Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Jasmine


__ADS_3

Clara menunggu beberapa saat. Menjalani pemeriksaan beberapa kali. Kemudian datang beberapa Suster yang akan membawanya ke ruang rawat inap. Kaki Clara terasa kesemutan saat dipindah ke bed lain. Clara di dorong keluar dari ruang pulih sadar. Boby langsung berlari ke arah bed Clara saat tahu istrinya keluar. Sudah bercucuran air mata dengan tidak tahu malunya.


"Terimakasih sudah bertahan. Aku sayang kamu Poc, jangan pernah tinggalkan aku. Jangan kemana mana," kata Boby sambil sesenggukan.


"Memangnya aku bisa kemana? Kakiku saja belum bisa bergerak," kata Clara heran. Melihat banyak wajah yang dia kenal. Ada ibu, ayah, Rina, Tito. Dan semuanya bermata sembab. Ada yang salah dengan dirinya tadi??


Clara baru diberi tahu kalau jantungnya sempat berhenti berdetak tadi. Membuat semua orang panik dan Boby yang merosot lemas hampir pingsan. Clara jadi ingat mimpinya. Hah, untung aku gak ikut mas mas ganteng tadi. Batin Clara. 


Suster mengantar makanan untuk Clara. Juga mengatakan kalau anak mereka masih dalam observasi. Belum bisa dibawa kesini. Boby menyuapi Clara dengan telaten.


"Aku lapar sekali Kak," kata Clara.


"Kalau gitu ayo dihabiskan," jawab Boby semangat menyuapi istrinya.


Perlahan bius menghilang, perlahan rasa sakit datang. Clara meringis menahan sakit. Keluarganya sudah pulang. Menginap di rumah kontrakannya. Tersisa Sus Wiwik yang minta dipanggil Mbah Wiwik untuk anak Clara. Juga bapak baru yang seolah tenaganya baru di cas. Kesana kemari dengan riang. Boby seperti kupu kupu yang terbang dengan gembira. Euforia dirinya sudah memiliki anak belum habis dalam hatinya.


"Kenapa namanya Jasmine Aliza Dhira?" tanya Boby sambil mengelus Pocik. Menciumi tangannya berkali kali. Untung Mbah Wiwik sudah tidur.


"Jasmine adalah melati dalam bahasa inggris. Bunga putih yang harum. Lambang kesucian dan keindahan. Aku mau dia menjadi gadis seperti itu," kata Clara mengawali penjelasannya. Aliza dalam bahasa arab kurang lebih berarti ceria. Clara mau anaknya selalu ceria dalam kondisi apapun. Dhira dalam bahasa sansekerta berarti cerdas dan toleransi. Clara mau gadisnya cerdas. Toleransi juga penting. Karena hidup tidak melulu tentang pandangan kita saja.


"Hebat. Itu indah," puji Boby sambil mencium Clara sejenak.


"Lagian kamu bapaknya kenapa belum ada nama?" protes Clara. Boby nyengir.


"Aku… tidak pandai merangkai kata seindah itu," kata Boby.


Kembang api meletus dari segala penjuru. Dari lantai empat ruang perawatan itu terlihat jelas. Boby membuka tirai jendela agar Clara bisa menikmatinya.

__ADS_1


"Selamat tahun baru Sayang, selamat tahun baru Ibuk," kata Boby.


"Selamat tahun baru juga Bapak," balas Clara.


Hening…..


Mereka menikmati letusan kembang api yang memunculkan banyak warna cantik di langit. Melukis langit yang gelap pekat menjadi gemerlap dan penuh warna.


"Kamu tahu Pak, ternyata Tuhan tetap mengabulkan keinginanku," kata Clara.


"Apa itu?" tanya Boby kepo.


"Aku tetap bisa melihat kembang api tahun baru dari ketinggian. Sayangnya bukan dari ketinggian gunung, tapi ketinggian lantai empat kamar rumah sakit," kata Clara sambil meringis. Ternyata tertawa setelah sesar sesakit ini. Boby bingung. Mau tertawa atau panik melihat muka Clara yang meringis.


"Sakit Buk?" tanya Boby.


"Tidurlah Mbah, ini masih malam," kata Boby. Akhirnya mereka bertiga tidur. Clara mengabaikan rasa sakit di perutnya. Mencoba tidur dalam elusan tangan Boby di kepalanya.


***


Hari baru tiba. Keluarga Clara kembali datang. Mau lihat hasil karya Boby dan Clara. Bayi mungil itu sudah diantar ke kamar Clara.


"Masih belum kelihatan mirip siapa," kata Tito. 


