
Mereka menghabiskan malam itu dengan canda dan tawa. Boby membantu Clara menjahit pesanan pelanggan, walaupun lebih banyak ngerecokinnya.
"Susah Poc, lebih enak gelut atau menarik pelatuk pistol," kata Boby saat disuruh Clara ngesom kemeja. Tangannya kaku sekali memegang jarum dan kain.
"Mau jadi suami soleh gak? Kalau mau ya lakukan," jawab Clara sambil nyengingis.
"Yuk nyicil gladi resik jadi suami soleh," ajak Boby menarik Clara kedalam kamar.
"Kak, gak macem macem yaa jahitanku banyak," kata Clara yang tidak mau beranjak. Boby dengan cepat menarik tubuh Clara. Membantingnya ke kasur yang empuk. Memberikan satu kecupan panjang yang sulit ditolak Clara.
Tangan Clara yang menyilang di depan dadanya menyulitkan pergerakan tangan Boby.
"Ini jangan disini dong," pinta Boby menyingkirkan tangan Clara yang menempel erat.
"Gak boleh, ciuman aja," jawab Clara di sela sela ciuman mereka. Tahu benar buaya yang sedang menindihnya ini bisa membuat bajunya terlepas tanpa disadari.
Boby tersenyum mendengarnya. Menghormati keputusan Clara yang gak mau diobok obok. Meskipun tangannya gatal luar biasa.
Mereka pergi cari makan setelah menyelesaikan pekerjaan Clara. Waktu sudah menunjukkan tengah malam sebenarnya, tapi dua sejoli itu enggan berpisah. Nostalgia sama sate kesayangan Pocik.
"Mau dilamar pakai apa?" tanya Boby disela sela mereka makan.
"Terserah, yang penting dilamar dan dinikahi. Kamu gak boleh kabur karena udah buka bajuku kemarin dulu. Membuka berarti membeli!" jawab Clara. Boby tertawa mendengarnya.
"Kalau gitu kenapa gak boleh dibuka lagi? Aku kan mau ngecek barangnya masih sama atau tidak," kata Boby mencari kesempatan.
Clara sudah siap menjawab dengan omelan, tapi hape Boby berbunyi. Telpon dari mamanya.
"Dimana!!! Dasar bocah bandel!! Keluyuran terus gak jelas!!" omelan Santi membuat Boby menjauhkan telinganya dari ponsel.
"Pelan pelan Ma, aku belum budeg," jawab Boby santai.
"Dimana kamu!" ulang Santi masih ngegas.
"Aku sama calon menantu Mama yang cantik. Yang udah gak ngambek lagi dan lagi asyik membicarakan lamaran," jawab Boby sambil mencium tangan Clara. Santi terdiam sesaat.
"Ya udah, kalau selesai cepat pulang!" kata Santi sebelum mengakhiri panggilannya.
__ADS_1
"Apa mamamu gak papa bilang lamaran secepat ini?" tanya Clara.
"Yang perlu dikhawatirkan adalah restu orang tuamu. Mau gak punya menantu kaya aku," jawab Boby.
"Enggak bakalan!! Kalau aku jujur sama mereka kamu sering jajan apem," jawab Clara. Boby langsung cemberut.
"Apa boleh aku minta yang itu dirahasiakan saja?" tanya Boby penuh permohonan. Tidak percaya diri sekali kalau itu dibahas. Bahkan untuk melamar nenek nenek sekalipun.
"Janji kamu berubah?" tanya Clara serius.
"Janji… serius janji," jawab Boby yakin. Mengeluarkan jari kelingkingnya. Clara ikut mengaitkan kelingkingnya.
"Terimakasih sudah memberiku kesempatan Sayang," kata Boby bahagia.
"Setiap orang punya salah, setiap orang harus diberi kesempatan. Tidak ada manusia yang sempurna. Aku juga tidak sempurna. Tapi ingat kesempatanku hanya sekali saja! Dan itu berlaku seumur hidupmu. Sekali saja kamu melanggar aku akan meninggalkanmu," ancam Clara serius. Boby mengangguk patuh. Dia sama sekali tidak ingin menyia nyiakan kesempatan dari Pocik.
Boby mengantar Clara pulang setelah menyusun rencana akan sama sama mengenalkan orang tua masing masing.
