
Mama Santi membuka kamar Boby. Kamar yang jarang dihuni pemiliknya hampir setengah tahun ini. Entah dimana Boby sering tidur. Seluruh omelan hingga tangisan sudah dikeluarkan. Tidak mempan membuat Boby kembali kerumah. Putra sulungnya itu kembali kerumah untuk ganti baju saja. Atau tidur ngebo susah dibangunkan. Anaknya itu seperti kertas yang tertiup angin. Letoy, tidak bertenaga. Ini patah hati terlama Boby. Patah hati yang membuat Mamanya ikut patah hatinya.
Santi membelai sandaran kursi belajar Boby. Kemudian mendudukinya. Membuka laci depan meja belajar itu. Menemukan banyak kardus alat kontrasepsi berserakan.
"Astaga!!!" pekik Santi tidak percaya. Memeriksa satu satu. Ternyata hanya satu dus yang masih tersisa isinya. Santi menangis sesenggukan. Kecewa bercampur marah dengan kelakuan Boby. Anaknya itu memang bandel. Santi yakin dia suka mabuk, namun tidak percaya kalau ternyata main perempuan juga.
"Ma, kenapa nangis?" tanya Dito ikut masuk ke kamar Boby. Santi bungkam. Hanya mengacungkan kardus alat kontrasepsi itu.
"Astaga…. Banyak sekali ini…. Hum…. Mas Boby emang player," kata Dito sambil nyengir.
"Bukan hal yang membanggakan To!" kata Santi sebal.
"Ini memalukan. Kamu juga malu maluin!! Dua duanya gak bener!" kata Santi sambil menepuk lengan Dito. Putra bungsunya itu ternyata menghamili Jesi duluan. Itu sebabnya muda mudi itu minta dinikahkan. Sekarang Jesi sudah hampir lahiran. Padahal pernikahan mereka baru 6 bulanan.
Dito membuka maps di bawah dus dus alat kontrasepsi itu. Ada surat keterangan yang membuat mereka shock seketika.
"Clara Nessa itu… nama janda itu kan Ma?" tanya Dito gak percaya. Santi ikut membaca lembar kertas di tangan Dito.
"Selaput dara utuh??!!!!" pekik Santi untuk kedua kalinya.
"Mas Boby bener Ma, dia janda rasa perawan," kata Dito sambil melongo. Dua orang itu saling tatap. Ada beban berat di dada Santi. Sebuah penyesalan dan…. Rasa bersalah.
***
Clara benar menata hidupnya. Dia memilih menjual tanah dari Tama. Membeli rumah kecil di sudut kota. Setidaknya dirumah ini tidak ada yang mengenal Clara dan mengatai dia janda. Clara keluar dari butik tempat Bu Nir. Melanjutkan sekolah di sebuah institut seni. Mengambil jurusan Desain Mode Batik.
"Kamu masih boleh disini Ra, kerja sesempat kamu saja," kata Bu Nir sedih. Clara tersenyum.
"Saya belum tahu jadwal kuliahnya seperti apa Bu, nanti keteteran sendiri," jawab Clara. Alasan yang sebenarnya karena tidak mau bertemu Boby. Clara benar benar memberi kesempatan Boby untuk move on. Kata ibunya dia harus tetap melawan. Ini cara Clara melawan kesedihannya. Terus berjuang memperbaiki diri.
Clara membuka usaha jahit dirumah barunya. Awalnya sepi, hanya permak celana atau permak ringan yang diterima, namun seiring berjalannya waktu banyak yang datang. Kualitas jahit Clara memang terhitung baik dan halus. Sekarang ada saja pelanggan yang datang. Apalagi Clara gencar melakukan promosi jasanya. Entah melalui sosmed atau manual. Walaupun tidak seramai butik Bu Nirmala, namun bisa untuk bertahan hidup.
Clara bersiap masuk kuliah. Yang hampir satu semester ini di lalui. Hari ini Clara ujian akhir semester. Materinya kewarganegaraan. Haaa entah… Clara malah bingung mau belajar dari mana dulu. Mempelajari kewarganegaraan saat sudah merasakan pahitnya hidup terasa sedikit memuakkan. Hahahahaha itu pendapat Clara. Bukan pendapat othor.
__ADS_1
"Ra!!!" teriak Merlin. Teman kesana kemarinya saat kuliah. Dekat saat ospek, sekarang menjadi lengket kemana mana.
"Hei, yok masuk biar gak ngos ngosan di kelas," kata Clara. Mereka harus long march karena letak kelas dan parkiran yang lumayan jauh.
"Kamu aja yang ngos ngosan. Aku biasa aja," jawab Merlin sambil nyekikik. Kakinya emang hampir dua kali panjang kaki Clara. Merlin satu langkah, Clara bisa dua langkah.
"Sombong amat… dasar ketinggian," kata Clara. Merlin tertawa ngakak.
"Terakhir Ra, ujian terakhir sebelum liburan. Mau liburan kemana?" tanya Merlin.
