Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Restu


__ADS_3

Headset yang dipakai pedagang cilok itu berisik sekali.


"Kembali ketempat bodoh!! Sebentar lagi target datang. Gak mungkin pedagang cilok ngobrol inggris sama bule," perintah Revan marah marah pada Boby. Jon yang menyamar jadi tukang parkir warung depan masjid langsung pura pura beli cilok agar Boby bisa kembali ke gerobak ciloknya tanpa dicurigai.


"Bang, ma rebu bang!" seru Jon. Boby kembali ke gerobaknya. Jon melihat Clara berjalan setelah wudhu. Langsung mengerti kenapa Boby keluar dari skenario pengintaian.


"Lapor komandan. Singa 1 melihat mantan," bisik Jon mendekatkan rompi parkirnya ke bibir. Revan mengumpat kesal.


"Fokus Bob!!! Fokus!! Gagal melakukan operasi ini keluar dari timku. Ann jing!!" kata Revan mencak mencak dari dalam mobil.


Seorang datang dengan mobil sedan. Boby mencoba fokus walau hatinya kalang kabut. Pria itu turun dari mobil. Membawa dua tas kain lusuh masuk masjid. Ambil wudhu dan sholat.


Rombongan Clara keluar masjid setelah sholat.


"Mungkin the next pasangan kontroversial kampus adalah Rama dan Clara," celoteh Ita sambil keluar masjid. Rama sengaja minta salaman sama Clara usai mereka sholat. Pura pura kayak pasangan suami istri.


"Rama itu pasangannya Sinta bukan Clara," kata Clara menanggapi.


"Lalu Clara pasangannya siapa?" tanya Rama sedikit kecewa. Clara terdiam sejenak. Dalam hatinya menjawab Boby dengan yakin. Entah mengapa dia amat sangat merindukan Boby.


"Gak ada, Clara mau begini saja," jawab Clara sambil kembali memakai sepatunya.


"Besok aku ubah dongengnya menjadi Rama dan Clara," kata Rama sambil mengulurkan tangannya. Membantu Clara berdiri setelah memakai sepatunya. 


"Makasih Mas," kata Clara.


"Kok Mas? Tadi Kak," tanya Rama tidak melepaskan tautan tangan mereka menuju parkiran motor.


"Aku… suka Mas, panggilan Kakak membuatku…. malas... Takut terjadi hal hal buruk lagi," jawab Clara asal. Rama tertawa.


"Aku hanya akan menyebabkan hal baik sama kamu," jawab Rama ceria. Rombongan Clara kembali melanjutkan perjalanan.


Jawaban asal dari mulut Clara membuat Boby di sudut masjid semakin terbakar…. Andai tidak sedang tugas begini Boby sudah memukul manusia yang membonceng Clara itu. Boby terus menenangkan dirinya dengan menarik nafas panjang. Orang yang diawasi keluar masjid hanya membawa satu tas lusuh yang dia bawa masuk. Berjalan santai masuk mobil dan pergi. Tak lama dua orang pemuda berboncengan masuk masjid. Balik membawa satu tas lusuh itu dan membawanya pergi.


"Alur terbaca komandan," lapor Boby.


"Kamera record," lapor Ine.


"Ijin meninggalkan lokasi dan menyudahi operasi," kata Boby pelan. Ingin segera mencari Pocik.


"Negatif…. Kembali ke markas!!" balas Revan. Tidak mengijinkan anak buahnya pulang. 

__ADS_1


***


Boby pulang ke rumahnya malam hari. Setelah dimaki maki Revan karena keluar dari skenario penangkapan. Mampir sebentar membeli sebotol miras.


Pulang dengan muka yang semakin awut awutan. Tidak langsung masuk rumah justru mlete di teras. Meminum mirasnya dengan santai. Rasanya tetap sama. Tenggorokannya menolak, tapi iblis di dalamnya membantu. Jujur Boby lebih suka minum minyak goreng, sayangnya minyak goreng gak bikin mabuk.


Boby mnyalakan rokok. Menghirup asap tembakau itu. Menahannya sampai asapnya memenuhi seluruh paru paru. Kemudian menghembuskan perlahan. Bayangan senyuman Pocik membayang nyata… juga gandengan tangannya. Boby tersenyum miris. Siapa yang sanggup menolak pesona Pocik??? Mamanya….. jawab hatinya sendiri…. Penolakan itu membuat Pocik pergi…. Memilih gandengan dengan pria lain. 


Boby menyalakan hapenya. Lagu berjudul Lelakon Tresno milik Alm. Didi Kempot mengalun.


Koyo sumendale nyowo kang cinabut soko rogo


Kowe pamit lungo megat tali tresno


Hang rusak tali akromo


Kowe lali kowe cidro


Kowe kepincut marang nafsune durjono


Tak leremke atiku senajan kesekso batinku


Aku percoyo marang gustiku


Jembare samudro pangapuraku


Boby ikut bernyanyi. Kepalanya mulai berat. Suaranya sudah tidak sesuai lagu. Air mata deras memenuhi matanya. Semakin lama nyanyiannya berubah menjadi teriakan. Boby teriak teriak sendiri di depan rumahnya. Dia sebenarnya bukan tipe pemabuk yang teriak teriak atau ngamuk. Biasanya hanya diam menikmati pusing dikepalanya. Akan tetapi kesedihan karena melihat Pocik move on darinya membuat Boby tidak terkontrol lagi.


