Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Semalam bersama tim Iptu Revan


__ADS_3

Dini hari tiba….


Pukul 01.00 tim bergerak dari kantor. Boby membuka hpnya di jalan. Sebenarnya adalah hal yang tidak diizinkan. Mengganggu konsentrasi bertugas. Akan tetapi Boby adalah orang yang bandel untuk mengumpulkan hape sebelum bertugas. Jadilah hape masih anteng di saku celananya. 


Ada status Nina bertengger sekitar sore tadi. Menampilkan Clara, Nina dan Rama yang selfie bersama. Keterangan dibawahnya Nina menulis. 'Yang muda yang bercinta, yang tua berbisnis saja'. Hati Boby terbakar seketika. Apa Pocik sudah benar melupakannya?


Boby memejamkan matanya. Menghirup nafas panjang demi menenangkan diri. Jon tahu persis perubahan muka Boby. Menutup ht yang dia bawa.


"Konsen Bob. Revan lagi garang garangnya. Entah apa yang akan dia lakukan kalau kita melakukan kesalahan," kata Jon pelan. Boby hanya mengangguk.


"Apa ini bisa kami rekam?" tanya Gina yang duduk di mobil bagian belakang.


"Rekam saja dirimu sendiri sepuasnya," jawab Boby ketus.


Lokasi pertama…


Tim menggedor rumah seorang pemuda. Langsung dibukakan pintu sama ibunya. Tim merangsek masuk mencari pemuda yang diincar. Masih tidur memeluk guling. Revan membangunkannya.


"Jek, bangun Jek….," kata Revan sambil menggoyang goyangkan badan Jek dengan kaki. Pemuda itu mengerjap kebingungan sudah ramai orang.


"Happy birthday to you….. happy birthday to you…." nyanyi Boby diikuti teman temannya yang lain termasuk Revan. Mereka asyik nyanyi sambil memborgol tangan Jek. Yang setengah bangun setengah tidur. Tiga wartawan yang mengikuti aksi polisi itu sampai bergetar menahan tawa atau kamera mereka goyang. Penangkapan pertama berlangsung seru dan tanpa perlawanan.


Penangkapan kedua berlokasi di sebuah pemukiman gang sempit. Lokasinya terletak di pinggir sungai. Mobil anggota tidak bisa masuk. Terpaksa jalan kaki untuk mencapai lokasi.


Revan menggedor rumah tersangka. Tidak dibuka dengan cepat. Revan menyuruh Boby dan Nando menyebar di sekeliling rumah. Mata Boby melihat sosok yang berlari menuruni sungai.


"Di belakang rumah… target lari," seru Boby melalui htnya.

__ADS_1


Boby berlari mengikuti orang itu. Turun menuju permukaan sungai. Berhasil meringkusnya dengan sedikit pergumulan singkat. Haa siapa bisa menang adu fisik dengan Boby. Nando lebih dulu sampai menyerahkan borgol pada Boby. Tangannya bergetar. Ini penangkapan perdana untuk Nando.


"Ayah!!!" seru seorang bocah di depan pintu belakang rumah itu.


"Nessa… pergi…" seru tersangka pada anaknya. 


Nessa…… Clara Nessa….


Seketika cengkraman tangan Boby melemah pada tangan tersangka. Hal itu diketahui tersangka. Dia menggunakan kesempatan itu untuk menusuk lengan Boby dengan pisau dapur yang diselipkan di balik bajunya.


"Aaawww!!" teriak Boby. Tubuhnya dipegang Nando sebelum terjatuh.


Tersangka kabur nyemplung sungai. Revan melihatnya langsung membidik dengan pistolnya. Tembakan terdengar…. Tersangka langsung mengapung di air. Bau anyir darah tercium seketika.


"Ayaaahhhhh…. Ayaahhh!!!" seru bocah kecil itu berlari menuju sungai. Tangan Jon sigap menarik bocah itu untuk tidak mendekat. 


Bocah itu mendekati Revan. Memukul paha Revan dengan tangan kecilnya.


"Kamu jahat!!! kamu jahat!!! Kamu tembak Ayahku!!" teriaknya dengan pilu. Air Mata banjir memenuhi pipinya. Revan diam. Memandang pilu bocah itu. Diam saja meski didorong dan dimaki. Rasa didadanya campur aduk. Istri tersangka datang memeluk bocah itu menjauh.