"Gak kemanapun. Mau kerja," jawab Clara jujur. Merlin ini anak orang kaya. Gak repot mikir nasi dan lauk. Sedang Clara walaupun masih punya cukup uang dari Tama, tetap saja harus berhemat. Apalagi sekarang hidup sendiri.
"Mau ikut liburan bareng keluargaku?" tanya Merlin semangat.
"Suruh bawain tasmu?" tanya Clara sambil nyekikik.
"Gak lah, kalau cuma ngurusin satu anak terlantar, papa sama mamaku pasti sanggup," kata Merlin.
"Kalau gitu angkat aku jadi anak pungut sekalian," kata Clara. Merlin tertawa.
"Duorrr," katanya mengejutkan. Kemudian merangkul dua sahabatnya itu masuk kelas. Bersiap mengikuti ujian.
***
"Main yuk! Diajakin anak kriya main tadi. Mungkin sekalian mau kenalan sama kalian," kata Ita pada Clara dan Merlin. Dua orang yang diajak bicara cuma melengos. Sama sama gak tertarik dengan anak kriya yang dimaksud.
"Ayolah, aku bosan dititipi salam tiap hari," kata Ita. Dia punya kakak sepupu anak kriya. Jadi sedikit tenar disana. Clara dan Merlin adalah duo sunshine untuk kelas mereka. Satu berwajah oriental imut, satu berwajah indo campuran Jerman dan jawa. Banyak cowok yang mencoba mendekati Clara dan Merlin melalui Ita, tapi duo sunshine itu belum capek cuek.
"Berani traktir apa?" tanya Merlin.
"Wihhh di acc ini ajakan mainnya?" tanya Ita.
"Siapa takut! Kami ikut asal di jajanin yang enak," jawab Merlin yang somplaknya kumat. Bule yang sejak kecil berbaur dengan orang jawa. Bulenya dapat, koplaknya juga dapat.
__ADS_1
"Rupamu!!" jawab Clara sambil melemparkan notes kecil ke tubuh Merlin.
"Pizan pizan ola popo (sekali sekali tidak apa apa)," jawab Merlin pakai bahasa Jawa yang cadel.
Jadilah mereka berboncengan dengan tiga anak kriya. Menuju area pegunungan yang terkenal banyak memiliki destinasi wisata. Tempat nongkrong yang ramai dari pagi sampai pagi.
Clara berboncengan dengan Rama, saudara sepupu Ita.
"Gak pegangan Ra?" tanya Rama.
"Gak, aku udah berpengalaman dibonceng motor dari bayi, jadi tenang aja Kak gak bakalan jatuh," jawab Clara.
'Kak'.... dia melow sendiri dengan ucapannya. Teringat lelaki gagah yang enam bulan lalu mematahkan hatinya. Apa kabar??? Ribuan kali Clara menahan diri untuk membuka block kontak Boby dari hapenya. Ah… dia pasti sudah bahagia. Polisi gagah, single, dan tampan…. Pasti mudah mendapatkan gadis semok sekalipun.
Motor Rama yang jalan paling depan berbelok ke masjid di area tempat wisata yang mereka tuju. Bermaksud sedikit caper sama Clara. Pria soleh yang sholat tepat waktu. Hihihihi. Padahal biasanya sholat ashar mepet maghrib dan sholat maghrib mepet isya.
"Kita nunggu adzan sebentar lagi," kata Rama sambil menghentikan motor di pelataran masjid. Clara mengangguk dan turun dari motor. Dua motor ikut berbelok ke pelataran masjid itu.
"Mau pipis Ram?" tanya Seno yang berboncengan dengan Merlin. Joko yang berboncengan dengan Ita ikut kepo memandang Rama.
"Mau sholat lah, sebentar lagi masuk waktu ashar," kata Rama sok keren.
"Lah, tumben… biasanya jumatan aja dua minggu sekali," jawab Seno heran. Rama langsung melotot tajam kearah Seno. Yang dipelototi sadar benar, kemudian nyekikik.
"Yowes ayo sholat. Kali ini sholat tepat waktu, siapa tahu besok ngelamar Clara tepat waktu," goda Seno pada Rama. Langsung membuat Rama salah tingkah. Rama lah yang paling getol ngajakin Clara main lewat Ita selama ini.
Rombongan muda mudi itu masuk masjid kecuali Merlin. Gadis itu menunggu di emper masjid sambil memainkan hpnya.
"Hai, how do you do? I'm Roby," kata tukang cilok yang sejak tadi memperhatikan rombongan muda mudi itu. Merlin tersenyum.
"Aku bisa Bahasa Indonesia. Aku Merlin," jawab Merlin sambil tersenyum. Sudah ketularan ramahnya orang indonesia.
"Teman kuliah?" tanya pedagang cilok tadi. Sambil menunjuk teman temannya yang masuk masjid untuk berwudhu.
__ADS_1
"Yeah, kami murid ISI," jawab Merlin tanpa curiga.