
Pulang dari rumah Nina, Clara menuju rumah Tama. Pikirannya melayang pada Boby. Dua kali dia dapat keyakinan secara tidak langsung kalau lelaki bobrok, selamanya akan bobrok. Satu dari Joice satu dari Nina. Hatinya kembali gamang.
Clara sampai dirumah Tama. Memarkirkan mobilnya di depan rumah itu. Ada rasa kangen yang nyempil. Dulu dia pernah mengukir kenangan dirumah ini. Clara tersenyum sendiri. Membunyikan bel rumah sambil melongok ke dalam. Ada mobil merah cantik. Yang diyakini Clara milik Citra.
"Bu Clara!!!! Astaga astaga…. Apa kabar??? Jiah kangen Bu," kata Mbak Jiah sambil melompat lompat senang. Mereka berpelukan sejenak.
"Mau ketemu Pak Tama?? Lagi di bengkel Bu, belum pulang," kata Mbak Jiah.
"Mau ketemu Mbak Citra sama Daus kok," kata Clara. Raut muka Mbak Jiah langsung berubah. Clara menyadarinya dengan cepat. Sebenarnya bisa saja Clara menyampaikan ulem langsung ke bengkel Tama, tapi Clara malah sungkan bertemu mantan suaminya itu seorang diri. Jadilah dia kemari saja. Menyampaikan lewat Citra agar gak ada fitnah.
"Kenapa Mbak?" tanya Clara pada Mbak Jiah.
"Em… gak papa Bu, tapi Dek Daus sekarang sekolah di penitipan anak, Bu Citra ada sih," kata Mbak Jiah.
"Sekolah?" tanya Clara Heran. Daus paling berusia dua tahun lebih sedikit. Kenapa sekolah kalau ibunya di rumah?" batin Clara. Ah, dia agak menyesal kalau begini.... Clara merindukan teman kecilnya itu.
Citra menemui Clara dengan penampilan yang acak acakan. Daster kusut dan rambut kusut. Clara sampai heran sendiri kenapa sekusut itu penampilannya. Padahal jelas Tama mengumbarnya dengan banyak uang. Dulu saja dia yang istri status dapat banyak kemewahan. Apalagi sekarang istri yang benar dicintai.
"Mbak Citra apa kabar?" tanya Clara basa basi.
"Seperti yang kamu lihat. Gini gini aja," jawab Citra tidak bersemangat. Entah kenapa Clara merasa prihatin. Bukankah Tama mencintainya? Bukankah mereka saling mencintai? Kenapa bisa sampai begini? Citra seperti tidak punya semangat hidup.
"Eh, Mbak aku mau menyampaikan undangan buat kamu sama Mas Tama. Datang yaa di hari bahagia aku," kata Clara sambil menyerahkan undangan.
Citra menerimanya dan membaca sejenak. Melihat foto prewed Clara dan Boby. Foto itu sebenarnya foto resmi untuk syarat pernikahan. Mereka tidak memakai prewed beneran demi menghemat biaya. Akan tetapi pihak WO yang digandeng memberikan bonus undangan. Dan undangannya bagus. Full color. Jadilah mereka memasang foto resmi Boby berseragam dan Clara yang berseragam pink bhayangkari. Juga beberapa foto kocak mereka yang diambil via selfie.
Citra tersenyum pilu.
"Kamu dapat polisi? Orangnya beda dari yang kamu ajak ke nikahanku dulu," komentar Citra. Clara mengangguk.
__ADS_1
"Tapi aku gak janji bisa datang. Mungkin lebih baik kamu menghubungi Tama sendiri. Dia udah jarang pulang kerumah ini," kata Citra sedih. Clara melongo mendengarnya. Mulutnya gatal mau kepo, walaupun melihat kesedihan dimuka Citra.
"Kenapa Mbak? Kalian bertengkar?" tanya Clara.
"Seperti kamu saat menjadi istri Tama. Dia selingkuh sama aku. Sekarang aku kena karmanya. Aku juga diselingkuhi," kata Citra. Air mata sudah merembes dari matanya yang indah.
"Tapi bukankah Mas Tama mencintai kamu Mbak," sangkal Clara. Tidak mungkin sekali Tama berpaling. Hidupnya saja fokus pada Citra saat Clara menjadi istrinya.
Citra tersenyum getir. Kemudian bercerita kalau Tama memang mencintainya, namun tidak bisa menerima anak sulungnya. Terjadilah percekcokan tiap hari, karena Tama merasa Daus tidak lebih diperhatikan Citra daripada Ferdi.
"Dia juga bilang kalau kamu lebih pandai mengurus Daus… padahal aku ibunya," kata Citra sambil nyekikik dengan anehnya. Padahal airmata masih ada di pelupuk matanya. Clara yakin Citra butuh psikiater atau sejenisnya.
"Sekarang dia gandeng sama gadis sexy yang menyewa salah satu kamar kos. Aku kira dulu selingkuh sama aku karena cuma cintanya sama aku, tapi ternyata doyan," kata Citra sambil nyekikik lagi. Clara merinding. Agak takut gimanaaaa gitu. Segera pamit saja dari rumah itu.
