ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
66. Persiapan Perang


__ADS_3

[Hai nak, apa kabar hari ini? Apa ibumu masih ngotot ingin pergi? Atau justru sekarang sedang kesal sambil mengomel tentang ayahmu? Semoga kau sabar ya nak, begitulah ibumu.] pesan dari Ben diikuti dengan emoticon tertawa.


Apa-apaan ini? Tidak lucu. Ben itu tak bisa melucu, tapi sok-sokan memaksakan diri bisa melucu. Dasar garing! Aku yang semula sudah biasa-biasa saja jadi kesal karena pesan darinya. Ia kira aku akan tertawa? Pastinya tidak!


[Nak, bagaimana? Apa ibu Di sudah bisa senyum sekarang, atau malah tambah kesal?] pesan kedua dari Ben.


Aku jadi tak bisa menahan diri, akhirnya terpancing juga untuk membalas pesan Ben. Tentu saja bukan balasan manis yang aku kirimkan, tapi Omelan untuk meluapkan kekesalan di hati. Sekalian saja, dari pada kesalnya numpuk di hati. Toh, katanya ibu hamil itu harus selalu bahagia. Kalau ada yang tidak enak maka harus dibicarakan!


[Kamu benaran tidak mengizinkan aku menyelesaikan masalah ini? Bukankah sebelumnya kamu yang mengatakan, apapun masalahnya harus diselesaikan. Jangan pernah lari dari masalah. Apa kamu sudah lupa itu semua, Ben?] pesan yang aku kirimkan pada Ben.


[Iya, aku masih ingat semuanya Di.]


[Terus kenapa ingkar? Itu namanya nggak konsisten. Laki-laki itu yang dipegang adalah kata-katanya.]


[Hahaha, maafkan aku. Tapi ini benar-benar demi masa depan kita. Lebih baik menghindar dulu Di, lagipula kamu kan bagus mempersiapkan lahiran.]


Rasanya kecewa mendapati balasan demikian dari Ben. Ku kira ia akan terus mendukung perjuanganku, tak peduli bagaiaman bahayanya nanti. Yang jelas kami sudah berusaha menegakkan kebenaran.


[Di, maafkan aku. Percayalah, ini demi kebaikan kita semua. Aku tak mau kau ataupun ibu dalam masalah. Ibu juga memintaku untuk menasihati kamu. Aku percaya kamu akan berpikiran kalau aku plin-plan, tapi sekali lagi aku tekankan, ini demi kebaiakan kita bersama. Aku sayang menyayangi kamu, Di.]


Aku meletakkan HP di atas meja kecil, lalu membaringkan diri. Mencoba menelaah tiap episode dalam hidupku. Tidak ku pedulikan lagi Hp yang terus berdering karena pesan-pesan yang masuk.


Rasanya hidup ini benar-benar seperti potongan puzzle yang nantinya akan membentuk sesuatu dari tiap episode yang kita jalani. Entah apa akhir ini semua nantinya.


Aku sudah memutuskan, tidak akan tinggal diam. Meskipun ibu dan Ben melarang. Aku akan hadapi pak Tomo dengan bidangku sendiri.

__ADS_1


Segera aku bangkit dari tempat tidur, membuka laptop putih pemberian Ben. Lalu dengan kincahnya jemariku merangkak huruf demi huruf menjadi kata, hingga pada akhirnya tercipta sebuah cerita. Ya, aku akan melawan ayah kandungku sendiri dengan tulisan seperti yang aku mampu. Ia harus mendapatkan balasan untuk kejahatannya.


***


"Ma, mama ... Mama." suara Caca memanggilku sambil mengguncang pekan tubuhku.


Perlahan, netra ini terbuka. Lalu gampak wajah sikembar tersenyum padaku. Rupanya ibu yang menyiruh mereka untuk membangunkan aku sebab azan Maghrib sudah berkumandang. Usai salat Ashar tadi aku masih melanjutkan tidur, siapa sangka ternyata aku tertidur. Mungkin karena terlalu lelah. Padahal tadi semangat sekali merangkai aksara.


"Sudah azan, mama nggak salat?" Tanya Caca.


"Oh iya, mama ketiduran." Jawabku.


