Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Janda dan tetangga


__ADS_3

Esok hari sepulang Clara kerja….


"Yang kemarin siapa Ra?" tanya Bu Gini, tetangga samping rumah. Berdiri di halaman rumahnya sendiri, tapi matanya kemana mana.


"Ha?" tanya Clara belum mengerti. Membeku disamping motornya.


"Alah, yang kemarin pakai mobil silver. Gagah, pakai jas, yang jemput kamu pagi trus pulangnya sore," kata Bu Gini memberi penjelasan. Sangat jelas sampai Clara mengerti dirinya sedang diintai cctv paling beracun di Indonesia. Cctv yang kejadian sesungguhnya buah mangga, tapi berita yang tersebar bisa jus mangga, puding mangga, sampai rujak mangga muda.


"Oh, teman," jawab Clara pendek. Melangkahkan kakinya lebar. Bermaksud kabur masuk rumah. Tidak ingin berurusan lebih panjang. 


"Trus yang kemarin? Yang botak necis setengah baya pakai fortuner?" tanya Bu Gini cepat. Masih belum puas introgasi tersangka versi ibu ibu detektif kampung. Clara terdiam. Setengah baya? Botak? Serem banget dia punya hubungan dengan pria botak!


"Alah, yang sering jemput jemput kamu itu lho, setelah minggat dari rumah suamimu," kata Bu Gini memberikan keterangan lanjutan. Owalah, Pak Juni. Clara baru mengerti. Baru mengerti juga kalau ternyata sudah diawasi lama.


"Pengacara… perceraian," kata Clara lirih. Hatinya masih sakit.


"Permisi saya mau mandi," kata Clara lagi dengan cepat.


"Jangan gitu Ra, kamu ini masih masa iddah, gak boleh gonta ganti pasangan. saru (tidak baik)!! Kamu harus lebih hati hati lagi,-" 


"Enggih Bu, saya akan lebih hati hati dan lewat jalan sebelah kiri. Tidak bercanda dan jalan lurus kedepan," potong Clara kemudian lurus masuk rumah.


"Ealah bocah sak iki!!! Ngeyelan dikandani!! Mulo kowe rondo!!" omel Bu Gini yang sebenarnya masih didengar Clara. (Owalah bocah jaman sekarang!! Dibilangin gak bisa!! Pantesan kamu janda!!).


JANDA! JANDA!!!! JANDA!!!!!! Seburuk itukah janda??? Clara kesal luar biasa. It's a bad day!! Tadi kerja pelanggannya juga sulit luar biasa. Bekerja dengan hal sulit dan rumit sudah biasa bagi Clara, namun hari ini pelanggannya sudah lima kali minta permak. Padahal mempermak sebuah baju lebih sulit daripada bikin baru. Huft….. Sekarang pulang kerja disambut tetangga julid seperti itu.


Clara mau mandi. Celananya terasa basah. Mungkin karena keringat. Clara terkejut melihat celananya. Hah!! Benar saja hari ini terasa buruk. Rupanya tamu bulanannya datang. 

__ADS_1


Usai mandi Clara melihat ke kamar. Stok pembalut habis. Terpaksa pergi ke warung kalau kaya gini. Daripada bocor. Clara diam saja melewati gerombolan pemuda seusianya.


"Clara cantiiikkk... Kok tambah cantik aja sih?" goda Broto.


"Kalau udah janda emang beda Brot," sahut Yono. Yang lain tertawa sambil melihat kearah Clara. Yang digoda konsisten membisu dan cuek.


"Bu, pembalut pakai sayap satu," kata Clara pelan. Agak malu kalau kedengaran pemuda pemuda yang nongkrong dibelakangnya. Sialnya mereka malah nguping.


"Bulanan Ra?" tanya orang di belakangnya.


"Iya bulanan, mau apa?" jawab Clara ketus.


"Mau dicatat dong. Biar nanti kalau kamu hamil kita bisa tahu," kata Broto nyengir. Clara menatap nyalang pada Broto.


"Emangnya kenapa kalau aku hamil??!!" tanya Clara mulai emosi.


Kondisi warung langsung heboh. Orang orang berdatangan nonton. Broto mencak mencak di tampar Clara. Saat akan menampar balik, justru kepala Broto kena lemparan sandal jepit. Ibunya Clara datang. Terlibat adu mulut untuk membela anaknya. Pertikaian berakhir saat ustad kampung itu melerai. Dan segala cacian Broto membekas dalam kepala Clara.


