Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Dunia Boby


__ADS_3

"Kenapa?" tanya Boby saat mereka duduk sudah duduk berhadapan. Boby urung mengajak Pocik pergi jalan jalan. Mereka duduk di sebuah cafe sekarang.


"Gak kenapa kenapa," jawab Clara cuek.


"Matamu sampai bengkak, tapi kamu gak punya alasan kenapa nangis?" tanya Boby tidak terima.


"Bukan urusan kamu," jawab Clara menohok. Boby menarik tangan Clara dengan kasar.


"Dengar! Semua yang ada di kamu itu urusanku! Apalagi kesedihanmu," kata Boby sambil menggenggam erat tangan Pociknya.


"Tidak, karena kita tidak punya hubungan," kata Clara tegas. Boby melongo mendengar itu dari mulut Clara.


"Poc, aku gak suka denger itu dari mulutmu ya… aku gak suka," kata Boby memelas.


"Memang itu kenyataannya. Aku minta maaf mengecewakanmu, tapi aku tidak berencana berhubungan dengan pria manapun. Aku mau tenang dan membangun hidupku sendiri. Kak, kalau kamu menganggap hubungan kita lebih dari teman, aku minta maaf. Aku memutuskan hubungan ini," kata Clara sambil menunduk. Tidak sanggup menatap Boby yang sudah melotot di depannya. Menarik tangannya dari genggaman Boby. Akan tetapi pria itu tetap erat memegang tangan Clara.


"Ulangi lagi," kata Boby.


"Ulangi lagi dan tatap aku," lanjut Boby. Clara menegakkan pandangannya. Mereka saling tatap dalam kesedihan. Bahkan mata Clara sudah berair.


"Aku, memutuskan hubungan ini Boby Adya Haryanto," kata Clara mantap. Tidak ada keraguan lagi.


"Kenapa? Karena kamu janda?" tanya Boby tercekat.


"Tidak, karena aku tidak percaya dengan lelaki manapun. Kamu saja hampir memperkosaku kemarin. Aku mau menata hidupku sendiri," kata Clara dibuat sesantai mungkin. Dia sudah berlatih adegan ini. Tidak mau gagal memutuskan Boby.


"Itu terlalu klise, aku tidak menerima alasanmu dan mau melanjutkan hubungan ini," kata Boby ngeyel.


"Kak!! Beri aku kesempatan menata hidupku! Dan aku memberimu kesempatan untuk dapat yang lebih baik dariku. Setidaknya turuti kata mamamu. Aku juga tidak berencana membuat anak berdosa menentang orang tuanya. Kita jalan masing masing. Jangan pernah datang padaku lagi, atau aku akan benar benar menghilang selamanya dari hadapanmu. Aku bisa melakukan itu. Uangku banyak hasil menjanda!!!" kata Clara serius. Berdiri meninggalkan Boby yang tertunduk lesu.


Bulir air bening mulai jatuh dari mata Boby. Boby mengusapnya dengan punggung tangan. Apa ini? Secengeng ini dia?? Sampai menangis ditinggal Pocik? Memalukan!!! Tapi ini benar terjadi. 


Boby tidak pulang. Mampir ke tempat hiburan yang sudah lama tidak dikunjungi. 

__ADS_1


"Nyari teman Mas?" tanya seorang wanita berpakaian minim. Boby menyeringai dan mengangguk. Menghabiskan minumnya di sloki yang tersisa. Sedikit susah menelan. Dia minum anggur murah. Boby duduk tegak dan menepuk pahanya. Wanita itu mengerti tanpa canggung duduk di atas paha Boby.


"Siapa namamu?" tanya Boby sambil menciumi punggung wanita itu dengan lihai.


"Ren," jawab wanita itu sambil menggeliat. Tahu persis pria yang bersamanya ini sangat pro. Tangannya bahkan sudah menjalar di area segitiga keramatnya.


"Mhaaasss…. tidakkk disini dong," pinta Ren sambil mendesah. Pria itu sudah berhasil membangkitkan geloranya dengan cepat.


"Cari tempat!" perintah Boby yang sudah setengah mabuk. Ren menurut. Menarik Boby ketempat yang dimaksud.


Ren mendee ssah hebat di bawah Boby. Staminanya luar biasa. Badannya juga bagus dan kekar. Memenuhi hasrat fantasi Ren. Sedang Boby menuntaskan segala rasa sedihnya. Dia tidak pernah main cewek lagi setelah bertemu Pocik. Bahkan saat gadis itu masih berstatus istri Tama. Pocik mengalihkan dunianya. Sekarang segalanya hancur…. Hancurrr….. Boby mau remuk sekalian.


"Kamu hebat Mas," puji Ren sambil memeluk Boby. Memainkan bulu bulu halus di dada Boby. Dia memang wanita malam, tapi mendapat pelanggan semulus ini jarang sekali dalam karirnya. Apalagi main bersih pakai kkonn ddomm.


"Pulanglah," kata Boby ketus. Ren mengangkat wajahnya cemberut. Boby hanya meliriknya. Tatapannya kosong menatap langit langit hotel kelas melati ini.


