Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Kembali berjuang


__ADS_3

Tiga hari itu membuat mereka semakin pusing. Kabar yang didengar terakhir, Boby tetap akan melakukan sidang kode etik. Jika dirinya menerima bergabung dengan BIN, maka pemecatan yang akan dirinya terima. Jika menolak bergabung, maka sanksi seperti penundaan jabatan dan mutasi yang akan dirinya terima. Seperti sanksi yang diberikan pada Revan.


"Kalau gitu terima saja sanksi seperti Revan," kata Clara yang mau aman aman saja. Tidak masalah hanya mutasi dan penundaan jabatan.


"Itu hal memalukan untuk kami Poc. Bayangkan saja… seorang segarang Revan sekarang cuma bisa duduk. Mengurus administrasi kantor. Itu…. Seperti orang bodoh. Lagian aku juga dapat posisi bagus nanti. Kesempatan yang tidak datang dua kali," kata Boby sambil meringis. 


"Lalu… kamu akan menerimanya Kak?" tanya Clara serius.


"Itu tergantung kamu…. Aku mau tanya serius sama kamu…. Maukah kamu ikut berpetualang denganku? Maukah kamu berjuang denganku?" tanya Boby sambil lekat melihat bola mata Clara. Wanita itu kelu lidahnya. Membuka mulutnya, namun tidak terdengar jawaban.


***


Boby memakai seragam kepolisian untuk terakhir kalinya. Mengikuti sidang kode etik yang akan memecat dirinya dari kepolisian. Memulai karir baru menjadi agen intelijen tak terlihat. Boby mengusap tanda pangkat di bahunya. Clara memeluknya dari belakang. Bersandar pada punggung Boby dengan nyaman.


"Aku akan ikut kemanapun kamu pergi. Aku akan menemani dimanapun kamu berada. Kamu… bisa jadi bukan siapa siapa. Tapi kamu berharga untukku," bisik Clara memberi motivasi. Boby tersenyum. Memberikan satu ciuman singkat di bibir Pocik.


Boby berangkat menuju sidang. Clara sudah bersiap menyerahkan kembali baju pink yang banyak orang banggakan termasuk dirinya dulu. Boby benar dipecat. Kariernya sebagai polisi hancur. 


***


Esoknya Boby dan Clara sudah ada di bandara. Melepas kepergian Boby untuk kembali sekolah. Yang nantinya akan bergelar S.In (sarjana Itelejen) gelar yang juga tidak akan tercatat dalam nama Boby kelak. Haaa entah..... seperti kekonyolan atau keseruan. Boby tidak perlu melewati serangkaian tes lokal. Selain karena sudah pernah bergabung di kepolisian, juga karena Boby merupakan siswa pilihan mereka. Jaminan langsung masuk sebagai taruna.


"Tunggu aku kembali Poc," kata Boby sebelum meninggalkan Clara. 


"Aku mau cari sampingan suami," kata Clara sambil tersenyum. Sekuat tenaga menahan diri untuk tidak menangis. Dia adalah suport system satu satunya untuk Boby sakarang. Tidak boleh cengeng…. Tidak. Boby tertawa.


"Coba saja… aku mau lihat kamu laku sama siapa," kata Boby. 

__ADS_1


Pria itu terbang dengan pesawat menuju Bogor. Tempat pelatihan khusus untuk agen khusus. Boby akan berlatih di Batujajar selama satu bulan. Kemudian pindah ketempat yang lebih misterius lagi. Tempat yang tidak ada papan namanya. Hanya gapura selamat datang di sisi jalan. Jalan masuknya berada di sisi hutan. Setelah masuk dan diperiksa secara ketat, terdapat bangunan tidak beraturan mengikuti kontur tanah. Tidak ada papan nama. Tidak ditemukan alamatnya di internet. Semuanya serba gelap. Boby dilatih dengan beberapa orang taruna putra dan putri.


"Selamat datang di tempat ini. Tancapkan di otak kalian. Kalau kalian lulus dari sini, kerja kalian berhasil tidak dipuji, gagal dicaci maki," kata seorang instruktur lantang. Menyambut para calon siswanya.


***


Clara terisak sendirian di bandara Adi Sumarmo. Tertunduk lesu di sebuah kursi. Berdoa semoga suaminya baik baik saja. Selalu diberi perlindungan dan keselamatan.


"Clara…. Kenapa menangis disini?" tanya suara yang mengejutkan Clara. Wanita itu mendongak. Melihat Rama yang heran melihatnya.


"Raa…. Rama… sedang apa disini?" tanya Clara sambil menghapus air matanya. Berdiri dari duduknya. 


"Mengantar Mami keluar kota. Kamu sendiri kenapa?" tanya Rama. Clara tersenyum kaku. Gugup sekali menjawab.