"Mungkin mama kelelahan ngetiknya." Ungkap Caca lagi.


"Ini dari papa?" Tanyaku pada Caca dan Cici. "Berarti tadi papa ke sini?" aku bertanya ulang, lalu menimang buket bunga mawar yang diberikan Ben. Lumayan wangi meski sebenarnya aku tak terlalu suka bunga.


"Iya. Papa juga bawa martabak sama pisang molen kesukaan mama. Karena mama masih tidur akhirnya papa pulang deh." jawab Caca.


Aku langsung menyambar Hp, ternyata benar, ada banyak pesan dari Ben. Sepertinya ia mengira aku marah sebab tak kunjung memberikan balasan. Melihatnya begitu khawatir aku malah tertawa kecil, biarkan saja, ini balasan sebab ia sudah melarangku, padahal niatku baik.


***


"Apa ini, Di?" mbak Hana menatapku penuh tanya, usai membaca naskah kedua yang kukerjakan ngebut selama sepekan penuh. Yah, hanya sepekan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu novel pendek berisi seratus lima puluh halaman.


Mungkin bagi sebagian orang terasa mustahil, tapi tidak denganku yang punya hobi menulis. Apalagi menyelesaikan naskah yang benar-benar menantang untikku.

__ADS_1


Setelah naskah ini selesai, seprti naskah terdahulunya, aku menyerahkan pada mbak Hana untuk diberikan pada saudaranya yang punya penerbitan. Hingga sekarang aku memang masih ingin bekerja sama di sana meski sudah ada beberapa penerbit kecil yang menghubungi, mengajak untuk bekerja sama dengan banyak janji yang menurutku cukup menarik.


"Ini naskah keduaku, mbak. Batu selesai. Kan kata mbak Hana kalau ada naskah lagi tidak apa diserahkan pada mbak Hana supaya disampaikan pada suadaranya mbak Hana." kataku, mengulang kembali pernyataannya kala itu.


"Iya, tapi maksudku bukan begitu, Di." mbak Hana memijit keningnya. "Ini, isinya. Ini bukan khayalan belaka kan?"


"Ya bukanlah. Mbak kan tahu aku dan kisahku." jawabku, sambil tersenyum simpul.


"Ya ampun Di, kamu belum menyerah juga? Kan ibu dan Ben sudah melarang kamu untuk ikut campur dengan masalah Nasya. Ibu juga tidak mau kejadian buruk yang menimpa beliau dahulu diungkit kembali. Lalu kenapa kamu masih juga keras kepala. Sekarang aku mengerti, kenapa ibu bisa selalu kesal sama kamu, ternyata kamu benar-benar keras kepala, Di." kata mbak Hana sambil geleng-geleng kepala.


Mendengar komentar mbak Hana, aku tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Benar juga sih yang dikatakan ibu dan mbak Hana kalau aku adalah tipikal orang yang sulit mendengar nasihat orang lain kalau menurutku itu tidak salah. Yah semacam keras kepala. Tapi menurutku itu tidak salah sebab yang kulakukan benar.


"Jadi, mbak Hana mau bantuin aku, kan?" tanyaku, pada mbak Hana fenhan harapan ia tetap mau menolong.


"Memang kalau aku nggak mau nolongin, kamu mau apa?" tanya mbak Hana.


"Ya aku akan tetap melangkah. aku akan tetap mengirim naskah ini. Bagaimanapun caranya harus jadi naskah!"


"Tuh kan, kalau sudah begini bagaimana aku bisa nolak."


"Yes!" aku langsung memeluk mbak Hana. "Please segera kirim ya mbak Hana, kalau sudah langsung kabari aku ya mbakku yang baik." Kataku lagi.


"Iya iya. Kamu memang paling pintar, Di. Tapi ingat, kalau ada apa-apa, aku nggak mau tanggung jawab!" celetuk mbak Hana. "Bahkan jika ibu dan Ben marah, tetap kamu yang harus hadapi."


"Tenang saja mbak, aku berpengalaman menghadapi ibu." jawabku dengan santai, sementara mbak Hana kembali geleng-geleng kepala.

__ADS_1


__ADS_2