
Kesal sekali rasanya hati ini. Padahal semula aku berniat untuk mencari data dan menyelesaikan naskah, tapi semau harus berakhir dengan tragedi menyebalkan seperti ini. Aku tidak habis pikir, kenapa anak muda sekarang ada yang tidak tahu malu seperti itu. Berbuat mesum di tempat umum.
Dulu waktu aku seusia mereka mana pernah terpikirkan melakukan hal-hal tidak terpuji seperti itu, padahal aku tergolong bandel waktu SMA. Pernah bolos juga beberapa kali sebab stress dengan kehidupan yang aku alami.
Aku terlahir yatim. Ayah sudah tiada sejak aku masih berusia balita. Mama memutuskan untuk tidak menikah lagi, berjuang keras membesarkan aku sebagai seorang perawat.
Waktu ibu habis di rumah sakit. Demi memberikan kehidupan yang layak.
Tapi sebenarnya aku sangat kesepian. Pernah saking stresnya tinggal sendiri, aku sampai nekat mengaku sakit agar dirawat di rumah sakit supaya bisa bertemu ibu setiap saat.
Akibat dari tragedi tadi, aku jadi malas ke warnet lagi, tapi aku harus ngetik, sementara laptopku sudah rusak. Serba salah sekali.
Aku memutuskan menemui Ben di kantornya. Kalau harus menunggu hingga ia pulang rasanya sudah tidak sabar, sementara tidak mungkin menghubungi Ben sebab Hpnya sudah rusak.
Setelah naik angkot dua kali, lalu naik bis sekali, aku sampai di depan kantor Ben. Tidak butuh waktu lama aku sudah berada di depan resepsionis, minta dipanggilkan Ben.
"Di, kamu di sini?" belum sempat resepsionis memanggil, Ben sudah muncul di belakangku. Ia tidak sendiri, ada seorang perempuan bersamanya.
"Ben," kataku.
"Ada apa?" Ben mengajakku ke kantin kantor.
"Tadi siapa?" tanyaku.
"Oh itu, Nasya."
"Oh, itu yang namanya Nasya." aku ingat tentang gadis itu. Ia teman satu kuliah Ben. Sempat terdengar isu bahwa gadis itu menyukai Ben, bahkan ia kerja di sini juga untuk mengikuti jejak Ben.
"Kenapa Di? Anak-anak baik-baik saja, kan?"
"Kamu yang ditanya anak-anak terus."
"Oh ya, maaf. Kamu baik-baik saja, kan? Kamu sudah makan? Di sini ada lontong opor yang enak sekali. Aku pesankan ya."
__ADS_1
Ben segera berlalu menuju meja kasir, memesan satu piring lontong opor dan segelas jus alpukat kesukaanku.
"Nah gini dong." kataku, sambil mulai menyantap makanan yang disajikan Ben.
"Ada apa, Di?"
"Aku butuh laptop." kataku, tanpa perlu basa-basi sebab Ben suami sendiri, ngapain harus basa-basi.
"Hm, nanti kalau sudah gajian ya."
"Enggak mau. Maunya sekarang. Hari ini juga. Laptopku rusak gara-gara ketumpahan susu anak-anak. Kamu harus ganti, kan kamu ayah mereka."
"Tapi Di, uangku belum ada."
"Aku enggak mau tahu. Katanya kamu mau dukung aku mewujudkan mimpiku. Nah sekarang buktikan dong. Aku butuh laptop Ben. Aku ingin segera mewujudkan mimpiku. Lagipula kalau aku jadi penulis dan punya uang banyak, kamu juga pasti kecipratan enaknya. Jadi tolong belikan aku laptop. Hari ini juga. Aku enggak mau dengar alasan apapun." kataku, sambil menguap kembali lontong opor yang rasanya memang lezat.
Ben tidak menjawab, ia hanya menarik nafas panjang. Lalu terpaksa mengiyakan sebab aku kembali mendesaknya.
"Kamu kan yang janji bakal membahagiakan aku. Mana buktinya, Ben. Aku enggak mau di PHPin terus. Buktikan Ben dengan belikan aku laptop."
"Nah gitu dong."
