Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Duka Boby


__ADS_3

Tiga hari kedepan adalah hari yang menegangkan untuk keluarga Boby. Tono tidak juga membaik. Justru terus mengalami kemunduran. Clara dan Boby tidak lagi tidur dirumah. Ikut tidur di rumah sakit dengan Dito dan Santi. Hikmah dari skors Boby adalah dia bisa menunggui Tono seharian. Clara menyusul saat selesai dengan urusan kuliah dan kerjaan.


Pukul 10 malam keluarga Tono dipanggil. Boby, Dito dan Santi masuk. Clara menunggu diluar. Ketiga orang itu kembali dengan mata yang sembab.


"Jantung Papa sempat berhenti berdetak. Dokter menyuruh kami menandatangani pernyataan setuju melakukan tindakan medis. Sekarang sudah berdetak lagi….. aku takut Poc….. aku takut," kata Boby sambil meringkuk di dekat Clara. Menggigil kedinginan. Padahal cuaca tidak sedingun itu. Clara memeluk Boby. Merengkuh tubuh Boby dalam dekapannya. 


Pagi datang. Tidak ada perubahan dari Tono. Clara berangkat kuliah dengan malas. Andai tidak ada satu tes terakhir dia memilih menemani Boby. Usai tes selesai, Clara melihat hpnya.


'Papa udah pergi Poc,' pesan singkat Boby yang membuat darah Clara berdesir hebat. Segera menelpon Boby.


"Kakak posisinya dimana?" tanya Clara sudah sambil menangis.


"Dirumah, Papa udah pulang ke rumah," kata Boby dengan nada bergetar. Clara tidak sanggup melanjutkan percakapan. Cuss menuju parkiran. Karena terburu buru Clara menabrak Rama, membuat beberapa dokumen yang Rama bawa berterbangan.


"Maaf Kak, Maaf sekali," kata Clara berlalu. Tidak peduli kalau dianggap tidak sopan. Membiarkan Rama memunguti sendiri kertas kertas itu.


Rama terbengong beberapa saat. Melihat Clara dari dekat membuat hatinya pedih kembali. Ah, kenapa cintanya pada Clara belum padam juga???


Clara sampai di rumah Boby. Melihat deretan kursi dan peti berwarna putih. Boby datang menubruk tubuhnya sambil bergetar. Tangis Boby pecah dalam pelukan Clara. Sebelumnya Boby hanya diam. Tanpa ekspresi tanpa kata. Santi melihat semuanya. Hatinya ikut runtuh seiring luruh tangisan Boby.


"Papaku pergi Poc….. kemana lagi aku mengadu kalau ada masalah…. Papaku pergi…," kata Boby mengharukan. Clara tidak bisa berkata. Hanya bisa menepuk punggung Boby dengan sayang.


Revan dan timnya datang melayat. Juga Pak Sidiq. Boby menghapus air matanya. Memeluk satu satu temannya. Revan diam sambil memeluk Boby lama. Lama lama mereka luruh dalam tangisan.


"Rasanya sedih… rasanya tidak akan sama… tidak akan pernah sama," kata Revan diantara isakan pilunya. Entah mengapa nasib membawa mereka seperti ini. Sama sama kehilangan orang yang mereka sayangi dalam waktu dekat. 

__ADS_1


Pemakaman berlangsung hari itu juga. Boby lama terduduk di samping makam Tono.


“Ayo pulang Kak,” ajak Clara. Hari kian sore saja. Mendung sudah menggantung di langit. Siap mencurahkan air yang deras. Boby masih diam membisu. Mematung seperti tidak mendengar apapun. Clara diam menemaninya. Rintik hujan turun dengan derasnya. Boby menuntun Clara keluar dari area pemakaman. Menutup kepala Pocik dengan tangannya. Berharap hujan tidak membasahi badannya. Mereka sampai mobil basah kuyup. Dito, Santi, dan Jesi juga basah. Keluarga itu meninggalkan Tono seorang diri. Tertidur dengan tenang…


***


Malam nanti acara tiga hari Tono. Boby mendapat pemberitahuan kalau sidang kode etiknya ditunda sampai minggu depan. Karena perkabungan Boby. 


"Kak, ayo mandi. Aku sudah selesai," teriak Clara. Boby beranjak tanpa banyak suara. Mereka sudah bersiap berangkat. Clara yang manis dengan gamis dan kerudungnya. 


"Kamu cantik Poc," kata Boby sambil membelai pipi istrinya.


"Makasih… aku memang wanita tercantik didunia," kata Clara pede. Boby tersenyum. Senyum yang sangat dirindukan Clara.


