
Atun yang mencuri dengar semua percekcokan Santi dan Clara hanya bisa mengelus dada. Dirumah ini semua carut marut. Makin carut marut lagi saat ada mantu dari kedua anak majikannya. Jesi, mantu tak berguna yang malah dimanja dan diratukan. Sedang Clara si janda kaya yang mandiri malah selalu ditindas.
"Sinetron dirumah ini lebih seru dari ikatan cinta," komentar Atun…. Bukan othor lho yak hihihihi.
***
Clara sudah bosan menangis dengan perlakuan Santi. Akan tetapi air mata tetap merembet juga. Keluar pelan dari dua matanya yang berwarna coklat gelap. Sebenarnya Clara mau berontak dari Santi, tapi pernikahannya sudah tepat didepan mata. Tidak etis rasanya kalau terjadi keributan. Apalagi untuk Boby. Dia pasti terjepit di situasi yang memusingkan kalau dirinya sampai bertengkar dengan Santi. Hah…… lagi lagi Clara harus bersabar. Membelokkan mobilnya menuju toko bahan baju. Mencari bahan berwarna hijau daun pisang muda. Clara dengan senang hati gak mau ikut arisan memuakkan itu. Tapi tetap harus membuat tiga pc baju. Tiga potong dalam tiga hari??? Haaa dikira dirinya ini tukang sihir apa?? Belum lagi gak pernah dibayar. Tinggal perintah doang!!
***
Boby sebenarnya sudah bebas tugas dari siang hari, tapi diminta Jon menemaninya bertemu Gina.
"Yang benar saja!!! Kalian mau bercinta dan aku melongo saja!!" kata Boby. Revan tersenyum mendengarnya. Juga Beri, Nando, dan Ine.
"Aku mau melamarnya… aku mau dia sebagai istriku. Bukan sebagai teman tidur saja," kata Jon.
"Asyuuuu," kata Beri.
"Edan!!" kata Ine bersamaan.
"Ra katokan," kata Nando menambahi.
"Bob periksa pupil mata Jon. Aku yakin dia nyemil barang bukti kita tadi," kata Revan. Mereka memang baru saja mengamankan ekstasi dalam jumlah banyak. Boby benar menyorot mata Jon dengan senter.
"Aku sadar go blok!" kata Jon tidak terima.
__ADS_1
"Aku sepenuhnya sadar. Gina memang seburuk itu. Tapi seburuk itu cintaku tetap menetap padanya," lanjut Jon. Revan langsung memukul keningnya. Yang lain melengos saja.
Akhirnya berangkatlah Jon dan Boby ke restoran di tengah kota. Boby yang mengatur semua lamar melamar itu. Dia memang manusia paling romantis jika dibanding rekan rekan yang lain. Gina datang dengan tubuh sexynya. Duduk di depan Jon. Berbicara dan makan berdua. Boby mengawasi dari jauh. Mengkode penyanyi untuk menyanyikan lagu romantis setelah hidangan penutup datang. Buket bunga besar datang bersama Jon yang berlutut di depan Gina. Sebuah cincin indah ditawarkan Jon.
Tak disangka Gina membuang buket bunga besar itu ke lantai. Menginjaknya dengan sadis. Menyiram kepala Jon dengan sisa jus yang dipesan. Meninggalkan Jon yang terbengong masih dalam kondisi berlutut. Boby tidak terima. Mengejar Gina sampai parkiran resto.
"Apa niat baik dari temanku tidak cukup?? Sampai kamu mempermalukannya dengan cara seperti ini!!" Kata Boby pada Gina. Menarik tangan Gina yang hendak masuk mobilnya.
Sementara di seberang jalan. Di Depan toko kain langganan Clara. Gadis itu melihat dengan mata kepalanya Boby keluar dari restoran mewah dan menarik tangan Gina. Paper bag berisi bahan kain hijau daun muda terlepas dari tangannya. Clara melongo sesaat. Melihat Boby dan Gina saling berbicara. Matanya panas. Juga hati dan pikirannya.
"Mbak, bahannya jatuh," kata tukang parkir di sebelah Clara. Gadis itu langsung tergagap. Tidak berani menoleh lagi ke seberang jalan. Demi meminimalisir gemuruh di dadanya. Meninggalkan cepat tempat itu. Dengan air mata yang bercucuran deras.