"Jari tangannya kecil dan panjang," komentar Rina. 


"Siapa nama panggilannya?" tanya Ayah terlihat gemas sekali dengan cucunya.

__ADS_1


"Jasmine," jawab Clara.


"Haa siapa?? Dasimin?" kata Ayah berusaha mengikuti perkataan Clara.


"Bukan Dasimin, tapi jasimin," kata Ibu membenarkan, padahal juga sama sama salah. Seisi ruangan tertawa. Clara menahan tertawanya karena nyeri di perutnya. Akhirnya nama panggilan untuk Jasmine diubah menjadi Dira. Agar mudah disebut oleh kakek nenek mereka. Ibu yang menggendong cucunya terlihat pucat. Kesehatannya pasti menurun karena perjalanan kesini. Akhirnya keluarga Clara kembali ke Solo siang itu.


Santi datang beserta Tito dan Jesi. Bukan memberi selamat justru mengomentari kamar Clara.


"Wah, VIP. Enak dong. Lahiran jadi berasa ratu," kata Jesi.


"Clara emang nemu enak sama Boby. Lahiran sesar itu sama saja belum menjadi ibu, karena tidak merasakan sakitnya lahiran," tambah Santi. Mereka hanya setengah jam kurang di situ. Membahas bayi saja tidak. Seolah tidak peduli dengan bidadari kecil milik Boby. Justru asyik browsing destinasi wisata asyik. Kemudian pamit begitu saja. Tidak meninggalkan oleh oleh atau bahkan uang. Padahal keluarga Clara yang sederhana saja patungan meninggalkan amplop. Juga membersihkan kontrakan mereka agar Jasmine nyaman pulang nanti.


Boby menatap nanar pada Jasmine yang tertidur di boxnya. 


"Tolong gendongin dia di tanganku Mbah," kata Boby. Mbah Wiwik pun mengambil bayi mungil itu. Meletakkan hati hati pada tangan Boby. Mbah Wiwik mengerti kesedihan Boby. Sangat terlihat sekali betapa mereka tidak memperdulikan Clara dan bayinya.


Boby mendekat pada ranjang Pocik yang sudah bisa duduk.


"Tolong jaga dia Buk, ternyata hanya kita yang peduli padanya," kata Boby yang kecewa dengan keluarganya. Padahal dulu saat Ayuna lahir mereka begitu antusias menyambutnya. Terutama mamanya. Sekarang Jasmine diperlakukan seperti itu. Kalau mama tidak suka Clara itu masih bisa dimaklumi. Boby tidak peduli yang penting dia mencintai Clara sepenuh hati. Tapi ini Jasmine!!! Darah daging Santi sendiri. Hatinya terluka sebagai seorang bapak. 


Clara hanya mengangguk. Dia mengerti kesedihan Boby. Justru bersyukur saat mereka sama sekali tidak menyentuh Jasmine dan segera pergi dari hadapannya. Bagi Clara mereka bukan keluarga Boby lagi. Rasa hormatnya sudah terkikis perlahan dari dulu. Sudah biasa juga dengan perlakuan bobrok mereka. Hatinya kebas. Sakit juga tidak karena menganggap mereka cuma kuman. Bukan manusia. Menjadi ibu membuat Clara lebih tegar. 


Jasmine tidur dengan tenang di box bayinya. Mbah Wiwik sedang mandi. Clara juga tertidur siang menjelang sore itu. Boby masih sakit hati dengan perlakuan Santi. Pikirannya kemudian melayang pada beberapa bulan lalu. Tentang Dito yang meminta tagihan rumah sakit fiktif. Air mata mengalir dengan derasnya. Boby sudah berusaha menahan isakan, namun ternyata tidak bisa.


Clara kembali terjaga. Mendapati Boby yang menangis dengan pilu.


"Kakak,-" Clara belum menyelesaikan kalimatnya, namun Boby sudah merengkuh tubuhnya dengan pilu. Guncangan tangisan Boby lebih keras. Boby menuntaskan kesedihannya dalam pelukan Clara. Boby menceritakan apa yang dirinya alami beberapa bulan lalu.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka Dito sekejam itu Poc. Mungkin kamu tidak tahu rasanya, karena kamu anak terakhir. Tapi bagi seorang kakak, adik akan selalu terlihat kecil. Sedewasa apapun dia, bagiku Dito masih bocah kecil ingusan yang lemah. Yang harus aku lindungi dan aku jaga. Dia….. sayangnya adalah satu satunya saudara kandung yang aku miliki," kata Boby. Tumpah lagi air mata yang sudah bisa dibendung tadi. 


__ADS_2