ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
92. Menemukan Nasya


__ADS_3

Kami masih sibuk berdebat. Sayangnya, hingga detik ini tak ada ide yang muncul di benak tentang bagaimana mengetahui keberadaan Nasya. Akhirnya hanya emosi yang kami kedepankan.


"Maaf ... bolehkah saya bicara?" tiba-tiba seorang gadis muda memakai seragam pembantu datang mendekat dengan takut-takut. Sebenarnya sejak tadi, mataku menangkap ia bersembunyi di balik tirai. Ku pikir ia hanya sedang menunggu perintah dari majikannya untuk menyiapkan sesuatu ketika menyambut tamu, tetapi ternyata aku salah, sepertinya ia tengah menunggu momen untuk berbicara.


"Anda siapa?" tanyaku.


"Nora ... apa yang kamu lakukan di sini? Cepat kembali ke dapur. Saya tidak membutuhkan kamu di sini!" bentak Melani pada perempuan bernama Nora tersebut sehingga membuatnya takut-takut.


"Tunggu dulu, mbak Nora mau bicara apa?" aku mendekat ke arahnya, baru hendak memegang lengannya, tiba-tiba Melani sudah datang lebih dulu, mendorong Nora dengan kasar agar segera keluar dari ruangan ini. "Nora, apa kau mau dipecat? Jangan berani lancang kalau kau tak ingin mendapatkan masalah! Sana pergi. Pembantu tidak punya adab, beraninya ke sini!" Ia hendak mendorong lagi, tapi segera kutepis.


"Kasar sekali!" teriakku.


"Dia hanya seorang pembantu!" Melani menegaskan posisi Nora.


"Ya, saya tahu. Lagipula kalau cuma pembantu apa salahnya? Apa semua pembantu di sinj tidak diizinkan bicara? Jahat sekali. Tapi ia manusia juga, sama seperti anda. Meski ia bekerja dengan anda bukan berarti anda bisa berbuat seenaknya pada mbak Nora. Toh ia tak melakukan kesalahan apapun. Ia hanya minta izin bicara!" kataku lagi.


"Diandra, kau bukan siapa-siapa di sini. Kami yang menggajinya, jadi terserah kami mau membuat peraturan seperti apa." Melani masih membela diri.


"Benar-benar kejam sekali. Kalian itu lebih bengis dari diktator!" Kataku.


"Itu bukan urusanmu!" Ia menatapku penuh kemarahan.

__ADS_1


"Sekarang mbak Naura bicaralah, saya ingin mendengarkan apa yang ingin mbak sampaikan." aku beralih pada mbak Naura, sambil memegang lengannya, berharap ia tak lagi takut sebab aku akan melindunginya dari kekasaran Melani. Tak ada gunanya berdebat dengan perempuan sombong yang merasa dirinya bisa melakukan apapun karena punya banyak uang.


"Sa ... saya tahu dimana mbak Nasya berada." katanya, dengan suara pelan namun bisa didengarkan oleh semua orang dalam ruangan ini.


Plak. Tomo menampar pipi Nora dengan begitu kerasnya hingga ia terhuyung. Ada jejak tangan Tomo langsung menempel di kulit pipinya yang memang putih. Nora langsung menangis tersedu-sedu. Mungkin karena ia kaget dan merasa sakit.


"Apa-apaan ini. Apakah begini sikap majikan yang baik. Seenaknya saja main tampar dan dorong. Kalian berdua barbar sekali. Menakutkan. Mbak Nora hanya bicara tapi kalian langsung naik pitam. Atau jangan-jangan ada rahasia yang kalian sembunyikan?" aku menatap Pak Tomo dan Melani dengan tajam. "Ayo jawab! Kalian takut makanya mau membungkam Nora?"


"Tidak perlu sembarang tuduh Diandra, saya ini ayahnya Nasya, ia satu-satunya pewaris sah darah saya, tidak mungkin saya menyakiti putri kandung saya sendiri. Statusnya berbeda dengan kamu yang hanya anak di luar nikah. Lagipula saya memukul pembantu ini untuk memberinya pelajaran agar ia tahu sopan santun. Di rumah ini, derajat pembantu dan majikan di bedakan. Pembantu tidak boleh sembarang bicara dengan siapapun tanpa seizin saya dan istri saya sebab mereka kami yang gaji.


