Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Strategi


__ADS_3

Esok sore sepulang kerja, Clara disambut meriah oleh Daus, Mbak Jiah dan Sus Wiwik di teras. Daus langsung nemplok sama Mamanya.


"Kangen Bu," kata Sus Wiwik. Clara merentangkan satu tangannya yang masih bebas untuk memeluk Suster penjaga Daus itu. Mereka berpelukan bertiga. Mbak Jiah ikut nimbrung di belakang Sus Wiwik. Jadilah mereka mirip teletubies.


"Aku mau ambil surat nikah Mbak," kata Clara sambil nyelonong masuk. Mbak Jiah dengan sigap menghadang di depan pintu kamar Tama.


"Saya mohon jangan Bu. Bapak sudah berpesan pada kami untuk tidak mengizinkan ibu masuk dan mengambil buku nikah," kata Mbak Jiah ketakutan.


"Bilang urusannya sama aku," kata Clara ngeyel sudah menegang handle pintu. 


"Kasihani saya Bu, kasihani kami. Nanti kami dipecat Bapak," kata Mbak Jiah semakin memelas. Clara jadi tidak tega menerobos paksa. Mengacak rambutnya frustasi.


"Kata Bapak, Ibu boleh ambil barang pribadi Ibu, juga motor dan mobil ibu juga harus dibawa, tapi gak boleh masuk ke kamar Bapak," kata Mbak Jiah lagi. 


Clara kesal bukan main. Dia membuka hpnya dan menelpon Tama setelah membuka bloknya. Dering pertama langsung diangkat.


"Apa maumu Mas!! Baa jingg aan!!!" kata Clara keras. Terdengar tawa di ujung sana.


"Wow, marahmu mengerikan Sayang. Apa kau sudah pulang kerumah? Apa kau merindukanku?" tanya Tama santai.


"Aku mau ambil buku nikah!! Kenapa kau persulit seperti ini!! Apa maumu!!" teriak Clara membuat Daus langsung menangis. Sus Wiwik langsung membawa Daus menuju kamarnya.


"Mauku mempertahankan pernikahan ini. Aku mau diberi kesempatan sekali lagi. Aku juga tidak rela menyerahkanmu pada mantan kekasihmu itu," kata Tama dengan emosi di ujungnya.


"Pengecut, bbajii nngann, kamu picik dan kamu sampah!" umpat Clara sebelum mematikan panggilan telepon dan berlalu dari rumah.


Mbak Jiah berlari mengikuti Clara. Memberikan kunci mobil dan kunci motor Clara.


"Iini juga pesan Bapak tadi pagi Bu…. Kkaatanya…. Supaya Ibu tidak berboncengan dengan…. mantan kekasih Ibu. Tolong bawa salah satu kendaraan itu Bu, tolong saya," kata Mbak Jiah memelas. Clara mengambil kunci mobil dan membawa kereta besi itu pergi.


Air mata lagi lagi deras memenuhi pipinya. Lelaki macam apa yang dinikahinya? Sesenggukan gadis itu menyetir. Pandangannya sedikit mengabur oleh air mata…. Tidak sanggup…. Clara lemas bahkan untuk menginjak pedal gas mobil maticnya. Akhirnya berhenti di bahu jalan.


***

__ADS_1


Agak lama Clara menangis sesenggukan dalam mobil sendirian. Kemudian mencoba menghubungi Boby. Tidak terangkat. Bahkan sudah telpon yang ketiga…. Sudahlah….. Boby juga pasti punya urusan tersendiri. Tidak hanya mengurusinya saja. Clara mencoba tenang. Menjalankan mobil perlahan untuk sampai rumahnya. Malam kian larut. Hatinya kian kalut. Carut marut kusut. 


Pagi kembali datang. Dengan tidak bersemangat Clara mengendarai mobilnya menuju butik. Maya sampai melongo melihat Clara turun dari mobil.


"Kenapa Mbak? Aku cantik?" tanya Clara sok centil.


"Tak kirain pelanggan butik, ternyata cuman pegawai somplak," kata Maya sambil ngakak.


"Somplak somplak gini kamu pasti merindukan aku kalau aku gak masuk," kata Clara pede. Maya kembali tertawa.


"Iya dong, kamu kan partner kerja dan partner koplak sekalian. Ngomong ngomong punya mobil sebagus ini, kamu pasti kaya. Kenapa kerja disini?" tanya Maya. Clara tersenyum kecut. Memang baru kali ini dia bawa mobil ke butik.