"Maaf!!" kata Revan lirih sebelum bocah itu pergi digendong ibunya. Air mata membayang pada matanya yang tajam. Mau tidak mau Revanlah yang telah membunuh ayah bocah itu. Dia membidik punggung kiri tersangka. Dan ketepatan Revan menembak sudah diakui kesatuannya.


Revan menarik nafas dalam demi menenangkan emosi yang bergejolak pada dirinya. Bersandar pada pepohonan yang tumbuh di pinggir sungai itu. Revan tahu rasanya kehilangan orang tua saat masih kecil. Sekarang dia pelaku rasa itu untuk bocah lain.


Revan teringat senyuman ibunya. Tawa saat dia dan ibunya main bersama. Kemudian film diotaknya berubah saat ibu dibawa turun dari ambulan dalam keadaan yang tidak bernyawa. Caci maki keluarga bapaknya pada jenazah ibu yang dia sayangi. Revan kecil hanya bisa menangis. Memeluk tubuh ibu yang dingin dan kaku.


"Bodoh!!" maki Revan saat tandu Boby melewatinya. Yang ditandu masih bisa nyengir meski terlihat pucat. Pisau yang menancap ternyata cukup dalam dan banyak mengeluarkan darah.

__ADS_1


Tersangka dinyatakan meninggal ditempat. Jenazahnya dibawa dengan kantong mayat untuk diotopsi lebih lanjut.


"Tidak selamat?" tanya Revan pada Dokter forensik yang membawa kantong mayat. Dokter forensik menggeleng.


"Punggung kiri tembus jantung, apa yang bisa diharapkan? ketepatanmu seperti bakat alami Van," kata dokter itu kemudian berlalu. Revan melirik ke arah rumah tersangka. Bocah kecil itu masih menangis sesenggukan di pelukan ibunya.


Revan berjalan kembali kemobil. Masih menyesali tindakannya, walaupun tentu saja itu dapat dipertanggung jawabkan. Tersangka lari dan melukai anggotanya. Berenang disungai kaki dan tangan tersangka tidak terlihat. Hanya dada yang bisa dibidik. Pistol yang menyelip dipinggangnya sudah mendingin. Dia mengelus benda itu sejenak. Iya benar, kenapa dia berbakat sekali dalam menembak? Padahal Bapaknya hanya seniman kayu. Apa.... Ibunya dulu seorang penembak???


"Minum Pak," tawar Beri yang tahu atasanya galau. Revan memerima botol air dengan diam. Otaknya kembali kemasa kecilnya. Tentang ibunya yang mengajari main ketapel. Bahkan cara bidik itu yang digunakan Revan saat memegang senjata sekarang. Bahkan ibunya tahu bahwa batu diketapel akan melenceng 1 mili tiap satu meternya. Akan melenceng kemana arah angin saat itu bertiup. Itu kurang lebih adalah hukum senjata yang diyakini para sniper.


***


Boby dibawa kerumah sakit bersama Nando. Tim lain menyelesaikan tugas mereka malam ini.


"Kenapa bisa terlepas Mas?" tanya Nando heran. 


"Licin, gak lihat aku mandi lumpur kaya gini?" jawab Boby yang memang badanya penuh lumpur karena bergelut di bibir sungai. Haaa semua ini gara gara Clara Nessa… pikir Boby kesal.


Nando menarik sesuatu yang nyelip dikaki Boby. Cacing tanah yang cukup besar dan panjang. Boby langsung girap girap saat tahu benda apa yang ditarik Nando.


"Caciiing!!! Caciiing!!! Singkirkan bodoh!!! Buang!!! Buaaaang!!!" kata Boby heboh. Dia paling jijik sama cacing. Andai lengannya tidak berdenyut seperti ini, dia pasti sudah lari menjauh.


Nando dengan jahilnnya justru mendekatkan cacing itu didepan muka Boby yang berbaring lemah.


"Ini Mas, lihat. Panjang banget kaya mie ayam. Sayangnya warnanya kemerahan gini dan gerak gerak," kata Nando santai. Muka Boby lebih pucat dari yang tadi. Tim medis yang bersama mereka nyekiki saja.


"Ndo, kalau kamu gak buang benda itu, aku akan bilang Pak Revan kalau kamu menyukai Ine," ancam Boby. Nando langsung menarik cacing itu dari hadapan Boby. Membuka jendela ambulan sedikit dan membuangnya.

__ADS_1


"Udah terbang dia Mas, mengikuti kemana angin membawanya," kata Nando seperti pujangga.


__ADS_2