"Biar aku temani, Mas lagi pusing?" tanya Ren enggan berpisah. Padahal waktu sudah mencapai fajar. Boby bangun meraih dompetnya. Memberikan beberapa lembar uang pada Ren.


"Pulanglah," usir Boby lagi.


***


6 bulan berlalu…..


Kerja, tidur, minum….. teringat Pocik jajan. Itu yang dilakukan Boby. Beberapa kali bertemu Pocik dan berusaha bicara. Jawaban gadis itu sama. 


"Jangan mendekat atau aku pergi jauh." Sudah…. Boby hancur sudah. Apalagi lima bulan setelahnya Boby sama sekali tidak melihat Pocik. Gadis itu keluar dari pekerjaannya.


Boby berjalan setelah apel pagi. Kepalanya berat sisa hangover semalam. Mengerjap beberapa kali demi menghilangkan pusing dan mual. Hari ini meeting pengintaian. Setidaknya dia harus sadar menggunakan otaknya. Kalau tidak mau dimaki maki Revan dengan ganas.


Boby duduk didekat Ine. Gadis itu lagi ngemil roti sandwich. Sepertinya belum sarapan.


"Mau?" tawar Ine menyerahkan kotak makannya. Masih ada sandwich utuh. Boby menggeleng. Perutnya mual luar biasa. Bisa muntah kalau makan. Walaupun Boby sendiri lupa kapan terakhir makan.

__ADS_1


"Kamu makin lama makin remuk Bob. Tiap hari lesu, tiap hari habis mabuk," kata Ine sambil mengunyah.


"Biar, asal kepala, tangan dan kaki masih ditempat," jawab Boby sambil menyenderkan kepalanya.


Revan datang dengan seorang laki laki.


"Dia Nando, mulai sekarang menjadi tim kita," kata Revan. Nando memperkenalkan diri sejenak. Terjadi sedikit perpeloncoan untuk Nando. Tradisi memasuki tim narkoba yang sudah terkenal kegarangannya. 


Ine paling semangat. Nando disuruh membagi roti sandwichnya secara merata untuk anggota tim.


"Pastikan semua bagiannya dapat apa yang ada di roti itu. Sebelum dibagi aku mau cek dulu. Satu ada yang kurang push up 100 kali," kata Ine galak. 


"Siap," kata Nando formal.


"Sebutkan isinya dulu!" kata Ine makin gila. Nando membuka roti itu.


"Bersih gak tangan kau! Jangan sampai kita muntah nanti. Cuci tangan dulu sana!" kata Jon. Nando pergi keluar ruangan untuk cuci tangan. Seisi ruangan langsung tertawa. Cuma Boby yang masih anteng menyandarkan kepalanya. Pura pura galak dan serius itu capek untuk mereka yang terbiasa koplak. Akan tetapi demi anak baru itu mereka kompak pengen terlihat berwibawa.


"Kamu suruh dia main masak masakan?" tanya Revan pada Ine. Yang ditanya cuma nyengir. Hubungan mereka perlahan membaik. Nando balik dengan tangan yang wangi. Pura pura garang lagi mereka. Revan sebagai atasan sok tidak peduli. Yang lain sok cuek bebek. Menyerahkan perpeloncoan pada si ratu jutek di tim itu.


"Oke kita mulai," kata Revan memulai rapat. Bagi tugas untuk timnya. Mendiskusikan dari anggel mana mereka dapat mengintai dengan jelas. Usul dan saran nyeletuk dari mana saja. Menunjukkan otak mereka sebenarnya encer.


Dengan Nando yang masih repot membagi sandwich dari Ine. Beberapa kali Ine cerewet tentang hasil cuilan Nando yang dirasa kurang besar atau kurang kecil. Boby yang duduk tepat disamping mereka sampai geleng geleng kepala. Dia melihat Nando tersiksa sekali.


"Ada yang ditanyakan?" tanya Revan setelah selesai penjelasan.


"Izin bertanya Komandan," kata Nando formal sekali. Revan hanya mengangkat alisnya tanda mengizinkan.


"Tugas saya apa?" tanya Nando dengan muka tegang. Semua sudah dapat bagian. Dia belum.


"Tugasmu melayani Ibu Ine. Menjaganya dan menyediakan apapun kebutuhannya," kata Revan. Nando langsung terlihat stres. Melirik Ine sekilas.


Boby tidak tahan untuk tertawa. Muka Nando yang langsung stres adalah hiburan tersendiri. Dia ngakak diantara keheningan. Teman temannya ikut tertawa. Larut bersama dengan tawa Boby. Yang enam bulan ini tidak terlihat.

__ADS_1


Revan menepuk pundak Boby saat mereka keluar ruangan. 


"Teruslah tertawa Cantik, aku merindukan tawamu," kata Revan sambil mengedipkan mata. Boby langsung menjulurkan lidahnya pura pura muntah. Yang lain ikut tertawa ngakak. Sejarah terukir. Boby tertawa setelah patah hati terlamanya. 


__ADS_2