
Mobil yang dikendarai Ben terus melaju memasuki perumahan elit di kawasan Menteng. Tidak terlalu sulit bagi kami menemukan rumah Nasya sebab Ben bisa mendapatkan informasi lengkap lewat teman-teman di kantornya.
"Ini rumahnya." kata Ben, setelah mobil berhenti di depan sebuah rumah mewah bergaya klasik berwarna gold dengan tiang-tiang raksasa yang menyanggah bangunan tiga lantai tersebut.
Aku tak terlalu terkejut sebab pernah mendengar cerita angin bahwa Nasya memang anak orang kaya. Keluarganya bahkan punya perusahaan keluarga yang cukup besar di Jakarta, kinipun ayahnya menjadi direktur rumah sakit yang cukup besar di bilangan Jakarta Barat. tapi ia memilih untuk bekerja secara mandiri sebagai seorang karyawan biasa. Awalnya kami mengira ia melakukan semua itu karena ingin mendekati Ben, ternyata bukan itu penyebabnya, tapi karena dendam padaku. Sejujurnya aku penasaran, sudah sejak kapan ia mengintaiku?
Pastilah tidak mudah menjalani hidup dengan membawa dendam. Itulah sebabnya aku di sini, selain tak ingin jadi samsak kemarahan atas dendamnya padaku ataupun ibu, aku meyakini Nasya sebenarnya bukanlah orang yang jahat. Ia begitu bisa karena keadaan. Kadang seorang anak bisa jadi membenci bahkan bisa sampai nekat jika orang tuanya disakiti.
"Aku akan menemui satpamnya dulu," kata Ben, lalu turun dari mobil menuju pintu gerbang yang tertutup rapat setinggi dua meter atau mungkin lebih. Sementara aku dan mbak Hana menunggu di dalam mobil sambil memperhatikan Ben.
"Kira-kira apa Nasya ada di rumah?" tanyaku pada mbak Hana.
"Entah, kita lihat saja sebentar, Di. Semoga saja ada, jadi kita bisa memberitahu kondisi ibunya." kata mbak Hana.
Tak lama Ben kembali masuk. "Nasya ada di rumahnya, kita diminta menunggu sebentar." kata Ben.
Semudah inikah pertemuan itu. Ku harap, Nasya juga mau memahami apa yang kami ceritakan tentang ibunya dan ia harus cepat bertindak. Aku takut terjadi sesuatu pada Tante Maya sebab rasanya sulit membayangkan menghabiskan waktu di tempat seperti itu, apalagi dengan kedua tangan yang terikat.
Tiga puluh menit kami menunggu. Belum juga ada tanda-tanda Nasya akan menemui kami. Akhirnya Ben kembali menemui satpam untuk meminta kepastian, tentu saja atas desakanku yang sudah tidak sabar rasanya menanti bertemu dan berbicara dengannya.
Setiap detik sangat berharga. Seseorang tengah terkurung dan pastinya tersiksa, harus segera diselamatkan. Satu-satunya orang yang bisa mengeluarkan adalah putri kandungnya, sebab anggota keluarga lain sudah dicuci otaknya oleh Tomo.
"Bagaimana Ben?" tanyaku lagi, setelah Ben kembali.
__ADS_1
"Kata pak satpamnya, Nasya tidak ada di rumah." jawab Ben.
"Tidak ada di rumah? Yang benar saja, tadi katanya ada, hanya minta waktu bersiap-siap. Masa sekarang tidak ada. Kapan perginya dia, lha kita saja nungguin di depan gerbang sejak tiga puluh menit yang lalu." kataku, dengan nada kesal. Sejujurnya aku sudah mulai lelah seharian ini bolak-balik ke rumah sakit jiwa, lalu ke rumah Nasya yang jarainya lumayan jauh, apalagi akhir pekan Jakarta cukup macet.
"Bagaimana kalau bertemu besok saja di kantor." usul Ben. "Besok Nasya pasti masuk. Kita bisa mengajaknya berbicara."
"Nggak. Sekarang saja. Kenapa harus diundur-undur Sampai besok?" tanyaku. "Kasihan Tante Maya." Tambahku.