Tugas apanya!! Sembuh apanya!!! Berubah apanya!! Boby tetaplah seorang Boby. Baj jii nngan tengik dengan banyak janji manis. Clara kembali ke rumahnya dengan mata bengkak. Tersungkur meringkuk dikasurnya. Sendiri ditemani keheningan dan airmata. Dia sudah berusaha mengalah pada Santi demi Boby. Sudah berusaha lapang dada menerima segala pengakuan Boby. Nyatanya dia tidak bisa berubah. Boby ternyata sama saja. Seperti Tama dan mantan suami Mbak Joice!!! Sekali player tetap player!
Pagi datang. Clara tidak berselera masuk kuliah. Padahal materi kali ini sebenarnya yang diincar dari dulu. Filosofi batik. Clara benar benar jatuh cinta pada kain tradisional itu. Seharian justru sibuk dengan kain hijau daun pisang muda. Agar lekas selesai dan dikirim ke orangnya. Mengabaikan berkali kali panggilan dari Boby.
***
Tiga hari Clara mengacuhkan panggilan Boby. Perasaan Boby sudah tidak enak.
"Pocik," kata Boby saat Clara akan berangkat ke kampus. Sengaja menunggu Pocik keluar dengan sendirinya.
"Kenapa?" tanya Boby melihat mata Clara yang bengkak. Kembali mencabut kunci motor yang akan dinyalakan Clara. Gadis itu tidak menyerah. Secepat kilat masuk rumah ganti mobil. Boby sigap masuk mobil.
"Kak!! Aku gak mau ngomong sama kamu!!" ucap Clara akhirnya. Sudah mulai rembes lagi air matanya. Boby merengkuh Pocik dalam pelukan. Terjadi penolakan lagi. Boby tidak peduli. Hingga akhirnya Clara menangis sesenggukan di dadanya. Lama dalam posisi seperti itu. Hingga Clara melepas pelukannya.
__ADS_1
"Keluarlah, aku sudah terlambat ngampus," kata Clara. Boby bergeming. Malah memakai sabuk pengaman dan duduk dengan nyaman. Clara melirik sebal. Melajukan mobilnya menuju kampus.
Perjalanan mereka diisi keheningan. Yang bisa dipastikan Boby, Pociknya marah padanya. Akan tetapi apa salahnya??? Boby mencoba intropeksi. Tidak ketemu. Bahkan saat sudah sampai parkiran kampus.
Clara turun mobil secepat kilat. Boby berjalan di sisinya dengan santai.
"Tidak mau bicara?" tanya Boby lembut. Clara justru mempercepat langkahnya. Boby menyusul menggenggam tangan Clara. Dengan cepat memasangkan borgol di tangan Clara dan tangannya.
"Kak!!! Kamu gila!!!" kata Clara terkejut. Gadis itu luar biasa kaget dengan kenekatan Boby.
"Lepas gak!! Aku mau ngampus!! Tugasku menumpuk!!!" kata Clara sambil mengibas ibaskan tangannya.
Boby malah tersenyum. Menggantung kunci borgol di depan muka Clara. Saat gadis itu akan mengambilnya, Boby justru melempar kunci itu ke danau kampus.
"Kak!!! Mau kamu apaan!!!" teriak Clara frustasi. Melihat nanar borgol yang melekat di tangannya. Memukul dada Boby agak keras.
"Kamu boleh bungkam, kamu boleh marah, kamu boleh pukul…. Aku gak peduli. Asal kita tetap terikat seperti ini. Sebelum kamu bilang aku salah apa, kita akan terikat seperti ini," kata Boby riang.
Clara mengacak rambutnya sendiri frustasi.
"Mau masuk kelas kan?" tanya Boby.
"Yuk aku temani," lanjut Boby tanpa rasa bersalah. Jalan duluan dengan santai. Otomatis Clara tertarik. Pergelangannya mulai memerah.
"Pelan pelan Kak sakit!!" protes Clara. Boby menggenggam tangan Clara.
__ADS_1
"Kalau kamu mau bergandengan borgolnya tidak akan menyakitimu," kata Boby.