"Kamu cantik Poc," ulang Boby saat mereka berdua di mobil. Clara menatap Boby sungguh sungguh.


"Terserah kamu, tapi kamu cantik dengan hijab itu," jawab Boby.


Boby mengikuti semua prosesi peringatan kematian papanya. Dito meminta bicara sebentar saat mereka akan kembali pulang. Seperti biasa Dito berbicara tentang biaya.


"Jual saja apa yang bisa dijual. Aku juga sudah tidak punya apa pun," kata Boby.


"Berapa nomor rekeningmu To? Aku masih punya sedikit uang," kata Clara yang menjadi pemegang keuangan dalam keluarga kecil Boby. Dengan senang hati Dito menyebutkan rekeningnya.


"Mungkinkah kita patungan untuk memperingati pendakan (peringatan kematian) Papa?" tanya Dito. Clara setuju melakukannya. Kemudian pulang kembali kerumah mereka. 

__ADS_1


Siapa menyangka di teras rumah mereka sudah ada Pak Sidiq dan seorang laki laki gendut dengan mata tajam.


"Briptu Boby, kami mau bicara sebentar," kata Pak Sidiq. Ketiga lelaki itu pergi meninggalkan Clara. Jalan kaki entah kemana. Clara benar benar penasaran, namun tidak bisa berbuat apa apa. Ini pasti berhubungan dengan pekerjaan Boby. Sungguh, Clara mau yang terbaik untuk suaminya itu.


Boby pulang dengan muka ditekuk. Pak Sidiq dan orang tadi sudah tidak ada.


"Kakak kenapa?" tanya Clara semakin penasaran. Boby memeluk Clara sejenak. Mencium puncak kepala istrinya. 


"Aku ceritakan di kamar. Aku mau ganti baju dulu," jawab Boby.


Sepasang suami istri itu sudah berbaring dengan nyaman. Seperti biasa, Boby nyungsep di dada Clara.


"Orang tadi dari BIN. Menawarkan aku untuk bergabung di sana," kata Boby menceritakan pertemuannya tadi. BIN adalah Badan Intelijen Negara yang sangat dirahasiakan tugasnya. Lulusannya pun dirahasiakan. Dengan banyak pelatihan khusus dan dibekali ilmu spionase yang tinggi.


"Mereka mencari orang orang sepertiku. Katanya aku masuk kriteria awal mereka. Ini juga jalan Pak Sidiq dan Revan menghindarkan aku dari sanksi," kata Boby.


"Lakukan saja, lakukan apa yang mereka mau. Asal kamu terhindar dari sanksi," kata Clara bersemangat. Wanita itu belum sepenuhnya mengerti dunia BIN. Boby tersenyum.


"Kamu siap menghilang bersamaku?" tanya Boby pada Clara.


"Menghilang?" tanya Clara heran. Boby menceritakan tentang dunia spionase. Dia akan memiliki banyak topeng untuk melakukan tugasnya. Tugas yang bisa jadi lama. Bukan tugas penyamaran pengintaian seperti yang biasa dirinya lakukan. Mungkin juga tidak akan sering pulang. Menghapus semua data tentang dirinya dan Clara tentu saja. 


"Mungkin aku dipecat dulu dari kepolisian. Kemudian dapat identitas baru sebagai sipil. Karena aku sudah memilikimu, maka kamu juga terkena imbas. Kamu akan keluar dari Bhayangkari. Data mu juga terhapus kalau sudah menikahi seorang polisi. Kita mungkin tidak hidup dikota ini. Menghilang dari orang orang yang sudah mengenal kita," jelas Boby panjang lebar. Clara sedikit merinding. Apa rasanya hidup seperti itu?


"Kita akan hidup menjadi unknown and nothing people," kata Boby mempertegas. Clara merinding lagi. 

__ADS_1


"Aku diberi waktu tiga hari untuk berfikir. Setelah itu jika aku terima, maka aku akan berada di asrama STIN. Mungkin sekitar empat tahunan. Ini juga cara cepat naik pangkat. Anggap saja aku dapat promosi. Jika aku masih jadi polisi seperti sekarang ini, aku akan butuh setidaknya 9 tahun lebih untuk jadi perwira. Itu pun harus sekolah lagi, harus kuliah lagi. Di BIN aku bisa menjadi perwira dengan menempuh 4 tahun saja. Yah… walaupun nantinya juga bukan perwira polisi…. Hanya setara dengan perwira. Orang BIN akan tercatat sebagai warga sipil," kata Boby. Kedua orang itu kembali menarik nafas dalam.


"Menerima, tapi harus berpisah lama…. Atau dapat sanksi," kata Clara menyimpulkan. Boby mengangguk sambil tersenyum kecut.


__ADS_2