
"Mama!" Caca dan Cici berlari menghampiriku setelah Ben berlalu, bahkan kini ia tak tampak lagi oleh netraku.
"Mama udah ngomong sama papa? Mama sudah baikan? Mama udah nggak marah lagi, kan? Terus kapan kita pulang?" Caca mengeluarkan rentetan pertanyaan.
Sementara aku masih diam mematung. Tidak tahu harus menjawab apa sebab masih kaget dengan sikap Ben barusan. Ini pertama kalinya ia ketus dan sinis padaku. Biasanya tak pernah begitu. Bahkan seburuk apapun sikapku padanya, Ben selalu bersikap manis.
Lagi-lagi rasanya dadaku sesak. Apakah ini pertanda aku benar-benar sudah kehilangan Ben seutuhnya? Lebih parahnya ternyata aku sakit dibeginikan.
Tapi bukankah harusnya aku senang. Inikan yang aku inginkan. Bebas dari Ben. Nggak, sebenarnya bukan itu. Aku tak tahu pasti apa yang sebenarnya hatiku inginkan, tetapi saat ini aku hanya merasa benar-benar sedih sebab Ben sudah tidak peduli lagi padaku.
"Ma," Caca kembali memanggil.
"Kita balik yuk, mama juga harus kerja." kataku. Kini tak lagi menggandeng tangan kedua anak tersebut, mereka hanya mengikuti di belakangku. Mungkin anak-anak tahu bahwa aku sedang tidak baik-baik saja.
Sampai di depan cafe, aku mengingatkan Caca dan Cici agar tidak melakukan hal-hal yang membuat masalah.
"Hei Di, sudah jemput anak-anak?" tanya Anis. "Halo, ini pasti sikembar Caca dan Cici yang cantik, kan?" kini Anis beralih pada Caca dan Cici. Ia menyapa dengan sangat akrab, bahkan memberikan dua batang coklat.
"Maaf ya Nis, aku terlambat. Tadi mampir ke kantor Ben dulu." kataku.
"Oh, nggak apa-apa. Anak-anak suruh istirahat di kamar saja." Anis menunjuk satu ruangan yang sudah disiapkannya untuk Caca dan Cici. "Satu lagi, Di. Aku sudah bicara sama anak-anak. Mulai besok kamu sudah bisa tinggal di mess."
"Terimakasih banyak ya Nis." aku segera mengantarkan anak-anak ke kamar untuk istirahat, sebelum pergi, tidak lupa kupesan pada mereka agar menjaga sikap.
Selesai memastikan anak-anak baik-baik saja, aku kembali ke meja kasir. Di sana masih ada mbak Tari yang menggantikan ku.
"Molor banget baliknya. Katanya cuma setengah jam, tapi kenyataannya sampai dua jam lebih, nggak tahu apa, saya kan juga punya pekerjaan lain." mbak Tari mengomel.
Meskipun sebenarnya agak terkejut dengan sikapnya yang tiba-tiba sinis, tetapi aku tetap berusaha memaklumi. Jam makan siang adalah jam dimana cafe benar-benar rame oleh pengunjung, tetapi aku malah pergi keluar dengan waktu yang lebih lama, ia juga punya pekerjaan lain yang harus diselesaikan, pantas saja kesal padaku.
__ADS_1
Tetapi, yang membuatku tak habis pikir adalah sikap karyawan lainnya. Semuanya berubah jadi sinis dan serentak nyuekin aku. Saat aku bertanya, mereka mendiamkan.
Apalagi ini?
Hari ini rasanya benar-benar frustasi. Setelah kecewa dengan sikap Ben, sekarang teman-teman kerja.
"Jangan pikirkan Di, cuekin saja. Anggap nggak terjadi apapun !" aku terus menyemangati diri sendiri hingga akhirnya jarum jam menunjukkan angka tiga sore. Berarti waktu kerjaku sudah habis. Sekarang bisa ketemu Caca dan Cici lalu pulang.
***
"Mbak Di itu nggak punya perasaan banget, ya. Jangan mentang-mentang hidupnya sudah, terus mau nyusahin orang lain juga. Mbak kira hidup kita sudah enak, enggak mbak. Kami juga susah. Gaji pas-pasan, tapi sekarang harus dibagi untuk ngontrak kosan gara-gara mbak Di mau Makai mes. Egois banget. Sama-sama orang kecil jangan begitu lah!" kata mbak Rini, yang dituakan di cafe ini.
