ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
47. Aku Tak Akan Menyerah


__ADS_3

Hari ini Ben akan datang kembali, begitu pesan singkat yang ia kirimkan padaku. Ia juga menyampaikan ingin mengajak jalan-jalan. Rasa-rasanya memang kami sudha lama tidak jalan-jalan bersama.


"MasyaAllah, yang mau jalan-jalan. Cantik sekali." mbak Hana menggodaku habis-habisan, sehingga membuatku salah tingkah.


"Sekali ini agak dandan nggak apa-apa kan Mbak?" tanyaku, sambil memperhatikan bayangan wajah sendiri di kaca, memastikan tidak ada make up yang belepotan karena sebenarnya aku bukan tipikal perempuan yang mahir mengukir wajah. Alat kosmetik saja aku hanya punya beberapa.


"Iya, nggak apa-apa, kok. Tapi ingat ya Di, tetap jaga batasan. Kamu dan Ben kan sudah tidak terikat hubungan pernikahan lagi. Belum halal." kata mbak Hana, menekan akhir kalimatnya.


"Iya mbak, InsyaAllah aku akan berusaha jaga jarak. Aku sedikit dandan karena ingin menunjukkan sisi lain yang menarik saja pada Ben, siapa tahu ia suka." Ungkap ku, ragu-ragu.


"Iya, iya. Nggak apa-apa. Mbak paham kok." jawab mbak Hana.


"Mama ... cantik sekali." tiba-tiba Caca muncul di depan pintu kamar.


"Iya kah, mama cantik?" tanyaku lagi.


"Iya dong, mamanya Caca adalah perempuan paling cantik di dunia ini!" ungkap Caca.


"Terus Tante Hana gimana?" tanya mbak Hana.


"Kalau Tante Hana itu cantiknya kayak bidadari." celetuk Caca.


"Masa sih?" mbak Hana pura-pura tidak percaya.


"Iya. Bener Tante. Mama juga bilang begitu. Kami beruntung punya Tante Hana yang sayang sama kami. Iya, kan ma?" kini pertanyaan Caca ditujukan padaku.


"MasyaAllah, Tante juga beruntung punya kalian." sebuah kecupan diberikan mbak Hana pada Caca, sembari mencubit pelan pipinya.


"Ma, papa sudah datang!" teriak Cici sambil menghampiri kami.


"Yeee, papa datang. Papa datang. Papa datang!" Caca melonjak-lonjak sambil bertepuk tangan, aksinya tersebut membuat kami tertawa. Kemudian bersama Cici ia menuju depan untuk menyambut Ben.


"Tuh, buruan kedepan." kata mbak Hana.


"Gimana ya, mbak." aku ragu-ragu.


"Kenapa Di?"

__ADS_1


"Aku deg-degan mbak. Takut."


"Takut kenapa Di?"


"Apa Ben masih mau melihatku?"


"Jangan cepat menyerah Di, katanya kamu mau berjuang untuk kebahagiaan anak-anak dan diri kamu sendiri. Masa belum berjuang sudah menyerah saja? Ayo dong, tunjukkan kalau kamu adalah seorang pejuang."


"Baiklah. Bismillah, semoga lancar. Doain ya mbak."


Berdua, aku dan mbak Hana menuju depan untuk menghampiri Ben. Tampak ia sedang bercerita dengan Caca dan Cici. Sesaat Ben mengangkat wajahnya, menatapku sebentar, lalu beralih menyapa mbak Hana sembari mengucapkan terima kasih karena sudah membantu menjaga anak-anak.


"Ben, katanya kamu mau ngajak jalan-jalan?" Tanyaku, mencoba mencairkan suasana.


"Oh ya." jawab Ben, tanpa menoleh sedikitpun.


Ben, kenapa sekarang kamu berubah begitu dingin? Ayolah Ben, jika memang masih ada aku di hati kamu, tolong berikan aku kesempatan sekali lagi. Aku akan berusaha tidak akan mengecewakan kamu untuk kedua kalinya. Setidaknya, ayo kita mulai untuk anak-anak kita.


Saat situasi masih kaku, hanya sesekali terdengar celoteh dari mulut Caca dan Cici yang bersemangat dengan mainan barunya. Tiba-tiba sebuah mobil jazz hitam masuk ke parkiran. Melihat mobil itu, feeling ku sudah buruk, sekuat mungkin aku berdoa semoga apa yang ada di pikiranku tidak terjadi.


Tapi saat melihatnya turun dari mobil, semua harapanku sirna. Secara spontan aku merasa semua membeku.


