
Pukul enak lewat lima belas menit. Aku terbangun dengan dua bantal di atas kepala sehingga membuatku sangat kaget. Siapa yang melemparnya? Ternyata ibu. Ia berdiri sambil berkacak pinggang menghadap ke arahku.
"Ibu, apa-apaan sih? Aku kan kaget!" kataku, sambil menyingkirkan dua bantal tersebut ke samping. Lalu hendak menarik selimut.
"Jam segini belum juga bangun. Kamu mau apa Di? Pantas saja rumah tangga enggak akur, jadi istri malas-malasan terus, cobalah kasih contoh yang baik untuk Caca dan Cici!" ungkap ibu.
Tuduhan itu terus saja diarahkan padaku. Bagi ibu, apapun yang terjadi dalam rumah tangga kamu, akulah yang bersalah. Sementara Ben, ia adalah korban ketidak beresanku menjadi seorang istri sehingga membuatku menjadi semakin kesal.
"Ibu itu selalu saja menyalahkan aku. Ibu pernah nggak sih coba posisikan diri sebagai aku? Kalau ibu jadi aku, mungkin ibu akan melakukan hal yang sama atau mungkin lebih. Aku ke sini cuma mau nyari ketenangan, tapi ibu sepertinya usaha sekali membuatku tidak nyaman." Kataku.
"Mau nyari nyaman? Heh Diandra, kamu itu sudah punya dua anak, masa bangun masih siang. Kamu nggak mau salat? Nggak malu sama Caca dan Cici?" kata ibu lagi. "Itu anak berdua sudah bangun sejak Subuh, sudah mandi dan salat juga. Tapi kamu ibunya, bukannya ngasih contoh yang baik, malah begini. Sudah, sekarang ayo bangun dan salat, lalu siapkan anak-anak kamu mau berangkat ke sekolah!" perintah ibu.
"Tapi Bu," aku tak mau menguraikan bahwa semalam baru tidur pukul dua dini hari sebab pikiranku yang begitu kusut.
"Nggak ada tapi-tapi, kamu mau ibu usir dari sini?"
"Astagfirullah, ibu tega sekali. Lihat saja nanti, kalau aku sudah punya tempat tinggal sendiri, kami nggak bakal ngunjungi ibu supaya ibu tahu bagaimana rasanya jauh dari anak cucu."
"Astagfirullah, jahat sekali otak kamu Di!"
"Biarin, supaya ibu kapok dan belajar menghargai anak sendiri. Jangan sibuk membela orang lain terus. Lihat saja nanti, apa Ben akan menjaga ibu kalau nanti ibu sudah tua atau sakit-sakitan? Lagipula ibu juga tega sama kami. Ibu sendiri kan yang bilang tadi mau ngusir kami. Biar Caca dan Cici dengar kalau neneknya orang yang tega!"
"Diandra!" pekik ibu. "Bukan begitu maksudnya ibu."
__ADS_1
Sebelum ibu semakin murka, aku buru-buru kabur ke kamar mandi. Segera mandi, supaya tidak terlalu terlambat salat Subuh.
Usai salat, aku segera mengganti pakaian, bersiap-siap mengantarkan Caca dan Cici ke sekolahnya.
"Caca dan Cici sudah sarapan?" tanyaku pada si kembar.
"Sudah ma." jawab mereka serentak.
"Tuh kan, enak di sini dari pada di rumah, nenek rajin masak pagi-pagi. Iya, kan?" kataku, sambil memeriksa tudung nasi. Rupanya masih ada satu kotak lontong sayur kesukaanku. Ternyata, meskipun menyebalkan, tetapi ibu masih perhatian. Buktinya ibu menyiapkan makanan favorit saat aku sedang tidak enak hati.
"Sembarangan. Kamu kira ibu mau meladeni istri durhaka seperti kamu." cetus ibu.
"Astagfirullah ibu, kok begitu banget ngomongnya sama aku." aku bersungut-sungut, kesal dengan penilaian ibu.