"Karena aku butuh modal buat bercerai," kata Clara serius, tapi ditanggapi Maya dengan guyonan. Dikira memang guyonan.


Belum jam istirahat, Boby tergesa memasuki butik. Langsung cuss menemui Clara yang masih asyik dengan mesin obras kodok.


"Kamu kemarin malam nelpon kenapa? Ada yang penting?" tanya Boby dengan mata panda. Dia ada tugas tadi malam sampai pagi ini. Ketika tugas berakhir dan membuka hp ada panggilan dari Pocik. Boby langsung kesini. Belum tidur bahkan belum mandi dari kemarin sore.


"Muka dan baumu acak acakan Kak," kata Clara sambil nyengingis. 


"Tunggu satu jam lagi. Aku mau ngomong," kata Clara. Boby mengangguk. Kemudian berlalu.


Masuk dalam rumah pribadi Bu Nirmala sambil teriak teriak.


"Selamat pagi menjelang siang, Bu Nir…. Aku numpang makan, mandi, sama tidur sebentar yaaa."


"Astaga…. Kamu bikin kaget Bob. Iya tuh ada nasi goreng sisa sarapan. Pakai kamar tamu bawah. Yang atas macet airnya," jawab Bu Nir yang sudah biasa ditumpangi anak buah suaminya untuk mandi atau beristirahat.


***


Boby tersenyum gemas mendengar cerita Clara saat istirahat.


"Sudah kuduga dia akan mempersulit," komentar Boby.

__ADS_1


"Trus gimana Kak aku pusing. Semua berkas dia yang pegang. Dulu aku gak ada kepikiran pegang berkas," kata Clara Frustasi.


"Sogok saja pembantumu. Kamu masih punya banyak uang kan?" tanya Boby.


"Gak bisa! Mereka loyal sama Tama," jawab Clara.


"Kalau gitu ya harus kamu curi…. Atau mungkin nyuruh orang buat nyuri," kata Boby.


"Kamu gak bisa pura pura melakukan penggeledahan trus ambil buku nikah? Kamu kan polisi Kak," kata Clara setengah gila.


"Bisa sih, tapi habis itu aku dipecat dan dipenjara sama Tama. Dasar koplak. Kamu pikir seenak itu polisi melakukan penggeledahan?" kata Boby sambil noyor kepala Clara pelan.


"Pikirkan cara mengambilnya dengan halus. Mungkin kamu bisa menyelinap, atau seseorang yang dekat dengan keluarga teman atau sahabat yang biasa main kerumah," kata Boby. 


Clara mengerutkan keningnya. Sejenak kemudian menggebrak meja. Membuat kaget Boby yang lagi menyeruput teh panas. Teh itu tumpah mengenai pahanya.


"Waw, panas!! Panas!!" Kata Boby sambil berdiri. Clara yang merasa bersalah langsung ambil tisu untuk mengelap paha Boby yang kena air teh.


"Maaf Kak, maaf… aku terlalu bersemangat," kata Clara sambil menggesek paha Boby dengan tisu. Boby membeku di tempat. Tangan Clara terlalu dekat dengan rudal. Clara menggesek pangkal paha Boby tanpa canggung.


"Eh… Poc…." kata Boby sambil mengatur nafas.


"Sebentar Kak, masih basah," kata Clara masih tidak sadar.


"Eh, udahan aja, ini… geli," kata Boby sambil nyengir. Sudah ada yang mengeras tanpa ijin.


"Oh megot!!" pekik Clara karena mukanya tepat didepan resleting celana Boby yang terlihat menggembung.


"Astaga!!! Astaga!!!!" kata Clara kembali duduk di tempatnya. Meneguk minuman dengan muka merah padam. Boby kembali duduk sambil mengatur nafas. Kelakuan mereka dilirik penjual lotek sambil senyum senyum. Untung warung sepi. Cuma ada sejoli aneh itu.


"Jadi siapa orang yang kira kira bisa bantu?" tanya Boby setelah mereka hening canggung sesaat.


"Mbak Nina, kakaknya Tama," kata Clara yakin. 

__ADS_1


"Haaa kamu yakin?" tanya Boby kaget. Kakaknya Tama mau membantu adik iparnya bercerai? Agak aneh sih. Akan tetapi Clara mengangguk yakin di depannya.


__ADS_2