"Kalau begitu aku masuk dulu ya. Ini masih jam kerja. Enggak enak lama-lama di luar. Oh ya, satu lagu Di, hari ini kamu yang jemput Caca dan Cici ya."
"Iya iya."
Ben segera kembali ke dalam kantor, sementara aku menghabiskan makanan pesanan Ben. Setelah habis aku segera berlalu menuju sekolah Caca dan Cici.
***
Pemandangan yang sama setiap menjemput Caca dan Cici, saat mobil-mobil mewah berbaris rapi di halaman. Tentu saja milik orang tua murid. Memang rata-rata anak-anak di sini kaya raya. Ini sekolah pilihan aku dan Ben. Kami sengaja menyekolahkan anak-anak di sini sebab kualitas sekolahnya yang sudah terkenal bagus.
Tidak perlu menunggu lama, Caca dan Cici sudah keluar, mereka tampak cemberut melihat kedatanganku. Penyebabnya adalah kalau aku yang jemput mereka tidak boleh jajan, pulang naik turun angkot, bahkan Harau jalan kaki. Sedangkan kalau bersama Ben, anak-anak akan diizinkan belanja, mereka juga tidak perlu jalan kaki sebab Ben naik motor.
__ADS_1
"Jangan cemberut begitu. Hari ini kita pulang naik taksi!" kataku.
"Benar mas?" tanya Caca, dengan tatapan tidak percaya, ibunya yang terkenal irit ternyata mau juga diajak naik taksi.
"Iya, Mama lagi senang karena hari ini papa mau beliin Mama laptop." kataku.
"Kalau begitu boleh beli es krim nggak?" tanya Cici.
"Ya enggak boleh dong!" jawabku, sehingga membuat mereka kembali cemberut.
Kami berlalu menuju jalan raya, menyetop taksi yang lewat, lalu naik menuju rumah. Sepanjang jalan anak-anak terus berbincang panjang lebar, sementara aku memilih diam memikirkan naskah seperti apa yang akan kutuliskan untuk debut pertama sebagai seorang penulis.
Sebenarnya ada banyak tema yang ingin ku angkat, tetapi masih ragu-ragu sebab masih butyh riset mendalam. Sementara aku belum punya waktu lebih.
***
Sudah pukul lima sore saya rumah sudah rapi, anak-anak juga sudah mandi. Hanya tinggal menunggu Ben pulang saja membawakan laptopku.
Saat aku berdiri di depan pintu rumah, tampak Bu Fenti, tetangga julidku berjilid-jilid sedang mengintip. Pasti ia sedang mencari aibku. Dasar ibu-ibu kurang kerjaan. Sebenarnya aku tidak mau peduli, tapi teringat kata-kata Bu Irma tadi sore yang mengabarkan kalau Bu Fenti pengen membuat konten tentangku. Ia mau memvidiokan aku yang sedang marah-marah. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk mempermalukan aku.
Semoga saja Ben pulang bawa laptop. Kalau tidak aku pasti akan terpancing lagi. Sebenarnya lelah juga setiap hari harus marah-marah, tapi mau bagaimana lagi, Ben tidak juga peka-peka sementara beban hidup semakin bertambah dari hari ke hari.
"Mama nungguin papa ya?" tanya Caca, diikuti Cici.
"Hm," jawabku.
"Mama jangan marah sama papa lagi ya. Kasihan papa." ungkap Cici.
"Iya Ma, gara-gara Mama marah kemarin, papa enggak tidur, jagain Caca dan Cici yang nangis ketakutan." tambah Caca.
"Lha, kaluan ngapain pakai nangis?" aku menatap heran kedua anak kembar itu.
"Habisnya Mama seram sih. Kalau marah suaranya menggelegar persis geluduk" Ungkap Caca.
__ADS_1
"Enak saja." aku mencubit gemas pipiku Caca. "Sudah sana masuk. Mama mau nunggu papa dulu. Kalian siap-siap salat, terus ngaji. Oke." kataku.
"Iya Mama." Caca dan Cici masuk ke dalam, mereka langsung ke kamar mandi mengambil wudhu, bersiap-siap sebab sebentar lagi azan Maghrib berkumandang.