"Lalu apa namanya? Istri yang pergi dari rumah suaminya hanya gara-gara suami ketiduran. Suamimu itu kelelahan Diandra, sejak pagi sudah bekerja keras untuk kalian. Tapi kamu malah membalas dengan sikap seperti itu. Egois kamu Diandra. Harusnya kamu bersikap baik pada Ben. Melayani dia dengan sepenuh hati. Lupakan kesenangan pribadi kamu.
"Nggak akan pernah bu."
"Diandra!"
"Ibu itu nggak apa-apa."
"Apa yang ibu nggak tahu. Ben tadi datang ke sini nganterin sarapan untuk kita. Dia bahkan sengaja membelikan menu kesukaan kamu supaya kamu enggak marah-marah lagi. Tapi dia pamit duluan karena takut emosi kamu belum reda dan semakin marah saat melihat dia datang.
__ADS_1
Di, lihat anak-anak kamu. Mereka sudah mau besar, kalau kamu terus menerus bersikap egois seperti ini, mereka bisa mencontoh kamu. Mau kamu begitu?"
"Ibu, sudahlah. Aku capek ngedengar nyinyiran ibu. Kalau ibu nggak suka kami di sini nggak apa-apa. Nanti aku bisa bawa anak-anak pergi supaya ibu puas. Bela saja Ben terus, jangan lagi anggap aku anak ibu. Oh ya, sekalian itu lontong sayurnya, untuk ibu saja. Itu kan dari menantu kesayangan ibu. Supaya ibu semakin senang." aku buru-buru mengambil tas, lalu menarik Caca dan Cici dengan paksa agar mereka mengikutiku.
"Di ... Diandra. Jangan egois Di, dengarkan ibu!" pinta ibu dari pintu rumah.
Aku tak menghiraukan ibu, terus berjalan meski kedua anakku mengeluh sebab kesusahan mengikuti langkahku yang terlalu cepat.
Sampai di ujung jalan, barulah aku berhenti. Sesak sekali rasanya dada ini mendengar kata-kata ibu. Mengapa selalu saja aku yang disalah-salahkan? Mengapa ibu tak mencoba untuk bersikap adil? Bukankah seharusnya seorang ibu membela anaknya?
Pantas saja Ben besar kepala sebab ibu selalu membelanya mati-matian. Bagi ibu dialah yang paling benar, sedangkan aku tak pernah benar.
Tangisku pecah. Sudah tidak bisa lagi tertahan. Sesak di dada ini membuatku benar-benar merasa sedih. Aku merasa sendiri. Tidak ada yang paham bagaimana perasaanku. Tidak ada yang mendukung, termasuk ibu kandung sendiri. Menyedihkan sekali bukan?
"Mama ... Mama nangis?" tanya Caca.
"Mama kenapa nangis? Gara-gara dimarahi nenek ya? Makanya Mama jangan nakal. Jangan berantem terus sama papa. Mama kan juga nggak suka kalau Caca dan Cici berkelahi, nenek juga begitu ma, nggak suka ngelihat mama dan papa berkelahi." ungkap Cici.
"Mama, jangan nangis. Nanti kalau dilihat orang, mama ditertawakan lho. Mama nggak malu? Kan mama sudah besar." tambah Caca. "Ma, ayo dong ma diam. Kita ke sekolah Caca saja. Nanti kalau pulang mama minta maaf sama nenek supaya nenek nggak marah-marah lagi ya.".
"Caca, Cici ... bisa nggak jangan berisik? Mama pusing dengerin kalian. Lagian ibu juga gara-gara kalian. Kalau tadi malam kalian langsung tidur, mama nggak akan marah sama papa. Ngerti!" aku melampiaskan kekesalan pada Caca dan Cici.
"Iya, maaf ya ma. Nanti Caca nggak akan berantem lagi sama Cici. Caca akan nurut sama mama." ungkap Caca.
__ADS_1
"Cici juga ma." mereka berdua menyalamiku sebagai permohonan maaf.
Ya Tuhan, lalu sekarang harus bagaimana? Aku nggak mau berada dalam bayang-bayang Ben lagi. Aku ingin bebas. Nggak mau disalah-salahkan oleh mama lagi!