau lanjut sambil sentrap sentrup?
Seseorang menyerahkan sapu tangan kecil disampingnya. Clara mengambilnya dengan bahagia. Segera menuntaskan rasa geli di hidungnya. Menghembuskan nafas keras agar hidungnya lega. Srooott!! Sroott!!
"Astaga… gak ada manis manisnya kamu ini Poc," kata Boby sambil nyengir geli. Clara kaget dan menoleh. Melihat Boby masih pakai seragam karate hanya ditutup jaket. Bahkan masih lekat dengan sabuk hitam di pinggangnya.
"Kak Boby!! Ngapain kesini?" tanya Clara.
Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Boby kebingungan. Mau jawab apa? Ngikutin kamu sama suamimu? Walah… dikira kurang kerjaan walaupun itu kenyataanya. Boby terburu mengikuti Clara yang sudah pasti di cegat Tama dijalan.
"Jualan sapu tangan. Buat pekerjaan sampingan. Itu mahal karena milik forensik kepolisian," kata Boby sambil nyengir. Clara melihat saputangan yang sudah penuh dengan ingusnya. Benar ada sablon forensik di tepinya. Sapu tangan itu memang selalu Boby bawa kalau kalau butuh saat bekerja.
"Astaga… maaf Kak, aku gak tahu. Ini tak cuci deh, nanti tak kembalikan," kata Clara nyengir merasa berdosa. Boby pura pura cemberut. Sebenarnya itu bukan hal besar. Tanpa sapu tangan forensik yang itu juga gak papa.
"Itu sapu tangan kesayangan lho Poc. Tuh udah penuh ingusmu! Aku bisa dimarahi atasan ku nanti." Boby manyun. Padahal dalam hati mau ngakak. Sejak kapan atasannya ngurusin satu sapu tangan forensik yang tersedia bebas di labfor.
"Iya iya maaf… nanti tak cuci sampai wangi. Dijamin gak ada ingus yang tersisa. Ya ya ya," kata Clara sambil menggoyang goyangkan tangan Boby. Merasa bersalah sekali. Dikira itu beneran alat tugas kaya seragam polisi.
"Yaudah, yok aku antar pulang!" kata Boby dapat kesempatan. Clara menurut saja pulang dengan Boby.
Tama melihat interaksi Boby dan Clara dari jauh. Tangannya mengepal erat. Hatinya benar benar panas. Seharusnya dia yang digandeng tangannya!! Dia suami sah!!
Tama mengambil hp dan memotret Clara yang bergelayut di lengan Boby.
"Lihat saja!! Aku tidak akan membiarkan istriku kau ambil dengan mudah! Dasar pebinor!!" kata Tama sebelum berlalu masuk mobilnya sendiri.
Tama pulang ke rumahnya dengan sedih. Sebenarnya dia sadar diri kalau pengecut. Dari dulu memang pengecut. Akan tetapi bersama Clara membuat Tama merasakan emosi yang berbeda. Emosi tertantang dan penuh gairah. Gadis yang dipilihnya asal comot dulu, kini sudah memenuhi rasa rindunya. Gadis yang asal cuap, lucu dan tegar disaat bersamaan. Daus juga nampak merindukan mamanya. Dasarnya Clara itu menyenangkan dan mudah dicintai. Mau gimana lagi…. Dia juga jatuh cinta.
Tama menghapus kasar wajahnya dengan telapak tangan. Tapi dia sudah menyia nyiakan gadis itu. Siapa juga yang gak sakit hati kalau begini. Ah… Citra….tapi dia gak janji untuk bisa melupakan Citra juga. Tapi dengan yakin Tama katakan kalau dia tidak ingin berpisah. Dia akan mempertahankan Clara. Apalagi ada Boby itu. Tidak rela kalau Boby memiliki Clara.
__ADS_1
"Malam Pak," sapa Mbak Jiah sambil membawa keranjang sampah yang sudah dibuang isinya.
