ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
27. Anis Bicara


__ADS_3

"Di," panggilan Anis menghentikan tangisku. "Bisa bicara sebentar?" pintanya, lalu memberi isyarat pada mbak Rini untuk meninggalkan kami berdua.


Setelah mbak Rini keluar dari ruangan tempatku dirawat, sekilas, Anis mengintip dari balik tirai, mungkin ia khawatir mbak Rini masih berada di sana, sebab setiap bangsal hanya dibatasi dengan tirai saja.


"Kenapa Nis?" tanyaku. "Kamu marah ya, soalnya aku sudah merepotkan kamu dan mbak Rini. Harusnya kan aku sekarang sedang bekerja. Maaf ya Nis, sejak aku kerja sama kamu, kamu harus terus direpotkan." ucapku, dengan penuh penyesalan.


Meskipun aku mengenal Anis, tetapi sebenarnya aku tak berharap perlakuan khusus darinya. Aku tetap ingin disamakan seperti pegawai lainnya. Tapi karena kondisi, akhirnya secara tidak sengaja terus membuat Anis direpotkan oleh kehadiranku dan anak-anak.


"Enggak kok Di, aku nggak apa-apa."


"Lalu kenapa?"


"Begini Di, aku perlu bicara serius dengan kamu. Aku pernah baca bahwa orang yang sedang hamil biasanya sensitif, kalau suasana hatinya tidak baik maka akan berpengaruh pada janinnya. Benar begitu, kan?" tanya Anis, sambil melihatku. Setelah aku mengangguk, ia melanjutkan pembicaraan. "Jadi gini Di, aku hanya ingin kamu tetap memegang apa yang sudah jadi keputusan kamu. Bukan karena apa-apa, tapi lebih pada ketenangan hati kamu dan calon anak kamu itu. Kalau kamu sudah nyaman berpisah dengan Ben, ya sudah, jalani saja apa yang sudah kamu putuskan tersebut. Toh, sebelumnya kamu memutuskan atas keinginan sendiri, tidak ada yang menyuruh apalagi memaksa, kan?"


"Iya."


"Nah, aku ingin memastikan bahwa kamu tak akan minta kembali pada Ben, kan?"


Aku tak tahu harus menjawab apa. Bahkan kini aku merasa bahwa perkataan Anis tidak seluruhnya benar. Memang aku yang menggugat. Itu adalah keputusan yang kubuat tanpa adanya desakan apalagi paksaan dari orang lain.


Aku menggugat Ben sebab merasa hidupku dengannya benar-benar melelahkan. Apa yang kuinginkan tidak kudapatkan. Bahkan aku merasa Ben tak sungguh-sungguh ingin memberikan kehidupan yang layak untukku.


Tetapi itu dulu, sebelum kami bercerai. Tepatnya, sehari setelah palu diketuk. Sekarang, aku malah merasakan sebaliknya. Aku merasa tak akan pernah lagi ada lelaki sebaik Ben.

__ADS_1


Pendapatannya memang tak banyak. Hanya cukup untuk kebutuhan hidup kami sehari-hari. Tapi sebenarnya Ben sangatlah bertanggung jawab. Ia tak pernah mengambil lebih gajinya, hanya seperlunya saja, untuk transportasi.


Sementara untuk makan, Ben lebih sering membawa bekal dari rumah yang lebih sering disiapkannya sendiri.


Sebelum dan sepulang bekerja, Ben selalu sedia membantuku. Mulai dari sekedar beberes rumah, mengasuh dan mengajari anak-anak, hingga membelikan kebutuhan dapur. Ben tak akan pernah menolak mengerjakannya. Ia begitu telaten melaksanakannya. Sesekali ia kecolongan tertidur, karena mungkin lelah dengan aktivitas di kantor.


Yang membuat aku komplain hanyalah tentang gajinya. Harusnya, sebagai seorang programmer dengan pengalaman kerja sudah cukup lama, Ben bisa dapat lebih. Tapi ia tidak mau meminta kenaikan gaji sebab Ben beralasan bahwa perusahaan belum terlalu berkembang. Ia memang masih bertahan bekerja di perusahaan teman seangkatannya sebab Ben ingin membalas jasa pada temannya tersebut yang membantu Ben membiayai kuliahnya.