"Haris?" spontan Ben bicara. "Kamu janjian sama dia? Oh, pantasan sampai bela-belain dandan." sambung Ben lagi, membuatku semakin ciut.


Belum selesai satu kesalah fahaman, sudah ada kesalah fahaman yang kedua. Dan aku tak tahu bagaimana cara menyelesaikannya.


"Eh ada kamu Ben, di sini." kata Haris, sambil tersenyum. "Apa kabar Ben, lama tak bertemu? Kamu sehat?" Haris mencoba beramah tamah, tapi hanya ditanggapi dingin oleh Ben. "Aku nggak ganggu, kan? Maaf kalau kedatanganku ganggu karena aku nggak tahu kalau kalian lagi ngumpul-ngumpul."


"Nggak apa-apa, kami juga sudah mau pergi." jawab Ben. "Yuk anak-anak, kita pergi."


Ben membimbing tangan Caca dan Cici ke atas motor, lalu mereka berlalu tanpa mengajakku. Tentu saja apa yang dilakukan Ben membuatku tak bisa berkata apapun lagi.


Jadi, dia tak berniat mengajakku. Hanya membawa Caca dan Cici. Ahhh, betapa memalukannya aku. Kenapa harus begitu percaya diri seperti itu. Harusnya dari awal aku sadar diri. Nggak mungkin juga Ben mau ngajakin aku sebab hubungan kami tidak sedang baik-baik saja.


Aku tersenyum ketus. Lebih tepatnya menertawakan diriku sendiri. Betapa bodohnya aku!


"Di," panggilan Haris membuyarkan lamunanku.

__ADS_1


"Kenapa lagi kamu ke sini, Ris?" tanyaku.


"Aku ingin menjelaskan kesalah fahaman kemarin."


"Nggak usah Ris. Aku sudah mengatakan kalau aku nggak bisa menerima kamu."


"Kamu nggak perlu jawab sekarang, Di. Kita coba jalani saja dulu."


"Nggak Ris, sekarang bukan waktunya untukku mencoba-coba. Aku sudah punya anak-anak yang harus ku jaga perasaannya."


"Kalau kamu memberiku kesempatan, maka aku akan mencoba berjuang mendapatkan hati anak-anak kamu, Di. Kemarin aku memang salah sebab terlalu terburu-buru mengungkapkan semuanya tanpa pendekatan terlebih dahulu, tapi aku begitu karena terlalu senang dan takut, Di. Senang karena akhirnya aku bisa ketemu kamu dalam keadaan kamu sudah single. Takut karena aku nggak mau kehilangn kamu untuk kedua kalinya."


"Ris, tolong ... jangan melakukan apapun sebab aku tidak ingin dengan siapapun. Cukup hanya ayahnya Caca dan Cici.".


"Tapi kan kamu sudah berpisah, Di."


"Tapi itu bukan akhir semuanya."


"Maksud?"


"Aku menyesal dengan perceraian antara aku dan Ben. Sekarang aku tengah berjuang untuk mendapatkan kembali hatinya Ben."


Hening. Tak ada jawaban dari Haris. Aku mengira mungkin ia kaget sebab ternyata aku masih berharap pada ayahnya anak-anakku. Tapi itulah kenyataannya. Aku tak ingin menutupi apapun lagi, aku tak ingin kehilangan Ben untuk kedua kalinya. Aku ingin kembali.


"Kamu yakin, Di?" tanya Haris.


"Ya!" kataku dengan tegas.


"Baik. Aku pamit dulu, Di." Haris berbalik arah, lalu naik ke mobilnya yang perlahan melaju meninggalkan aku dan mbak Hana.


"Ya Allah, mbak." kataku, dengan tubuh melemas. Bagaimana tidak, aku merasa ditolak mentah-mentah oleh Ben. Sejak Ben mengirimkan pesan aku sudha histeris seakan-akan akupun ikut diajak. Bahkan sejak semalam aku tak bisa memejamkan mata sebab membayangkan bisa kembali jalan dengan Ben. Mengulang kembali masa-masa kebersamaan kami, ternyata semua hanyalah angab-anagnku saja.


"Sabar Di," mbak Hana memelukku.


"Malu, sakit juga." kataku. "PD sekali aku bahwa tadi akan diajak oleh Ben. Ia pasti sudah tidak ingin melihatku lagi. Iya kan mbak?"


"Belum tentu Di, bisa saja tadi Ben kesal karena ada Haris makanya dia buru-buru pergi ngajakin anak-anak sebab Ben nggak mau anak-anak tersakiti kembali karena kehadiran Haris."

__ADS_1


__ADS_2