"Malam…. Mbak, aku mau kopi. Belum mau pergi tidurkan?" kata Tama.
"Baik Pak, belum kok," jawab Mbak Jiah. Walaupun sambil menguap. Gak habis pikir sama bosnya ini. Sudah larut malam tapi minta kopi. Apa berencana jadi ikan biar melek terus gak tidur?
"Kopinya Pak," kata Mbak Jiah sambil menyerahkan cangkir diatas meja. Majikannya itu tampak sedang berfikir keras dan sedih. Sejak Bu Clara tidak pulang, memang rumah ini seperti mati. Terutama Daus dan Pak Tama. Entah masalah apa yang menyebabkan Bu Clara tidak kembali. Mungkin karena ibunya Daus yang datang tempo hari. Itu pikiran Mbak Jiah.
"Makasih Mbak. Selamat malam," kata Tama.
"Malam Pak," jawab Mbak Jiah sambil berlalu.
"Eh, Mbak," kata Tama menghentikan langkah kaki Mbak Jiah.
"Iya Pak," jawab Mbak Jiah kembali menghadap Tama.
Mbak Jiah sedikit tergagap, namun mengangguk juga. Kenapa begini? Ada apa? Badai apa yang terjadi?? Pertanyaan yang hanya berani di tanyakan dalam dadanya. Mungkin besok bisa bergosip dengan Wiwik. Tapi lagi lagi mereka pasti hanya menyimpulkan sendiri.
Tama tersenyum puas setelah memberi perintah. Bercerai?? Haa jangan mimpi! Selamanya Tama akan mengikat Clara dalam pernikahan bersamanya. Apalagi dia tidak suka dengan Boby itu. Jangan harap bisa mendekati Clara lebih.
***
Sementara itu ditempat lain. Clara dan Boby sedang asyik menikmati sate ayam di tempat sebelumnya. Sate di piring Clara sudah habis. Dia mengambil dari piring Boby dengan santainya.
"Eeee itu punyaku," kata Boby protes.
"Kamu cowok bukan?" tanya Clara santai.
"Ya cowoklah! pakai nanya. Perlu pembuktian kamu?!!" kata Boby ngegas. Berasa harga dirinya terinjak di tanya cowok bukan.
__ADS_1
"Kalau cowok ya ngalah dong sama cewek," kata Clara santai sambil mengambil satu tusuk sate lagi. Boby garuk garuk kepala yang gak gatal.
"Gini amat nasib cowok," gumam Boby membuat Clara nyekikik.
"Cowok yang baik itu selalu ngalah sama cewek. Selalu minta maap duluan walau gak salah. Itu namanya gentel," kata Clara mau menang sendiri.
"Entah gentel entah letoy," jawab Boby lirih.
"Dibilangin ngeyel kamu Kak! Siapa yang salah kalau begini?!" kata Clara ngegas. Melorok horor kearah Boby. Mengambil satu tusuk sate lagi dari piring Boby.
"Iiya aku yang salah, aku minta maap," kata Boby dengan iklas dan melas. Clara gak tahan buat ketawa. Padahal tadi ekting mlorok horornya udah bagus.
Boby menggigit pundak Clara sekilas. Sebelum memesan dua puluh tusuk sate lagi untuk mereka berdua.
"Kita kayak Susana lama lama," kata Clara sambil mengigit sate lagi.
"Baru 40 tusuk belum 100 tusuk. Kamu cewek kan?" tanya Boby sambil meringis.
"Ya iyalah pake nanya," jawab Clara.
"Berarti kamu yang Susana," kata Boby membalas Clara. Gadis itu nyekikik.
"Berarti kamu Bokirnya," balas Clara. Mereka sama sama tertawa ngakak.
Boby kemudian bertanya apa rencana hidup Clara setelah ini.
"Bercerai tentu saja," kata Clara mantap. Mereka kemudian melihat lihat syarat bercerai di internet. Salah satunya adalah buku nikah.
"Aku ambil besok di rumah Tama," kata Clara.
__ADS_1