***


"Ra, makan dulu!" kata Ibu diambang pintu kamar. Hari ini Clara gak masuk. Tadi sudah ijin sama Bu Nir. Badanya tidak masalah, tapi kepalanya yang bermasalah. Rasanya capek dan sama sekali tidak semangat.


"Ra, makan ya," ulang Ibu dengan lebih persuasif. Ini sudah lewat tengah hari, tapi putri ragilnya bahkan belum menyentuh nasi. Jangankan nasi. Teh hangat yang dibuatkan dari pagi saja tidak tersentuh. 


Ibu mendekat. Mengelus punggung Clara dengan sayang.


"Ra, ada dua cara saat kamu dihina orang. Bertahan sampai tidak terasa sakitnya, atau melawan sampai mereka tidak tersisa. Ibu harap kamu melawan. Ada Ibu dan keluargamu yang siap mendukung. Tunjukkan kalau kamu tidak seburuk yang mereka pikir. Tito siap menghajar Broto kemarin," kata Ibu. Clara berbalik dan memeluk Ibunya dengan erat. Menangis sesenggukan sepuas hatinya. Selega hatinya… berharap kesedihan yang menghimpit hatinya keluar lewat air mata.

__ADS_1


***


Sore hari di rumah Bu Nir. Boby celingukan mencari Pocik. Tidak terlihat. Mau masuk kedalam, dia sedang rempong dengan anak anak. Yang kali itu materinya tarung. Tidak bisa ditinggal semenit saja.


"Eh, May! Clara mana?" tanya Boby pada Maya saat gadis itu melangkah pulang.


"Gak masuk, sakit katanya," jawab Maya sambil melangkah mendekati motornya. Ah!!! Boby kesal sendiri. Nanti malam ada tugas. Dia gak mungkin menjenguk Pocik. Padahal sejak mereka berpisah, Pocik tidak bisa dihubungi.


***


Boby datang ke rumah Pocik dua hari kemudian. Kesibukan pekerjaan membuat Boby baru bisa datang. Ditangannya ada beberapa bungkus sate. Tito membukakan pintu.


"Malam, Clara ada Mas?" tanya Boby sambil nyengir. Dua hari ini Boby sampai bosan menghubungi Pocik. Tidak terjawab, bahkan tidak aktif.


"Ada, dikamar. Kamu mau bantuin aku gak?" tanya Tito.


"Bantuin apa?" tanya Boby.


"Mukulin orang yang bikin Clara kayak gini," kata Tito panas. Mengira adiknya seperti ini hanya karena ucapan sumpah serapah Broto. Padahal pria di depannya ini penyebab terbesarnya. Boby sudah akan membuka mulut menjawab.


"Kak Boby!! Ngapain kesini?" tanya Clara keluar dari kamar. Matanya sembab luar biasa. Boby sudah mengepalkan tangannya. Siapapun yang membuat Pocik seperti ini harus menyesal!!!


***


"Aku gak mau pergi sama kamu!! Kenapa makin kesini kau makin ngeyelan!!" kata Clara kesal. Dia dipaksa Boby mengikutinya keluar rumah. Padahal dia lagi gak mau kemanapun. Kemelut di pikiranya begitu nyata. Terutama ya masalah Boby ini. Clara berniat menjauhi. Clara berniat pergi. Tidak mau berhubungan lagi dengan Boby. Tidak mau Boby terkena gunjingan karena status jandanya. Dia saja sakit hati apalagi Boby. Akan tetapi bagaimana bisa pergi kalau sekali tarik saja Clara langsung nurut mengikutinya. Hati tidak bisa berbohong, walaupun pikirannya menolak.


"Apa enaknya hampir tiga hari cuma tiduran dikamar? Kamu mau bikin rekor muri? Mata bengkak terlama se indonesia?" tanya Boby sambil nyengir. Helmnya sudah dapat pukulan dari tangan Clara.

__ADS_1


"Daripada buat mukul mukul mending tangannya buat pegangan sini," kata Boby menarik tangan Pocik melingkari perutnya. Pocik membeku sebentar. Menyandarkan kepalanya pada punggung Boby dengan nyaman. Tidak lama…. Kemudian gadis itu menariknya lagi. Duduk tegak tanpa berpegangan. Perasaan Boby sudah tidak enak.


__ADS_2