
Persidangan selanjutnya adalah pembacaan jawaban dari tergugat. Pengacara Tama mewakili membacakannya.
"Bahwa kenyataannya tergugat merupakan suami yang bertanggung jawab. Yang masih mengirimkan nafkah bahkan di awal bulan persidangan ini berlangsung. Tergugat juga masih mengurus anak adopsi mereka dengan cinta. Tergugat bukan pria kasar yang suka main tangan. Kenyataannya penggugat hanya ingin bercerai karena memiliki hubungan spesial dengan mantan pacar yang terdahulu."
Clara langsung melorok mendengarnya. Kenapa Kak Boby disangkut pautkan dalam persidangan ini?!! Clara kesal bukan main.
***
Pak Juni mau tahu perihal Boby yang nanti bisa menjadi batu sandungan untuk Clara. Akhirnya berempat dengan Nina mereka berembuk.
"Apa kalian pernah tertangkap basah Tama?" tanya Pak Juni.
"Tertangkap basah dalam konteks apa? Kami tidak memiliki hubungan apapun!" kata Boby kesal. Melirik Clara sekilas. Ada kekecewaan di hati Clara. Jadi… ciuman mereka tempo hari tidak berarti apa apa?
"Walaupun kamu berharap memiliki hubungan spesial?" tanya Nina sambil nyengir.
"Mbak, jangan melebar kemana mana!" kata Boby masih kesal. Ini fitnah yang buruk untuk Pocik. Boby menyesal tidak bisa menahan perasaannya tempo hari. Apa tempo hari saat dirinya berciuman di ikuti Tama? Ah…. Itu bukan berita yang baik.
"Baiklah saya akan mulai menulis replik. Kalian dengar dan tentukan apa yang perlu ditambah dan apa yang perlu dikurang," kata Pak Juni.
"Tambahkan kalau Clara tidak pernah diberi nafkah batin. Tambahkan kalau Daus adalah anak hasil perselingkuhan Tama dan Citra. Bukan anak adopsi murni. Aku bisa bersaksi saat pembuktian," kata Nina yakin. Boby melongo mendengarnya.
"Tidak… diberi nafkah batin?" ulang Boby. Senyum terkulum dari bibirnya. Melihat Clara yang menundukkan wajah. Malu. Itu sebenarnya aib menurut Clara. Istri yang tidak bisa menggoda suaminya. Istri yang tidak menarik dimata suaminya. Akan tetapi itu angin segar untuk Boby.
"SEGEL BOSS," kata Nina sambil menepuk lutut Boby. Pak Juni menghela nafas.
"Kemungkinan lawan kita punya bukti kuat tentang kedekatan kalian," kata Pak Juni. Mustahil dua orang yang terlihat saling mencintai itu tidak pernah terekam kedekatannya.
Pak Juni kemudian menyuruh mereka mendekat. Memerintahkan beberapa hal untuk bisa jadi bukti.
"Itu terlalu memalukan!" Clara protes.
__ADS_1
"Itu salah satu bukti kuat nanti," kata Boby setuju.
Akhirnya Clara dan Boby menuju rumah sakit esok harinya.
"Apa ini akan sakit?" tanya Clara ragu ragu.
"Tidak, lebih sakit saat diperawani," jawab Boby sambil nyengir.
***
Hari pembacaan replik tiba. Replik adalah jawaban dari penggugat atas jawaban dari tergugat di persidangan yang lalu.
"Menyangkal isi jawaban tergugat. Bahwa penggugat tidak pernah memiliki hubungan spesial dengan lawan jenis manapun. Tidak pernah mendapat nafkah batin dan menerima baik baik anak hasil hubungan gelap tergugat dengan wanita lain. Hal ini dapat di buktikan kelak," kata Pak Juni yang mewakili membacakan. Kali ini giliran kubu Tama melongo. Sidang diskors untuk pembacaan duplik minggu depan.
Clara keluar ruang sidang dengan gontai. Persidangan panjang seperti ini menguras waktu, tenaga, dan pikirannya. Tubuhnya lelah luar biasa. Ingin rasanya tidur seharian tanpa memikirkan persidangan.
"Berapa kali lagi persidangan ini Pak?" tanya Clara dengan langkah gontai.
***
Duplik yang dibacakan tetap menyatakan Clara memiliki hubungan spesial dengan Boby. Pak Juni tersenyum.
"Cuma ini yang mereka miliki. Kita akan menang," bisiknya pada Clara.