Kami mengganjinya bukan untuk sembarang bicara, tapi untuk bekerja melayani keperluan rumah ini. Jadi, kalau ada yang melanggarnya maka akan kami tidak tegas supaya nanti tidak ada yang melunjak." ujar pak Tomo.


"Sekarang kamu pergilah ke belakang Nora!" perintah Melani, ia hendak mendorong Nora lagi, tapi kali ini aku tak akan tinggal diam, dengan sigap aku menangkis Melani hingga ia sendiri yang terdorong. Untung saja aku tak membalasnya dengan begitu keras sehingga ia hanya mundur beberapa langkah saja.


"Kau siapa?" Melani melotot padaku.


"Anda lupa siapa saya sekarang? Saya adalah pemilik baru rumah ini. Nora tidak lagi bekerja dengan anda, tapi dengan saya sebab sayalah tuan yang baru di rumah ini!" kataku dengan tegas.


"Kamu?" ia masih menatapku kesal.


"Katakanlah Nora." pintaku.

__ADS_1


"Saya tahu dimana mbak Nasya berada." ungkapnya.


"Nora!" kini giliran pak Tomo yang maju beberapa langkah hendak menyerang Nora, tapi dihalangi oleh pengacara-pengacara yang berada di sini.


Dua oeang pengacara memegangi pak Tomo, sementara dua lagi menjaga agar Melani tak menyerang lagi. Kini mbak Nora terlihat lebih tenang. Ia juga tidak terlalu gemetaran karena aku meyakinkan bahwa ia akan baik-baik saja.


Nora menuntun kami ke salah satu ruangan yang berada di sebelah kamar utama. Saat ruangan itu terbuka, tak ada siapapun di sana kecuali hanya kamar kosong. Kembali, Nora membuka sebuah lemari. Seperti yang pernah kulihat di film-film, ada ruangan rahasia di balik lemari tersebu. Ruangan yang gelap dan lembab. Ada aroma tak sedap yang kami cium di sana. Hanya beberapa langkah, aku melihat seseorang terbaring lemah di atas kasur busa dengan mata terpejam. Ia Nasya.


"Ya Allah Nas!" Aku berteriak histeris.


Kondisinya begitu memprihatinkan, tangan dan kakinya diikat, ada sisa makanan basi di sekitarnya. Nasya benar-benar lemah, mungkin karena ia terikat atau karena tidak mendapatkan sinar matahari. Yang jelas kondisinya benar-benar menyedihkan. Berbeda sekali saat terakhir bertemu.


"Di ... kamu sudah datang?" katanya dengan suara amat pelan, sambil membuka mata.


"Nas, aku sudah di sini. Ayo kita keluar!" aku meminta bantuan Nora dan oengacara untuk membopong tubuh Nasya ke kamar. Salah seorang lainnya menghubungi dokter.


Begitu beradap di kamar, kondisi Nasya terlihat makin memprihatinkan.


Tomo dan Melani benar-benar bangsat, berani sekali mereka menyakiti Nasya hingga seperti ini.


Tak lama, dokter keluarga Nasya datang. Ia tamoak kaget melihat Nasya dengan kondisinya saat ini. Selang infus dan beberapa suntikan langsung diberi pada Nasya agar kondisinya lebih baik.

__ADS_1


Selesai memberikan pertolongan pertama, aku meminta dua orang pembantu untuk membersihkan Nasya agar tak ada penyakit lainnya. Sementara di luar, Tomo dan Melani sedang menjalani pemeriksaan.


"Bawa saja mereka ke kantor polisi, pak. Penjarakan saja!" kataku dengan tegas. Rasanya kesal sekali, ada ayah kandung yang tega melakukan semua itu pada putrinya sendiri. Aku sendiri jadi ragu, apakah pak Tomo itu manusia atau iblis? Bahkan binatang saja tak melakukan kejahatan pada anak-anaknya.


__ADS_2