ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
77. Novel Dan Penolakan


__ADS_3

Diri yang semula semangat ketika datang ke kantor penerbitan, tiba-tiba jadi kehilangn energi, seperti orang yang baru sakit tipes. Badan jadi lemas semuanya sebab mendengar penjelasan dari salah satu editor senior yang mengurus novelku sejak pertama hingga ke dua ini.


"Saya benar-benar minta maaf mbak Di, novel kedua mbak Di tidak bisa diterbitkan di sini." kata pak Heru, yang terhitung masih saudara jauh mbak Hana. Ucapannya benar-benar seperti petir di siang bolong. Aku seperti dihempaskan, sakit sekali.


"Kenapa begitu pak? Katanya kemarin sudah naik cetak? Bahkan duminya sudah jadi. Tapi kenapa sekarang jadi begini." tanyaku.


Iya. Kenapa tiba-tiba batal? Ada apa ini?" mbak Hana tampak tidak sabar dengan penjelasan dari Abang sepupunya itu. "Mas jangan menutupi apapun. Katakan saja, apa alasannya kenapa novel Diandra tidak bisa terbit? Kan sudah proses editing dan editornya sendiri yang mengatakan kalau novel ini sangat menjual sebab emanya baru, kayak true story' gitu. Lalu kenapa tiba-tiba begini? Bahkan kemarin contoh cetaknya juga sudah dikirimkan pada Diandra."


"Mbak, tenang dulu. Biar pak Heru menjelaskan semuanya." pintaku. Sebenarnya sama seperti mbak Hana, akupun penasaran. Apa alasannya? DP sudah diberikan padaku, kalau batal, lalu bagaimana caraku untuk mengembalikan semuanya. Ahhh, pusing sekali. Meski begitu aku tetap berusaha tenang. Bagaimanapun penerbitan ini adalah partner kerjaku dan ku harap kerja sama ini terus berlanjut hingga selamanya. Menjaga attitude adalah salah satu cara mempertahankan relasi.


"Ya tidak bisa saja." jawab pak Heru.


Tentu saja jawaban itu memancing emosi kami berdua. Kami sudah menunggu cukup lama, untuk mendengarkan penjelasan dari pak Heru. Semua diminta hadir pukul delapan pagi, terapi baru ditemui menjelang makan siang. Itupun tak memberikan alasan yang jelas.


"Mas, lebih baik katakan yang sebenarnya!" pinta mbak Hana. Nada suaranya sudah meninggi. Mungkin karena ia bisa merasakan kecemasanku. Tak mudah menanti janjian yang tak jelas sambil membawa bayi berusia tiga bulan yang kondisi kesehatannya sedang tidak fitt. Sejak tadi entah berapa kali Rizky menangis karena pilek.


"Ya ya ya. Tapi nggak perlu marah-marah begitu. Atasanku minta novel itu dicancel." jawab pak Heru.


"Ya tapi kenapa? Pasti ada alasannya?" mbak Hana masih mengejar.

__ADS_1


"Penyebab pastinya aku juga tidak tahu, tapi kata rekanku karena mbak Di bermasalah dengan salah satu pemegang saham di perusahaan ini." kata pak Heru.


"Maksudnya? Tolong ceritanya jangan setengah-setengah atau aku bisa marah nih!" mbak Hana semakin meradang. Ia yang biasanya calm dan sabar saja bisa sekesal ini, apalagi aku.


"Jadi pemegang saham yang memberikan instruksi agar novel mbak Di dihentikan. Bahkan seluruh karyanya di cut. Makanya saranku, jangan kirim ke sini lagi sebab kalau sudah kena cut nggak akan ada peluang lagi sekalipun naskah mbak Di sangat menarik pasar." jelas pak Heru. "Coba kirim ke beberapa penerbit kecil saja dulu, yang penting karya ini terbit." tambahnya.


"Kenapa pemegang sahamnya meributkan naskah Diandra? Memang dia punya masalah apa?" pertanyaan mbak Hana masih belum selesai. Ia masih bingung dengan beberapa hal, sementara aku sudah terlanjur patah semangat.


"Ya aku juga tidak tahu. Rasa-rasanya isinya tidak menyinggung. Atau mungkin mbak Di ada masalah sama pak Tomo." kata pak Heru.