Mbak Jiah mengantarkan Clara sampai di depan pintu mobil Clara.
"Aku kangen sama Ibu. Aku kangen rumah ini diatur Ibu. Bu Citra pas warasnya galak banget sampai Sus Wiwik gak betah. Sekarang agak kenthir (gila) gitu menyeramkan Bu, sepertinya saya juga mau risen saja," kata Mbak Jiah. Clara menepuk bahu mantan asisten rumah tangganya. Memberi semangat. Mereka berpelukan sejenak.
"Aku ikut Bu Clara aja," kata Mbak Jiah. Clara langsung tertawa. Saldonya saja menciut karena persiapan pernikahan. Uang lain ngepas Clara simpan sebagai dana darurat kuliah diputuskan untuk tidak dia pakai. Jadilah pernikahan sederhana hasil tabungan Boby dan hasil kerja keras Clara selama ini.
"Aku masih kere Mbak, gak butuh asisten. Rumahku saja hanya kamar satu," kata Clara sambil nyekikik.
Dimobil dia menelpon Tama. Dijawab dalam beberapa kali deringan.
"Clara!!! Kejutan sekali mau menelponku," kata Tama di seberang sana.
"Aku tadi mampir kerumah. Menyampaikan ulem buat nikahanku. Datang ya Mas," kata Clara.
"Kamu jadi nikah? Sama siapa?" tanya Tama.
__ADS_1
"Sama Boby," jawab Clara malu malu.
"Haaa akhirnya tetap sama Boby. Aku udah yakin kamu bakalan sama dia. Aku gak yakin kamu sama bocah ingusan si Rama kemarin," kata Tama.
"Dan aku udah yakin kamu cinta mati sama Mbak Citra, kenapa sekarang Mbak Citra jadi kayak gitu?" tanya Clara sedikit gemas. Tama terdiam di ujung telepon.
"Mas, kata orang pernikahan itu 1% cinta dan 99% komitmen. Kenapa kamu gak jaga komitmen sama Mbak Citra yang sudah kamu impi impikan dari dulu!!" kata Clara penuh emosi. Hening...
"Rumah tanggaku bukan urusan kamu Ra. Aku juga gak nolak kalau kamu mau sama aku lagi. Kita jalani suka sama suka," kata Tama akhirnya. Clara langsung muak mendengarnya. Mematikan sambungan telepon saat itu juga.
Ah, lelaki…. Sekali doyan selingkuh, doyan selingkuh selamanya. Batin Clara. Lalu bagaimana dengan Boby yang bobrokan itu??? Sanggupkah dia komitmen pada Clara selamanya??? Batin Clara sedikit goyah. Apalagi melihat kasus Tama.
***
Clara menuju rumah Boby selanjutnya. Kata Boby dia belum pulang. Jadilah Clara kesana sendirian. Agak malas ketemu sama Mama Santi seorang diri. Calon Mama Mertua itu akan berubah menjadi ibu tiri kalau gak ada orang lain. Kalau ada orang lain, manisnya melebihi permen kapas yang bikin batuk.
Clara memarkirkan mobilnya di depan jalan rumah Boby. Melihat garasi sebentar. Tidak ada Mobil Boby. Clara menghembuskan nafas demi menenangkan hatinya.
"Sore Ma, mau nganter undangan. Katanya mau disebar Kak Boby sendiri dan suruh mengantar kesini," kata Clara. Santi cuma melirik meja ruang tamu. Tidak mau menerima undangan dari Clara atau membantu membawakan. Padahal Clara terlihat keberatan. Clara yang paham langsung meletakkan undangan kemeja ruang tamu.
"Ingat minggu depan bajunya warna hijau daun pisang muda. Jesi sama ayuna mau ikut. Jadi buatkan untuk mereka juga," kata Mama Santi yang lagi lagi meneror dresscode.
"Empat potong Ma? Seminggu dan Clara mau nikah gini?" tanya Clara yang mulai jengah.
"Ya emang kenapa kalau kamu mau nikah?!! Tanganmu masih bisa buat jahit kan?!! Jesi itu adik ipar kamu!! Suka suka dia dong mau ikut atau enggak. Udah gak usah banyak gaya! Kamu itu untung mau nikah sama perjaka kaya Boby," kata Santi sinis.
"Perjaka?? Mama yakin Kak Boby masih perjaka?" tanya Clara gak kalah ngegas.
"Tutup mulutmu!! Buatkan bajunya saja!! Kalau kamu gak mau ikut aku bisa pergi sama Jesi dan Ayuna!!" bentak Santi yang mengeluarkan garangnya. Clara cuma melengos dan pergi dari rumah itu. Mulutnya gatal untuk mendebat, namun dia sadar orang itu Mamanya Boby.
__ADS_1
"Ingat Ra, baju Mama harus jadi minimal jumat. Atau Mama gak akan datang ke nikah kantor kalian," ancam Santi sebelum Clara meninggalkan halaman.