Memang Ben sudah beberapa kali menjanjikan, dalam waktu dekat ia akan mendapatkan kenaikan gaji serta menerima bonus-bonus. Tetapi tuntutan hidup dari hari ke hari membuatku tak ingin menerima janji-janji Ben. Aku ingin ada perubahan saat itu juga, tapi Ben tak bisa memenuhi, makanya kuputuskan untuk menggugatnya.


"Di," Anis mengguncang pelan tanganku. "Kamu nggak akan balikan sama, Ben, kan?" tanyanya lagi.


"Kenapa?" aku yang sebenarnya masih belum on betul, balik bertanya.


Aku kasihan sama kamu, Di. Pasti selama ini hidup kamu begitu berat. Makanya kamu harus mencari kebahagiaan kamu sendiri. Kamu itu masih muda, cantik juga. Nanti pasti akan ada yang menggantikan Ben di hati kamu."


"Tapi apa Ben akan diam saja jika tahu aku hamil?"


"Makanya jangan sampai Ben tahu."


"Bagaimana caranya? Cepat atau lambat Ben akan tahu, Nis. Perut ini tak akan pernah bisa ditutupi. Lagian, kalau soal anak, Ben tak akan rela mengorbankan anak-anaknya."


"Gampang, kamu tinggal pergi yang jauh sampai anak ini lahir. Bagaimana?"

__ADS_1


"Lalu Caca dan Cici? Ben nggak akan diam saja jika aku membawa anak-anak darinya. Lagian dengan apa aku bertahan hidup. Aku ini nggak punya apa-apa, Nis. Ibu rumah tangga bodoh, sudah tahu urusan finansial biasa bergantung pada Ben, masih saja nekat menggugatnya."


"Ya jangan disesali Di. Namanya nggak jodoh, mau bagaimana lagi?"


"Tapi aku nggak punya dana untuk pergi. Lagian aku harus mempersiapkan segala hal untuk menyambut kelahiran anakku nantinya."


"Kalau soal itu kamu jangan khawatir. Aku akan bantu kamu, Di. Aku akan Carikan kontrakan, biaya sewa selama satu tahun juga akan aku bantu melunasinya. Kamu hanya perlu fokus melanjutkan kehidupan.


Untuk bertahan hidup, aku akan memodali kamu jualan. Bagaimana Di? Kamu mau, kan? Demi kebaikan kamu dan anak-anak sebelum Ben tahu segalanya."


"Tapi Nis,"


"Atau kamu memang berpikir ingin kembali?" Anis menatapku tajam, dengan tatapan menyelidik, yang membuatku tak bisa berkata apa-apa selain menggelengkan kepala.


Mana bisa aku berharap lebih. Sekarang Ben tak peduli padaku. Kalaupun kami kembali, apakah Ben akan kembali menyayangiku seperti dulu? Ahhhh, aku tak ingin bermimpi terlalu tinggi, aku tak ingin menyakiti diri sendiri meski sebenarnya ini adalah salahku.


"Bagus. Berarti kamu harus ingat, tidak akan pernah balikan dengan Ben. Mengerti!" Anis kembali menegaskan. "Sekarang, aku harus segera kembali ke cafe, ada banyak yang harus diusut. Kamu di sini saja sama mbak Rini, untuk urusan pekerjaan, serahkan padaku. Nanti baliknya kalau sudah merasa baikan saja. Satu lagi, kamu pikirkan baik-baik apa yang aku katakan tadi, nanti kalau sudah punya keputusan, segera bicarakan padaku. Ya!" Anis menepuk pelan punggungku, lalu ia berlalu.


Aku benar-benar gamang. Tak tahu harus berkata apa. Semua terasa berat. Kepalaku sampai berdenyut-denyut, lebih sakit dari sebelumnya sebab rasanya takut membayangkan akan jauh dari Ben.


Kondisi seperti sekarang saja rasanya sudah sangat kepayahan. Apalagi jika aku harus pergi jauh darinya. Tidak bisa melihat Ben lagi. Tidak diajak bicara saja rasanya sakit, apalagi ditambah tak bisa melihat wajahnya lagi.


Ya Tuhan, apakah aku mampu?

__ADS_1


Inilah akibat tindakan gegabah yang selalu menomor satukan ego. Lagi-lagi hanya bisa menyesali.


__ADS_2