"Siapa namanya?" Tanyaku dan mbak Hana berbarengan.


"Pak Tomo, pemegang saham 50 persen perusahaan ini. Ia baru membelinya kemarin dan langsung meminta menghentikan proses cetak novel-novel mbak Di. Bahkan novel pertama langsung digudangkan. Padahal penjualannya lagi bagus-bagusnya" jelas pak Heru.


Jadi pak Tomo pelaku semua ini. Tapi kenapa? O, aku tahu. Mungkin ini caranya untuk menekanku agar menuryri keinginannya tinggal bersama. Aku jadi semakin curiga, jika pak Tomo benar-benar peduli karena aku anak kandungnya, kenapa ia malah memutuskan jalan rezekiku?


"Lalu sekarang apa yang harus saya lakukan, pak?" tanyaku. "Jujur saja yang DP yang bapak bayarkan sudah habis." uang itu memang sudah kuberikan pada mbak Hana untuk melunasi hutangku padanya. "Apakah penerbit bisa memberikan saya waktu agar bisa mengembalikan uang DPnya? Sepertinya saya butuh waktu beberapa bulan."


"Kalau masalah itu tidak usah dipikirkan mbak Di, yang DP tidak perlu dikembalikan." jawab pak Heru.

__ADS_1


"Alhamdulillah. Ya sudah kalau begitu pak " Aku bangkit dari duduk, lalu berlalu keluar. Semoat terdengar percakapan pak Heru dan mbak Hana yang masih berdebat.


Langkahku benar-benar gontai. Kalau tak ada Rizky di gendonganku, mungkin sudah ku henoaskan saja badan ini. Tega sekali lelaki itu. Bagaimana aku bisa percaya ia benar-benar perduli padaku.


Ya Allah ...


"Di ... Diandra!" mbak Hana mengejar langkahku. "Kamu nggap apa-apa, kan?"


"Nggak apa-apa mbak." ku paksakan senyum agar mbak Hana tak terlalu cemas meski sebenarnya akupun resah. Harus kukatakan apa pada Ben, padahal aku sudah menjanjikan akan membantunya iuran untuk membeli rumah baru kami sebelum kontrakan habis.


Kami sudah menghitung, sebulan sebelum kontrakan habis sudah bisa membeli rumah sendiri dari uang penjualan rumah Ben yang lama, ditambah proyek barunya dan juga honor buku keduaku. Tapi sepertinya aku tak akan bisa berkontribusi sebab sekarang semua harapan itu telah pupus. Naskahku ditolak.


"Mbak, punya kenalan penerbit lain nggak? Enggak apa-apa deh penerbitan kecil. Atau ada yang mau beli putus naskahku? Aku jual murah, separuh harga juga boleh." kataku, penuh harap. Ahhh, rasanya dadaku benar-benar sesak. Baru sehari kami merasakan bahagia, mimpi kami akan terkabul, bisa punya rumah yang tidak jauh dari rumah mbak Hana, ternyata semuanya harus pupus.


Pak Tomo, kenapa ia tega sekali padaku. Apa yang sebenarnya ia inginkan dariku? Sepasang mataku rasanya benar-benar panas. Aku tak bisa menahan air mata ini. Maaf jika akhirnya aku menjadi Diandra yang cengeng.


"Di, maafkan aku ya." pinta mbak Hana, ia menepuk pelan pundakku.


"Bukan salah mbak Hana, justru mbak sudah banyak membantu kami, nasibku kenapa begini banget ya. Mau bahagia Kok ujiannya ada-ada saja." Cetusku, yang sudah mulai pesimis.

__ADS_1


"Di, semangat ya. Kamu pasti bisa mewujudkan mimpimu. Bukan, maksud aku mimpi anak-anak kalian. Kan kamu yang bilang hanya akan memprioritaskan anak-anak, berarti kamu harus lebih kuat dari sebelumnya. Harus lebih tahan banting lagi."


"Mbak Hana!" aku tak bisa untuk tak memeluk mbak Hana. Menangis di pelukannya rasanya adalah salah satu cara untuk melepaskan beban berat ini, meski hanya sesaat. Isak tangis itu semakin kencang. Ya, aku butun mengeluarkan semua rasa sedih ini. Meskipun harus jadi tontonan orang-orang yang lalu lalang.


__ADS_2