Papanya keluar karena mendengar suara sumbang Boby.


"Astaga!!! Sadar le… sadar….," kata Tono. Orang rumah langsung heboh. Boby dipapah masuk oleh Tono dan Dito. Dibaringkan di kasur kamarnya masih dengan meracau menyanyi. Juga airmata yang deras memenuhi pipi. Boby yang .... mengenaskan….


Dengan bercucuran air mata Santi melepas sepatu Boby. Saat akan pergi meninggalkan kamar Boby, anak sulungnya itu berkata:


"Ma, biarkan Boby sama Clara…. Pocikku gak mau dekat aku karena Mama….. Ma…. Aku cuma cinta Clara….. aku cuma mau Clara….." Sesenggukan Santi memeluk Boby. Baunya sungguh memuakkan. Alkohol, bercampur rokok dan bau badan. Santi sadar anaknya hancur berantakan. Bahkan lebih rusak daripada Clara sendiri yang janda. Apa…. Clara masih mau menerima anak bobroknya???


***


Boby tersadar pagi hari. Tidak terlalu mual. Berarti kemarin tidak terlalu banyak minum. Samar Boby teringat aktivitasnya semalam. Memalukan!!!! Orang mabuk itu tidak berarti tidak ingat. Dia ingat, tapi tidak bisa mengontrol dirinya. Astaga….. masih punya muka kah dia untuk keluar kamar??? Harus ada muka biarpun sedikit. Dia harus kerja.


Boby keluar kamar saat sudah rapi. Berharap tidak bertemu siapapun. Apesnya adik iparnya lagi keluar kamar sebelahnya. Menimang keponakan lucunya yang belum genap seminggu.

__ADS_1


"Mas," sapa Jesi. Boby hanya mengangguk.


"Sarapan Bob! Mama udah bikinin jahe hangat. Sama ibuprofen buat mabuk kamu," kata Santi dari arah ruang makan. Boby tersenyum kecil. Mamanya sudah mau bicara dengannya.


Ternyata lengkap sudah rasa malunya. Mertua adiknya dan keluarganya semalam menginap disini. Ruang makan penuh orang dan semalam dia mabuk mirip orang gila…. Haaa Boby mau pura pura gila…


"Ini dia dewa mabuk kita. Dewanya ketinggalan tinggal mabuknya saja," komentar Papanya. Seisi rumah langsung tertawa. Boby cuma nyengir kuda. Tono sudah bosan memarahi Boby. Sudah dalam tahap terserah.


Sarapan usai. Boby bersiap masuk kerja lagi.


"Bob, Mama minta maaf… Mama mengijinkan kamu sama Clara kalau kamu maunya sama janda itu," kata Santi saat Boby memakai sepatunya di teras. Masih terselip nada emosi diakhir kalimat. Boby mengangguk. Matanya sedikit berbinar.


"Mama mau terima dia?" tanya Boby. Santi mengangguk terpaksa.


"Kapan Mama bisa lamarin dia buat kamu?" tanya Santi dengan berat hati. Sejujurnya dia gak ikhlas! Tapi mau gimana lagi?? Anaknya itu bisa tambah rusak.


"Boby udah lost contact sama Clara… dia gak mau dideketin Boby. Tapi restu dari Mama adalah senjata baru untuk memaksanya mau menerima Boby lagi," kata Boby sambil senyum. Memeluk Mamanya sejenak.


"Makasih ya Ma," kata Boby girang. Santi cuma bisa menarik nafas panjang.


***


Boby masuk kantor dengan semangat baru. Mengikuti apel pagi dengan tegak dan sedikit senyuman.


"Edan kamu habis dimarahi komandan kemarin?" bisik Beri.


"Aku kedanan rondo (aku tergila gila janda)," jawab Boby sambil berbisik juga. 


Usai apel Boby melihat Nando sibuk bikin kopi buat Ine. Masih juga di plonco secara pribadi sama Ine. Goblognya si Nando nurut.


"Udah lah Ne, kasihan si Nando," kata Boby sambil masuk ruang kerjanya.


"Biar, gak seneng banget sih aku punya budak," jawab Ine kejam.


"Jadi budak cinta kopok kamu nanti," kata Boby.


"Ha…. Ineke Chintya tidak akan jatuh cinta sama lelaki kaya Nando!!" Kata Ine percaya diri. Nando datang dengan secangkir kopi. Meletakkan hati hati di sisi Ine.


"Berapa sendok gulanya?" tanya Ine. 


"Sesuai permintaan Mbak. Satu sendok, tambah setengah sendok, tambah seperempat sendok," jawab Nando.

__ADS_1


"Asyuuuu," umpat Jon mendengar takaran sendok gula. Ine cuma melirik. Mencoba kopi yang dibuatkan Nando.


"Masih paiiittt!!! Minggir sana!!! ini pasti gara gara aku minum kopi di depan kamu!" kata Ine pada Nando. Pria itu menyingkir dengan gemas. Ine minum kopi buatan Nando lagi… lagi… dan lagi sampai habis.


__ADS_2