Mereka sengaja mencegat langkahku sebelum pulang. Kini terjawab sudah, kenapa mereka semua yang semulanya baik berubah jadi sinis dan judes padaku. Ternyata mereka tidak terima sebab Anis menyuruh mereka pindah.
Memang mess itu milik Anis, tapi selama para karyawan di sini tinggal di sana, tak dipungut bayaran sepeserpun, bahkan kadang dapat makan malam gratis juga.
Ini jadi jalan bagi mereka untuk menghemat pendapatan sebagai karyawan di cafe.
"Maaf mbak," aku tak bisa mengatakan apapun selain minta maaf. "Saya juga sebenarnya nggak mau tinggal di sana, tapi Anis maksa, makanya nggak bisa berbuat apa-apa selain menerima. Saya juga sudah mengatakan tentang mbak-mbak, tapi kata Anis nggak akan ada masalah." aku menguraikan kembali apa yang dikatakan Anis kemarin.
"Apanya yang nggak jadi masalah, mbak. Kalau kami harus tinggal di luar berarti harus keluar uang untuk ngontrak." ungkap mbak Tari.
"Maaf mbak, kalau begitu nanti saya katakan pada Anis bahwa saya menolak tinggal di sana." aku mencoba memberikan solusi.
"Jangan mbak, kalau begitu nanti malah kita yang diintimidasi oleh Bu Anis. Kalau begini saja bagaimana, kita tinggal bareng-bareng di mess." usul mbak Tari.
"Bener mbak saya boleh tinggal di sana sama anak-anak?" aku menatap tak percaya.
"Tentu saja boleh mbak Di, masih ada dua kamar kosong kok, tempatnya juga paling depan dan terpisah dari ruangan kami, ada kamar mandi dalam juga. Kalau mbak mau bisa menempati kamar itu." tambah mbak Tari lagi.
__ADS_1
"Kalau begitu sekarang juga saya akan ngomong sama Anis supaya mbak-mbak nggak perlu pindah."
Akhirnya satu masalah terselesaikan. Aku bisa bernafas lega meski sebenarnya masih ada yang mengganjal jati. Tidak lupa sebelum pulang aku menemui Anis untuk menyampaikan hasil pembicaraan kami.
Semula Anis agak keberatan dengan alasan kenyamanan untuk anak-anakku. Tapi setelah meyakinkan, akhirnya Anis mengizinkan juga.
"Terimakasih banyak ya Nis, maaf lho kalau aku nyusahin kamu terus." kataku.
"Enggak apa-apa Di, lagipula ini memang sudah tugasku sebagai teman untuk membantu temannya. Tapi ngomong-ngomong kapan Ben ke sini?"
Pertanyaan Anis itu tak bisa aku jawab. Bagaimana aku bisa tahu sementara hubungan kami saat ini benar-benar tidak baik-baik saja
***
Sore ini aku dan anak-anak sibuk berbenah barang-barang yang sebenarnya tidak seberapa untuk pindahan. Siapa sangka, tak berapa lama datang mbak Tari dan mbak Rini yang siap membantu mengangkat barang-barang. Rasanya aku benar-benar terbantu oleh mereka.
Rencana pindahan besok akhirnya dipercepat sore ini. Kami menempati kamar paling ujung yang terpisah dengan rumah inti sehingga aku dan anak-anak ada privasi. Selain satu kamar itu dilengkapi juga dengan ruang tamu kecil dan sebuah kamar mandi.
"Semoga setelah ini kita benar-benar bisa pindah ke rumah kita sendiri." kataku pada Caca dan Cici.
"Kenapa nggak ke rumah papa saja?" Caca menatapku penuh tanda tanya.
"Karena kehidupan mama dan papa sudah tidak bisa bersama-sama lagi, nak." aku mengusap pelan kepalanya.
Memang agak susah menjelaskan pada anak-anak bagaimana kondisi kami saat ini. Caca dan Cici hanya memahami kalau aku dan Ben bertengkar seperti dulu. Jika sudah saling memaafkan akan bisa kembali.
"Apa sekarang yang marah itu papa?" tanya Caca.
"Hm," jawabku.
__ADS_1
"Apa mama melakukan kesalahan? Tapi kan biasanya papa nggak pernah marah. Selalu lembut pada mama karena papa sayang mama."
Caca masih menerka-nerka apa yang terjadi antara kami, sementara Cici kembali sibuk dengan bukunya.