"Mengantar suamiku," jawab Clara sambil berlalu berjalan pelan.


"Suamimu pindah tugas?" tanya Rama penasaran. Ikut berjalan pelan.


"Oh, aku turut sedih," kata Rama sambil memegang tangan Clara. Wanita itu terjingkat kaget. 


"Eehhh, terimakasih. Aku permisi… aku… harus syuting. Judulnya realita kehidupan," jawab Clara sambil nyengir. Melepas tautan tangan mereka. Rama tertawa mendengarnya. Clara mempercepat langkahnya. Ternyata Rama mengikutinya.


"Mau ke kampus?" tanya Rama sambil menyeimbangkan langkah dengan Clara.


"Gak, mau jualan pecel," jawab Clara asal. Menyesal kenapa bandara begitu luas. Rama tersenyum.


"Kamu masih lucu aja Ra. Aku jadi terus bahagia kalau sama kamu," jawab Rama jujur. Mata mereka bertemu sejenak. Clara bukan wanita kebo yang gak tahu lawan bicaranya tertarik padanya. Tepatnya masih tertarik.

__ADS_1


"Mas, aku mau boker…. Aduh toilet dimana yak," kata Clara tanpa malu. Padahal aslinya cuma mau menghindari Rama. Keduanya celingukan mencari toilet. Rama menemukannya. Dan Clara bergegas kesana.


***


Teman teman Boby heran dengan keputusan sidang kode etik. Sampai menggeruduk rumah saat mendengar berita itu.


"Kenapa Boby terima saja dipecat? Kenapa mau seperti itu? Revan saja tidak dipecat!! Kalian bisa mengajukan banding Ra!!" kata Ine berapi api. 


"Sudahlah Ne… biar saja. Toh sudah terjadi," jawab Clara santai.


"Lalu kemana Boby sekarang?" tanya Jon mulai curiga. Matanya lekat memandang Clara. Mencari kebohongan yang mungkin tersirat. Jujur Clara gugub. Menghadapi gerombolan polisi yang terlatih untuk mencari kebohongan bukan hal mudah.


"Dia… dapat kerja… ikut Pak Liknya," jawab Clara terbata. Jon tersenyum.


"Benarkah?" tanya Jon sambil mengangkat alisnya. Kembali lekat melihat mata Clara.


"Iiya, begitulah," jawab Clara dibuat sesantai mungkin.


"Pak Liknya rumahnya Batujajar?" tanya Jon lagi. Bocor informasi kalau BIN mencari calon siswa sudah tersebar sampai telinganya. Jaringannya di kepolisian memang banyak. Jon itu orang yang sangat mudah bergaul. Clara semakin gelagepan. Bingung mau lanjut bohong atau jujur. Akan tetapi sampai mati dia sudah janji untuk tidak mengaku. Jon mengangguk. Senyum lebih lebar mengambang dari bibirnya. Beri, Ine dan Nando semakin kepo.


"Kamu tahu apa Jon?" tanya Ine.


"Aku tidak tahu apa apa. Tapi aku yakin Boby baik baik saja," kata Jon yakin. Mereka meninggalkan rumah Clara dengan perasaan bertanya tanya kecuali Jon.


***


Mama Santi menyalahkan Clara atas dipecatnya Boby. Segala sumpah serapah dikeluarkan.

__ADS_1


"Ini gara gara punya istri kayak kamu!! Boby itu anak yang baik bukan pembangkang. Kamu pasti yang punya pengaruh buruk untuk Boby," kata Santi saat peringatan kematian Tono yang keempat puluh hari. Dikatakan pelan, tapi menusuk hati. Keluarga tahu Boby mengikuti pelatihan kerja di Bogor. Tidak bisa dihubungi karena sibuk.


Clara ingin menangis. Clara lelah mau bersandar. Akan tetapi dimana dia sanggup bersandar dimana dia sanggup mengadu?? Orang yang saat ini paling dirindukan sedang berjuang. Mencapai mimpi dan cita cita Baru. Entah apa kabarnya. Komunikasi secara langsung terputus. Clara hanya diberi nomor telpon jika ingin menanyakan kabar. Tidak ada suara Boby…. tidak ada kata penyemangat dari suaminya. Hidupnya sepi berkalang rahasia. Yang harus dibawa sampai mati. Kabar via telepon oleh operator wanita itu. Yang menandakan suaminya masih hidup dan masih berjuang disana. Clara masih dalam keyakinan kalau suatu saat bisa berkumpul dengan Boby lagi. Mendengar semua canda dan tawanya. Berpelukan sepanjang malam. Akting jadi tukang pijit dan banyak hal hal bodoh yang kembali bisa dilakukan.


__ADS_2