"Kamu sudah terlihat sangat lelah, Di. Lagipula sepertinya Nasya tidak mau menemui kita. Mungkin dia sedang ada keperluan yang tak bisa ditinggalkan, makanya pada akhirnya memberikan alasan sedang tidak di rumah. Besok saja, pasti bertemu di kantor. Kita nggak boleh maksa orang lain juga. Lagipula aku nggak mau kenapa-kenapa karena kelelahan. Ingat bayi kita juga!" pinta Ben. Meski nada suaranya pelan, tapi aku tahu Ben tak mau ditawar.
"Yakin nggak apa-apa, Ben? Besok itu lama, lho. Aku takut Tante Maya kenapa-kenapa. Rasanya firasatku buruk tentangnya. Aku sungguh-sungguh khawatir." ungkapku.
"InsyaAllah nggak apa-apa, Di. Kita doakan saja. Aku juga sudah mengirimkan pesan pada Nasya, ku harap ia segera membacanya. Memaksa ketemu dengan mengirimkan pesan pada satpam di sini rasanya khawatir juga. Kita nggak tahu, apakah mereka berpihak pada Tante Maya atau justru pada ayahnya Nasya." tambah Ben lagi.
Dengan berat hati akhirnya aku ikut pulang bersama Ben dan mbak Hana. Sampai di rumah lagi-lagi Ben berpesan agar aku tak terlalu memikirkan Tante Maya. Banyak istirahat agar besok bisa berjumpa Nasya di kantor.
"Bu, aku nggak nyangka hidupnya Tante Maya begitu berat." ungkapku pada ibu yang masih terjaga meski malam semakin larut.
Aku sangat yakin, meski ibu tak bicara sepatah katapun tentang Tante Maya, tapi setelah mendengarkan ceritaku, pasti ibupun khawatir. Tadi saja mata ibu sampai berkaca-kaca, hanya saja ia tak mau menunjukkan kesedihannya. "Padahal Tante Maya itu sangat baik. Iya kan Bu?"
"Ibu tidak terlalu tahu karena kami belum pernah berkenalan sebelumnya. Hanya saja dari cara ia bicara saat kami bertemu waktu itu, ibu yakin ia orang kaya yang berkelas. Ia tak langsung menyerang ibu, memberikan ibu kesempatan untuk menjelaskan meski dinkuaran sudah beredar desas-desus buruk tentang ibu."
"Tapi kenapa Nasya begitu bodoh. Dia bisa berpikiran untuk balas dendam, tapi kenapa tak bisa berpikiran tentang kejahatan ayahnya." ungkapku lagi.
__ADS_1
"Di, Tomo itu sangat pintar sekali. Kamu tahu, selain pintar di bidang akademik sehingga bisa menyandang gelar doktor di usia muda, ia juga sangat lihat meyakinkan orang lain. Bayangkan saja, ia yang menjahati ibu, tapi tuduhan bahkan hukuman itu ditujukan kepada ibu. Tomo malah dianggap sebagai korban dan masih terus dihormati orang-orang.
Itu baru sedikit kejahatan Tomo, belum hal-hal terkutuk lainnya yang ia lakukan pada gadis-gadus muda yang polos dan punya mimpi yang begitu besar. Dengan mudah ia menipu lalu memutar balikkan fakta." jawab ibu.
"Jahat sekali. Ku harap ia membusuk di penjara!" aku mengumpat.
"Tapi ingat Di, ia juga ayahmu."
"Ayah? Bu, ia tak pantas jadi ayah. Lagipula dalam agama ia tak memperoleh hak apapun atas diriku."
"Kamu menyesal punya ayah sepertinya?"
"Semua adalah takdir Tuhan. Aku hanya bangga bisa jadi anak ibu. Itu saja. Tentang ayahku, aku tak peduli."
"Di,"
"Ya Bu?"
"Maafkan ibu, ya."
"Maaf kenapa?"
"Harusnya ibu tak menjauhi kamu, Di. Harusnya ibu merangkul kamu sebab kamupun tak ingin lahir sebagai anak di luar hubungan pernikahan. Sekali lagi maafkan ibu."
__ADS_1
Kini ibu yang duluan memelukku. Bisa kurasakan bagaimana besarnya rasa sayang ibu. Perasaan yang telah lama aku rindukan.
Seorang Tomo telah membuat aku kehilangan kasih sayang ibuku. Tapi dengan kekuatan cinta semua akan kembali. Ku harap, Nasya dan ibunya pun bisa bersatu kembali.