***
Perkenalan di keluarga Clara juga mulus. Boby diterima dengan baik. Apalagi keluarganya tahu Boby lah orang yang ada di samping Clara saat proses perceraian dulu berlangsung. Boby ikut menyiapkan resepsi pernikahan Tito dan Hani.
***
Clara berhasil menambah tiga outlet minuman. Dia memilih tempat tempat strategis yang menjanjikan. Walaupun biaya sewa tempatnya lumayan lebih mahal. Usaha jahitnya juga berkembang. Entah mengapa ternyata memasang embel embel mahasiswi DMB di ISI membuat orang lebih percaya padanya.
***
Hari arisan tiba. Clara sampai lembur menyiapkan baju Mama Santi dan dirinya. Dia juga harus ikut pakai dress code. Malas sebenarnya. Bagi Clara pakai baju bertema sama itu buang buang waktu. Tidak sesuai dengan stylenya sendiri.
Clara datang kerumah Boby. Menjemput calon mertuanya itu dari rumah menuju lokasi.
"Sini masuk dulu Mbak, mama masih dandan," kata Jesi sambil menggendong Ayuna. Clara tersenyum. Masuk rumah sambil menoel pipi Ayuna sebentar.
"Apa rasanya kuliah Mbak?" tanya Jesi.
"Sibuk, apalagi kalau punya kerjaan lain," jawab Clara yang bener bener keteteran membagi waktu.
__ADS_1
"Aku juga pengen kuliah Mbak. Biar kaya kamu, tapi punya bayi begini," kata Jesi.
"Lha itu juga kuliah kehidupan Jes, belajar jadi ibu yang baik," jawab Clara.
"Gak seru Mbak, gak bisa haha hihi kaya Mbak Clara," kata Jesi manyun.
"Pociikk," Boby nyembul dari ruang tengah. Sudah rapi dengan baju standar kerja. Celana jeans dan kaos seadanya.
"Jeleknya…. jeleknya Pak De," kata Boby menggoda bayi di pangkuan Jesi. Yang punya anak manyun.
"Namanya Ayuna bukan jeleknya!!" kata Jesi.
"Jelek, yang cantik cuma yang ini," kata Boby sambil menoel dagu Clara.
"Ih, bucin!!" Jesi tahu diri masuk kedalam rumah.
"Kamu masuk?" tanya Clara. Boby mengangguk.
"Pengintaian lageeee.... lage lageee pengintaian. Yang aku males gabutnya nungguin target," curhat Boby. Langsung nempel dekat Clara.
"Ya biar gak gabut sambil lihat cewek mulus mulus di tik tok," kata Clara yang pernah mergokin hp Boby. Aplikasi itu penuh cewek mulus joget joget. Boby tersenyum mendengarnya.
"Cie yang cemburu cie," kata Boby sambil menowel dagu Clara. Clara menabok tangan Boby.
"Kamu pikir waktu ngintai bisa melihat hp gitu?? Bisa sih, tapi habis itu mataku dicolok Revan," kata Boby sambil tertawa. Clara diam saja. Matanya agak ngantuk karena terus terusan tidur dini hari.
Boby mencuri satu ciuman di pipi Clara.
"Kak!! Jangan gila dong!" Clara protes. Matanya mengawasi ruang tengah. Untung sepi. Boby malah menarik leher Clara mencium bibir Clara dengan rakus. Tangannya merambat turun membelai punggung Clara dari balik bajunya. Sudah mengusap pengait yang dipakai Clara. Dengan cepat Clara memegang tangan Boby di punggungnya. Dia harus selalu siaga kalau Boby menyentuhnya. Meleng dikit bajunya terlepas. Minimal wadah gunungnya.
"Ehem…" dehem Mama Santi mengakhiri ciuman panas Boby. Clara menunduk malu, sedang Boby nyengir saja.
"Wih, Mamaku cantiknya kayak bidadari turun dari kayangan….tapi lima puluh tahun lalu," kata Boby sambil nyekikik.
"Enak saja… Mama gak kalah cantik dari Clara ya," kata Santi pede. Boby tertawa.
"Iya, wes daripada diamuk," kata Boby. Kemudian melepas dua orang wanita yang amat sangat disayanginya untuk pergi berdua.
__ADS_1