"Kau tidak percaya aku bisa membuktikan perselingkuhanmu?" tanya Tama saat sudah tiba di luar ruang sidang.
"Tidak karena aku tidak melakukannya," jawab Clara santai. Menuju mobil Pak Juni.
"Lalu kenapa aku punya bukti?" tanya Tama.
"Mana aku tahu! Mungkin buktimu mengada ada," jawab Clara.
__ADS_1
"Lalu tawaranku rujuk? Sebelum putusan pengadilan kau masih punya waktu. Kalaupun kau menjanda, kau tidak akan bisa menikahinya. Dia akan terlibat kasus hukum," ancam Tama. Clara berbalik mendatangi Tama. Berdiri tepat di depannya.
"Dengar!!! Aku tidak ingin bicara kasar denganmu!! Aku masih menghormatimu sebagai mantan suami. Lakukan semua hal yang mau kau lakukan. Buktikan kalau Kak Boby pelakunya. Aku, lebih mempercayainya daripada kamu!" kata Clara sambil menunjuk dada Tama. Dua pengacara sudah siaga. Takut mereka saling tampar. Akan tetapi itu tidak terjadi. Clara berbalik meninggalkan Tama.
***
Hari pembuktian tiba. Clara hadir dengan formasi lengkap. Pak Juni, Mbak Nina, dan Boby. Juga setumpuk bukti yang sudah dipersiapkan.
Ketegangan terjadi bahkan di luar ruang sidang. Mata Tama membulat setelah melihat siapa saksi yang dihadirkan Clara.
"Mbak, kau membela Clara?" tanya Tama pada kakaknya.
"Iya, aku tahu rasanya tersakiti dalam sebuah pernikahan. Padahal mbakmu ini juga wanita teraniaya, tapi kenapa kau tega melakukan hal yang sama pada istrimu?" kata Nina penuh emosi.
"Dan kau!! Kau akan dipermalukan disini!" kata Tama pada Boby. Yang diajak bicara cuma nyengir mengejek. Membuat Tama tambah geram.
Bukti dan saksi dari pihak Clara duluan dihadirkan. Bukti rekaman vidio Boby di kamar kost sampai bikin hakim geleng geleng kepala. Ditambah akta kelahiran Daus dan Nina bersaksi. Juga bukti bahwa Clara dan Boby tidak pernah menghabiskan waktu berdua. Bukti absensi Boby tetap masuk saat Clara menginap di bukit bulan. Walaupun mereka memang pergi berdua.
Pengacara Tama langsung senyum kecut saat melihat absensi Boby resmi dari kantornya. Capek capek dia membayar orang untuk mendapat rekaman CCTV saat Clara dan Boby masuk hotel. Seperti terpatahkan seketika. Padahal itu bukti terkuat mereka selain foto Clara bergelayut dilengan Boby. Yang paling menggemparkan adalah surat visum yang menyatakan bahwa Clara masih perawan.
Saksi dari pihak Tama dihadirkan. Mbak Jiah bersaksi bahwa Tama adalah suami yang baik. Tidak pernah main tangan dan tidak pernah berkata kasar. Juga tentang Boby yang pernah mengantar Clara pulang. Rekaman CCTV saat Boby masuk hotel dengan Clara dan foto mesra mereka. Boby menarik nafas lega saat tidak ada bukti dirinya berciuman dengan Clara. Sidang di lanjutkan pekan depan. Mendengarkan putusan dari hakim.
"Maaf, tapi sepertinya kau memang menjaga Pocikku dengan baik. Aku akan segera memperistrinya. Dan menikmati tubuh perawannya," bisik Boby pada Tama saat mereka keluar ruang sidang. Tama langsung berbalik memukul rahang Boby dengan keras. Boby menggunakan kesempatan itu untuk balik menghajar Tama habis habisan. Mereka dilerai banyak petugas keamanan. Boby hanya berdarah ujung bibirnya, sedang Tama sudah babak belur mukanya. Puas!!! Boby puas sekali meski sekarang masalah baru akan menimpanya.
***
Boby dan Tama di tempatkan satu ruangan. Dijaga dua petugas keamanan berbadan besar. Tama masih dendam dengan Boby. Matanya nyalang melihat Boby yang terlihat lebih santai.
Revan datang bersama rekannya bagian kriminal umum. Langsung menempeleng kepala Boby yang terlihat baik baik saja.
"Bikin malu!!" kata Revan sebal. Boby cuma nyengir. Perkara mereka diselesaikan damai walaupun harus membayar denda, karena berbuat onar ditempat umum.
__ADS_1